Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berontaknya hati : 21
“Kak, kau salah paham, kami tak bermaksud abai, hanya saja _”
“Diam kau, Lanira! Aku tak cakap denganmu! Sadarlah akan posisimu!” bentak Intan lantang.
Lanira bergeming, badannya seketika kaku, tidak berani menatap kakak sepupunya.
“Intan, sabar sekejap. Kita bicarakan dengan kepala dingin, ya?” bujuk pria yang baru saja meletakkan kantong plastik di atas lemari sepatu.
“Kau kira aku sekarang tengah berapi-api, emosi tingkat tinggi sampai tak bisa diajak bicara baik-baik, apa?” Intan memalingkan wajah, menggelengkan kepala, menatap kecewa.
“Bukan begitu, sayang!”
“Berhenti memanggilku sayang kalau kelakuanmu layaknya pria tak bertanggungjawab, Kamal!” Intan berkata dengan nada datar, tatapan hambar, senyum sinis.
“Intan, mari kita bicarakan secara pribadi!” Kamal hendak menarik lengan sang tunangan, tapi keduluan si wanita mundur menghindari.
“Kenapa mesti pribadi, sementara kalian bertiga terlibat dalam hal tadi? Menelantarkan aku di barisan ruko telah tutup dalam keadaan hujan petir, mengapa?”
“Tak ada yang menelantarkan kau, Intan. Rania, Lanira sama sekali tidak terlibat, mereka hanya sedang ingin makan martabak telur, sebagai Abang, sudah kewajibanku memenuhi keinginannya bukan?” ia masih mencoba menjelaskan, tapi penjelasan barusan menambah geram hati wanita terlanjur kecewa.
“Baik.” Intan mengangguk, jemarinya saling mengepal di sisi tubuh. “Kau memang sosok sempurna teruntuk keluargamu, tapi penuh cacat terhadap calon wanita masa depanmu. Sekarang aku paham, dan mungkin sudah saatnya menjawab beberapa lamaran telah kau ajukan. Kamal Nugraha, ayo kita akhiri hubungan aneh ini.”
Lanira membekap mulutnya, Rania sampai berpegangan pada railing tangga, sama-sama terkejut mendengar kalimat tajam itu. Mereka tidak menyangka kalau Intan Rasyid begitu gamblang memutuskan tali pertunangan.
“Jangan kekanakan, Intan Rasyid!” suara Kamal merendah, dia tarik lengan berbalut baju setengah basah.
Intan menurut, mengikuti langkah Kamal yang membawanya ke ruangan kerja di lantai satu.
Pintu sudah ditutup, dua orang berdiri saling berhadapan, berjarak terbentang tiga langkah dewasa.
“Tolong mengertilah, jangan karena masalah kecil lantas kau asal cakap, memutuskan hubungan hampir mencapai garis finish, yaitu pernikahan. Kita lah dewasa, banyak cara untuk menyelesaikan masalah, bukan dengan mengedepankan emosi sesaat,” Kamal menatap dengan sorot lemah.
Intan masih bungkam, bukan membenarkan, tetapi ingin mendengar lebih banyak lagi pembelaan Kamal Nugraha.
“Aku akui diri ini salah. Lalai menjagamu, mengutamakan memenuhi keinginan Rania dan Lanira terlebih dahulu, namun bukan berarti aku tak peduli.” Kamal maju satu langkah, Intan masih berdiri pada posisinya, menatap penuh netra sang tunangan.
"Sayang, aku benar-benar minta maaf. Kedepannya, takkan terulang lagi hal semacam tadi, kau maafkan 'kan?" pandangannya penuh harap.
"Semudah itu kau memintaku untuk memaafkan hal nyaris fatal, Kamal?"
“Intan, dari sekian banyak kebaikan telah kulakukan, apa tak tampak olehmu hanya dikarenakan satu kesalahan?” ia mengingatkan, mengungkit banyak hal telah dilakukan.
“Sampai matipun aku tetap ingat. Kau tak perlu khawatir, diriku bukan tipe manusia kacang lupa kulitnya,” ujarnya tajam.
“Bukan seperti itu maksud_”
Intan menyela. “Kalau tak macam itu, lantas bagaimana? Kalimatmu tadi memiliki makna seperti seseorang mengharapkan imbalan atas apa yang telah dia lakukan, berikan. Kamal, terima kasih, aku sangat teramat berterima kasih atas bantuanmu demi menjaga nama baik keluarga Rasyid, menutupi perasaan ini supaya tak tampak macam wanita gila disebabkan mencintai suami dari kakak sepupunya sendiri. Akan tetapi, bukan berarti kau bisa seenaknya sendiri!”
"Aku tak mengungkit balas budi, tak pula mengorek-ngorek alasan dibalik pertunangan kita dua tahun lalu, yang ingin aku tekankan – jangan bertingkah kekanakan, Intan _”
“Kekanakan katamu?” Intan berdecih, menatap tidak percaya pada pemuda menghela napas berat. “Seandainya saja terjadi apa-apa denganku tadi, apa kau juga akan mengatakan hal serupa? Kau punya adik perempuan kan, macam mana kalau posisi kami ditukar?”
Kamal Nugraha mengusap kasar rambutnya. “Jangan bawa-bawa nama orang lain, Intan. Ini masalah kita berdua _”
“Ya karena orang lain kau jadi abai! Karena orang lain pula aku hampir mengalami hal mengerikan kalau saja tak ada kakak baik hati yang iba kepadaku! Kau mengerti tak sih?!”
"Masalahnya hal yang kau bayangkan itu tidak terjadi _”
"Apa kau baru akan memprioritaskan aku setelah diri ini mengalami pelecehan, iya?” Intan memandang tanpa kompromi.
"Kau salah paham lagi, tolong dengarkan aku _”
“TAK MAU!” Intan menggeleng kuat. “Sekarang giliran kau yang harus mendengar. Sudah letih aku memaklumi, memaksakan diri memberikan kepercayaan sepenuh hati. Nuha … apa aku bagimu?”
Intan teringat pernyataan gamblang seseorang beberapa waktu lalu.
Daripada sepasang kekasih, kalian lebih mirip kakak beradik. Kau menatap bersahabat, dan dia memperlakukanmu layaknya sosok saudara.
“Pertanyaan apa itu, Intan?” Kamal mengernyitkan dahi, merasa aneh.
“Jawab saja! Aku ini apa bagimu?!”
“Calon istriku, ibu dari anak-anak kita kelak.”
“Bohong! Sikapmu tak menunjukkan kalau aku ini wanita masa depanmu!” suara Intan menuntut, tatapannya penuh selidik.
“Intan Rasyid, kita sudah sama-sama dewasa, dan hal ini telah disepakati, dibicarakan sebelum hari pertunangan kita dulu. Mengapa tiba-tiba kau meragu?”
“Bagaimana aku bisa mempercayai seorang nahkoda bila hatinya masih sepenuhnya dikuasai satu nama, dan karena sosoknya … kau melupakan aku yang jelas-jelas memiliki status sebagai tunangan.” Intan maju, tidak memberikan kesempatan bagi Kamal menyela.
“Martabak telur tadi bukan kesukaan Rania, melainkan Lanira, kan?”
Kamal terpaku, sorot matanya tak setenang tadi.
“Aku tebak, kau sedang memainkan peran bak pahlawan kesiangan. Ingin mendamaikan pasangan suami istri tengah bertengkar, karena kau tak sanggup melihat sorot sendu di mata wanita cinta pertamamu. Betul kan, Kamal Nugraha …?”
.
.
Bersambung.
Tetap Semangat
Maturnuwun sudah bertahan di sini membersamai kami para Emak² reader 🫶🏻🥰 .
Sukses terus buat kak Cublik 🥰
lega rasa nya denger kabar nya kak cublik,semoga sistem bisa lebih tau lebih menghargai karya yang memang itu bagus.❤️
siap selalu jadi pembaca yang tertib kak😄
manusia kayak kamu Nuha cuma bisanya bikin ulah dengan dalih membantu tapi aslinya racun buat semua orang...
hajar Ajja ayah tua anak tereek mu itu yg tak tau diri 🤣🤣