NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Wanita Bercadar Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: putri Sefira

Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
​Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pelarian yang Terbelenggu

Udara subuh di Jakarta terasa menusuk tulang, membawa aroma aspal basah dan sisa-sisa polusi semalam. Aisyah berdiri di peron Stasiun Gambir dengan perasaan hancur. Ia mengenakan gamis hitam yang paling sederhana dan cadar yang kainnya sedikit kasar—berharap ia bisa melebur dengan kerumunan calon penumpang kereta api fajar menuju Surabaya.

Di sampingnya, Hamdan menggenggam erat tas jinjing Aisyah. Wajah kakaknya itu kaku, matanya terus waspada menyisir setiap sudut stasiun.

Baginya, menyelamatkan Aisyah dari pengaruh pria bernama Arkan Xavier adalah jihad kecil yang harus ia menangkan.

"Jangan menoleh ke belakang, Aisyah," bisik Hamdan tegas. "Di pesantren Kyai Mansur, kau akan aman. Tidak ada preman atau mafia yang berani mengusik kesucian tempat itu. Fokuslah pada hafalanmu, lupakan semua kegilaan di Jakarta."

Aisyah hanya mengangguk lemah. Air matanya tertahan di pelupuk mata. Ia mencintai studinya di kedokteran, namun ia lebih takut pada fitnah yang dibawa Arkan. Ia ingin bebas, tapi hatinya juga berdenyut perih setiap kali mengingat tatapan terluka Arkan saat ia menolak uangnya.

"Kereta Bima tujuan Surabaya Gubeng akan segera berangkat di jalur dua..."

Suara pengumuman itu bagaikan lonceng kebebasan bagi Aisyah. Mereka mulai melangkah menuju pintu masuk gerbong. Namun, tepat sebelum kaki Aisyah menginjak anak tangga kereta, suasana stasiun yang tadinya riuh mendadak sunyi secara mencekam.

Beberapa pria berseragam petugas keamanan stasiun tiba-tiba membentuk barisan barikade, menghalangi jalan penumpang lain. Dari arah pintu masuk VIP, sesosok pria berjalan dengan langkah yang begitu berwibawa hingga setiap pasang mata terpaksa menoleh.

Arkan Xavier.

Ia tidak mengenakan jas mewah kali ini. Ia hanya memakai jaket kulit hitam di atas kaos polos kelabu, namun auranya tetap seperti penguasa yang sedang menginspeksi wilayahnya. Di belakangnya, Leo dan belasan pria bertubuh tegap mengikuti dengan langkah serempak.

Hamdan segera menarik Aisyah ke belakang punggungnya. "Aisyah, tetap di belakang Abang!"

Arkan berhenti tepat tiga meter di depan mereka.

Ia tidak menatap Hamdan; matanya tertuju lurus pada Aisyah yang bersembunyi di balik pundak kakaknya. Tatapan Arkan tidak lagi dingin—ada kemarahan yang tertahan, namun juga ada guratan kekecewaan yang dalam.

"Kau mencoba lari dariku, Aisyah?" suara Arkan rendah, bergetar oleh emosi yang tertahan. "Setelah semua yang kulakukan untuk memastikan kau tetap bernapas, kau memilih untuk menghilang ke pelosok Jawa?"

Hamdan melangkah maju, dadanya membusung berhadapan dengan sang bos mafia. "Tuan Xavier! Adik saya bukan urusan Anda! Dia adalah wanita terhormat dari keluarga baik-baik. Pergi dan kembali ke lubang hitam Anda, jangan kotori hidup adik saya lagi!"

Arkan perlahan mengalihkan pandangannya pada Hamdan. Matanya menyipit, tajam seperti pisau bedah. "Kau kakaknya? Orang yang ingin mengubur masa depan dokter terbaik di negeri ini hanya karena rasa takutmu yang kerdil?"

"Saya melindunginya dari monster seperti Anda!" bentak Hamdan.

Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang membuat bulu kuduk orang-orang di sekitar meremang. "Monster? Jika aku benar-benar monster, aku sudah menculiknya sejak malam pertama dan menguncinya di menara emasku.

Tapi aku datang ke sini secara terhormat, bicara denganmu sebagai sesama pria."

Arkan merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dan melemparkannya ke dada Hamdan. Hamdan menangkapnya dengan ragu, lalu membukanya.

Matanya terbelalak melihat isinya: dokumen-dokumen resmi beasiswa penuh atas nama Aisyah ke Universitas Harvard, lengkap dengan surat izin penelitian di rumah sakit terbaik dunia.

"Duniaku mungkin kotor, tapi aku tahu cara menghargai berlian," ucap Arkan dingin. "Aisyah punya bakat yang luar biasa. Jika kau membawanya ke pesantren hanya untuk menyembunyikannya, kau bukan melindunginya—kau sedang membunuhnya pelan-pelan."

Aisyah gemetar. Ia tidak menyangka Arkan akan melakukan sejauh ini.

"Ambil kembali pemberian haram ini!" Hamdan merobek dokumen itu di depan wajah Arkan.

Serpihan kertas putih beterbangan seperti salju di antara mereka. "Kami tidak butuh suap dari tangan yang berlumuran darah!"

Rahang Arkan mengeras. Ketegangannya begitu nyata hingga Leo sudah meletakkan tangan di balik jasnya, siap menarik senjata. Namun, Arkan mengangkat tangannya, memberi kode 'jangan'.

"Darah di tanganku adalah darah mereka yang mencoba menghancurkan ketenangan orang-orang lemah, Hamdan," desis Arkan. Ia melangkah maju, memaksa Hamdan mundur satu langkah karena dominasi energinya. "Kau pikir dengan membawanya ke Jawa Timur, dia akan aman? Musuhku sudah tahu jadwal keretamu. Mereka sudah menunggu di stasiun-stasiun kecil sepanjang jalur ini."

Aisyah tersentak. "Apa?"

"Klan Scorpio tidak punya kode etik sepertiku, Aisyah," Arkan menatap lembut ke arah Aisyah. "Bagi mereka, kau hanyalah pion untuk membuatku bertekuk lutut. Jika kau naik kereta itu, aku tidak bisa menjamin kau akan sampai di Jawa Timur dalam keadaan utuh."

Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari arah parkiran stasiun, disusul suara tembakan peringatan. Kepanikan pecah. Penumpang berlarian tunggang-langgang.

"Mereka di sini!" teriak Leo.

Arkan segera menarik tangan Aisyah. Kali ini, ia tidak meminta izin. Sentuhannya kuat dan posesif. "Ikut aku jika kau ingin kakakmu tetap hidup!"

"Lepaskan adikku!" Hamdan mencoba memukul Arkan, namun dengan satu gerakan cepat, Arkan menangkisnya dan mendorong Hamdan ke arah Leo.

"Leo! Amankan pria ini! Jangan sampai dia lecet, dia adalah nyawa Aisyah!" perintah Arkan.

Di tengah kekacauan, Arkan merengkuh bahu Aisyah, melindunginya dari kerumunan yang panik. Aisyah merasa jantungnya berdegup kencang—bukan hanya karena takut pada serangan musuh, tapi karena untuk pertama kalinya, ia berada begitu dekat dengan Arkan. Ia bisa mencium aroma parfum kayu cendana bercampur sedikit bau mesiu yang maskulin dari jaket pria itu.

"Tundukkan kepalamu, Aisyah! Jangan lepaskan peganganmu!" seru Arkan di tengah desingan peluru yang mulai terdengar di kejauhan.

Mereka berlari menuju mobil SUV antipeluru milik Arkan. Arkan membukakan pintu untuk Aisyah dengan sikap yang sangat protektif, seolah Aisyah adalah sesuatu yang paling berharga di dunia yang sedang hancur ini. Setelah Aisyah masuk, Arkan ikut masuk dan mengunci pintu secara otomatis.

Di dalam mobil yang kedap suara itu, napas mereka berdua memburu. Aisyah terisak, menutupi wajahnya dengan tangan yang bergetar. "Kenapa... kenapa hidup saya jadi seperti ini?"

Arkan menatap ke luar jendela, melihat anak buahnya sedang memukul mundur para penyerang. Ia lalu menoleh pada Aisyah.

Tangannya bergerak ragu, ingin menyentuh pundak wanita itu untuk menenangkan, namun ia menghentikannya di tengah jalan. Ia sadar batasannya.

"Maafkan aku," ucap Arkan, suaranya kini terdengar sangat tulus dan penuh penyesalan.

"Aku tidak pernah berniat menyeretmu ke neraka ini. Tapi sekarang kau sudah ada di sini, dan aku bersumpah demi sisa nyawaku, tidak akan ada satu peluru pun yang akan menyentuh kain cadarmu."

Aisyah mendongak, matanya yang basah menatap Arkan. "Anda bilang Anda ingin melindungi saya. Tapi perlindungan Anda terasa seperti penjara, Tuan Arkan."

Arkan terdiam. Matanya yang gelap memancarkan luka yang selama ini ia sembunyikan dari dunia. "Mungkin. Tapi di duniaku, penjara adalah satu-satunya tempat di mana kau bisa tetap hidup. Dan aku lebih baik dibenci olehmu karena mengurungmu, daripada harus melihatmu mati karena kebebasan yang kuberikan."

Mobil itu melesat membelah jalanan Jakarta, dikawal oleh motor-motor besar milik klan Xavier.

Aisyah melihat keluar jendela, melihat stasiun yang kian menjauh—tempat di mana impiannya untuk lari baru saja terkubur.

Ia tidak tahu ke mana Arkan akan membawanya. Yang ia tahu, mulai hari ini, ia bukan lagi Aisyah sang mahasiswi biasa. Ia telah menjadi pusat dari perang besar antara dua klan mafia, dan ia adalah "kesayangan" dari pria paling berbahaya yang pernah ia temui.

Di sisi lain, Arkan menggenggam ponselnya, mengirim pesan singkat kepada seluruh jaringannya:

"Perang dimulai hari ini. Siapa pun yang berafiliasi dengan Scorpio, hapus mereka dari peta. Aisyah adalah garis merah yang tidak boleh dilintasi."

1
Amiera Syaqilla
salam sejahtera author🤗
sefira🐼: salam juga😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!