Di SMA Garuda, Arkananta Dewa adalah personifikasi dari aturan itu sendiri. Sebagai Ketua OSIS yang perfeksionis, ia adalah matahari yang ditakuti sekaligus dikagumi. Di sisi lain, Ziva Clarissa adalah anomali; siswi jurnalisme yang vokal, ceroboh, dan pembenci birokrasi. Mereka adalah dua kutub yang seharusnya tidak pernah bertemu dalam satu garis takdir.
Namun, sebuah perjodohan bisnis yang dipaksakan oleh kedua orang tua mereka mengubah segalanya dalam semalam. Tanpa cinta, tanpa persiapan, mereka diikat dalam pernikahan siri yang sah di mata agama dan keluarga, namun terlarang di mata sekolah.
Keduanya sepakat pada satu hal: Rahasia ini harus mati bersama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keruntuhan Dinding Ego di Apartemen 402
Malam menyelimuti kota dengan rintik hujan yang tipis. Di dalam Apartemen 402, suasana masih terasa canggung setelah badai di sekolah tadi pagi. Ziva duduk di sofa, memeluk bantal erat-erat, matanya sembab. Ia masih terngiang ucapan ketus Pak Wijaya yang merendahkan martabatnya di depan anggota OSIS.
Arkan berdiri di dapur, membelakangi Ziva. Tangannya gemetar saat memegang gelas. Ia merasa gagal. Sebagai ketua OSIS, ia punya kuasa. Sebagai anak, ia tidak punya suara. Dan sebagai suami... ia merasa pengecut.
Tiba-tiba, bel pintu apartemen berbunyi. Keduanya tersentak.
"Siapa malam-malam begini?" bisik Ziva ketakutan.
"Apa Revan? Atau Clarissa?"
Arkan mengintip melalui lubang intip pintu. Tubuhnya membeku. Ia menoleh ke arah Ziva dengan tatapan tak percaya.
"Papa... dan Mama."
Ziva langsung berdiri, merapikan rambutnya yang berantakan dengan panik.
"Apa? Mau ngapain lagi? Mau ambil kunci apartemen ini?"
Arkan membuka pintu dengan perlahan. Di sana berdiri Pak Wijaya—masih dengan setelan jasnya, namun bahunya tampak sedikit turun, tidak setegang tadi pagi.
Di sampingnya, Bu Shanti memegang tas kecil dengan guratan penyesalan di wajahnya.
Permintaan Maaf Sang Penguasa
"Arkan, Ziva... boleh kami masuk?" suara Pak Wijaya terdengar berbeda. Tidak ada nada guntur atau otoritas absolut di sana. Hanya suara seorang pria tua yang tampak lelah.
Mereka duduk di ruang tamu yang sempit itu. Ziva duduk di pojok sofa, berusaha menjaga jarak. Arkan berdiri di sampingnya, tangan bersedekap, siap melindungi istrinya jika ayahnya kembali menyerang.
Hening sejenak, hanya suara detik jam yang biasanya dibenci Ziva.
"Ziva..." Pak Wijaya berdehem, menatap menantunya itu langsung ke mata. "Papa... Papa ingin minta maaf soal kejadian di sekolah tadi."
Ziva tertegun. Ia melirik Arkan, yang sama terkejutnya.
"Papa terlalu terbawa emosi bisnis," lanjut Pak Wijaya sambil menunduk. "Tadi sore, Mama mengingatkan Papa. Bahwa di balik semua merger perusahaan dan saham, ada dua anak manusia yang sedang kami korbankan masa mudanya. Papa tidak seharusnya memperlakukan menantu Papa sendiri seperti itu di depan umum."
Bu Shanti meraih tangan Ziva, menggenggamnya dengan hangat.
"Ziva, sayang... Maafkan Papa ya. Dia memang keras kepala. Tapi setelah pulang, dia merasa bersalah luar biasa. Dia tahu, kalau rahasia ini terbongkar, yang paling sakit adalah kamu. Dia bermaksud melindungimu dengan cara yang salah."
Ziva merasakan tenggorokannya tercekat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh juga. "Ziva cuma takut, Pa... Ziva takut beasiswa Ziva hilang. Ziva takut semua orang benci Ziva karena Ziva dianggap 'pengganggu' Arkan."
Pak Wijaya menghela napas panjang. Ia bangkit dari kursi, lalu secara mengejutkan, ia membungkukkan badannya sedikit ke arah Ziva.
"Papa jamin, tidak akan ada yang menyentuh beasiswamu. Papa akan pastikan Pak Danu dan Kepala Sekolah tutup mulut soal isu apapun. Kalian adalah tanggung jawab Papa."
Rahasia di Balik Pintu Kamar
Setelah orang tua Arkan pulang, suasana di apartemen berubah total. Beban berat yang menghimpit dada Ziva seolah terangkat. Namun, ada kecanggungan baru yang muncul.
Arkan menutup pintu dan menguncinya. Ia menatap Ziva yang masih duduk di sofa, mengusap sisa air matanya.
"Ziva," panggil Arkan lembut.
Ziva menoleh. "Hm?"
Arkan berjalan mendekat, lalu duduk di lantai, tepat di depan lutut Ziva. Ia mendongak, menatap istrinya dengan tulus.
"Makasih sudah mau maafin Papa. Aku tahu itu nggak mudah."
Ziva tersenyum tipis, tangannya tanpa sadar mengusap rambut Arkan yang sedikit berantakan. "Gue nggak nyangka bokap lo bisa se-manusiawi itu, Ar. Gue pikir dia beneran robot versi pro."
Arkan tertawa kecil—tawa pertama yang benar-benar tulus sejak mereka menikah. "Mungkin dia cuma butuh diingetin kalau dia punya menantu yang galak kayak kamu."
Ziva tertawa, lalu tiba-tiba wajahnya berubah serius.
"Tapi Ar... soal rencana kita di sekolah besok. Kita tetep pura-pura musuhan?"
Arkan menggenggam tangan Ziva, mencium punggung tangannya dengan lembut, membuat jantung Ziva berdetak maraton. "Tetap. Kita harus main cantik. Clarissa dan Revan belum menyerah. Tapi sekarang, kita tahu kalau orang tua kita ada di belakang kita. Kita nggak perlu takut lagi."
Ziva mengangguk. "Oke, Pak Ketos. Besok gue bakal telat lagi biar lo bisa hukum gue di depan Clarissa."
"Jangan telat," bisik Arkan sambil berdiri, lalu tanpa diduga, ia mengecup dahi Ziva lama. "Cukup jadi dirimu sendiri. Aku yang akan mengatur sisanya."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Ziva tidur dengan pintu kamar yang tidak terkunci rapat. Ia tahu, di ruang sebelah, ada seseorang yang bukan lagi sekadar "rekan kontrak", melainkan pelindung yang siap melawan dunia demi dirinya.
Plot Twist di Luar Jendela
Di bawah gedung apartemen, sebuah mobil sedan hitam terparkir di kegelapan. Di dalamnya, Clarissa memegang teropong, mengawasi kepulangan orang tua Arkan dari gedung tersebut.
"Mereka ke sana? Malam-malam begini?" Clarissa menggigit bibirnya hingga berdarah. "Kenapa Om Wijaya dan Tante Shanti menemui mereka kalau cuma urusan 'teguran'? Ada yang nggak beres."
Ia merogoh ponselnya, menghubungi nomor yang tidak dikenal.
"Halo? Saya butuh orang untuk masuk ke Apartemen 402 besok siang saat mereka sekolah. Saya mau bukti fisik, bukan cuma gosip."
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, musuh sudah mulai berani melangkahi ambang pintu rumah mereka.