NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mendapatkan angpao

Rumah utama keluarga Su hangat oleh perapian. Di ruang tengah, meja bundar besar sudah dipenuhi kue keranjang, manisan, dan berbagai camilan khas Imlek. Nenek Jiang mendudukkan Jinyu di sampingnya, sebuah kehormatan bagi anggota keluarga baru.

"Ini pamanmu, Su Zhiming," Nenek Jiang memperkenalkan. "Peneliti senjata, jarang pulang. Dan ini istrinya, Xiu Wei."

Jinyu segera berdiri, membungkuk hormat pada paman dan bibinya. "Selamat Tahun Baru, Paman, Bibi. Maaf baru bisa berkunjung sekarang."

Su Zhiming yang berkacamata tebal itu tersenyum. "Wah, sopan sekali. Yichen, kau benar-benar beruntung."

Xiu Wei, wanita paruh baya dengan senyum hangat, mengulurkan sebuah amplop merah. "Ini untukmu, Jinyu. Angpao Tahun Baru."

Jinyu menatap ibunya sejenak. Ibu Liu mengangguk. Maka ia menerima dengan kedua tangan, membungkuk. "Terima kasih, Bibi."

"Nenek juga punya," Nenek Jiang menyelipkan amplop merah ke saku Jinyu. "Untuk cucu baru Nenek. Semoga tumbuh sehat, pintar, dan berbakti."

"Ini dari paman." Su Zhiming memberi satu lagi.

Su Yichen dan Ibu Liu juga memberi, disusul Weiguo dan Jianguo yang sudah dewasa. Jinyu menerima semua dengan sopan, meski dalam hati agak kewalahan. Ini baru pertama kali aku dapat angpao. Di dunia kiamat, amplop merah isinya biasanya racun atau bom.

"Jinyu, ini sepupu-sepupumu," Su Yichen memperkenalkan. "Yang paling besar, Su Wei, 25 tahun, komandan batalyon."

Su Wei adalah pemuda tinggi dengan wajah tegas dan sorot mata tajam khas militer. Ia mengangguk pada Jinyu. "Halo, adik kecil."

Jinyu membungkuk. "Kakak Wei."

"Yang kedua, Su Qiang, 20 tahun, mahasiswa universitas pertanian."

Su Qiang lebih santai, tersenyum ramah. Rambutnya agak acak-acakan, khas anak muda yang suka di lapangan. "Wah, adik baru kita cantik sekali. Rambutnya unik, warnanya seperti madu."

Jinyu hanya tersenyum sopan. "Terima kasih, Kakak Qiang."

"Dan yang terakhir," Su Yichen menunjuk dua remaja yang berdiri bersebelahan, wajah mereka sangat mirip, "Su Ming dan Su Yue, kembar. Usia 13 tahun, kelas 2 SMP."

Keduanya tersenyum kompak. Yang satu sedikit lebih berani maju, "Halo, adik Jinyu! Aku Su Ming. Ini kembaranku, Su Yue."

"Aku Su Yue," yang satu lagi melambai kecil.

Jinyu membungkuk pada mereka berdua. "Halo, kakak-kakak."

Su Ming terkikik. "Dia sopan sekali! Dan tinggi! Umur 4 tahun setinggi ini, nanti dewasa pasti jangkung."

Su Yue mengangguk setuju. "Ayo main nanti, ya! Kita bawa mainan dari kota."

Jinyu tersenyum tipis. "Terima kasih."

Makan malam Tahun Baru di rumah besar itu meriah. Meja bundar dipenuhi hidangan khas Imlek: ikan kukus (melambangkan kelimpahan), pangsit (melambangkan kekayaan), mie panjang umur, nian gao (kue keranjang), dan berbagai lauk lainnya. Nenek Jiang duduk di kursi utama, dikelilingi anak, menantu, dan cucu-cucunya.

Suasana hangat. Su Zhiming bercerita tentang penelitian senjatanya yang dirahasiakan hanya garis besar, karena menyangkut keamanan negara. Su Yichen bergantian bercerita tentang kehidupan di kompleks militer. Ibu Liu dan Xiu Wei asyik mengobrol tentang resep masakan dan anak-anak.

Sementara itu, para pemuda duduk di sisi lain meja. Weiguo, 19 tahun, mengobrol dengan Su Qiang, 20 tahun, tentang kehidupan kampus. Jianguo, 16 tahun, lebih banyak diam mendengarkan. Weimin, 10 tahun, sudah akrab dengan Su Ming dan Su Yue yang seumuran, mereka berbisik-bisik tentang mainan dan film.

Dan Jinyu... duduk tenang di antara Nenek Jiang dan Ibu Liu, sesekali menjawab pertanyaan dengan sopan.

"Nak Jinyu," panggil Nenek Jiang di tengah makan malam. "Nenek dengar kamu pintar matematika, bisa mengerjakan PR kakakmu?"

Jinyu mengangguk pelan. "Kebetulan saja, Nenek. Aku suka membaca buku bekas di rumah lama."

"Nenek juga dengar kamu suka jalan sendiri ke gunung?" Nenek Jiang tersenyum tahu. "Waspada, Nak. Gunung bisa berbahaya."

Jinyu tersenyum sopan. "Aku hanya jalan di pinggir, Nenek. Tidak masuk dalam." dan juga mendengar gosip dari burung Pipit.

Nenek Jiang tertawa. "Pintar, berani, sopan. Cucu yang baik. Yichen, kau benar memilih."

Su Yichen tersenyum bangga. "Dia berkah, Nenek."

Setelah makan malam, para pria berkumpul di ruang tamu, minum teh dan membahas urusan keluarga. Para wanita sibuk membereskan meja dapur. Anak-anak dan remaja berkumpul di ruang samping, dekat perapian kecil.

Su Ming dan Su Yue mengeluarkan segepok mainan mobil-mobilan dari kayu, beberapa kelereng kaca, dan sebuah buku cerita bergambar.

"Weimin, Jinyu, lihat! Ini mainan baru kami dari Beijing!" Su Ming memamerkan mobil-mobilan dengan bangga.

Weimin langsung antusias. "Wah, keren! Bisa jalan?"

"Lihat!" Su Ming memundurkan mobil itu, lalu melepaskannya. Mobil meluncur kencang di lantai kayu.

Weimin bertepuk tangan. Jinyu hanya menonton dengan senyum tipis. Di dunia akhir zaman, ia punya mobil sungguhan yang bisa terbang. Tapi melihat antusiasme mereka... agak lucu juga.

Su Yue mendekati Jinyu. "Kamu tidak suka main mobil, Jinyu?"

Jinyu menggeleng sopan. "Tidak juga, aku sedang tidak mau ikut bermain. Aku lihat saja disini."

"Oh, kalau gitu, lihat buku ini!" Su Yue menunjukkan buku cerita bergambar. "Tentang petualangan di hutan. Ada harimau, ular, dan harta karun."

Jinyu mengambil buku itu, membalik halaman demi halaman. Gambarnya sederhana, ceritanya standar. Tapi untuk anak-anak era 60-an, ini mungkin hiburan mewah.

"Bagus," katanya mengembalikan buku. "Terima kasih."

Su Yue tersenyum. "Kamu pendiam sekali. Tapi ayah bilang kamu jenius. Nanti kalau besar mau jadi apa?"

Jinyu berpikir sejenak. "Aku belum tahu."

Di dunia akhir zaman, ia adalah ratu iblis. Di sini... mungkin ia hanya ingin hidup tenang. Tapi tidak mungkin ia katakan itu.

Su Ming yang mendengar ikut nimbrung. "Aku mau jadi tentara, seperti kakak Li Wei! Atau peneliti, seperti ayah! Su Yue mau jadi dokter."

Su Yue mengangguk. "Iya, dokter bisa bantu orang banyak. Kamu, Jinyu?"

Jinyu tersenyum kecil. "Aku ikut kata Ibu dan ayah saja."

Su Ming tertawa. "Kamu penurut sekali!"

Jinyu hanya mengangkat bahu dalam hati. Penurut? Kalian tidak tahu siapa aku sebenarnya.

Menjelang malam, Nenek Jiang memanggil semua cucu untuk tradisi keluarga: memberi salam Tahun Baru pada orang tua. Satu per satu mereka maju, membungkuk, mengucapkan selamat Tahun Baru, lalu menerima angpao.

Jinyu berjalan terakhir. Ia berlutut dengan anggun di depan Nenek Jiang dan kakek—foto almarhum kakek dipajang di altar— lalu membungkuk dalam.

"Selamat Tahun Baru, Nenek. Semoga Nenek sehat selalu, panjang umur, dan rezekinya lancar."

Nenek Jiang tersenyum lebar. "Baik, baik. Ini untukmu." Ia memberi angpao lagi.

Jinyu lalu memberi hormat pada Su Zhiming dan Xiu Wei, juga pada Su Yichen dan Ibu Liu. Semua memberi angpao. Di sela-sela itu, Su Ming berbisik pada Su Yue, "Lihat, dia hafal semua aturan adat. Padahal baru pertama kali ke sini."

Su Yue mengangguk kagum. "Jenius, kan?"

Malam semakin larut. Salju turun di luar, menambah dingin. Tapi di dalam rumah besar keluarga Su, kehangatan menyelimuti setiap sudut.

Jinyu berdiri didekat jendela di kamar yang disediakan untuknya kamar kecil di sayap timur, bersebelahan dengan kamar Weimin. Dari luar terdengar suara angin berdesir, tapi selimut tebal membuatnya nyaman.

Shshsss~

Yoyo muncul dari balik ditanganya. Ular perak itu melingkar di sampingnya.

"Jinyu Shshsss~, bagaimana rasanya punya keluarga besar?"

Jinyu menatap keluar jendela. "Aneh."

Shshsss~ "Aneh bagaimana?"

"Mereka semua menerimaku. Tanpa syarat. Tanpa curiga. Padahal aku tidak melakukan apa-apa."

Shshsss~ "Mungkin itu yang namanya keluarga, Jinyu. Di dunia mana pun, keluarga adalah tempat di mana kamu diterima apa adanya."

Jinyu diam. Matanya menatap ke luar jendela, melihat butiran salju berjatuhan.

"Aku tidak tahu, Yoyo. Aku tidak pernah punya keluarga sbelumnya, aku sebatang kara sendiri. Bahkan setelah dunia kiamat, hanya ada aku dan bawahanku. Mereka takut padaku, bukan sayang."

Shshsss~ "Tapi di sini, mereka sayang padamu."

"Iya... itu yang membuatku bingung."

Yoyo menggesekkan kepalanya ke pipi Jinyu. "Nikmati saja, Jinyu. Ini kesempatan kedua."

Jinyu tersenyum kecil. "Mungkin kau benar."

Ia memejamkan mata. Di luar, angin malam masih menderu. Tapi di dalam kamar ini, di rumah keluarga besar Su, ia merasa hangat.

"Jinyu, jangan terlalu lama didekat jendela. Diluar begitu dingin, pergilah tidur "

Jinyu membuka matanya dan berbalik, melihat senyum hangat ibu angkatnya yang sangat menyayanginya. Melihat senyum itu membuat hati Jinyu menghangat, dia ikut tersenyum.

"Baik ibu, aku akan segera tidur. Selamat malam ibu"

"Malam juga sayang, kalau begitu ibu tutup pintunya "

Pintu kembali tertutup dan Jinyu menatap kosong pintu itu. Perasaan aneh yang muncul di hatinya.

Untuk pertama kalinya, ia menantikan esok hari.

Esok adalah Tahun Baru Imlek. Hari pertama tahun baru dalam penanggalan China. Dan ia, Su Jinyu, akan merayakannya bersama keluarga.

Keluarga.

Kata yang dulu asing, kini mulai terasa nyata.

1
Dewiendahsetiowati
akhirnya Yoyo ketemu setelah 10tahun berpisah
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!