NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu tidak punya celana?

Hal yang membuat Cya semakin kesal adalah saat Rajendra justru pergi begitu saja setelah membentaknya.

“Nyebelin banget sih. Bukannya minta maaf, malah pergi,” gerutu Cya pelan.

Akhirnya ia hanya duduk sendiri di ruang tamu yang luas dan mewah itu.

Entah kenapa, meskipun rumah ini jauh lebih besar dan indah dibanding rumahnya sendiri, Cya justru merasa asing… dan tidak nyaman.

Kalau tau begini, mending tadi nolak aja, batinnya.

“Cya, kamu kok sendirian? Jendra mana?”

Suara Bu Kiran membuyarkan lamunannya. Wanita itu baru saja keluar dari arah dapur. Sepertinya urusan memasak sudah selesai.

Di luar, langit sudah mulai gelap. Waktu maghrib hampir tiba.

“Mungkin di kamarnya, Tante. Tadi dia naik ke lantai dua,” jawab Cya.

“Loh, dia gak pamit sama kamu?”

Cya menggeleng pelan. “Nggak, Tante. Dia langsung pergi aja.”

Nada suaranya terdengar datar, tapi jelas menyimpan kesal.

Bu Kiran menghela napas panjang. “Ya ampun, anak itu…” Ia menggeleng pelan, lalu menatap Cya dengan lembut. “Kamu tunggu di sini ya, Nak. Tante panggil Rajendra dulu.”

Cya ragu sebentar, lalu berkata, “Tante… Cya boleh numpang ke kamar tamu? Mau salat dulu. Sudah adzan.”

“Tentu boleh, sayang. Silakan. Anggap saja rumah sendiri,” jawab Bu Kiran hangat.

Cya mengangguk kecil.

Ia pun berdiri dan berjalan menuju kamar tamu yang tadi ditunjukkan. Langkahnya pelan, pikirannya masih bercampur aduk.

Kesal, malu, dan… sedikit tidak enak hati.

Sementara itu, Bu Kiran langsung menuju lantai dua.

***

Begitu Bu Kiran masuk ke kamar, ia mendapati Rajendra duduk di tepi ranjang, menatap bingkai foto pernikahannya dengan Aurel.

“Rajendra…” Suara lembut itu membuat Rajendra menoleh. Ia tidak menyembunyikan foto di tangannya.

“Ada apa, Ma?”

“Kamu kenapa meninggalkan Cya sendirian di bawah?” tanya Bu Kiran tanpa basa-basi.

“Jendra nggak apa-apa, Ma,” jawabnya singkat. Ia memilih tidak menceritakan bahwa ia kesal karena Cya membahas Aurel.

Tatapan Bu Kiran jatuh pada bingkai foto itu. “Kamu kangen sama Aurel?”

Rajendra terdiam sejenak, lalu menjawab pelan, “Setiap hari aku kangen sama dia, Ma.”

Hati Bu Kiran terasa sesak mendengarnya. “Kamu harus belajar mengikhlaskan, Nak. Kalau kamu terus terpaku pada masa lalu, bagaimana dengan masa depanmu?”

Rajendra tersenyum tipis, tapi senyum itu penuh luka. “Sampai kapan pun… aku gak akan bisa melupakan Aurel, Ma. Dia cinta pertama aku… dan mungkin juga cinta terakhir.”

Bu Kiran menghela napas panjang. “Kalau begitu… kita batalkan saja perjodohan kamu dengan Cya.”

Rajendra langsung menoleh cepat. “Kenapa?” Nada suaranya jelas tidak suka.

“Karena kamu sendiri bilang kamu tidak bisa melupakan Aurel. Kalau kamu tidak bisa mencintai Cya, untuk apa menikah? Mama tidak mau anak sahabat Mama menderita,” ucap Bu Kiran tegas.

“Bukannya Mama yang ingin aku menikah dengan Cya supaya aku bisa membuka lembaran baru?” tanya Rajendra.

“Iya. Tapi pernikahan itu bukan sekadar pelarian dari masa lalu, Jendra. Mencintai pasangan itu kewajiban. Kalau kamu tidak bisa melakukannya, kamu hanya akan menyakiti dia.”

Rajendra terdiam. “Aku tadi bilang mungkin Aurel adalah cinta terakhir aku, Ma… tapi mungkin juga tidak,” ucapnya akhirnya. “Aku tidak akan membuat Cya menderita.”

Bu Kiran menatapnya lekat.

“Kamu yakin?”

Rajendra mengangguk mantap. “Yakin, Ma.”

“Kamu benar-benar tidak akan menyakiti Cya?”

“Iya.”

Di dalam hatinya, Rajendra merasa ia pasti bisa membuat Cya bahagia—dengan semua yang ia miliki.

Menurutnya, kebahagiaan bisa diberikan. Dengan fasilitas, dengan kemewahan, dengan uang.

Bukankah tadi Cya saja meminta cincin paling mahal?

Tanpa ia tau—itu hanyalah cara Cya mengujinya.

“Kalau begitu… kenapa tidak kamu lepaskan saja Cya sebelum semuanya terlambat?” tanya Bu Kiran lagi, mencoba memancing.

Rajendra menggeleng. “Aku sudah memikirkan semuanya, Ma. Dan… hati aku memilih untuk menerima perjodohan ini.”

Bu Kiran menatapnya lebih dalam. “Apa kamu sudah mulai suka sama Cya?”

Rajendra menghela napas kecil. “Mustahil aku bisa suka secepat itu, Ma. Untuk bisa menerima Aurel saja… aku butuh waktu bertahun-tahun.”

Ia teringat bagaimana dulu Aurel mengejarnya selama tiga tahun.

Perjuangan itu yang akhirnya membuat hatinya luluh.

Bu Kiran mengangguk pelan. “Kalau begitu… Mama hanya berharap satu hal.”

Rajendra menatapnya.

“Kamu bisa mencintai Cya… seperti kamu mencintai Aurel dulu.”

Rajendra tidak langsung menjawab.

Tatapannya kembali jatuh pada foto di tangannya.

Namun kali ini—entah kenapa, bayangan wajah lain… perlahan ikut terlintas di benaknya.

***

“Cya, makan yang banyak, sayang,” seru Bu Kiran hangat saat mereka semua duduk di meja makan.

“Iya, Tante. Ini juga sudah banyak kok,” jawab Cya sambil memperlihatkan piringnya yang penuh dengan berbagai lauk.

Rajendra yang duduk di sampingnya sampai melongo melihat porsi makan gadis itu.

“Kamu yakin bisa menghabiskan itu semua?” bisiknya pelan, hanya untuk Cya.

“Bisa,” jawab Cya singkat tanpa menoleh.

Ia masih kesal karena dibentak tadi. Tapi di depan orang tua Rajendra, ia tetap bersikap biasa saja.

Rajendra jelas tidak yakin. Namun beberapa menit kemudian—ia salah.

Cya benar-benar menghabiskan semuanya. Bahkan sempat menambah.

Kini piringnya bersih.

Cya meraih gelas di sampingnya dan langsung meneguk air tanpa berpikir.

Rajendra yang menyadari itu sedikit terkejut.

Itu gelasnya.

Air yang diminum Cya adalah miliknya yang sudah setengah.

Tapi… ia tidak mengatakan apa-apa.

Justru ia hanya menatap Cya dengan ekspresi sulit dijelaskan.

"Jendra, kenapa kamu liatin Cya terus?" Tanya bu Kiran yang diam-diam mengawasi gerak gerik putranya,

Buru-buru Rajendra mengalihkan pandangan karena cya langsung menoleh ke arah Rajendra.

"Gak kok, ma. Aku gak liatin cya." Elak Rajendra.

Ibu Kiran tersenyum tipis, ia merasa gemas pada tingkah putranya, padahal ibu jiran melihat dengan jelas Rajendra tadi menatap cya, tapi Rajendra masih saja mengelak.

"Oh, gitu..." Ucap bu Kiran yang mengiyakan saja ucapan putranya

"Iya ma." Rajendra mengambil air minum dekatnya yang itu artinya air minum cya soalnya air minum Rajendra sudah diminum oleh cya.

"Kalian sudah dapat cincin pernikahan?" Tanya Pak Mahardika yang sedari tadi hanya diam.

"Sudah Pa."

"Sudah Om."

Cya menjawab bersamaan dengan Rajendra.

Pak Mahardika dan Bu Kiran saling lirik mendengar kekompakan Cya dan Rajendra ketika menjawab pertanyaan Pak Mahardika.

"Baguslah.... Cya nanti kalau kamu butuh apa-apa, kamu tinggal minta saja ya sama Jendra, gak perlu sungkan."

"Minta apapun itu Om?" Tanya cya dengan mata berbinar.

"Iya, nak."

"Kalau minta rumah sama mobil memang boleh Om?" Tanya cya yang tak tau diri.

"Tentu saja boleh, tapi kalau soal rumah, kalian sudah punya rumah yang akan kalian tinggali nantinya kalau kalian sudah menikah."

Cya kira pak Mahardika akan marah atau malah menganggap Cya perempuan matre, tapi nyatanya Pak Mahardika bersikap biasa saja. Justru Rajendra sepertinya yang tak senang dengan permintaan cya.

"Maksud papa rumah yang aku bangun bersama aurel?" Tanya Rajendra.

"Iya Aurel kan cuma memberi usul agar rumah itu dibangun dengan model seperti apa bukan dia juga yang membangun rumah itu. Tak sepeserpun uangnya kamu pakai untuk membangun rumah itu."

"Tapi rumah itu tetap milik aku sama Aurel pa. Aku gak mau ada orang lain yang tinggal disana."

"Jendra, kita sama-sama tau kalau Aurel sudah tidak ada lagi, kamu tentu tidak bisa tinggal di rumah itu bersama dia lagi."

"Kalau tidak bersama Aurel berati rumah itu juga tidak akan aku tempati bersama orang lain, Pa. Aku bisa buatkan rumah baru untuk Cya kok." Rajendra tetap kekeh tidak mengizinkan cya tinggal di rumah yang sudah Rajendra rancang bersama aurel.

"Gapapa kok. Saya tinggal di rumah orang tua saya saja. Tadi saya cuma bercanda minta rumah dan mobil." Ucap cya.

Ia merasa tidak enak sudah membuat suasana jadi seperti ini.

Bu Kiran langsung mengambil alih. “Sudah, kita bahas nanti saja. Sekarang makan dulu.”

“Iya, Tante. Cya sudah kenyang.”

“Aku juga, Ma,” timpal Rajendra.

Cya meletakkan sendoknya. “Tante, saya mau pulang saja.”

“Kok buru-buru, Nak?”

“Nanti Mami sama Papi cariin saya, Tante.”

“Tante sudah bilang ke orang tua kamu kalau kamu di sini. Jadi tidak perlu khawatir,” jawab Bu Kiran lembut.

“Betul itu,” tambah Pak Mahardika. “Mereka pasti tidak akan marah.”

Cya menggigit bibirnya pelan.

“Iya, Om… tapi di rumah saya ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.”

“Pekerjaan apa? Kamu kan sudah lulus,” tanya Bu Kiran.

“Saya mau kuliah, Tante. Jadi harus menyiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran.”

“Oh, itu…” Bu Kiran tersenyum. “Kalau begitu kamu tenang saja, Nak. Nanti Jendra yang bantu kamu.”

Cya langsung menoleh ke arah Rajendra.

Sementara Rajendra… hanya diam.

Menatap Cya sebentar—lalu mengalihkan pandangan lagi.

Entah kenapa, suasana di antara mereka terasa berbeda sekarang.

***

Setelah beribu alasan Cya ucapkan di depan kedua calon mertuanya, akhirnya ia diperbolehkan pulang. Dan tentu saja, Rajendra yang bertugas mengantarnya.

Mobil berhenti tepat di depan rumah Cya.

“Jangan tidur larut. Besok kita harus ke butik untuk memilih baju pernikahan,” ucap Rajendra sebelum Cya membuka pintu.

Cya menoleh sekilas. “Loh, bukannya sama Tante yang pilih bajunya?”

“Yang mau menikah itu kita, bukan Mama saya.”

Cya mendecak pelan. “Ck, iya… tapi yang seharusnya bilang begitu kan saya. Om juga jangan telat.”

“Saya tadi telat karena ada pekerjaan mendadak.”

Rajendra tau jelas Cya sedang menyindirnya.

Cya memutar bola matanya malas. “Berarti cari cincin pernikahan kita nggak penting ya, Om?”

“Saya tidak ingin berdebat, Cya.”

Nada suara Rajendra mulai dingin.

Cya mengerucutkan bibirnya, kesal.

“Kenapa sih pernikahan ini gak dibatalin aja?” ucapnya tiba-tiba. “Kalau kita menikah, saya yakin Om bakal menyesal. Om nggak akan bahagia… dan saya bakal bikin Om kesal setiap hari.”

Ancaman itu terdengar setengah serius, setengah emosi.

Rajendra menoleh, menatapnya datar.

“Saya juga bisa membuat kamu kesal,” balasnya tenang, tapi menantang.

Cya langsung mengepalkan tangannya.

“Oke. Tapi kalau nanti kita menikah, jangan pernah minta cerai kalau Om sudah capek sama saya.”

“Tentu tidak.”

Jawaban itu singkat. Tegas. Tanpa ragu.

Cya terdiam sesaat.

Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia membuka pintu mobil dan turun dengan kesal. Bahkan ia tidak menawarkan Rajendra untuk mampir.

Pintu mobil dibiarkannya begitu saja.

Rajendra menghela napas pelan.

“Dasar bocil,” gumamnya saat melihat Cya sudah masuk ke pekarangan rumah.

Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, menarik pintu di sisi Cya, lalu menutupnya dengan pelan.

Namun setelah itu—Rajendra tidak langsung pergi.

Tangannya masih berada di setir.

Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya tidak ke mana-mana.

Entah kenapa, ucapan Cya barusan terngiang di kepalanya.

Tentang penyesalan.

Tentang ketidakbahagiaan.

Dan… tentang ancaman kecil gadis itu yang justru terdengar jujur.

Rajendra menghembuskan napas panjang. “Bikin kesal, ya…” gumamnya pelan.

Anehnya—bukan rasa keberatan yang muncul.

Melainkan sesuatu yang samar.

Seolah ia… tidak sepenuhnya menolak kemungkinan itu.

Beberapa detik kemudian, barulah mobil itu perlahan meninggalkan halaman rumah Cya.

Di sisi lain, Cya melangkah masuk ke dalam rumah dengan wajah masih cemberut.

Langkahnya sedikit dihentakkan, menunjukkan betapa kesalnya ia malam ini.

“Kesel banget sih!” gerutunya sambil melempar tas ke sofa. “gak tau jadinya apa gue kalau nikah sama tuh duda, udah nyebelin. Dingin, galak, nyolot… lengkap!”

Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa.

Tapi belum sempat ia melanjutkan omelannya— “Cya, udah pulang?”

Suara lembut itu membuat Cya langsung menoleh. “Mami…”

Wanita paruh baya itu baru saja turun dari anak tangga. "Jendra sudah pulang?"

Cya mengangguk malas. “Iya.”

“Gimana?”

Cya terdiam sejenak.

Lalu— “Nyebelin.”

Jawaban itu keluar begitu saja tanpa filter.

“Maksud kamu?”

“Ya nyebelin aja, Mi. Orangnya dingin, jutek, terus gampang marah. Tadi aja aku dibentak cuma karena nanya soal mantan istrinya.”

Alis sang ibu-Diana- langsung berkerut. “Kamu nanya apa?”

“Cuma nanya kenapa Om duda itu pisah sama istrinya, apa istrinya itu selingkuh? Eh dia langsung marah dan bentak aku."

Ibu Diana menghela napas panjang. “Cya… tidak semua hal harus kamu tanyakan secara langsung seperti itu. Apalagi itu soal masa lalu yang sensitif."

Cya mendengus. “Ya aku kan cuma penasaran.”

“Penasaran boleh, tapi harus tau batas.”

Cya memalingkan wajah. “Yaudah deh, salah aku terus.”

Suasana sempat hening.

Lalu bu Diana kembali bicara dengan nada lebih lembut. "kamu harus menyesuaikan diri kamu sama Jendra. Mungkin saja kan dia lebih suka perempuan yang tenang."

"Jadi menurut mami aku harus diam aja gitu? Plis deh mami, itu bukan aku banget. Aku itu paling gak bisa diatur."

"justru karena kamu gak bisa diatur makanya papi menjodohkan kamu dengan Rajendra." Bukan Diana yang menjawab, Adit yang baru saja turun ikut menyahut.

"Hemm.. Terserah aja deh, aku cape."

“Ya sudah. Istirahat sana. Besok kamu bilang katanya mau ke butik?”

“Iya.”

“Jangan telat.”

“Iya, Mi…”

Cya bangkit dan berjalan menuju kamarnya setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya.

***

Pagi-pagi sekali, Rajendra sudah berada di rumah Cya. Sepertinya lelaki itu tidak ingin kembali disindir karena datang terlambat.

Di lantai atas— “Cya, bangun, sayang! Di bawah sudah ada Rajendra.”

Bu Diana menarik selimut yang menutupi tubuh putrinya.

Cya mengerang pelan, masih enggan membuka mata.

“Sekarang jam berapa sih, Mi…?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.

“Jam setengah delapan.”

Cya langsung mengernyit. “Ya ampun… masih pagi banget, Mi. Kok dia sudah datang sih?” keluhnya sambil menutup wajah dengan bantal.

“Kan kalian mau ke butik hari ini.”

“Aku ingat, tapi gak sepagi ini juga kali. Butiknya juga pasti belum buka…”

“Tidak apa-apa. Itu tandanya Rajendra orangnya tepat waktu,” ujar Bu Diana, justru memuji.

Cya mendengus pelan. “Iya… tepat waktu banget sampai ganggu orang tidur.”

“Cya!” tegur ibunya. “Kamu itu belum mandi. Sana bangun!”

Bu Diana langsung menarik tangan Cya hingga gadis itu terpaksa duduk di atas kasur dengan rambut berantakan.

Cya menguap lebar. “Iya, iya… aku mandi sekarang…”

Ia turun dari kasur dengan langkah gontai, menyeret kakinya menuju kamar mandi.

Dua puluh menit kemudian, Cya akhirnya turun ke lantai bawah.

Rajendra masih duduk di ruang tamu, ditemani Bu Diana yang sejak tadi mengobrol ringan dengannya.

“Nah, itu dia Cya sudah datang,” ujar Bu Diana sambil menunjuk ke arah putrinya.

Rajendra langsung menoleh.

Tatapannya otomatis menelusuri penampilan Cya dari atas sampai bawah.

Kaos pink yang dipadukan dengan rok senada di atas paha.

Sederhana—tapi cukup mencolok.

“Kamu tidak punya celana?” tanya Rajendra tiba-tiba, tanpa peduli Bu Diana masih di sana.

Cya langsung menunduk, menatap pakaiannya sendiri.

Nada bicara itu jelas menyinggungnya.

“Punya kok,” jawabnya ketus. “Kenapa? Om mau pinjam celana saya?”

Bu Diana hampir tersedak mendengar itu.

“Mungkin sebaiknya kamu ganti rok kamu dengan celana panjang,” lanjut Rajendra tenang, seolah tidak terpengaruh. “Saya tidak mau pergi dengan kamu kalau pakaian kamu seperti itu.”

Cya langsung berkacak pinggang. “Bagus dong kalau Om gak mau pergi sama saya! Sekalian aja pernikahan kita dibatalin!”

“Cyaaa…!” Bu Diana langsung menegur. “Rajendra hanya ingin kamu berpakaian lebih sopan, bukan membatalkan perjodohan kalian. Iya kan, Nak Jendra?”

“Iya, Tante,” jawab Rajendra singkat.

“Cepat sana kamu ganti rok kamu!”

Cya mengerucutkan bibirnya kesal.

Rasanya mustahil menang melawan Rajendra kalau ibunya selalu berada di pihak lelaki itu.

“Iya, Mi… iya…”

Dengan langkah berat, ia kembali ke kamar.

Beberapa menit kemudian, Cya kembali.

Kini ia memakai celana panjang.

Meski jelas terlihat tidak terlalu nyaman. Karena ia tidak terlalu suka menggunakan jeans.

“Nah, begitu dong. Kamu kelihatan jauh lebih dewasa,” puji Bu Diana.

“Padahal biasanya aku selalu pakai rok mini ke mana-mana,” gumam Cya.

“Itu tidak baik kalau sering dipakai ke luar rumah,” sela Rajendra.

Cya langsung menoleh. “Kenapa memangnya?”

“Kamu bisa mengundang perhatian yang tidak baik.”

“Betul kata Rajendra,” tambah Bu Diana. “Kalau kamu berpakaian lebih tertutup, orang-orang di luar sana juga akan berpikir dua kali untuk berbuat jahat."

“Iya, Mi…” jawab Cya malas. Ia lalu mengambil tasnya. “Jadi gimana, Om? Mau berangkat sekarang nggak?”

“Kamu sarapan dulu.”

“Kamu juga, Nak,” sahut Bu Diana.

“Saya masih kenyang, Tante. Saya tidak biasa sarapan,” tolak Rajendra sopan.

“Beda sama Cya,” ujar Bu Diana sambil tersenyum. “Kalau dia harus sarapan. Kalau tidak, nanti ada-ada saja—kadang sakit perut, kadang sakit kepala.”

“Mamiiii…!” Cya langsung meringis malu.

***

Setelah Cya sarapan, Rajendra pun membawanya ke butik langganan keluarga mereka. Baik Cya maupun Rajendra sama-sama sudah pernah ke butik itu menemani mama mereka masing-masing.

"Gak usah dandan." Tegur Rajendra yang diam-diam mencuri pandang ke arah Cya yang tengah mengeluarkan cermin kecil dari tas selempang yang ia bawa.

Cya menghentikan aktivitasnya membenarkan poninya. "Saya cuma perbaiki poni saya bukan dandan."

"Sama aja."

"Beda dong Om. Yang namanya dandan itu pakai bedak, pakai lipstik, pakai eyeshadow, pakai blush on, pakai-"

"Tidak usah disebutkan semua." Rajendra memotong ucapan cya yang benar-benar mengabsen satu per satu alat make-up yang Rajendra jelas tdak tau bagaimana bentuknya.

Cya mengatup bibirnya rapat-rapat, ia masih ingin berbicara tapi omongannya dipotong Rajendra, alhasil sekarang ia jadi malas untuk berbicara.

1
Aidil Kenzie Zie
sukur dasar laki-laki nggak punya perasaan nggak punya pendirian semoga mereka cerai dan Cya bisa nemu bahagia sama yang lain
Aidil Kenzie Zie
emangnya si nenek tua nggak bisa masak harus nunggu"mantu"dulu yang masak
Siti Java
lanjut kk
Nifatul Masruro Hikari Masaru
rasain. makanya kalo punya mulut tuh dijaga
aku
mantep cya. kan blm anu, cb dh batalin pernikahan. kejar mimpi mu. sukses kan dirimu!! melebihi mereka bertiga!! semangat cyaaaaa 💪🏻💪🏻
Adinda
istri sendiri dibilang kupu kupu malam,gak tau kan kamu istri pertamamu memang tiada atau kabur sama pria lain
Arif Santoso
tinggalin aja cya....menikah sm orang yang belum siap membuka lembaran baru...
Nifatul Masruro Hikari Masaru
oles2 apa elus2?
Fegajon: maaf, aku typo otomatis🥲
total 1 replies
aku
upgrade diri donk cya. jgn lembek. ilangin dkit kekanakan. tegas. nyesekk tau biar cm baca aja 😭😭 dilembutin dkit dh mleyot. lama2 hancur sendiri kamu.
Aidil Kenzie Zie
ibunya Jendra mana sih kok nggak nongol-nongol🤔🤔
Fegajon: sabar. bentar lagi😛
total 1 replies
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!