NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Badai Kecil Bernama Pernikahan

Tiga bulan setelah pernikahan mereka, Aisha dan Arka masih belajar menyesuaikan diri. Bukan karena mereka tidak saling mengenal—mereka sudah hidup bersama selama lima belas tahun sebelumnya. Tapi setelah perceraian, setelah semua luka dan kebohongan, ternyata hidup bersama lagi tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu tidak terasa mengganggu, kini menjadi sumber gesekan. Arka yang masih sering pulang larut meski sudah tidak ada proyek besar. Aisha yang kadang masih cemburu buta ketika Arka terlambat pulang tanpa kabar. Baskara yang kadang bermain terlalu keras hingga rumah berantakan.

Tapi mereka berusaha. Mereka bicara, mereka bertengkar, mereka berdamai. Setiap hari adalah proses belajar untuk saling memahami lagi.

---

Pagi itu, Aisha bangun lebih awal dari biasanya. Ia ingin menyiapkan sarapan spesial untuk Arka dan Baskara. Tapi ketika ia masuk ke dapur, ia menemukan Arka sudah berdiri di depan kompor, memegang spatula, dan wajan berisi telur dadar yang mulai matang.

“Arka? Kamu sudah bangun dari tadi?”

Arka menoleh, tersenyum. “Aku ingin masak untukmu. Sudah lama tidak melakukannya.”

Aisha tersenyum, berjalan mendekat, dan memeluk Arka dari belakang. “Terima kasih, Sayang.”

“Sama-sama. Sekarang duduk. Aku siapkan kopi untukmu.”

Aisha duduk di meja makan, memandangi Arka yang sibuk di dapur. Ada kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan. Kehangatan yang membuatnya lupa pada semua kesedihan di masa lalu.

Baskara turun beberapa menit kemudian, dengan mata masih sayu dan rambut acak-acakan. “Ayah masak? Aku ikut makan!”

“Iya, Nak. Duduk. Ayah buatkan telur dadar kesukaan kamu.”

Baskara duduk di samping Aisha, menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. “Bu, aku seneng Ayah masak.”

“Ibu juga seneng, Nak.”

Mereka bertiga sarapan bersama, seperti keluarga normal lainnya. Tawa Baskara yang renyah, candaan Arka yang kadang kaku, dan senyum Aisha yang tulus. Inilah yang selama ini ia rindukan. Inilah yang nyaris ia hancurkan dengan tangannya sendiri.

---

Setelah sarapan, Arka mengantar Baskara ke sekolah dengan mobil. Aisha tinggal di rumah, membersihkan dapur dan menyiapkan pesanan katering. Ia sedang asyik memotong sayuran ketika ponselnya berdering.

“Halo?”

“Bu Aisha, selamat pagi. Saya Mira, konselor Baskara.”

Jantung Aisha berdegup kencang. “Ada apa dengan Baskara, Bu?”

“Tenang, Bu. Baskara baik-baik saja secara fisik. Tapi saya ingin mendiskusikan sesuatu dengan Ibu. Apakah Ibu ada waktu hari ini?”

“Ada, Bu. Saya bisa datang ke sekolah siang ini.”

“Baik, Bu. Saya tunggu.”

Aisha menutup telepon, perasaannya campur aduk. Baskara baik-baik saja, tapi Mira ingin bertemu. Mungkin ada masalah dengan nilai Baskara, mungkin masalah dengan teman-temannya, atau mungkin... Aisha tidak mau berpikir yang negatif.

---

Siang harinya, Aisha pergi ke sekolah Baskara. Mira menyambutnya di ruang konseling dengan wajah serius.

“Bu Aisha, terima kasih sudah datang.”

“Ada apa dengan Baskara, Bu?”

Mira mengambil napas panjang. “Bu Aisha, Baskara adalah anak yang cerdas dan baik hati. Tapi dalam beberapa minggu terakhir, kami melihat perubahan perilaku yang cukup signifikan.”

“Perubahan seperti apa?”

“Dia lebih pendiam dari biasanya. Dia sering melamun di kelas. Nilainya yang biasanya bagus, mulai menurun. Teman-temannya juga bilang Baskara jarang bermain dengan mereka seperti dulu.”

Aisha menunduk. “Apakah ini karena... karena saya dan Arka yang baru saja menikah lagi?”

“Kami tidak tahu pasti, Bu. Tapi perubahan ini terjadi sekitar tiga bulan terakhir, setelah Ibu dan Bapak Arka menikah. Mungkin ada hubungannya, mungkin tidak. Tapi sebaiknya Ibu bicara dengan Baskara, cari tahu apa yang ia rasakan.”

“Baik, Bu. Saya akan bicara dengannya.”

---

Sepulang sekolah, Aisha menjemput Baskara seperti biasa. Anak itu duduk di kursi belakang sepeda, tangannya memeluk pinggang Aisha, tapi tidak banyak bicara.

“Nak, Ibu mau tanya sesuatu.”

“Apa, Bu?”

“Apa kamu baik-baik saja? Ibu dengar dari Bu Mira, kamu jadi pendiam di sekolah.”

Baskara tidak menjawab. Tangannya yang memeluk pinggang Aisha mengendur.

“Nak?”

“Aku baik-baik saja, Bu. Cuma sedikit capek.”

Aisha tidak percaya. Tapi ia tidak memaksa. Ia akan bicara dengan Baskara di rumah, ketika suasana lebih tenang.

---

Di rumah, Aisha menyiapkan camilan untuk Baskara. Mereka duduk di ruang tamu, berdua saja. Arka masih di kantor.

“Nak, Ibu serius. Ada apa dengan kamu? Ibu tidak akan marah. Ibu hanya ingin tahu.”

Baskara menunduk. Matanya berkaca-kaca. “Bu, aku takut.”

“Takut apa, Nak?”

“Aku takut Ayah dan Ibu bercerai lagi.”

Aisha terkejut. “Kenapa kamu berpikir begitu, Nak?”

“Karena dulu Ibu dan Ayah juga sering berantem. Terus Ibu selingkuh, terus Ayah marah, terus kalian bercerai. Sekarang kalian sudah balikan, tapi aku takut kalian berantem lagi. Aku takut Ibu selingkuh lagi. Aku takut Ayah pergi lagi.”

Aisha memeluk Baskara erat-erat. “Nak, Ibu janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ibu sudah berubah. Ayah juga sudah berubah. Kami tidak akan bercerai lagi.”

“Tapi Bu, kadang Ibu dan Ayah berantem. Aku dengar waktu malam. Ibu marah karena Ayah pulang malam. Ayah marah karena Ibu cemburu.”

Aisha tersenyum tipis. “Nak, berantem itu wajar. Ayah dan Ibu juga manusia. Tapi yang penting, setelah berantem, kami berdamai. Itu yang membuat kami kuat.”

Baskara mengangkat wajahnya, menatap Aisha. “Ibu janji nggak akan selingkuh lagi?”

“Ibu janji. Sumpah.”

“Ayah janji nggak akan pergi lagi?”

“Ayah juga janji. Ayah bilang padaku, Ayah tidak akan pernah meninggalkan kita.”

Baskara menghela napas lega. “Aku percaya Ibu. Tapi Bu, kalau Ibu dan Ayah mulai berantem, panggil aku ya. Aku bisa jadi juru damai.”

Aisha tertawa. “Kamu mau jadi apa? Juru damai?”

“Iya. Aku bisa bilang ‘Ayah, Ibu, jangan berantem. Aku sayang kalian.’”

Aisha memeluk Baskara. Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan karena sedih. Ini adalah air mata haru, bangga memiliki anak sebaik Baskara.

---

Malam harinya, Aisha bercerita pada Arka tentang percakapannya dengan Baskara.

Arka terdiam lama. “Aku tidak menyangka Baskara masih menyimpan ketakutan seperti itu.”

“Dia trauma, Arka. Trauma melihat kita bercerai. Trauma melihatku berselingkuh. Kita harus sabar membantunya sembuh.”

“Aku setuju. Mulai besok, aku akan pulang lebih awal. Aku akan habiskan lebih banyak waktu dengan Baskara.”

“Aku juga akan kurangi jam kerjaku. Baskara butuh kita berdua.”

Mereka berdua diam, merenungkan apa yang bisa mereka lakukan untuk Baskara.

“Arka, aku minta maaf.”

“Minta maaf untuk apa?”

“Untuk semua ini. Untuk perselingkuhanku yang membuat Baskara trauma. Seandainya aku tidak berselingkuh, mungkin Baskara tidak akan seperti ini.”

Arka meraih tangan Aisha. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Aisha. Kita berdua bertanggung jawab. Aku juga punya andil. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, terlalu tertutup, terlalu cuek. Baskara trauma bukan hanya karena perselingkuhanmu, tapi karena kita berdua gagal menjadi orang tua yang baik.”

“Tapi kita bisa memperbaikinya, kan, Arka?”

“Kita bisa. Kita sudah memulai. Dan kita tidak akan berhenti sampai Baskara benar-benar pulih.”

---

Keesokan harinya, Arka pulang lebih awal. Ia menjemput Baskara dari sekolah, lalu mengajaknya bermain ke taman. Aisha menyusul dengan bekal camilan.

Mereka bertiga bermain sepeda, main bola, dan terbang layang-layang. Baskara tertawa riang, melupakan sejenak ketakutannya. Aisha dan Arka juga tertawa, menikmati kebersamaan yang selama ini terenggut.

“Bu, Ayah, aku seneng banget!” teriak Baskara sambil mengejar layang-layang yang terbang tinggi.

“Kami juga seneng, Nak!” teriak Arka membalas.

Aisha memandangi mereka berdua, ayah dan anak yang berlarian di padang rumput. Hatinya terasa hangat. Inilah yang selama ini ia rindukan. Inilah yang hampir ia hancurkan.

Tapi sekarang, ia akan menjaganya. Seumur hidup.

---

Minggu berikutnya, Aisha dan Arka memutuskan untuk membawa Baskara ke psikolog lagi, bukan untuk terapi intensif, tapi untuk sekadar konsultasi ringan. Dokter Andini menerima mereka dengan hangat.

“Baskara, kamu mau bermain di sudut sana? Ada boneka-boneka baru,” kata Dokter Andini.

Baskara mengangguk, berlari ke sudut ruangan.

“Bu Aisha, Pak Arka, ada yang bisa saya bantu?”

Aisha menceritakan tentang ketakutan Baskara, tentang percakapan mereka di ruang tamu, tentang kekhawatiran bahwa Baskara masih trauma dengan perceraian mereka.

Dokter Andini mendengarkan dengan saksama. Setelah Aisha selesai, ia berkata, “Bu Aisha, Pak Arka, trauma pada anak tidak hilang dalam semalam. Baskara sudah menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Tapi seperti yang Ibu ceritakan, ada pemicu yang membuat ketakutannya muncul kembali.”

“Pemicunya apa, Dok?” tanya Arka.

“Pernikahan Ibu dan Bapak. Bagi Baskara, pernikahan adalah sesuatu yang rapuh. Dia melihat orang tuanya bercerai setelah menikah, dan dia takut pernikahan Ibu dan Bapak yang sekarang juga akan berakhir sama.”

“Apa yang harus kami lakukan?” tanya Aisha.

“Konsistensi. Tunjukkan pada Baskara bahwa pernikahan Ibu dan Bapak berbeda. Tunjukkan bahwa Ibu dan Bapak bisa berantem dan tetap bersama. Tunjukkan bahwa cinta Ibu dan Bapak tidak mudah hancur. Baskara butuh bukti, bukan janji.”

---

Sepulang dari psikolog, Aisha dan Arka duduk di ruang tamu, merenungkan saran Dokter Andini.

“Dia benar,” kata Arka. “Kita terlalu banyak memberi janji, tapi Baskara butuh bukti.”

“Apa yang bisa kita lakukan?”

“Mulai dari hal-hal kecil. Kita berantem, tapi tunjukkan padanya bahwa kita berdamai. Kita berbeda pendapat, tapi tunjukkan bahwa kita saling menghargai. Kita punya masalah, tapi tunjukkan bahwa kita menyelesaikannya bersama.”

Aisha mengangguk. “Baik. Kita lakukan.”

---

Malam harinya, ketika Baskara sudah tidur, Aisha dan Arka duduk di teras belakang. Langit malam cerah, bintang-bintang bertaburan.

“Arka, aku mau bilang sesuatu.”

“Apa?”

“Aku mencintaimu. Bukan karena kau sempurna, tapi karena kau berusaha. Bukan karena kita tidak pernah salah, tapi karena kita selalu memperbaiki kesalahan.”

Arka tersenyum. “Aku juga mencintaimu, Aisha. Lebih dari apa pun.”

Mereka berdua berpelukan, menikmati malam yang sunyi.

Di dalam kamar, Baskara terbangun sebentar. Ia mendengar suara tawa orang tuanya dari teras, dan ia tersenyum. Ia memejamkan mata, dan tidurnya kembali nyenyak.

Ketakutannya belum sepenuhnya hilang. Tapi perlahan, mulai terkikis.

---

1
Nessa
kapok aisha
M F91: hai ka makasih sudah meramaikan komen dari hasil karyaku yang masih pemula
total 1 replies
Agus Tina
Tetap semangat thor ..
M F91: siap kaka
terimakasih untuk suportnya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!