Memiliki suami yang penyayang dan pengertian merupakan suatu anugerah yang patut di syukuri oleh setiap wanita, suami yang bertanggung jawab dan selalu jujur tentang apa pun. namun sayang semuanya sirna ketika sang suami menyembunyikan suatu rahasia besar yang akan menghancurkan rumah tangga yang bahagia itu. akan kah rahasia itu terbongkar ataukah akan tetap tersembunyi dengan rapat? nantikan kelanjutannya yahh!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon janda#hot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.6
Keesokan harinya, setelah suaminya pergi bekerja Lia memutuskan untuk kembali ke perumahan itu. Tempat di mana kemarin suaminya dan perempuan itu saling berpelukan mesra. Lia memarkirkan motor matic nya di samping pos satpam.
"Maaf pak boleh numpang tanya?" tanya Lia pada satpam perumahan yang baru kemarin dikunjungi oleh suaminya itu
"Iya, Bu. Silahkan mau tanya apa?" ucap seorang satpam bernama Igor.
"Begini pak, kemarin saya nggak sengaja lihat suami saya berhenti di depan rumah itu pak, rumah nomor 3 dari sini," ucap Lia sambil menunjuk rumah bercat biru itu.
"Kalau boleh tahu nama suaminya siapa Bu?" tanya pak satpam itu singkat.
"Arga pak," jawab Lia.
Pak Igor pun mengerutkan alisnya pelan lalu menggaruk-garuk kepalanya.
"Saya kurang tahu kalau namanya Arga, mungkin ibu salah lihat," jawab satpam itu, kemudian ia memanggil temannya untuk ikut menjelaskan.
"Ia, Bu. Setahu saya yang sering ke rumah itu pak Wira, suaminya mbak Amel," jawab pak Santoso meyakinkan.
"Pak Wira? Apa memang mas Arga sengaja memakai nama belakangnya untuk tinggal disini? Apa dia sengaja biar nggak ketahuan jika aku mencarinya sewaktu-waktu? Kenapa juga dia tak memakai nama depannya saja. Arga Bimo Wirawan itulah nama panjangnya, sedangkan perempuan itu bernama Amel!" ucap Lia pelan.
Kepalanya mendadak pening memikirkan siapa perempuan itu dan dimana Arga mengenalnya? Apa lagi kedua satpam itu mengatakan jika keduanya telah menikah? Rasa benar-benar sulit di percaya.
"Baiklah kalau begitu, pak. Mungkin saya yang salah lihat, terimakasih untuk informasinya pak," ucap Lia mengakhiri obrolan mereka dan berpamitan untuk pergi dari tempat itu.
"Wira dan Kanya. Aku akan menyelidiki sendiri masalah ini," ucap Lia dalam hatinya. Sebelum ia menyalakan mesin motornya ponsel Lia bergetar beberapa kali.
{maaf Lia, bukannya mau ikut campur urusan rumah tangga kamu tapi kayanya ada sesuatu yang di sembunyikan oleh suamimu deh. Tadi aku nggak sengaja dengar dia teleponan sama seseorang, dia bilang akan mengantar orang itu ke dokter kandungan besok sore. Pakai panggilan sayang-sayang segala lagi, padahal kamu nggak lagi hamil kan?}
Pesan dari Anggi sahabatnya masuk ke ponsel Lia. lagi dan lagi hal itu membuat hati Lia panas seketika.
{kamu dengar mas Arga nyebut nama perempuan itu nggak, nggi?}" balas Lia.
{Nggak sih, Li. Gue cuman dengar dia bilang sayang-sayang doang} balas Anggi.
Lia menghembuskan napas panjang seraya mengucap istighfar berulang kali untuk menenangkan hatinya.
"Aku harus bisa mengontrol emosi, jangan sampai aku menghancurkan semua rencana yang sudah ku susun sedemikian rupa. Aku wajib sabar dan istighfar banyak-banyak sebelum rumah itu jatuh ke tanganku. Sampai kapan pun aku nggak akan rela jika sebagian hasil tabunganku dulu seenaknya di nikmati oleh mas Arga dan perempuan itu," ucap Lia sambil kembali menghidupkan mesin motornya dan berjalan pergi meninggalkan tempat itu, ia harus segera pulang sebelum suaminya pulang. Lia tak ingin jika suaminya mencurigainya macam-macam.
****
Lia masih membuka ponselnya dan membaca beberapa pesan yang masuk di WhatsApp nya, mendadak kedua matanya terfokus kepada salah satu pesan disana.
{Lia, tiga hari ini aku bolehkan nginap di rumah kamu ya? Aku mau ngambil beberapa baju sekalian mengerjakan tugas skripsi ku disana, biar lebih tenang soalnya kalau liburan di kost terlalu berisik dan nggak bisa konsen}
Pesan dari Kanya, saudara angkat sekaligus sahabatku. Dimana dulu semasa sekolah ia sering bermain di rumahku bahkan menginap beberapa hari maka dari itu ibuku menganggapnya seperti anaknya sendiri. Umur kami pun terpaut satu tahun saja.
Pesan tersebut masuk ke aplikasi hijau milik Lia. Pesan yang sedikit aneh menurut Lia, karena tak biasanya Kanya mau menginap di rumah. Tiap kali diajak untuk menginap ia selalu berkata segan dengan Arga dan tak enak hati jika mas Arga tak berangkat kerja. Apa lagi tiga hari kedepan tanggal merah dan weekend, namun entah mengapa saat ini Kanya seolah-olah melupakan semua itu.
{Oke, Nya. Main aja ke rumah. Pintu rumahku terbuka lebar untukmu, si Aska pun udah kangen sama kamu karena sudah lama tak bertemu} balas Lia. Lia kemudian meletakan ponselnya lalu menghembuskan napas panjang seolah-olah ia tengah memikul beban yang sangat berat.
demi jalang murahan.... dan jga nafsumu... km rela khilangan rumah yg nyata😅😅😅
jika berkenan kita saling dukung yuk