NovelToon NovelToon
TAKDIR DI BALIK SORBAN

TAKDIR DI BALIK SORBAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak
Popularitas:738
Nilai: 5
Nama Author: Secret A

Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 — PEREMPUAN DARI MASA LALU

Gerimis sore membasahi tanaman melati di teras rumah keluarga Faruqi, membawa hembusan hawa dingin yang menusuk tulang. Namun, hawa dingin di luar tak sebanding dengan rasa beku yang mendadak melilit dada Aurel saat wanita anggun berkerudung putih itu menyebutkan namanya.

Nadia Rahma.

Nama itu pernah bergema sebagai kenangan, sebagai duka masa lalu Rasyid yang diceritakan Salma dengan bertumpuk air mata. Namun kini, sosok itu berdiri tegak hanya dua langkah dari tempat Aurel berdiri. Anggun, tenang, dengan binar mata yang memancarkan kelembutan batin khas wanita pesantren sejati.

Aurel mencengkeram tali tas bahunya amat kencang. Di dalam tas itu, surat tua almarhumah ibunya masih tersimpan, menyisakan rasa perih yang belum sempat terobati. Dan kini, takdir seolah menumpuk kejutan lain di depan matanya.

"Kamu... Nadia?" bisik Aurel kaku. Suaranya terdengar serak, berusaha menahan guncangan emosi yang berkecamuk hebat di dalam dadanya.

Nadia mengulas senyum ramah yang teramat tulus. Tidak ada sedikit pun raut keangkuhan atau intonasi ketus dari bibirnya.

"Iya," jawab Nadia halus. "Maaf kalau kedatanganku yang tiba-tiba ini membuatmu kaget. Aku baru kembali dari luar kota tadi siang dan bermaksud mengantarkan beberapa berkas wakaf milik almarhum Ayah yang dulu sempat tertinggal di rumah Kiai Abdul."

Nadia mengangkat sebuah amplop cokelat tebal yang dibawanya. Ia melirik ke arah dalam rumah yang sepi.

"Tadi aku sudah bertemu Ummi Kulsum dan menyerahkan berkasnya," lanjut Nadia. "Tetapi Rasyid sepertinya sedang ada acara di Kompleks Madrasah Atas."

Mendengar nama Rasyid diucapkan begitu akrab dari bibir Nadia, ada denyut nyeri tak kasat mata yang menyengat ulu hati Aurel. Aurel teringat foto remaja mereka di tepi telaga, teringat bagaimana Salma menceritakan duka Rasyid sewaktu kehilangan Nadia.

Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa Salma bilang Nadia sudah meninggal empat tahun lalu di Mesir? Ataukah ada kesalahpahaman lain? Ataukah wanita di depannya ini adalah sepupu atau kerabat bernama sama?

Banyak pertanyaan yang membakar benak Aurel, namun benteng gengsinya menahan lidahnya untuk tidak merancak histeris.

Aurel menelan ludah, mencoba menegakkan punggungnya seraya mengulas senyum kaku yang dipaksakan. "Oh... begitu. Mau masuk dulu? Biar aku buatkan teh."

"Tidak perlu, terima kasih banyak," tolak Nadia halus seraya merapatkan selendang putihnya. "Aku harus segera kembali ke penginapan. Rombongan ustazah dari Jawa Tengah sudah menunggu di mobil."

Nadia melangkah satu tindak mendekati batas tangga teras. Namun sebelum ia melangkah turun menuju pelataran yang dibasahi gerimis, Nadia menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap Aurel lurus-lurus. Binar matanya yang jernih memancarkan campuran rasa haru, empati, dan keraguan yang amat dalam.

"Aurel..." panggil Nadia pelan, melepas sapaan formalnya.

Aurel menaikkan sebelah alisnya, menatap Nadia penuh tanya. "Iya?"

Nadia menarik napas pendek, membiarkan angin sore bertiup menyapu kerudungnya.

"Mungkin ini bukan kapasitasku untuk mengatakannya," ujar Nadia halus, namun setiap kata yang diucapkannya sarat akan bobot misteri. "Tapi... ada hal yang mungkin belum kamu ketahui tentang Rasyid dan pernikahan kalian."

Jantung Aurel mendadak berdegup dua kali lebih kencang. Tangannya di dalam saku jaket mengepal rapat. "Maksudmu?"

Nadia menatap Aurel dengan raut wajah yang amat jujur. "Pernikahan kalian... bukan sekadar kebetulan atau perjodohan impulsif seperti yang mungkin kamu bayangkan selama ini. Ada janji besar, amanah, dan rahasia dua keluarga yang menopang berdiri pernikahan ini."

Aurel terpaku di tempatnya. Kalimat Nadia menyatu persis dengan isi surat almarhumah ibunya yang baru saja ia baca beberapa jam lalu di rumah lamanya.

"Kamu... tahu soal surat Ibuku?" bisik Aurel, suaranya bergetar hebat.

Nadia tersenyum tipis—sebuah senyuman penuh simpati yang tidak memancarkan niat jahat sedikit pun.

"Aku tahu dari almarhum Ayahku dulu," jawab Nadia pelan. "Tapi aku tidak punya hak untuk membocorkannya padamu. Kalau aku jadi kamu, Aurel... aku tidak akan bertanya pada Rasyid lebih dulu. Bertanyalah kepada ayahmu, Pak Hamdan. Beliaulah yang memegang kunci jawaban atas seluruh pertanyaanmu."

Nadia merapikan letak amplop cokelat di tangannya, lalu memutar tubuhnya menghadapi tangga teras.

"Rasyid adalah pria yang sangat jujur dan menjaga amanah, Aurel," tambah Nadia sebelum melangkah turun menuju hujan. "Dia melindungimu dengan caranya sendiri, bahkan jika itu harus membuatmu membencinya. Jangan meragukan ketulusan hatinya."

Dengan langkah anggun dan tenang, Nadia berjalan menyusuri selasar halaman beraspal menuju mobil yang menunggunya di gerbang luar, meninggalkan Aurel yang berdiri kaku bak patung di atas teras kayu.

Hujan gerimis perlahan berubah menjadi derai yang agak deras.

Aurel melangkah masuk ke dalam rumah yang hening. Ia berjalan menuju ruang keluarga lantai dasar, terduduk kaku di atas sofa kulit cokelat yang dingin. Tas bahunya tergeletak di sampingnya.

Dengan jemari yang gemetar, Aurel mengeluarkan lembaran surat tua almarhumah ibunya kembali dari dalam tas. Ia membacanya sekali lagi di bawah pendar temaram lampu ruang tengah.

...Sesuai dengan janji yang telah kita sepakati bersama di hadapan Allah, kami dengan tulus menyerahkan takdir putri kami, Aurelia Nathania, untuk disatukan dengan putra Kiai, Muhammad Rasyid Al-Faruqi, kelak ketika mereka sudah dewasa...

...Jangan biarkan dia mengetahui kebenaran tentang masalah ini sebelum waktunya. Biarkan Aurel tumbuh tanpa beban masa lalu orang tuanya...

Kata-kata ibunya dan bisikan kalimat Nadia di teras tadi berputar-putar di dalam kepalanya seperti pusaran angin yang mengamuk.

Selama ini, Aurel merasa dirinya adalah korban dari keegoisan ayahnya. Ia merasa dijebak dalam ikatan pernikahan dengan seorang ustadz demi status sosial atau perbaikan perilaku.

Namun sore ini, tabir itu tersingkap perlahan.

Ada rahasia besar di masa lalu yang melibatkan ayahnya, almarhumah ibunya, dan Kiai Abdul Faruqi. Sebuah masalah besar atau kebaikan luar biasa yang membuat keluarganya terikat oleh janji suci yang tak bisa dibatalkan.Dan Rasyid... pria yang kini menjadi suaminya... menerima pernikahan ini bukan sekadar karena kepatuhan, melainkan karena memikul amanah rahasia tersebut demi melindunginya.

Aurel memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata hangat menetes deras melintasi pipinya, jatuh membasahi kertas surat tua milik ibunya.

Ia merasa begitu kecil. Ia merasa asing di tengah konspirasi kebaikan dan janji masa lalu yang dibuat oleh orang-orang di sekitarnya. Dan yang paling menyakitkan dari segalanya: rasa sayangnya yang baru saja tumbuh mekar untuk Rasyid kini dihantam oleh keraguan besar.

Apakah Rasyid benar-benar mencintainya sebagai Aurel... ataukah Rasyid hanya sedang mengabdi dengan tulus pada janji amanah orang tua mereka?

Suara derit pintu depan yang terbuka memecah keheningan rumah.

Langkah kaki beratap halus mendekat dari arah lorong. Rasyid melangkah masuk ke ruang tengah dengan baju koko putih yang sedikit basah di bagian bahu oleh air hujan. Pria itu baru saja kembali dari komplek madrasah.

Melihat Aurel duduk terdiam di atas sofa dengan bahu yang bergetar pelan, Rasyid menghentikan langkahnya. Binar cemas seketika terpancar dari mata cokelat gelapnya.

"Aurel?" panggil Rasyid halus seraya melangkah cepat mendekati sofa. "Kamu kenapa? Kamu sakit?"

Aurel tidak mendongak. Ia meremas kertas surat ibunya di atas pangkuan, menunduk dalam-dalam seraya menahan isak tangis yang hendak pecah dari tenggorokannya.

Rasyid berjongkok di hadapan Aurel, mengulurkan tangannya hendak menyentuh jemari Aurel yang dingin. "Aurel, ada apa? Cerita padaku..."

Namun, sebelum jemari Rasyid sempat menyentuh kulitnya, Aurel mendongak mendadak.

Mata cokelat terang milik Aurel yang memerah dan tergenang air mata menatap lurus ke dalam netra Rasyid—sebuah tatapan yang dipenuhi oleh rasa terluka, kebingungan, dan pertanyaan yang teramat dalam.

Aurel mengangkat kertas surat tua itu sedikit di udara dengan tangan gemetar.

"Rasyid..." suara Aurel pecah, bergetar hebat di antara heningnya ruangan. "Tolong jawab jujur... Sebenarnya, aku ini siapa buat kamu? Istri yang kamu pilih... atau cuma janji masa lalu yang harus kamu pelihara?"

Keheningan seketika membeku di ruang tengah kediaman Faruqi. Rasyid terpaku kaku di tempatnya berjongkok, tatapannya tertambat pada kertas surat tua di tangan istrinya dengan pendar syok yang tak sanggup ia sembunyikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!