6 mahasiswa KKN datang ke desa terpencil untuk pengabdian. Di gapura desa, mereka disambut warga yang ramah. Tapi aneh, semua rumahnya lapuk, tidak ada listrik, dan kuburan ada di setiap halaman rumah. Maya, yang indigo, berbisik, "Sel, kaki mereka nggak napak tanah..." Malam pertama, Riko iseng memotret gapura desa. Saat foto dilihat, yang berdiri di foto bukanlah 6 mahasiswa... tapi 6 pocong dengan wajah mereka sendiri! Ternyata desa itu sudah mati 20 tahun lalu karena wabah. Dan setiap 20 tahun, mereka butuh 6 tumbal baru untuk menggantikan mereka. Dan tahun ini... giliran kami. Jangan pernah KKN di desa ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author Melda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. AKU TINGGAL SENDIRI
Aku terbangun di UKS kampus.
Bau obat-obatan menyengat hidungku. Lampu putih di atas kepalaku berkedip-kedip.
"Alhamdulillah, udah sadar," suara Bu Rini, penjaga UKS.
Aku mencoba duduk. Kepalaku sakit sekali. Seluruh badanku penuh luka lecet dan lumpur kering.
"Bu... aku... aku di mana?" tanyaku dengan suara serak.
"Kamu pingsan di depan gerbang kampus tadi pagi, nduk. Satpam yang bawa kamu ke sini. Kamu habis dari mana? Teman-teman KKN kamu mana?"
Teman-teman KKN.
Kalimat itu membuat dadaku sesak lagi. Air mataku langsung jatuh tanpa bisa aku tahan.
SINTA, RIKO, BIMA, FARHAN, MAYA.
Mereka semua sudah tidak ada. Hanya aku yang tinggal sendiri.
Aku melihat ke samping ranjang UKS. Tas KKN ku ada di sana. Dan di atas tas itu, terlipat rapi... kain kafan itu.
Kain kafan putih yang ada 5 nama teman-temanku dan setengah nama SELVI yang ditulis pakai darah.
Jantungku berhenti berdetak. Kenapa kain itu masih ada? Bukannya aku sudah keluar dari kampus ghoib? Bukannya kutukan sudah selesai?
Aku dengan tangan gemetar mengambil kain itu dan menyembunyikannya ke dalam tas. Aku tidak boleh ada orang yang lihat.
"Bu, teman-teman saya... mereka masih di desa. Desanya... desanya hilang bu," bisikku.
Bu Rini mengerutkan kening. "Desa apa to nduk? Kamu KKN di Desa Penenun kan? Tadi dosen pembimbingmu Pak Hartono cari kamu. Katanya kelompok kamu belum balik laporan padahal sudah lewat 2 minggu."
Aku mengangguk. 2 minggu. Kami sudah 2 minggu hilang di Desa Penenun yang tidak ada di peta.
Pak Hartono datang 30 menit kemudian. Wajahnya panik.
"Selvi! Kamu di mana aja? Kami cari kalian berenam gak ada kabar! HP kalian semua tidak aktif! Kami sudah mau lapor polisi!"
Aku hanya bisa menangis. Aku tidak tahu harus cerita dari mana.
"Pak... Sinta... Riko... Bima... Farhan... Maya... mereka... mereka gak bisa pulang pak," isakku.
Pak Hartono diam. Dia menarik kursi dan duduk di depan ku.
"Selvi, coba cerita pelan-pelan. Desa Penenun itu desa yang mana? Di data LPPM kita, kalian KKN di Desa Suka Maju, bukan Desa Penenun. Tidak ada Desa Penenun di daftar KKN tahun ini."
Dunia ku runtuh lagi.
Desa Suka Maju? Bukan Desa Penenun?
Aku mengambil surat tugas KKN dari dalam tas ku. Surat yang kami bawa dari kampus.
Di sana tertulis jelas: KELOMPOK KKN 17, LOKASI: DESA SUKA MAJU, KECAMATAN LUBUK.
Bukan Desa Penenun. Sejak awal kami salah desa.
Atau... kami memang sengaja dibelokkan ke Desa Penenun?
"Pak, kami... kami nyasar pak. Kami masuk ke Desa Penenun. Di sana... di sana ada sumur..."
Aku cerita semuanya. Dari malam pertama tanpa bayangan di BAB 3, jejak kaki menuju sumur di BAB 6, Sinta yang ditarik di BAB 8, Pak Lurah Karjo yang jadi tumbal, Maya yang bukan Maya di BAB 18, dan kampus ghoib di BAB 19.
Pak Hartono mendengarkan dengan wajah pucat. Dia tidak memotong sama sekali.
Setelah aku selesai cerita, dia berdiri dan menghela napas panjang.
"Selvi, bapak ngerti kamu capek. Tapi cerita kamu ini... gak masuk akal nduk. Bapak tadi pagi sudah telepon Kepala Desa Suka Maju. Kata beliau, kalian berlima pamit pulang duluan 3 hari lalu. Katanya kamu yang minta pulang duluan karena sakit."
Lima? Berenam? Dia bilang berlima?
"Pak, kami berenam. Saya, Sinta, Riko, Bima, Farhan, Maya. Berenam pak!"
Pak Hartono membuka HP nya dan menunjukkan foto grup KKN yang dikirim Kepala Desa Suka Maju.
Di foto itu, hanya ada 5 orang. Sinta, Riko, Bima, Farhan, Maya. Tidak ada aku. Aku tidak ada di foto itu.
Kepalaku pusing. Ini apa lagi?
"Pak, saya yang fotoin mereka waktu itu pak! Makanya saya gak ada di foto!" teriakku.
Pak Hartono menatapku kasihan. "Selvi, di data kampus, kelompok KKN 17 itu isinya memang cuma 5 orang. Kamu tidak terdaftar di kelompok itu. Nama kamu ada di kelompok KKN 18 yang lokasinya di Desa Karang Anyar."
Aku benar-benar tinggal sendiri sekarang.
Bahkan data kampus bilang aku tidak pernah KKN bersama mereka. Bahkan foto tidak ada aku.
Apakah aku yang gila? Apakah Desa Penenun itu hanya halusinasiku karena aku KKN sendirian di desa lain?
Aku pulang ke kos dengan diantar Pak Hartono. Kos ku yang di belakang kampus.
Aku buka pintu kos ku. Kos ku berantakan. Debu tebal di mana-mana. Seperti sudah tidak ditempati berminggu-minggu.
Di atas meja belajarku, ada cermin kecil.
Aku melihat diriku di cermin. Wajahku pucat, mata cekung, rambut berantakan.
Dan di belakangku, di dalam cermin itu, berdiri 5 orang teman-teman ku. Sinta, Riko, Bima, Farhan, Maya. Mereka tersenyum. Wajah mereka bersih, tidak pucat. Mereka melambaikan tangan.
Aku menoleh ke belakang dengan cepat.
Tidak ada siapa-siapa. Kos ku kosong.
Aku melihat lagi ke cermin. Mereka masih ada di cermin, semakin dekat.
Aku sadar. Aku memang tinggal sendiri di dunia nyata. Tapi di dunia cermin, di dunia kain kafan, kami masih berenam. Mereka menungguku untuk kembali menenun bersama mereka.
Aku membuka tasku. Kain kafan itu terbuka sendiri.
Nama terakhir yang tadinya hanya setengah tertulis, kini sudah lengkap.
SELVI.
Namaku sudah lengkap tertulis dengan benang merah darah.
Dan di bawahnya, muncul tulisan baru yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat aku kenal. Tulisan tangan Maya.
"GILIRAN KAMU JADI PENENUN, VI."
Lampu kos ku tiba-tiba padam. Padahal di luar masih sore.
Dari dalam cermin, aku mendengar suara alat tenun.
KRETEK KRETEK KRETEK.
Aku tinggal sendiri. Dan malam ini, aku harus mulai menenun.
GIMANA MENURUT KALIAN?
Menurut kalian Selvi beneran gila apa emang dia satu-satunya yang selamat kak? Soalnya di data kampus namanya gak ada 😱
Kalau kalian jadi Selvi, kalian bakal buang kain kafan itu atau kalian simpen? Padahal di kain itu ada nama kalian sendiri loh...
Tebak kak, di cermin kos Selvi itu Maya yang asli atau Maya yang palsu yang jadi penenun?
Komen di bawah ya kak, yang jawabannya paling serem nanti aku masukin namanya jadi cameo di BAB 21! 👇
Jawabannya adalah...
Salah satu dari seluruh anggota KKN, "sukma jiwa"nya sudah dibawa...
Aku yang sedari tadi hanya berdiri di depan pintu belakang, hanya tersenyum saat melihat semua obor-obor itu. Namun, senyumanku terlihat datar oleh seluruh teman-teman KKN ku.
Aku (saya maksudnya, hehehe...) akhirnya berjalan santai menuju ke pintu balai desa yang terkunci. Lalu, kupejamkan kedua mataku. Dan mulai bicara dengan mereka semua yang ada di luar...
🤭🤭🤭
jadi selvi itu bukan tokoh utama? si selpi siapa? kenapa tiba-tiba muncul?
terus, bukannya sinta sama bima udah meninggal di sumur ya?
terus selvi itu KKN 98??😐