NovelToon NovelToon
Teror Sang Pemerkosa

Teror Sang Pemerkosa

Status: tamat
Genre:Misteri / Tamat
Popularitas:505.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eko Hartono

Novel ini berkisah tentang Melani, seorang gadis muda yang mengalami pemerkosaan oleh orang tak dikenal di ruang toilet kantor tempatnya bekerja. Sayang, dia tak bisa melihat wajah sang pemerkosa karena lampu padam. Akibat pemerkosaan itu dia menderita depresi berat. Ketika dia melaporkan kejadian ini pada polisi malah berakibat buruk. Dia dimusuhi dan dicemooh rekan-rekan kerjanya. Sementara sang pemerkosa meneror Melani melalui SMS dan telepon. Hidup Melani jadi tidak tenang. Sang pemerkosa meminta agar Melani bersedia melayaninya lagi, karena bila tidak mau adik perempuan Melani akan dijadikan sasaran. Karena polisi tak juga menemukan si pelaku, akhirnya Melani memberanikan diri menghadapi sendiri sang pemerkosa. Dia mengikuti permainan sang pemerkosa. Hingga akhirnya Melani bisa berhadapan langsung dengan si pemerkosa. Siapakah dia? Kenapa dia memperkosa Melani? Ikuti kisahnya hingga selesai. Sangat mencekam dan penuh misteri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eko Hartono, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menduga-duga

Melani tak menanggapi gurauan Diah.

“Sudahlah, Di. Jangan ngelantur!” tepis Melani.

“Tapi omong-omong, kalau memang ada orang yang sengaja membuntuti kamu, apa maksudnya? Apa mau merampok?” cetus Diah masih penasaran dengan kejadian yang dialami sahabatnya itu.

“Mana aku tahu? Yang jelas punya maksud jahat. Kalau tidak berniat jahat, tentu dia mau menampakkan diri ketika kupanggil,” jawab Melani.

“Mungkin dia mau memperkosa kamu, Mel?”

“Ah, jangan menakut-nakuti aku, Di!” Melani jadi merinding.

“Sekarang kan banyak sekali terjadi kasus perkosaan. Tak peduli tempat dan siapa yang diincarnya. Kamu mesti waspada dan hati-hati, Mel!” ujar Diah memperingatkan.

“Kira-kira siapa orang yang berniat jahat seperti itu di kantor ini ya, Di?” tanya Melani ingin tahu.

“Jangan-jangan Pak Frans sendiri, Mel? Bukankah saat kamu berada di areal parkir hanya Pak Frans yang kelihatan?” tebak Diah.

“Ah, tidak mungkin, Di. Kalau dia hendak berniat jahat tentu waktu mengantar aku pulang dia bisa melakukan hal itu. Kayaknya dia bukan dia, Di.”

“Atau petugas security? Bukankah kamu bilang pintu ruang kantor terkunci saat kamu hendak keluar?”

“Iya sih, tapi aku kok tidak yakin. Petugas security yang berjaga malam itu ada tiga orang dan mereka hanya pegawai rendahan. Kayaknya mereka tidak berani macam-macam…”

“Justru kebanyakan pelaku kejahatan berasal dari orang-orang kalangan bawah. Mereka yang berpendidikan rendah, miskin, pengangguran, dan berpenghasilan kecil mudah terpancing untuk melakukan kejahatan karena motif ekonomi. Pemahaman mereka tentang moralitas juga rendah!” asumsi Diah.

Melani mendesah panjang. Dia bisa memahami pendapat rekannya itu. Tetapi pernyataan itu tidak lantas menjustifikasi bahwa pelakunya adalah para petugas security. Melani tak mau tersugesti oleh hal itu. Dia tak mau mengambil kesimpulan yang masih sumir, nanti malah bisa memancing kekisruhan. Dia bisa dituduh memfitnah atau mencemarkan nama baik. Melani tak ingin memperpanjang masalah ini. Toh, semua itu belum benar-benar terjadi, baru sebatas dugaan semata. Dia tak mau terganggu oleh peristiwa ini yang ujungnya bisa merusak konsentrasinya dalam bekerja.

“Sudahlah, Di. Sebaiknya kita tak usah membicarakan soal ini. Tolong, kamu jangan ceritakan hal ini pada yang lain, nanti bisa menimbulkan kecurigaan dan tuduhan yang bukan-bukan. Ini hanya diantara kita saja!” pinta Melani kemudian pada Diah.

“Beres, Mel. Kamu tak perlu khawatir kejadian ini bocor ke orang lain. Tapi kamu sendiri juga hati-hati. Jangan ulangi lagi pulang malam!” sahut Diah.

Melani hanya mengangguk.

Sejak peristiwa malam itu Melani mulai mengubah kebiasaannya pulang malam. Jika ada pekerjaan yang belum selesai dia lebih suka mempending atau mengerjakannya di rumah. Kebetulan di rumah juga ada computer. Dia tinggal memindah file lewat flashdisk. Atau kalau tidak dia mendelegasikan tugas-tugas itu pada rekannya yang lain.

Sebenarnya dalam hati Melani masih ada rasa penasaran dengan kejadian malam itu. Meski dia sudah berusaha melupakannya, tapi entah kenapa masih terbayang dalam ingatan. Dia masih diliputi curiga dan sangsi. Diam-diam dia suka memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Dia seperti ingin memastikan, apakah diantara mereka ada yang memperlihatkan sikap dan perilaku mencurigakan. Sebab, Melani memiliki keyakinan bahwa orang yang membuntuti dirinya malam itu adalah orang dalam alias karyawan di kantor ini. Karena tidak mungkin orang luar bisa memasuki ruangan dalam kantor tanpa ijin!

Mula-mula Melani memperhatikan beberapa lelaki yang selama ini berusaha mendekatinya. Toni, Rico, James, dan Frans. Tetapi terhadap Frans, feeling Melani tidak terlalu curiga meski kehadirannya malam itu cukup mencurigakan. Frans tidak mirip ‘Jack the ripper’ yang haus perempuan. Dia mungkin the right man on the wrong place. Melani cenderung mencurigai Toni dan Rico. Sementara James tidak begitu kentara. James orang yang kalem dan tidak posesif.

Melani patut curiga pada Toni karena selama ini pria itulah yang begitu agresif mendekatinya. Hampir setiap saat pria play boy itu mendekati dirinya. Ada saja alasannya agar bisa ngobrol dan dekat dengan Melani, meski dengan terang-terangan Melani menolaknya. Tapi Toni punya rasa pe de yang tinggi. Dia tidak putus asa untuk bisa mendapatkan cinta Melani. Sementara Rico yang pendiam dan tak banyak bicara bisa dijadikan ‘tersangka kedua’, mengingat dialah laki-laki pertama yang pernah mengungkapkan isi hatinya kepada Melani meskipun melalui perantara Diah. Mungkin sakit hati ditolak Melani, pria itu merasa dendam dan menyimpan niat jahat. Tapi seberani itukah dia?

Selain kepada kaum adam, Melani juga menaruh curiga pada rekan-rekannya kaum hawa. Tuti dan Ida adalah orang-orang yang patut dicurigai. Keduanya merupakan rival dalam pekerjaan. Mereka juga suka bersikap sinis dan ketus. Motivasinya mungkin ingin meneror dan membuat Melani tidak tenang bekerja. Tuti sejak awal sudah menunjukkan ketidaksukaannya pada Melani. Apalagi dalam waktu singkat karir Melani meningkat. Rasa iri dan dengkinya pada Melani makin menjadi. Sementara motivasi Ida apalagi kalau bukan kecemburuan karena Toni yang selama ini dekat dengannya justru lebih menyukai Melani. Perempuan kalau sudah cemburu buta, apapun bisa dilakukannya!

Tapi… ah, Melani menepis semua kecurigaannya ini. Dia tidak memiliki cukup bukti menuduh orang berniat jahat padanya. Dia juga tak berniat mengecek, apakah pada malam kejadian itu mereka sudah pulang atau masih berada di kantor. Melani juga masih menyangsikan, jika mereka memang berniat jahat padanya, kenapa hal itu dilakukan di dalam kantor? Seseorang yang berniat jahat biasanya melakukannya jauh dari lingkungan tempat tinggalnya atau tempat kerjanya.

Selama ini Melani tak pernah berbuat salah atau merugikan orang lain. Dia tidak punya masalah dengan siapa pun. Jika ada orang yang tak suka padanya, itu karena hati mereka saja yang dengki dan iri. Melani bukan orang yang suka bermusuhan apalagi bertengkar dengan orang lain. Dia memilih diam bila ada yang mencoba memancing kemarahannya. Tapi, kenapa masih saja ada orang yang tidak suka padanya? Melani menekan perasaan sedih dalam hatinya. Dia pun mencoba melupakan persoalan yang cukup menyita pikirannya ini. Dia berharap kejadian malam itu tak terulang lagi. Dan kenyataannya, seminggu setelah itu tak ada lagi gangguan berarti.

Pernah suatu hari Melani sengaja pulang malam untuk mengetes apakah akan mengalami kejadian sama, tetapi sebelum itu ia mempersiapkan diri. Dia menggenggam ponselnya dan berpesan pada salah seorang petugas Satpam yang dipercayainya untuk berjaga di depan pintu ruang kantor. Jadi jika sewaktu-waktu muncul orang berniat jahat, Melani bisa langsung menghubunginya. Dan ternyata tidak ada bayangan mencurigakan yang mengikuti langkahnya saat keluar dari ruang kantor. Bahkan ketika dia masuk ke dalam toilet, semuanya aman-aman saja. Pak Yudi, petugas security yang menunggu di pintu depan, mengatakan kalau tidak ada orang masuk ke dalam kantor sesudah semua karyawan pulang. Melani merasa puas dan lega.

Kini tak ada lagi yang perlu ditakutinya!

1
Andra
secara hukum melani tetap bersalah. dia memang berencana membunuh si pemerkosa dengan menyiapkan pisau dari rumah.

waktu mendapat telepon untuk datang ke hotel melani menyanggupinya dengan kesadaran penuh, padahal dia bisa memilih opsi untuk melapor ke polisi tentang posisi pelaku.

melani juga memberikan keterangan palsu mengenai wajah pelaku yang berimbas pada salah tangkap.
Andra
faktanya melani mempersiapkan pisau itu dari rumah memang dimaksudkan untuk membunuh.
Andra
biar bagaimanapun melani tetap bersalah. apalagi ada unsur pembunuhan berencana di sini.
Andra
berarti benar kalau lelaki bertato yang menyerang melani di toilet resto dan yang menyerang nina adalah manipulasi deni.
Andra
aku merasa kejadian ini hasil manipulasi deni saja. apakah denilah penjahat sebenarnya ?
Andra
kalau tidak yakin lebih baik bilang saja. tambah ruwet nanti kalau sampai salah tangkap orang .
Andra
apakah omongan deni masih bisa dipercaya mengingat reputasinya selama ini ?
Andra
terkadang, masyarakat kecil terpaksa main hakim sendiri. tanya kenapa ? 😥
Andra
jika masih ada jejak sperm di tubuh melani atau di pakaian dalamnya, bisa dilakukan analisis dna untuk mengungkap pelakunya.
Andra
dan selama hampir empat tahun, deni berhasil mengelabui diah.
Andra
kalau bekas kekasih berarti tidak selingkuh.
Andra
cek cctv kantor dan cctv gedung sekitar kantor
Andra
seharusnya bisa. karena kepolisian pasti memiliki tim cyber.
Andra
bukankah melani tidak memiliki saudara kandung laki2 ? 🤔
Andra
menghampiri diah
Andra
dikerucutkan saja berdasar ciri fisiknya.
Ibu Dewi
apa kata ku juga aku curiga sama si deni bener kan ayah ku dulu bekas sutra dara jdi sedikit bsnyaknya aku bisa menevak nya kan bukan so tspi aku sering menebak cerita yang rumit sll benar aneh aku juga
Ibu Dewi
toni kaya nya orang ny jujur biar pun sipatnya urakan tpi kaya nya dia bener2 mencintai melani jdi tidak mungkindia akan nenyakiti orang yng di cintai nya klo sku curiga sama deni klo rikco ts mungkinmelakuksn nyasedang ida itu pacarnya ida tida akan menyuruh pacarnya intuk mrmperkosa cewe lsin biar pun dia membenci melani ksn
Ibu Dewi
ko aku jdi curiga sama si deni y sial nya barusan nlp ke hp nya mel udah tau yang ngangkat diah dia jdi pura2 bilanh nya mau jemput gitu
Ibu Dewi
y betul harus nya itu baju buat barang bukti nnti ahir barang kali bisa jdi bukti untuk mengetahui siapa pelaku nya klo didimkan keenakan bisa2 dia mengulang lgi perbuatan bejat nya itu karena mel tida nencari tau malah diam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!