"Aku hanyalah wanita biasa yang tak rela suamiku berpoligami"-Maryam Azzahra-
Poligami menjadi penyebab renggangnya ikatan suci pernikahan antara Maryam dan Faiz. Sampai suatu saat Damar Langit datang membawa getaran lain di hati Maryam yang membuatnya bimbang antara bertahan dan melepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini Jayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Ingin Terbangun Dari Mimpi
Ikhlas adalah jalan terbaik untuk saat ini, untukku, kamu dan dirinya - Maryam
***
Maryam terdiam, termenung apa yang harus ia katakan untuk menjawab permintaan Langit. Suasana seketika menjadi canggung dan hening.
"Bagaimana apa kamu bisa memenuhi keinginan ibuku? Aku akan menambahkan gaji diluar pekerjaan sekarang, kamu tinggal datang ke rumahku setiap 3 kali dalam seminggu," ucap pria itu seakan memaksa tak ingin dibantah.
"Maaf Pak, saya tidak bisa menjawabnya sekarang, Beri saya waktu sampai besok, Insha Allah besok pagi sudah ada jawabannya, saya harus meminta ijin terlebih dahulu," jawab Maryam tetap sopan, tanpa sedikitpun menatap Langit
Cih, bahkan dia tak sopan. Tidak sedikitpun melihatku.
"Oke aku hargai keputusanmu, beri kabar aku besok pagi jam 8 kamu harus datang kembali ke ruangan ini!" kata Langit penuh penekanan.
"Baik Pak, ada lagi?"
"Tidak, cukup kamu boleh keluar." ucap Langit sedikit ketus. Sadar diri, Maryam menganggukan kepalanya sebagai jawaban dan segera keluar dari ruang pimpinannya tanpa berkata-kata lagi.
"Huuuhh, kenapa tiba-tiba seperti ini."dengus Langit menatap pintu ruangannya yang tertutup rapat.
Willy masuk kembali ke ruangan Langit
"Iya Pak, Bapak perlu sesuatu?"
"Cari tahu apa dia ada hubungan saudara dengan Zoya?" suara Langit terdengar datar, hatinya seakan sesak hanya dengan menyebutkan nama perempuan itu.
"Maksud anda Maryam?"
"Menurut lo siapa lagi?" jawab Langit ketus dan berhasil membungkam Willy.
***
Maryam selamat karena keterlambatannya hari ini, yang pertama dan semoga yang terakhir. Ia mendudukan dirinya di kursi kerjanya, kursi nan empuk di kubikelnya. Jam kerja seperti ini teman-teman divisinya tentu akan sangat sibuk, Mengingat hari ini merupakan minggu di akhir bulan. Tak satupun yang menyadari kedatangan Maryam, hingga ia bisa terbebas dengan cecaran pertanyaan-pertanyaan.
Ia mengingat-ingat permintaan Langit padanya tadi. Menjadi seorang fisioterapis untuk ibunya. Ia ragu mana bisa mengambil pekerjaan sampingan itu, bagaimana pun ijin suaminya tetaplah yang utama.
Bagaimana kalau sampai Mas Faiz melarang? Aku juga tidak enak dengan Pak Damar.
"Bismillah." Maryam mengetikan pesan untuk Faiz memberitahukan jika dirinya meminta ijin menjadi fisioterapis untuk ibu dari atasannya.
Maryam :"Assalamu'alaikum Mas, apa kabarnya? Sekarang Mas lagi dimana? Aku ingin minta ijin Mas, atasanku meminta agar aku jadi fisioterapis untuk ibunya yang sedang dalam masa penyembuhan. Kalau Mas mengjijinkan, aku akan memenuhi keinginan atasanku itu. Hanya 3 kali dalam seminggu, dari jam 4 sore sampai 7 malam."
Harap-harap cemas Maryam menunggu balasan dari Faiz, hingga menit ke sepuluh barulah ada balasan di ponselnya
Hubby :"Wa'alaikumsalam,,, maaf Maryam. Mas Faiz masih tertidur pulas, mungkin lelah setelah semalaman begadang. Kami sedang berada di Bali sekaligus liburan berdua. Nanti aku sampaikan ya pesanmu."
Membaca pesan itu Maryam meremas jari-jemarinya menahan rasa cemburu yang bergelora di kalbu. Semuanya ditelan bulat-bulat sendiri, tak ada tempat mengadu. Tak ada ibu atau ayah. Maryam menjerit sekencang-kencangnya dalam hati. Pantas suaminya tak berkabar sama sekali, rupanya sedang menikmati saat-saat berdua dengan sang madu.
"Astagfirullah."ucapnya berulang kali sambil mengatur nafasnya. Menjaga agar air bening itu tidak lolos dari singgasananya lagi.
"Hei bengong aja, terlambat ya sampai dimarahi Pak Damar,"ucap Anindya mengagetkan Maryam yang masih larut dalam kesedihannya
"Mar, kamu nangis? Masalah Faiz lagi?" tanya anindya berbisik.
"Iya," jawabnya singkat
"Huh, gimana lagi dong itu sudah resiko kamu. Kamu harus sabar ya Mar," ucap Anin sambil mengusap-usap tangan Maryam
"Makasih, Nin."
"Hmm.. ini jam kerja loh gak ada kata ngobrol atau curhat ya," Agnes datang berpura-pura marah. Ia juga penasaran apa yang terjadi dengan Maryam dan Langit.
"Maaf Bu, gak sengaja lewatin meja Maryam. Kalau gitu saya balik ke tempat saya ya. Nanti lagi ya Mar." ucap Anindya sambil berlalu dengan mengerlingkan sebelah matanya
Sepeninggal Anindya, Agnes memberi Maryam isyarat untuk masuk ke ruangannya.
"Iya Bu, ada apa?" tanya Maryam polos
"Kamu dimarahi sama Pak Damar?"
"Tidak Bu,"
"Lalu kenapa matamu merah?" selidik Agnes
"Ah ini saya sedang sedikit tidak enak badan saja ko Bu," jawab Maryam tetap mengembangkan senyumnya.
"Jadi Pak Damar ada urusan apa manggil kamu?" hasrat keingintahuan Agnes terpancar sempura dari wajahnya, perempuan yang masih memegang predikat jomblo itu sangat mengidolakan sosok Damar sedari pertama dia bekerja.
"Itu saya di suruh Pak Damar buat jadi fisioterapis ibunya beliau,"
"Loh ko bisa?"
"Katanya permintaan ibunya sendiri,"
"Emang kamu bisa jadi fisisoterapis?"
"Insha Allah Bu, saya juga lupa-lupa ingat. Dulu pernah belajar selama 6 bulan sebelum bekerja di sini. Kemarin ibunya Pak Damar terpeleset sampai kakinya terkilir, kebetulan saya lewat dan beliau minta saya untuk membantunya ke ruangan Pak Damar. Katanya pijatan saya membuat kaki beliau tidak sakit lagi," ungkap Maryam menceritakan kejadian kemarin siang.
"Oh pantesan Pak Damar riweuh nyariin kamu. Jadi begitu toh ceritanya, saya lega kalau bukan kamu yang ada urusan sama Pak Damar, hehe."
***
Belaian tangan dingin menyentuh wajah cantik Maryam yang sedang terbuai dalam alam mimpi, belaiannya semakin lama terasa semakin nyata, Matanya memicing menyesuaikan cahaya yang masuk melalui retinanya, lampu kamarnya kembali menyala. Itu bukan mimpi tapi kenyataan, Faiz tengah menatapnya sendu, sesendu hatinya saat ini.
"Mas," panggil Maryam lirih
"Iya sayang, Mas di sini," rasa rindu yang membuncah di hati Maryam seketika lenyap oleh aroma parfum perempuan yang menempel di pakaian suaminya. Ia benci itu, benci harus berbagi dan menghadapi kenyataannya. Logika dan hatinya berperang melawan satu sama lain, sampai rasa cinta mampu mengalahkan segalanya.
"Aku rindu Mas, rindu sama kamu," Maryam tambah mengeratkan pelukannya.
"Mas juga sayang, rindu kamu," Faiz berulang kali mengecup puncak kepala Maryam, menciumi kedua matanya, hidung dan wajah cantik istrinya itu tanpa sisa. Dua insan itu saling memadu rindu dalam syahdu..
Azan subuh berkumandang membangunkan dua insan dari tidur nyenyaknya. Maryam mengulas senyumnya melihat suaminya masih berada di sisinya. Dirinya semalam tidak bermimpi sedang memadu kasih saling melepaskan hasrat menggelora satu sama lain.
Maryam terlebih dahulu bangkit dari tempat tidur pelan-pelan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya
Selesai dari kamar mandi, Maryam membangunkan Faiz secara lembut, mengusap kedua wajahnya dan membisikan sesuatu di telinganya.
"Mas, bangun. Segera mandi, kita shalat subuh berjamaah." Faiz perlahan membuka matanya dan mengulas senyum di bibirnya.
"Iya sayang, Mas mandi dulu ya." ucap Faiz sambil mengusap lembut kepala Maryam
Rasa-rasanya Maryam tak ingin terbangun dari mimpi nyatanya saat ini. Entah keadaan ini akan berlangsung lama atau sementara. Hatinya sungguh tak rela jika Faiz meninggalkannya lagi dan memilih dekapan Kanaya.
Aku ingin kamu tetap berada di sini menemaniku seperti hari-hari lalu. Jangan pergi lagi Mas, aku membutuhkanmu,, sangat membutuhkanmu.
***
Author note : Setiap readers baca jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like, komen dan votenya author tunggu.. makasiih
penasaran akan mamfir
rela harga diri diinjak2
klu org SDH dak suka kenapa masih memaksakan diri?
laki2 macam apa
ayo Maryam cerai aja cari laki2 yg mencintaimu