Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Middle Class
Setelah Sore di ijinkan keluar dari rumah sakit, Rama langsung pulang ke apartemennya.
Sejak terjun menjadi pengacara Rama memilih tinggal terpisah, demi kebebasan dan kenyamanannya. Karena sering pulang malam, yang terkadang bau alkohol dan rokok, yang bisa membuat Rama kena marah mamanya.
Meski mamanya suka meminta anak-anaknya untuk tinggal bersama, tapi baik Rama atau kakaknya Naya lebih suka tinggal di luar, daripada tinggal bersama dengan orang tuanya yang tinggal di rumah dinas.
Rama dan Naya sama-sama tidak suka hidup di bawah nama bayang-bayang kesuksesan orang tua. Bahkan di kantornya tidak ada yang tahu kalau, kakek Rama adalah pengacara kondang. Karena Rama berusaha menyembunyikan itu, dan ingin di kenal karena usahanya sendiri.
"Mau ngapain ngajak aku kesini?"
"Menemu perempuan semalam," ucap santai Rama, sambil turun dari mobilnya, yang diikuti sahabatnya Rangga.
"Grescep juga cari informasinya, Ram."
Rama terkekeh kecil dan menyerahkan selembar kertas biodata, yang di dapatkan papanya.
"Revalina Celendia, umur 20 tahun, lulusan SMAN 2. Buset masih bacil kenapa gak kuliah aja, malah kerja."
"Sepertinya gak mampu, di lihat dari pekerjaannya di dua tempat sekaligus."
Mendengar ucapan Rama, membuat Rangga langsung melihat kertas yang dia pegang. "Bekerja sebagai pelayan kafe dan penjaga warnet, sekaligus."
"Sudah gak usah berisik, ayo masuk!" kata Rama sambil mengambil kertas yang di pegang Rangga, dan melipat untuk di simpang kembali di kantongnya sebelum masuk ke dalam kafe.
Begitu masuk terlihat keramaian kafe dan kesibukan para pelayan kafe, yang mondar-mandir melayani pembeli.
Rama dan Rangga mencari tempat duduk setelah memesan makanan, tapi sayangnya yang mengantarkan pesanan mereka bukan orang yang mereka cari.
"Mana orangnya? Di kertas tadi tidak ada fotonya."
"Aku tidak perlu fotonya, karena aku sudah mempunyai rekaman CCTV lorong hotel."
"Lihat dong, tar aku bantu cari orangnya."
"Gak perlu, aku sudah menemukannya." kata Rama sambil memanggil pelayan yang kebetulan lewat.
"Bisa panggil Lina!"
"Ohhh bisa kak, tunggu sebentar ya." ramah pelayan.
"Apa yang sedang berjalan kesini itu, Ram?" tanya Rangga, saat seorang pelayan berjalan kearahnya.
"Hmmm," angguk Rama, sambil memperhatikan penampilan Lina yang menggunakan kaos seragam kafe, yang di masukkan ke dalam celana jeans yang dia gunakan, sehingga terlihat lebih rapi.
Rambut di kuncir kuda rapi dan berjalan tegak penuh percaya diri. "Permisi, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan senyum yang ramah dan hangat, menampilkan kedua lesung pipi yang membuat wajahnya terlihat lebih manis.
"Alaaamak senyumnya bikin aku meleleh, aduhhhh!" kesal Rangga, saat kakinya di injak oleh Rama.
****
Aku tersenyum ramah mendengar pujian seorang lelaki di depanku, pasti dia begitu karena melihat kedua lesung pipiku. Banyak yang bilang, wajahku itu sebenarnya biasa aja, tapi karena kedua lesung pipiku membuatku terlihat lebih manis.
Bahkan ada yang terang-terangan bilang, ingin memiliki satu lesung pipiku. Di keluargaku tidak hanya aku, tapi ayahku juga punya lesung pipi namun cuma satu.
"Bisa duduk sebentar, ada yang ingin saya tanyakan?" tanya salah satu yang memiliki postur tubuh lebih tinggi.
"Ada perlu apa ya, kak?" tanyaku lagi sambil duduk, meski bingung dan ragu.
"Apa malam Minggu kemarin, kamu ada di hotel Smith?"
Mendengar pertanyaannya membuat jantungku langsung berdetak kencang, apalagi melihat ada luka di keningnya yang tertutup plester, yang terlihat masih baru.
"Tidak, saya tidak ke hotel Smith," jawabku gugup, sambil meremas jari-jari kedua tangan diatas pangkuanku.
"Kalau boleh tahu kamu ada dimana, semalam?" tanya orang yang berbeda.
"Saya ada di kosan teman saya. Saya hanya pelayan dengan penghasilan UMR, mana ada nyali untuk masuk hotel bintang lima itu, kak." jawabku berusaha tenang, dengan tersenyum ku paksakan. Meski jantungku masih berdetak kencang dan keringat dingin mulai keluar di keningku, tanpa bisa aku kontrol.
Tapi, sepertinya dia percaya. Buktinya dia menganggukkan kepalanya pelan, sambil melirik temannya yang tersenyum aneh menurutku.
"Oke, maaf menggangu waktu kerjamu."
"Tidak apa-apa, kak." ucapku yang langsung berdiri, dengan bernafas lega.
"Tunggu dulu!"
Aku yang siap melangkah langsung mengurungkan niat dan berbalik melihat kebelakang, "ada apa ya, kak?"
"Siapa namamu?"
"Lina, kak."
"Oke, terimakasih waktunya." Ucapnya, membuatku bernafas lega dan langsung melangkah cepat dari mejab10 tanpa menoleh lagi.
Aku langsung berjalan ke area khusus karyawan dan terduduk lemes dengan berjongkok di lantai.
"Siapa mereka Lin, kok wajahmu pucat begitu?" tanya Dian yang berdiri di depanku. "Seperti ketemu hantu," candanya sambil tertawa kecil, lagian mana ada hantu di tempat ramai begini, aneh.
"Sepertinya, lelaki yang aku pukul malam minggu kemarin." cicitku ketakutan, membuat Dian langsung duduk berjongkok di depanku.
"Yang bener kamu?" tanya Dian, membuatku menceritakan kecurigaanku berdasar dari luka yang ada dia keningnya dan pertanyaannya.
"Ya sudah, kamu tenang dulu. Sepertinya dia juga tidak mengenalimu, dari ceritamu tadi."
Aku langsung melihat kearah Dian. "Mungkin aja, itu. Kan dia memelukku dari belakang." Aku langsung berdiri, dan sedikit tenang.
"Lagian dia juga langsung percaya dengan ucapku, kalau malam minggu kemarin aku ada di rumah teman. Benar katamu, aku harus bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa, supaya dia tidak curiga."
"Good, gitu dong. Lagian siapa tahu bukan dia, cuma kebetulan aja orang yang sama dengan luka di kening."
Aku mengangguk, lalu mengambil air minum untuk menyegarkan tenggorokanku, sebelum melangkah keluar kembali bekerja seperti tidak terjadi apa-apa.
Saat aku kembali bekerja dua lelaki itu, masih di sana menikmati hidangan kafe sambil mengobrol. Sampai 30 menit, sebelum jam tutup kafe, baru mereka pergi meninggalkan kafe, membuatku bernafas lega.
"Sepertinya dia golongan pria middle class, bukan kaya kita." kata Dian yang berdiri di sampingku, sambil kami melihat kedua lelaki itu masuk ke dalam mobil Toyota Rush warna putih.
"Gayamu ngomong middle class, emang tahu artinya," canda ku, sambil meneruskan pekerjaan membersihkan meja kotor.
"Hehehe, aku tahu dari novel yang aku baca semalam. Kalau istilah middle class, sama dengan kelas menengah. Kelompok masyarakat yang berada di antara kelas atas dan kelas bawah, kalau kita ada di kelas bawah."
"Kelas bawah namanya?" tanyaku sambil tertawa. Aku tertawa bukan karena menertawakan penjelasan Dian, tapi karena senang, sekaligus lega karena lelaki tadi telah pergi.
"Hehehe gak tahu," cengirnya, membuatku tertawa, asli menertawakan temanku ini. Otaknya pas-pasan, tapi baik dan pekerja keras, serta jujur.
Baik, buktinya hari ini harusnya dia masuk pagi, tapi bersedia menggantikan temannya yang tidak bisa masuk, dengan bekerja 2 sif.
"Kelas bawah namanya adalah lower class. Setauku kelas atas namanya adalah upper class, kelas bawah adalah lower class dan kelas menengah adalah middle class."
"Wah, diam-diam kamu pinter ya," pujinya.
"Bukan pinter, cuma pernah baca." ujarku sambil pergi membawa piring dan gelas kotor.
"Semoga kami tidak akan pernah bertemu lagi, selamanya." gumamku.
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in