Ashallina cerry, gadis yatim piatu yang sejak kecil tinggal di panti asuhan.
Karena kebaikan hatinya yang pernah menolong seorang kakek. Lalu suatu hari kakek itu memintanya menikah dengan cucu nya. Pewaris kelurga Prasetya. Darrel Arka Prasetya.
Akankah Ashallina gadis yang baru berumur 17 tahun dan kini masih duduk di bangku SMA itu menerima permintaan kakek tersebut?
Dan
Akankah Darrel, sang tuan muda yang kini sudah berumur 27 tahun mau menuruti keinginan kakeknya dengan menikahi gadis kecil yang sama sekali tidak ia kenal?
Bagaimana kisah mereka selanjutnya??
Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
"Cerry," teman sebangku Cerry merapatkan tubuhnya pada gadis itu "cerita - cerita!! Yang tadi siapa? Pacar ya? "
Cerry menoleh dengan kening berkerut. Entah lah mengingat kejadian tadi pagi rasa nya ia ingin menghilang saja dari tempat itu saat ia juga.
Cerry nyengir pada Nina. Ia menggaruk pelipisnya, bingung mau mulai dari mana menjelaskannya.
"Cerry, ayo cerita? " Nina menggoyangkan lengan Cerry berulang ulang.
"Bu-bukan Nin! " Jawab Cerry dengan gugup.
"Terus tadi itu apa? " Nina masih tidak puas pada jawaban sahabatnya "masa bukan pacar sih, dia so sweet begitu? Emm perhatiannya itu loh, membuat para cewek haus kasih sayang! " Nina memegang kedua pipinya yang tiba tiba merona, membayangkannya saja sudah membuat hatinya berdebar, apalagi mengalaminya langsung seperti sahabatnya tadi.
"Itu.. " Cerry memalingkan wajahnya, Ia memukul mukul pelan keningnya sendiri.
"Harus jawab apa aku? " Batinnya.
"Cer, " dua orang pemuda menghampirinya "kantin gak? " Cerry tersenyum pada pemuda tersebut, merasa terselamatkan, dengan cepat ia mengangguk.
"Ayo Nin, aku laper! " Ia menarik tangan Nina supaya berdiri dan mengikutinya ke kantin.
Di kantin.
Cerry memesan satu mangkok bakso dengan es satu teh manis, pesanan yang tiap hari ia makan jika di kantin. Karena memang uang jajan nya hanya cukup untuk satu mangkok bakso dan segelas teh manis. Ngomong-ngomong uang jajan! Ah ia lupa minta uang jajan pada suaminya tadi pagi.
Cerry berdecak, ia menepuk keningnya sendiri. Membuat ketiga teman yang duduk di meja yang sama dengannya heran.
"Kenapa Cer? " Tanya Dito, yang kebetulan duduk di sebelah Cerry.
"Ah aku lupa gak bawa uang jajan, " ia meringis menahan malu "Nin, minjem dulu ya? " kemudian ia beralih menatap Nina di depannya dengan wajah memelas.
"Yah, hari ini aku gak bawa uang lebih Cer. Sory!! " Nina mencebikkan bibirnya, merasa tidak enak pada sahabatnya, Cerry.
"Udah biar aku yang bayar, gak usah minjem. " Ucap Dito pada kedua gadis itu.
"Nah tuh iya, si Dito aja yang bayar! " Atta yang sedari tadi menonton membenarkan usulan Dito.
"Tap__ "
"Gak papa Cer, lagian bukan kamu yang minta kan. Tapi aku yang pengen bayarin, lagian gak tiap hari ini! " Jawab Dito dengan santai.
"Makasih ya Dit, kamu selalu baik sama aku!! " Cerry memegang sebelah tangan Dito yang berada di atas meja. Dito tersenyum seraya mengangguk.
"Kan kita sahabat Cer, jadi udah seharusnya aku baik sama kamu. " Dito balas memegang tangan Cerry yang masih berada di atas tangannya.
Cerry tersenyum lebar, ia sangat beruntung mempunyai tiga sahabat yang baik seperti mereka. Padahal mereka itu anak orang kayak tapi tidak segan untuk berteman dengan anak panti seperti dirinya.
"Sampai kapan? __" Tanya Atta menggantung, ia membuyarkan pandangan keduanya.
"Apa nya, Ta? " Tanya Nina ambigu.
"Emm.. " Atta memutar bola matanya, ia terlihat berfikir. Saat pandangannya bertemu dengan Dito yang tengah memelototi dirinya buru buru Atta kembali bersuara "itu, sampai kapan kita akan ngobrol terus? Aku udah lapar nih!! " lanjutnya.
Cerry dan Nina membulatkan bibirnya membentuk huruf O. Tapi tidak dengan Dito dan Atta yang terlihat menghela napas pelan, apalagi saat kedua gadis itu tak bertanya lebih lanjut dan percaya akan ucapan Atta barusan.
~
"Makan dulu yuk! " Dito menarik pelan tangan Cerry, masuk kedalam sebuah kafe dan resto.
Sepulang sekolah tadi ke empat anak muda tersebut mampir dulu ke toko buku yang terdapat di dalam sebuah Mall.
Ke empatnya kini duduk mengelilingi sebuah meja bundar, dengan satu buku menu di tangan masing masing. Mereka bertiga sudah menentukan pilihan hanya tinggal Cerry yang masih ke bingungan, karena memang ia tidak membawa uang. Masa harus minta di bayarin lagi? Kan gak mungkin?
saat ia masih kebingungan. Terdengar dua orang pelayan menyambut pelanggan yang baru masuk. Entah kenapa Cerry merasa penasaran. Ia mendongak untuk mengintip siapa yang datang. Matanya membulat saat dua orang berpakaian kantoran itu lewat di sampingnya.
"Astaga! " Ia menutup wajahnya cepat dengan buku menu. Apalagi orang tersebut sepertinya tadi melihat pada dirinya.
"Kenapa Cer? " tanya Nina. Cerry menggeleng di balik buku menu.
"Cer, jadi mau pesan apa? Kasihan mbaknya kelamaan nungguin! " Dito menarik pelan buku dari depan wajah Cerry.
"Hah, sa-samain aja. " Ia menoleh pada Dito, dan menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Supaya tidak terlihat jelas oleh dua orang yang duduk di sebrang mejanya.
Darrel dan Sandi asistennya baru saja selesai menghadiri sebuah acara di gedung Mall ini, dimana dirinya dan perusahaannya lah yang telah membangun Mall ini. Dan hari ini, ada sebuah persemian di sebuah gerai terbesar di dalam gedung ini. Itu sebabnya ia datang.
"Bocah resee.. " Darrel menggeram. Tatapannya tak lepas dari meja sebrang yang berisi dua pasang anak muda yang masih berseragam SMA lengkap.
"Tuan, bukannya itu nona muda? " Sandi asisten pribadinya itu, menunjuk ke arah meja yang tak lepas dari tatapan Darrel. Pria itu tidak menjawab, ia hanya mendengus dengan keras, pertanda ia sedang kesal.
Cerry merasa risih karena ia merasa dari tadi suaminya itu terus menatap ke arah dirinya dan teman temannya. Ia pun mulai berfikir bagaimana caranya untuk menghindari Darrel.
"Aku ke toilet dulu ya, " Cerry bangkit dengan cepat ia berjalan menuju toilet tanpa menunggu jawaban dari teman temannya.
Melihat gadis itu pergi, Darrel bangkit dan mengikutinya dari belakang. Ia mempercepat langkahnya.
"Eh.. " Cerry terkejut saat tangannya di tarik seseorang dari belakang.
Sebelum Cerry masuk ke dalam kamar mandi wanita Darrel menarik tangannya masuk kedalam kamar mandi pria dan memepet badannya ke dinding. Mengurung tubuh mungil itu dengan kedua tangan kekarnya. Beruntung kamar mandi itu sepi, tidak ada satu orang pun di sana.
Cerry nyengir di dalam kungkungan tangan suaminya. Ia berusaha tersenyum walau wajahnya terlihat takut melihat wajah serius Darrel.
"Mas nanti ada orang masuk gimana? " Ia melihat sekeliling memastikan apakah ada orang atau tidak.
"Kenapa kamu takut? Biarin aja ada orang masuk ke sini, bukannya kita udah suami istri. " Darrel mendekatkan wajahnya.
"Ta__ "
Cup
Sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya, Darrel lebih dulu mencium bibirnya. Darrel menahan sebentar ciuman itu hingga beberapa detik gadis yang tengah terkejut itu seakan tersadar apa yang di lakukan laki laki itu padanya. Dengan mata membulat Cerry mendorong tubuh Darrel yang menempel padanya.
"Apa yang kamu lakukan, mas? " Nafasnya memburu menahan marah pada laki laki yang sudah berstatus sebagai suaminya itu. Matanya menatap tajam pada Darrel yang kini bergeming menatap dalam mata Cerry.
.
.
.
bikin penasaran bgt
jgn d bikin sad dong thoor kasian Cheryl
gawaatt dia kan msh sekolah
dia kan udah punya suami...???