Sofia Anastasia terlahir dari luka, tumbuh dalam sunyi, dan hidup untuk memberi terang bagi jiwa-jiwa yang hancur. Ia bukan hanya seorang wanita-ia adalah pelipur lara, penawar duka, namun diam-diam menyimpan luka yang tak pernah sembuh di hatinya sendiri.
Dalam perjalanan hidupnya, Sofia bertemu cinta sejatinya, Ryanda Prasetya-seorang prajurit tangguh yang terluka oleh masa lalu, namun menemukan cahaya di tatapan mata Sofia. Cinta mereka bukan kisah biasa. Ia ditempa oleh perpisahan, doa, pengkhianatan, dan pengorbanan yang melampaui logika manusia.
Ketika ajal dan kehidupan menari di batas tipis kelahiran, Sofia memilih menyerahkan nyawanya demi hidup sang buah hati. Keputusannya membungkam semua tangis, menyisakan duka dalam dada sang suami yang kini harus membesarkan putra mereka seorang diri.
Dua puluh satu tahun kemudian, sang putra-Letda Adhiyaksa Putra-berdiri gagah di halaman Istana Merdeka, menerima penghargaan tertinggi sebagai perwira lulusan terbaik TNI Angkatan Laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khalisa_18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tentara juga manusia
“Tentara juga manusia, Ay...” ucap Haedar, berusaha membela dirinya sambil tersenyum malu.
Bu Aynur tertawa lepas melihat adiknya yang mencoba mencari pembelaan. Wajahnya tampak cerah, seolah menemukan hiburan kecil di sela kepenatan harinya.
“Ay, ambilkan om-mu obat. Biar dia gak kurang tidur lagi,” sindir Bu Aynur sambil tertawa geli.
“Iya, Ma.” Sofia bangkit dari duduknya, lalu berjalan pelan ke kamarnya. Langkahnya ringan, namun ada segurat resah di matanya.
Lima menit kemudian, Sofia kembali dengan sebutir pil pereda sakit kepala dan segelas air putih di tangannya. Ia menyerahkannya dengan tenang kepada Haedar, lalu kembali duduk.
Haedar menatap pil itu sejenak sebelum meminumnya. Namun belum sempat suasana kembali tenang, Bu Aynur melontarkan pertanyaan yang membuat ruangan itu terasa lebih hangat—atau justru memanas?
“Haedar, kamu gak suka sama Sofia kan?” tanyanya, nada suaranya menggoda tapi penuh selidik.
Haedar tersedak. “Uhuk, uhuk!”
Matanya membelalak, lalu perlahan menatap kakaknya, tak percaya dengan pertanyaan itu yang dilontarkan begitu saja.
“Kakak ini, pertanyaannya kok aneh banget sih,” balas Haedar, canggung. Wajahnya memerah, bukan karena obat, tapi karena rahasianya seolah terbaca dengan mudah oleh sang kakak.
“Ya gimana, dari tadi sikap kamu tuh aneh banget,” jawab Bu Aynur, senyumnya mengembang penuh arti.
“Sebenarnya sih gak masalah juga,” lanjutnya sambil tertawa pelan. “Tapi, nanti Sofia mau panggil kamu apa? Masa ‘Om Suami’?”
Tawa Haedar dan Ryan langsung pecah mendengar itu. Sofia hanya bisa tersenyum canggung, menunduk agar tak terlihat kegusarannya. Di balik senyumnya, hatinya terasa pilu. Ia berharap perasaan rumit yang mulai tumbuh itu segera reda sebelum semuanya menjadi lebih sulit.
“Entah-entah malah Aaryan yang cocok,” celetuk Bu Aynur sambil berpikir. “Masuk akal juga. Abangnya kan bukan pamannya.”
Haedar berusaha menahan ekspresi kesalnya. Ia tahu Bu Aynur sedang menggoda, tapi ada bagian dari hatinya yang benar-benar tidak suka saat Aaryan disebut.
“Kasih ke Aaryan sama aja ngasih Sofia ke orang rumah sakit jiwa,” gumamnya, lirih namun cukup jelas untuk terdengar.
“Justru menurut kakak, rasa waras Aaryan tuh lebih stabil daripada kamu dan Zayn,” balas Bu Aynur santai.
Haedar tampak gelagapan. Ia terdiam, lalu menyerahkan piring dan gelas bekas makannya kepada Sofia. “Tolong Ay,” ucapnya singkat, seperti mencari cara untuk keluar dari percakapan itu.
“Oh iya, Kak,” ujar Sofia tiba-tiba. “Ibu nyuruh aku, Aaryan, dan Zayn cari calon suami buat Sofia. Menurut kakak, gimana?”
Ryan yang sedang minum mendadak tersedak. Ia tampak syok dengan percakapan yang semakin serius itu.
Bu Aynur menghela napas, tampak berat. Ia memang tidak suka jika urusan keluarganya terlalu dicampuri, terlebih oleh pihak luar. Tapi ia juga tidak bisa menolak jika itu sudah menjadi bagian dari adat.
“Ya… gimana Sofia aja,” jawabnya pendek, seolah pasrah.
“Sofia sih setuju-setuju aja,” timpal Haedar, “tapi siapa tahu Kakak punya pilihan, biar kita pertimbangkan bareng.”
Tatapan Bu Aynur berpindah cepat ke Ryan. Dalam hatinya, keputusan sudah bulat. Ia yakin lelaki itu adalah sosok yang paling tepat untuk Sofia.
“Ada. Ryan. Kakak rasa dia cocok buat Sofia,” ucapnya tenang.
Ryan menatap Bu Aynur dengan mata membulat. Ia nyaris tak percaya nama dirinya disebut. Udara terasa berat di dadanya, suasana seketika menjadi canggung.
“Tapi Bu…”
“Assalamu’alaikum!” suara keras dari luar rumah memotong percakapan mereka.
Semua kepala menoleh ke arah pintu utama. Di sana berdiri Aaryan dan Zayn, masih mengenakan pakaian dinas mereka.
“Wa’alaikumsalam. Masuk, Zayn, Aaryan,” ujar Bu Aynur, ramah. Ia mempersilakan mereka masuk ke ruang tengah.
Haedar mengusap pelipisnya, tampak frustasi.
“Ngapain sih datang-datang ke sini? Si Zayn baru pulang malah bukannya ke rumah, malah ke sini. Mau pamer seragam polisi?” godanya, membuat Bu Aynur tertawa geli.
“Emangnya ini hutan?” sahut Zayn.
“Ya, kan ini bukan rumahmu,” Haedar menimpali, sengit.
“Suka-suka kami lah. Kalau situ gak nyaman ya pulang aja ke rumah sendiri. Sama-sama nebeng di rumah orang, sok gaya,” jawab Zayn, lalu duduk di samping Bu Aynur dengan santai.
“Eh, Bang Aaryan dan Om Zayn. Kalian udah makan?” tanya Sofia, yang baru keluar dari dapur sambil membawa nampan.
“Kebetulan banget belum,” jawab Zayn antusias.
“Yaudah, makan dulu sana.”
Tanpa menunggu aba-aba kedua lelaki itu langsung menuju ruang makan. Tak lama kemudian, mereka kembali dengan sepiring nasi di tangan masing-masing. Makan sambil tertawa dan bercanda, seolah tak ada beban di antara mereka.
---
Suara azan Subuh membangunkan Sofia dari tidurnya. Dengan mata masih sayu, ia beranjak dari tempat tidur, mengambil air wudhu, dan menunaikan salat Subuh dengan penuh kekhusyukan. Dalam sujud panjangnya, ia menceritakan semuanya—resah, harapan, bahkan luka-luka yang belum sembuh.
Tak ada satu pun keluh yang luput dari doanya. Air mata turun satu per satu, membasahi sajadahnya.
Usai salat, ia melanjutkan dengan zikir hingga cahaya mentari perlahan menembus tirai jendela. Ia berdiri, melangkah ke balkon kamarnya.
Udara pagi terasa segar. Dari sana ia bisa melihat ke arah dalam batalion di seberang rumahnya. Entah kenapa, ia menyukai momen-momen itu. Bukan karena rasa ingin tahu berlebihan, tapi ada kenyamanan yang ia rasakan setiap kali memandang ke sana.
Awal tahun lalu, setelah bukunya menjadi best-seller, Sofia membeli sebidang tanah di depan batalion itu dan membangun sebuah rumah besar. Bukan untuk pamer, tapi karena ia ingin rumah itu menjadi tempat aman bagi siapa pun yang membutuhkan.
Dulu, saat banjir besar melanda wilayah itu, tidak ada yang peduli. Ia sendiri pernah merasakan betapa menyakitkannya jadi orang kecil yang tak dilirik. Ia bertekad, jika nanti punya rezeki, ia akan membantu orang-orang tak berdaya.
Dan ia menepatinya.
Tahun lalu, saat banjir datang lagi, rumahnya menjadi tempat berlindung puluhan warga. Ia menyediakan makanan, pakaian, bahkan tempat tidur untuk semua yang datang. Warga yang dulu memusuhinya, kini menghormatinya. Banyak ibu-ibu yang mendambakan Sofia sebagai menantu.
Namun, bagi Sofia, semua itu bukan soal nama. Ia hanya ingin menjadi manusia yang bermanfaat.
Lamunannya buyar ketika sebuah suara menyapanya pelan.
“Permisi, Non.”
Sofia menoleh. Ryan berdiri tak jauh darinya, bersandar di dinding balkon.
“Ada apa, Yan?” tanyanya lembut.
“Non nangis?” tanya Ryan, ragu.
“Enggak... cuma kelilipan,” jawab Sofia, buru-buru menghapus air mata yang masih tersisa.
“Saya pamit, Non. Terima kasih untuk semuanya,” ujar Ryan, menunduk sopan.
Sofia berdiri, menghampiri Ryan. “Hati-hati di jalan ya. Terima kasih juga sudah jadi teman terbaik buat saya. Semoga kita tetap berteman baik, ya,” ucapnya sambil menepuk pelan pundak Ryan. Tangannya sedikit terangkat karena tinggi badan Ryan jauh di atasnya.
“Tentu, Non Sofia.” Ryan tersenyum.
“Jaga diri baik-baik, ya,” lanjutnya.
“Kamu juga. Sampai jumpa… lima tahun lagi,” jawab Sofia.
Ryan tersenyum. Kalimat itu menyentuh hatinya, dalam diam ia tahu: mereka mungkin berjalan di jalan berbeda, tapi kenangan ini akan tetap tinggal.
Sofia dan Ryan melangkah keluar, menuju halaman rumah di mana sopir Bu Aynur dan anggota keluarga lain sudah menunggu. Wajah-wajah mereka tampak berat, terutama adik laki-laki Sofia yang terlihat enggan melepaskan Ryan.
Sofia hanya bisa tersenyum melihat wajah adiknya. Ia tahu, bagi adiknya, Ryan bukan sekadar tamu atau teman—dia adalah bagian dari keluarga.
Dan bagi Sofia, meski Ryan akan pergi, jejaknya akan tetap tinggal—dalam doa, dalam ingatan, dan dalam harapan.