Mendaki adalah napas bagi Evan, pria berjiwa bebas yang tak pernah gentar menantang puncak tertinggi. Bersama teman-temannya, ia nekat menjelajah hutan perawan yang dikelilingi sungai berarus deras tempat yang bahkan penjaga hutan pun melarang untuk dimasuki. Satu per satu temannya menyerah pada ganasnya medan, hingga Evan harus melanjutkan perjalanan sendirian, tersesat di tengah belantara yang belum pernah dijamah manusia.
Di dunia yang berbeda, ada Sierra, gadis manja pewaris konglomerat, yang lebih sering membakar uang di pusat perbelanjaan. Liburannya ke pulau eksotis berubah menjadi mimpi buruk ketika pesawatnya dihantam badai. Dengan parasut gagal terbuka, Sierra terhempas ke rimba misterius dan hanya pohon yang menyelamatkannya dari maut.
Dua jiwa yang bertolak belakang kini terperangkap di dunia liar tanpa jalan pulang. Saat mereka bertahan hidup bersama, hutan mulai mengungkap rahasia gelap yang selama ini terkubur..., mampukah mereka menemukan jalan keluar?
Ig deemar38
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Adra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HHM 6
“Gue sumpah ya, ini tuh bukan sekadar hutan. Ini kayak... escape room versi alam liar, plus minus zombie atau alien,” gerutu Sierra sambil menyibak paksa semak yang daunnya nempel ke rambutnya.
Evan yang jalan di depan mendengus pelan. “Lu tuh bisa diem sebentar nggak?”
“Ngomong itu cara gue coping, okay? Selain jerit atau nangis,” jawab Sierra sambil merapikan poninya yang sekarang lebih mirip sapu ijuk.
Mereka baru jalan lima belas menit dari tempat api unggun. Kabut yang tadi pekat mulai perlahan-lahan surut, tapi udara masih lembab parah, kayak masuk ke kulkas bocor. Setiap langkah bikin sepatu Evan basah kuyup, dan Sierra? Dia bahkan nggak pakai sepatu. Kakinya udah dibungkus sobekan baju Evan yang udah dikorbankan sejak tadi pagi.
“Lu ngapain sih jalan ke arah yang ini?” tanya Sierra sambil ngelangkah hati-hati. “Tadi kayaknya suara misteriusnya dari arah kiri.”
“Justru makanya kita ke kanan,” jawab Evan cepat. “Lu mau nyamperin sumber suara nggak jelas itu?”
“Hmm, tergantung... kalo suaranya cowok Korea ganteng manggil gue, maybe yes.”
Evan berhenti mendadak dan berbalik. Tatapannya datar. “Sierra...”
“Apa?” Sierra mengangkat alis, seolah tak merasa ada yang aneh.
Evan menghela napas panjang. “Gua beneran nggak ngerti jalan pikiran lo. Ini situasinya serius, tapi lo malah sempat-sempatnya mikir yang aneh-aneh.”
Sierra nyengir, cuek. “Namanya juga imajinasi aktif.”
Evan geleng-geleng pelan. “Haahh... lo tuh cewek aneh banget.”
“Gua beneran nggak ngerti cara lu mikir.”
Sierra cengar-cengir. “Makanya, hidup gue penuh kejutan.”
Evan memutar mata lalu lanjut jalan. Mereka melewati akar-akar besar yang menjalar seperti ular, dan batang pohon tua yang mulai berjamur. Hutan ini, walau terang sedikit karena matahari pagi mulai menembus celah dedaunan, masih nyimpen hawa aneh. Kayak... ada yang ngikutin dari jauh.
Sierra merasakan itu juga. Tapi beda dari semalam. Kali ini bukan takut, tapi rasa... penasaran. Kayak dia ditarik pelan-pelan untuk masuk lebih dalam.
“Eh,” gumam Sierra pelan sambil berhenti dan jongkok. “Ini apaan?”
Evan ikutan mendekat. Di antara tanah lembab dan daun busuk, ada bekas tapak. Tapi bukan jejak sepatu. Bentuknya aneh. Panjang, cekung di tengah, dan agak menyamping. Bukan jejak hewan, dan jelas bukan milik mereka.
“Ini kayak... cetakan alas kaki?” tanya Sierra, nadanya pelan. “Tapi kok gede, ya?”
Evan membungkuk, menyentuh pinggiran jejak itu. “Kayaknya... bukan baru. Udah agak lama. Tapi hujan semalam bikin bentuknya kelihatan lagi.”
Sierra menatap jejak itu. “Lu yakin ini bukan... jejak makhluk hutan, gitu? Semacam... eksperimen hasil kawin silang manusia dan rusa?”
“Kenapa lu selalu mikirnya ke arah horror?”
“Karena logika tuh udah kalah sejak gue nyasar ke hutan ini pake piyama dan eyeliner luntur,” jawab Sierra cepat.
Evan menghela napas. “Kita ikutin jejak ini.”
Sierra melongo. “Hah? Lu yakin?”
“Ini satu-satunya hal yang nunjukin kalau mungkin ada manusia lain di sini. Entah dia selamat atau nggak, kita harus cari tahu.”
Mereka mulai menelusuri jejak itu. Nggak mudah. Kadang samar, kadang ilang karena tertutup akar atau lumut. Tapi Evan cukup jeli. Dan Sierra? Ya, dia berusaha nggak ngeluh. Usaha keras sih, tapi kadang tetap keluar juga.
“Astaga, kaki gue kayak udah bukan bagian dari tubuh ini,” desis Sierra sambil jalan tertatih. “Rasanya kayak disetrum tiap langkah.”
Evan melirik. “Mau gua gendong?”
Sierra terdiam sebentar. Lalu senyum jail. “Hmm, bisa sih. Tapi pastikan lo kuat ya, gue habis makan banyak kemarin.”
Evan langsung melangkah lebih cepat. “Gak jadi.”
Sierra ngakak. “Gue bercanda, Beb. Tapi serius, ini kaki bisa jadi alasan gue dapet kursi prioritas seumur hidup.”
Lalu tiba-tiba Evan berhenti. Tangan kanannya terangkat, memberi isyarat.
“Denger itu?” bisiknya.
Sierra pasang kuping. Suara... aliran air. Kecil, tapi jelas. Suara gemericik.
“Mata air?” tebak Sierra.
“Kalau kita beruntung,” jawab Evan cepat. “Ayo.”
Mereka bergegas, hati-hati menuruni lereng kecil sampai akhirnya... ketemu aliran air bening, kecil, mengalir pelan di sela batu.
Sierra langsung duduk di pinggirnya, nyipratin air ke mukanya. “Heaven. Literal heaven. Air! Fresh, nggak bau got!”
Evan juga minum, mencuci wajahnya. Tapi matanya tetap waspada. “Air ini bisa jadi petunjuk. Biasanya aliran air kecil kayak gini ngumpul di satu titik. Sungai, atau...”
“Pemukiman?” potong Sierra dengan mata berbinar.
Evan mengangguk pelan.
Tapi saat mereka ngikutin aliran itu beberapa meter ke bawah, mereka nemuin hal yang jauh lebih aneh.
Sebuah... bangunan kecil. Tersembunyi di balik semak dan pohon tumbang. Dindingnya dari kayu lapuk, setengah tertutup lumut. Tapi jelas buatan manusia.
Sierra menatap dengan mata membesar. “O... M... G. Ini markas rahasia? Bunker zombie? Rumah tukang sulap?”
Evan mendekati bangunan itu perlahan. Tangannya meraih pegangan pintu kayu yang udah reot. “Ini... mungkin tempat riset atau pos jaga tua.”
“Yakin bukan rumah penyihir?” bisik Sierra.
Evan membuka pintunya pelan. Bunyi kriiieeekk... terdengar menyeramkan. Mereka masuk.
Bagian dalamnya lembab, penuh debu, tapi... ada sesuatu di sana. Meja panjang. Laci-laci logam. Rak dengan botol-botol kosong. Dan... papan dengan peta besar dan catatan yang udah hampir pudar.
Sierra menutup hidung. “Bau lembab. Tapi... ini keren banget. Gila. Ini tuh kayak set film indie thriller.”
Evan ngelihat sekeliling dengan serius. Tangannya menyentuh peta yang udah usang.
“Ini... denah hutan,” katanya pelan. “Ada titik-titik yang ditandai merah.”
Sierra mendekat. “Tunggu... yang ini... deket tempat kita sekarang, kan?”
Evan mengangguk. “Dan yang ini...” Ia menunjuk titik lain yang tak jauh dari lokasi mereka. “...seolah jadi pusatnya.”
Sierra bergidik. “Gue nggak suka feeling ini.”
Tiba-tiba, suara kecil terdengar dari belakang bangunan.
Duk.
Evan langsung sigap. Mengangkat kayu yang dia bawa sebagai senjata.
Sierra mundur perlahan. “Evan, please jangan bilang itu beruang.”
Tapi saat mereka intip ke belakang, ternyata bukan hewan besar. Hanya... pintu kecil di lantai belakang bangunan. Seperti penutup lorong bawah tanah. Tertutup separuh.
Evan melirik Sierra. “Kita harus cek.”
Sierra langsung mengangkat tangan. “No..
no... Gue nggak mau ikut."
"Ya udah, lo sendirian disini."
Tapi... oke... oke, fine, gue ikut.”
Evan membuka pintu itu. Tangga kayu turun ke bawah. Gelap. Dingin. Lembab.
“Ladies first,” kata Evan singkat.
Sierra mendelik. “Dasar pengecut elegan.”
Mereka turun bersama.
Lorong kecil itu sempit dan baunya lebih menyengat. Tapi di ujung, ada ruangan kecil. Dan di sana...
Ada meja. Kursi. Layar monitor yang mati. Dan di dinding, foto-foto. Satelit. Jejak-jejak. Peta pergerakan. Dan... satu foto yang bikin Sierra menarik napas keras.
“Itu... gue.”
Foto dari atas. Sierra, duduk di bawah pohon waktu hari pertama nyasar.
Dan satu lagi. Evan. Di pinggir sungai.
Evan menatap itu, rahangnya mengeras. “Kita... diawasi.”
ayoo kita sama² ke rumah sierra van..bikin sierra sadar akan kehadiran dirimu setelahnya langsung akad nikah ..than kita bawa sierra tinggal di hutan konservasi cinta..peduli setan dengan bisnis pak konglo..😛🤣🤣
semangat💪