NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku Untukmu

Ambil Saja Suamiku Untukmu

Status: tamat
Genre:Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Eys Resa

Bagaimana jika di hari pernikahan setelah sah menjadi suami istri, kamu ditinggal oleh suamimu ke luar negeri. Dan suamimu berjanji akan kembali hanya untukmu. Tapi ternyata, setelah pulang dari luar negeri, suamimu malah pulang membawa wanita lain.

Hancur sudah pasti, itulah yang dirasakan oleh Luna saat mendapati ternyata suaminya menikah lagi dengan wanita lain di luar negeri.

Apakah Luna akan bertahan dengan pernikahannya? Atau dia akan melepaskan pernikahan yang tidak sehat ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Ingin Terpuruk

Pipi Luna terasa panas dan berdenyut, bukan hanya karena tamparan Rafi, tapi juga karena perih di hatinya. Air mata terus mengalir, membasahi wajahnya yang sembab. "Keluar, Mas! Keluar sekarang!" teriaknya, suaranya serak.

Rafi mencoba meraih tangan Luna. "Sayang, maafkan aku. Aku tidak sengaja. Aku lepas kendali."

"Keluar! Aku bilang keluar! Aku tidak mau melihat wajahmu!" Luna menepis tangan Rafi dengan kasar. Ia tidak ingin mendengar satu pun kata maaf. Maaf tidak akan menghapus rasa sakit dan pengkhianatan ini.

Seratus kali Rafi mencoba meminta maaf, seratus kali pula Luna menolaknya. Ia hanya ingin sendiri, ingin merenungi kehancuran yang tiba-tiba menimpa pernikahannya. Dengan kesal, karena segala "itikad baiknya" ditolak mentah-mentah, Rafi akhirnya menyerah. Ia melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Luna yang terisak di dalam.

Di ruang tamu, Bu Endah dan Pak Doni menatap Rafi dengan cemas. Saras, istri barunya, duduk tenang di sofa, mengamati adegan itu dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Ada apa, Nak? Kenapa Luna teriak-teriak?" tanya Bu Endah, pura-pura tidak tahu.

Rafi menghela napas, rambutnya acak-acakan. "Aku bertengkar hebat dengannya, Bu. Aku sampai menamparnya."

Alih-alih bersimpati, Bu Endah malah tersenyum puas. "Bagus itu! Memang harus begitu. Istri yang tidak bisa diatur memang pantas dihukum, pantas dipukul! Biar tahu rasa!"

Saras, yang sedari tadi hanya menyimak, kini tersenyum lebih lebar. Ia seperti baru saja memenangkan sebuah pertarungan tanpa perlu bertarung sedikit pun. Bu Endah segera meminta mereka untuk beristirahat dan mendinginkan pikiran.

"Sudah, istirahat saja dulu kalian. Untuk sementara, tidur di kamar tamu saja ya. Biar Luna punya waktu sendiri," ujar Bu Endah, seolah memberikan kelonggaran, padahal itu adalah strategi untuk membuat Luna merasa terasing.

Sore menjelang malam, perut Bu Endah mulai keroncongan. Ia menunggu, namun tidak ada aroma masakan yang tercium dari dapur. Bahkan, dapur itu sendiri sunyi senyap. Dengan jengkel, ia bangkit dari sofa dan melangkah ke dapur. Kosong.

Ia menghela napas kasar, lalu berjalan menuju kamar Luna. Tanpa basa-basi, ia mengetuk pintu kamar Luna pelan. Sekali, dua kali, tiga kali. Tidak ada jawaban. Kesabarannya habis. Ia mengetuk pintu itu dengan sangat keras, berulang kali, hingga suaranya menggelegar di seluruh rumah.

"Luna! Buka pintu ini! Kamu dengar Ibu?" teriak Bu Endah.

Suara ketukan dan teriakan itu membuat Rafi, Saras, dan Pak Doni keluar dari kamar tamu. Mereka menatap Bu Endah dengan bingung.

"Ada apa, Bu?" tanya Rafi.

"Ini anak kurang ajar! Sudah sore begini belum keluar dari kamar dan masih nggak ada makanan! Dapur kosong melompong!" Bu Endah menunjuk pintu kamar Luna dengan marah.

Tak lama kemudian, pintu kamar Luna terbuka. Luna berdiri di ambang pintu, menatap santai ke arah ibu mertuanya, seolah tak terpengaruh sedikit pun dengan kemarahan Bu Endah. Dia sudah berdamai dengan keadaan yang menimpa nya dan saatnya dia bangkit, tanpa tangisan. Karena apa yang menimpanya ini tidak perlu di tangisi hanya buang-buang energi.

"Ada apa Ibu mengetuk pintu kamar ku begitu keras? Memangnya ada kebakaran?" tanya Luna dengan nada dingin.

Bu Endah terkesiap. Ia tidak menyangka Luna akan membalas dengan nada setenang itu. Wajahnya memerah padam. "Kamu ini kenapa?! Kamu tidak lihat sudah jam berapa?! Cepat sana masak untuk makan malam! Kita semua lapar!"

"Kenapa saya yang harus masak? Kan ada istri muda dan menantu kesayanganmu itu. Dia juga menantu di rumah ini kan? Toh dia juga seorang manajer keuangan, pasti lebih pintar mengurus rumah daripada saya yang hanya di rumah saja," balas Luna dengan senyum sinis, mengulang perkataan Bu Endah sebelumnya.

Bu Endah melotot, tak percaya dengan perkataan Luna. "Luna! Jangan kurang ajar kamu!"

Namun, Luna tidak menghiraukan. Dengan santainya, ia menutup pintu kamarnya dengan sangat keras, tepat di hadapan wajah Bu Endah. Suara bantingan pintu itu membuat semua orang terdiam.

Rafi yang melihat itu ikut kesal. Ia berjalan ke arah pintu kamar Luna dan menggedornya. "Luna! Buka pintu ini! Jangan kurang ajar kamu!"

Dari balik pintu, terdengar suara Bu Endah yang memaki-maki Luna dengan kata-kata kasar, "Dasar menantu tidak tahu diri! tidak tau terima kasih! Tidak punya tata krama!"

Luna hanya diam di dalam, tak sedikit pun berniat membuka pintu. Rafi akhirnya menyerah. Dengan napas terengah-engah, ia menatap Saras.

"Saras, tolong kamu masak makan malam untuk kita semua. Aku lapar."

Saras menatap Rafi dengan bingung. "Mas, aku... aku tidak bisa masak. Aku tidak pernah masak."

Rafi mengernyit. "Tidak bisa masak?! Lalu selama ini kamu makan apa?!"

"Ya makan di luar, atau dibelikan makanan," jawab Saras polos.

Mereka semua menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan Saras. Akhirnya, Bu Endah yang sudah sangat lapar dan kesal, dengan terpaksa melangkah ke dapur. Ia mulai memasak makan malam untuk semua orang sambil menggerutu di sepanjang prosesnya.

Suasana makan malam terasa sangat canggung. Bu Endah dan Pak Doni makan dalam diam, sesekali melirik ke arah pintu kamar Luna. Rafi dan Saras juga tidak banyak bicara.

Tiba-tiba, pintu kamar Luna terbuka. Semua mata tertuju padanya. Luna berjalan keluar dengan santai, mengabaikan tatapan mata mereka.

"Mau ke mana kamu?!" bentak Bu Endah. "Tidak tahu diri! Kami semua kelaparan, kamu malah enak-enakan di kamar! jangan bilang kamu keluar dari kamar karena kelaparan ya! tidak ada makanan untukmu disini."

Luna tidak menjawab tidak juga menoleh kepada mereka sedikit pun. Ia terus berjalan keluar rumah. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah bungkusan makanan di tangannya. Aroma nasi goreng dan sate ayam menyeruak. Luna berjalan melewati mereka, masuk begitu saja ke dalam kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Bu Endah mengepalkan tangan, menahan amarah. "Dasar tidak punya sopan santun!"

Di dalam kamarnya, Luna duduk di lantai, bersandar di dinding. Ia membuka bungkusan makanan itu dan mulai makan dengan lahap. Rasa lapar yang ia tahan sepanjang hari kini terpuaskan. Setelah makan, ia mengeluarkan ponselnya. Ada sebuah nama yang sudah lama tidak ia hubungi.

"Halo, Rian?" sapanya, setelah panggilan tersambung.

"Luna? Ya ampun, apa kabar? Lama tidak dengar kabar!" jawab suara di seberang sana, terdengar senang.

"Aku baik. Kamu bagaimana? Aku mau mengajakmu bertemu besok siang. Ada yang ingin aku bicarakan."

"Tentu saja! Di mana? Kapan?"

"Besok siang di kafe biasa. Aku akan ceritakan semuanya," kata Luna, suaranya terdengar lebih bersemangat.

Setelah menutup telepon, Luna tersenyum tipis. Mungkin, ini saatnya ia mengambil tindakan. Ia sudah terlalu lama diam dan menderita. Ada rencana yang mulai terbentuk di benaknya, sebuah rencana untuk keluar dari neraka ini dan merebut kembali kehidupannya. Ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi.

1
Abinaya Albab
nama Saras kn banyak yg memiliki kn ya harusnya disini Luna konfirmasi dlu apakah Saras yg dia kenal atw Saras lain dg menyebutkan ciri²/memperlihatkn foto ya kn walaupun mmg pada akhirnya Saras itu
Abinaya Albab
baru saja mbak skg nona 🤭
Abinaya Albab
lebih enak Nak... daripada Mbak
Abinaya Albab
cuma asisten CEO katanya lahhhh anakmu itu juga mlh cuma manager
Abinaya Albab
tidur pulas dengan gelisah gimana ya mksd nya 🤔
Abinaya Albab
nona 😂 tumben 🤔
Abinaya Albab
ini kok gk ada sopan santunnya di depan atasan masih saja nyiyir
Abinaya Albab
disentuh aja blm kok udh dikata mandul 😂
Abinaya Albab
coba pak Doni menikah lagindgbwanita yg sehat apakah Bu Endah mau berbagi suaminya 😤
Abinaya Albab
pdhl klo udh punya penyakit jantung gk boleh capek² loh itu gk takut jantungnya kumat apalagi dg dibiayai sama orang yg selalu di caci maki & yg mengurusnya saat sakit
Abinaya Albab
kamu di nikahi cm dijadikan babu + donatur buat keluarga suamimu Lun
Cahya Kirana
pdhl jgn pengacara ya setidaknya Luna CEO perusahaan ke gitu warisan dari kake nya kan lebih keren ta
Erna Masliana
iya masa orang kaya gak bisa nyewa detektif..apa apa harus sendiri malah mencurigakan
Erna Masliana
miskin banget apa gak niat bayar..kalo miskin kebangetan rasanya gak mungkin..dia bisa ngasih nafkah 5 juta perbulan berarti gaji lebih besar dong..masa kerja berapa tahun..masa iya 150jt aja keteteran.. ibunya gak mungkin gak punya perhiasan..
Erna Masliana
Boss gak punya harga diri apalagi wibawa
Erna Masliana
ya tetap disana kan gadai sama dengan pinjam.. tinggal bayar cicilannya dg benar jangan nunggak
Erna Masliana
masa?? gaji kamu kemana?? kan jabatan kamu lumayan bagus..masa iya 150 aja gak ada
Erna Masliana
lagian jadi pelakor pilih mangsa yang belangsak dapet buwung doang 😛
Erna Masliana
nah jantung aman Bu... jangan sampe kambuh.. obat mahal
Erna Masliana
udah uyuhan cepet sadar.. aku baru beres baca yang 5th disiksa fisik mental hingga akhirnya menyerah cerai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!