“Melukai orangku, jangan harap mati dengan tenang.”
— Zeon Ashviel Arken
“Berhentilah bicara… atau kuledakkan mulutmu itu.”
— Zyra Ashviel Arken
Dua anak kembar yang pernah hidup sebagai agen bayaran mematikan tiba-tiba kembali ke masa lalu, ke waktu di mana keluarga asli mereka masih ada.
Namun masa lalu bukan tempat yang aman. Setiap langkah mereka bisa mengubah takdir, dan setiap keputusan membawa mereka lebih dekat pada kebenaran yang tidak seharusnya dibuka kembali.
Di antara keluarga yang dulu mereka kenal… dan kehidupan baru yang mereka jalani, satu pertanyaan muncul:
Apakah mereka akan memperbaiki masa lalu, atau menghancurkan segalanya sekali lagi?
happy reading 🐢
Don't Copy!!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maiaqua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
05. Protektif
(POV Zeon)
Tubuhku langsung menegang.
Suara itu.
Aku yakin itu bukan suara Hans.
Bukan Raven.
Bukan Sean ataupun Sian.
Seseorang yang asing.
Dan yang lebih penting...
Dia sedang membicarakan kami.
"Aku tidak suka membahas ini di dekat mereka."
Suara Alfa terdengar rendah.
Dingin.
Sangat berbeda dari suara yang biasa kami dengar saat bersama keluarga.
Aku dan Zyra saling menatap.
Kami langsung mengerti apa yang harus dilakukan.
Mendengarkan.
Sayangnya...
Kami masih bayi.
Jarak ranjang dengan pintu terlalu jauh.
Dan kemampuan merangkak kami masih menyedihkan.
"Heee..."
Zyra berusaha mengangkat tubuhnya.
Lalu...
Pluk.
Jatuh lagi.
Aku memalingkan wajah.
'Jangan lihat.'
'Sulit.'
'Jangan tertawa.'
'Aku berusaha.'
'Aku serius.'
'Aku juga serius.'
Kami terdiam beberapa detik.
Lalu tertawa dalam hati.
Bahkan saat mencoba menjadi mata-mata, kami tetap gagal karena tubuh bayi ini.
Menyedihkan.
Di luar kamar, percakapan masih berlangsung.
"Bagaimanapun juga, mereka sudah menunjukkan reaksi."
ucap pria itu.
"Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan apa pun."
jawab Alfa.
"Tapi kemungkinan itu ada."
Kemungkinan?
Kemungkinan apa?
Aku berusaha fokus.
Namun suara hujan di luar membuat beberapa kata tidak terdengar jelas.
"Sampai sekarang kami belum menemukan pergerakan mencurigakan."
lanjut pria itu.
"Tetap awasi."
"Baik."
Lalu...
Suara langkah kaki menjauh.
Hening.
Aku mengerutkan alis.
Itu saja?
Aku sudah tegang setengah mati dan hanya mendapat informasi setengah-setengah?
Sial.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
Aku dan Zyra langsung pura-pura tidur.
Refleks.
Sangat refleks.
Padahal tidak ada yang tahu kami sadar.
Namun kebiasaan lama sulit hilang.
Langkah kaki mendekat.
Kemudian berhenti tepat di samping ranjang kami.
Aku bisa merasakan seseorang sedang melihat ke arah kami.
Dan entah kenapa...
Aura itu terasa familiar.
Hangat.
Papa.
"Heh."
Suara kecil terdengar.
Seperti seseorang yang sedang tersenyum tipis.
Kemudian sebuah tangan besar mengusap rambutku pelan.
"Selamat malam."
ucap Alfa.
Suaranya sangat lembut.
Berbeda jauh dengan suara dingin yang tadi kudengar di luar.
Aku hampir membuka mata.
Hampir.
Lalu dia berpindah ke arah Zyra.
"Membuat masalah lagi hari ini?"
tanyanya pelan.
"Heee."
Refleks.
Zyra menjawab.
Ruangan langsung hening.
...
...
Sial.
Aku langsung menutup mata lebih rapat.
Alfa juga terdiam beberapa detik.
Lalu terdengar tawa kecil.
"Kau ternyata belum tidur."
Aku bisa membayangkan wajah Zyra sekarang.
Pasti malu setengah mati.
Benar saja.
"Heeee..."
Suara Zyra terdengar lebih pelan.
Seolah sedang pura-pura tidak terjadi apa-apa.
Aku hampir tertawa.
Alfa mengangkat tubuh kecil Zyra dari ranjang.
Kemudian menggendongnya.
"Papa."
gumam Zyra dalam bahasa bayi.
Atau setidaknya itulah yang ingin dia katakan.
Yang keluar justru:
"Paaa..."
Alfa membeku.
Aku membeku.
Zyra membeku.
Ruangan mendadak sangat hening.
"Sayang."
Suara Zelvyna terdengar dari pintu.
"Kau dengar?"
Alfa masih diam.
"Kau dengar kan?"
Masih diam.
"Mama rasa dia memanggilmu."
Masih diam.
Lalu perlahan...
Sudut bibir Alfa terangkat.
Sedikit.
Sangat sedikit.
Tapi cukup membuat Zelvyna langsung tertawa.
"Dia benar-benar memanggilmu."
Alfa langsung memeluk Zyra sedikit lebih erat.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya...
Pria itu terlihat kehilangan kata-kata.
(POV Zyra)
...
Astaga.
Aku cuma keseleo lidah.
Aku tidak sengaja.
Kenapa semua orang bereaksi seperti itu?
Tolong.
Aku malu.
Sangat malu.
Namun yang lebih parah...
Aku ternyata tidak benar-benar keberatan berada dalam pelukan ini.
Hangat.
Nyaman.
Aman.
Perasaan yang dulu tidak pernah kami miliki.
Tanpa sadar aku memegang kerah baju Alfa.
Pria itu langsung menatapku.
Lalu tersenyum tipis.
"Kau memang anak papa."
Sial.
Aku makin malu.
Keesokan paginya.
Mansion Arken kembali ramai.
Sean berlari masuk ke ruang keluarga dengan rambut berantakan.
"MAMA!"
teriaknya.
"MAMA!"
"Ada apa?"
tanya Zelvyna.
Sean menunjuk ke arah luar jendela.
"Raven berkelahi!"
Ucapan Sean membuat semua orang yang ada di ruang keluarga langsung menoleh.
Papa Alfa yang sedang duduk di sofa perlahan meletakkan cangkir kopinya.
Mama Zelvyna mengangkat alis.
Sian yang sedang membaca buku langsung menutup bukunya.
Bahkan Hans yang baru saja menggigit kue ikut membeku.
"Hah?" Hans berkedip. "Raven? Berkelahi?"
Sean mengangguk cepat sampai rambutnya berantakan.
"Iya! Aku lihat sendiri!"
"Kak Raven dorong orang!"
"Itu pasti berkelahi!"
Sian langsung berdiri sambil menghela napas panjang.
"Tidak semua yang didorong itu berkelahi."
"Tapi dia marah!"
"Sean juga marah setiap hari."
"Itu beda!"
"Tidak."
"Itu beda!"
"Tidak."
Sean langsung menunjuk adiknya dengan kesal.
"Kau selalu membelanya!"
Sian memalingkan wajah.
"Aku hanya mengatakan fakta."
"Mama lihat!"
"Dia jahat!"
Mama Zelvyna menahan tawa.
"Baiklah, baiklah. Kita lihat dulu apa yang terjadi."
---
Tak lama kemudian mereka semua berjalan menuju taman belakang mansion.
Papa Alfa berjalan paling depan.
Mama Zelvyna menggendong Zyra sementara Zeon berada di stroller yang didorong salah satu pelayan.
Semakin mendekat, suasana taman terlihat tidak setegang yang Sean gambarkan.
Namun...
Memang ada Raven di sana.
Berdiri di depan seorang anak laki-laki yang tampak sedikit lebih tua darinya.
Anak itu sedang mengusap dahinya dengan wajah kesal.
Begitu melihat Papa Alfa datang, pria dewasa yang berdiri tak jauh dari sana langsung tersenyum.
"Dari jauh sudah terdengar suara Sean."
ucapnya santai.
Papa Alfa mengangguk tipis.
"Darren."
Ternyata pria itu adalah Darren.
Sepupu Papa Alfa yang datang berkunjung pagi tadi.
Di samping Darren berdiri putranya.
Kael.
Bocah yang sejak tadi berdebat dengan Raven.
"Papa!" Sean langsung menunjuk ke arah mereka. "Tuh kan! Aku tidak bohong!"
Semua mata tertuju pada Raven.
Raven tetap berdiri tenang.
Ekspresinya datar seperti biasa.
Seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.
Papa Alfa menatap putra sulungnya beberapa detik.
"Laporan."
ucapnya singkat.
Hans langsung berbisik pada Zelvyna.
"Kenapa rasanya seperti bos mafia sedang meminta laporan anak buah?"
Mama Zelvyna menahan tawanya.
Sementara itu Raven menjawab tanpa ragu.
"Dia ingin menyentuh Zeon dan Zyra."
Kael langsung menunjuk dirinya sendiri.
"Aku cuma mau lihat!"
"Kau terlalu dekat."
jawab Raven datar.
"Aku bahkan belum menyentuh mereka!"
"Kau akan melakukannya."
"Itu cuma asumsi!"
"Kemungkinannya ada."
Kael membeku.
"Kau serius?"
Raven mengangguk.
"Sangat."
(POV Zyra)
...
Aku mulai yakin.
Kak Raven sebenarnya lahir sebagai bodyguard.
Bukan anak kecil.
Lihat saja cara dia berdiri.
Tangan di belakang punggung.
Tatapan waspada.
Posisi menghadap ancaman.
Itu benar-benar seperti penjaga profesional.
'Ze.'
'Hm.'
'Aku takut suatu hari dia membawa walkie-talkie.'
'Kemungkinannya tidak nol.'
'ZE!'
'Dia bahkan mungkin tidur sambil menjaga pintu kamar kita.'
Aku terdiam.
Lalu memikirkan kemungkinan itu.
...
Sial.
Aku bisa membayangkannya.
---
"Aku cuma penasaran!"
protes Kael sambil menyilangkan tangan.
"Mereka terkenal di keluarga."
"Aku mau lihat bayi kembar yang katanya mirip malaikat."
"Heh."
Suara kecil terdengar dari Hans.
"Malaikat katanya."
Kael mengangguk serius.
"Iya."
Lalu matanya berbinar.
"Dan ternyata memang lucu!"
Seketika.
Raven bergerak setengah langkah.
Menutupi stroller Zeon dan Zyra.
Seolah Kael adalah predator berbahaya.
Kael langsung melotot.
"Tuh kan!"
"Dia melakukan itu lagi!"
"Aku bukan penjahat!"
"Kau mencurigakan."
jawab Raven tanpa ekspresi.
"Apa yang mencurigakan?!"
"Kau terlalu antusias."
"Aku cuma suka bayi!"
"Itu mencurigakan."
Kael hampir pingsan karena kesal.
Sian yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Kak Raven."
Raven menoleh.
"Menurutku kau berlebihan."
Semua langsung menatap Sian.
Karena jarang sekali bocah itu ikut campur.
Raven terdiam beberapa saat.
Kemudian menjawab dengan tenang.
"Mungkin."
Kael langsung menunjuk Raven.
"NAH!"
"Tapi aku tetap tidak percaya padanya."
lanjut Raven.
Kael membeku lagi.
"Kenapa?!"
Raven menatapnya lurus.
Lalu menunjuk wajah Kael.
"Kau terlihat seperti orang yang akan membuat masalah."
Sean langsung mengangguk.
"Aku setuju."
"Hah?!"
Sian ikut mengangguk.
"Aku juga."
"KALIAN BERTIGA SAUDARA YANG MENYEBALKAN!"
Teriak Kael frustasi.
---
Tak lama kemudian suasana mulai mencair.
Kael akhirnya diizinkan mendekat.
Tentu saja...
Dengan pengawasan ketat Raven.
Sangat ketat.
Terlalu ketat.
Bahkan saat Kael hanya melambaikan tangan ke arah Zyra, Raven masih memperhatikan.
(POV Zeon)
...
Sekarang aku mengerti.
Bukan Kael yang mencurigakan.
Kak Raven memang protektif berlebihan.
"Halo."
Kael tersenyum ke arah kami.
"Kalian pasti tidak mengerti apa yang aku katakan ya?"
"Heee!"
jawab Zyra.
Kael langsung berbinar.
"Dia menjawab!"
"Itu suara bayi."
ucap Sian.
"Tapi dia menjawab!"
"Itu tetap suara bayi."
"Tapi dia menjawab!"
Sean langsung ikut bergabung.
"Aku juga sering diajak ngobrol adik!"
"Itu bukan ngobrol."
"Itu ngobrol!"
"Tidak."
"Iya!"
Melihat Sean dan Sian mulai berdebat lagi, Kael tertawa.
Bahkan Raven yang biasanya datar terlihat sedikit menghela napas pasrah.
Untuk sesaat...
Suasana terasa hangat.
Normal.
Seperti keluarga besar yang sedang berkumpul.
Namun saat semua orang lengah...
Mata Zeon tiba-tiba menangkap sesuatu.
Seseorang.
Jauh di luar pagar mansion.
Seorang pria berpakaian hitam berdiri diam.
Terlalu diam.
Tatapannya lurus mengarah ke taman.
Ke arah mereka.
Ke arah Zeon dan Zyra.
Jantung Zeon langsung berdetak lebih cepat.
'Zy.'
'Hm?'
'Jangan menoleh mendadak.'
'Ada apa?'
'Ada seseorang.'
Senyum Zyra perlahan menghilang.
'Di mana?'
'Luar pagar.'
Perlahan Zyra mengalihkan pandangannya.
Lalu membeku.
Pria itu.
Meski jaraknya jauh.
Entah kenapa mereka berdua merasakan hal yang sama.
Bahaya.
Naluri yang selama bertahun-tahun menyelamatkan hidup mereka kembali aktif.
Pria itu tersenyum tipis.
Kemudian berbalik.
Dan pergi begitu saja.
Seolah hanya memastikan sesuatu.
Seolah hanya ingin melihat mereka dengan matanya sendiri.
(POV Zeon)
...
Aku tidak menyukai ini.
Sama sekali tidak.
Karena untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali...
Aku merasa masa lalu kami mungkin belum benar-benar berakhir.
Dan entah kenapa...
Aku punya firasat buruk.
Sangat buruk.
...****************...
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh singgah profile.. terima kasih 🤭