Mencintai bukan berarti sepenuhnya memiliki karena takdir tak pernah kita tahu rencana yang Kuasa. Memiliki bukan berarti sepenuh mencintai karena cinta tulus setia hanya untuk seseorang saja.
Simak Kisah "Perindu Senja."
By : Farit Rittan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ata~Tenareten, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Lalu 2
Karena tak ada Istrinya di balik pintu, diapun mulai menundukan badannya ke lantai, dan melihat di bawa kolong tempat tidur, "Hm... Tidak ada," namun ketika pandangannya mengarah pada pintu dari kamar Mey, terlihat jelas jari kaki dari Istrinya, "Kena kau, Esi."
Dia menyuruh Mey menundukkan kepala, serta melihat Ke arah pintu kamarnya yang terbuka, "Yah, itu Ibu. Bagaimana jikalau kita berdua jahilin, Ibu?"
Ayahnya berpikir sejenak, sebelum memutuskan permintaan anaknya, "Oke... Ayah setuju."
Sebenarnya dia tidak mau dengan pendapat Mey, namun dilain sisi Mey begitu bahagia bersenda gurau dengannya, sehingga diapun menuritui Mey.
Mey mulai menyarankan, agar Ayahnya menyediakan air disebuah mangkuk kecil, "Yah, tolong ambilkan sebuah mangkuk kecil, yang berisi air."
Mendengar saran dari Mey, dia mulai mengkerutkan dahinya, "Untuk apa, Nak?" tanyanya, penuh kebingungan.
"Jadi begini, Yah." Mey pun mulai menjelaskan bahwa, air itu sangat berguna sekali untuk menakut-nakuti Ibunya. Dengan cara dia harus memasukan tangannya ke dalam air beberapa saat, sebelum memegang pergelangan kaki dari Ibunya, yang seakan-akan bukan dia yang memegangnya, melainkan roh dari orang yang telah mati, "Nanti Ibu pasti mengirah, bukan aku yang memegangnya," pintanya, sembari tertawa kecil.
"Oh... Begitu, iya." Ayahnya mengangguk pelan, namun dilain sisi dia masih mengarahkan pandangannya pada pintu kamar Mey, 'Dia tidak boleh melakukannya... Jikalau Esi ketakutan, maka dia akan mendorong pintu itu dengan sekuat tenaganya, dan pastinya...' dia menggelengkan kepalanya pelan-pelan, dengan tatapan yang sangat tajam mengarah pada Mey yang berdiri di hadapannya. Dengan tangan kanan terlipat, sedangkan tangan kiri dari Mey memegang dagunya, dibungkus senyuman manis yang mengarah pada Ayahnya.
'Hm...Tangannya akan terluka,' benak Ayahnya.
Mey sedikit merasa bingung dengan tatapan dari Ayahnya yang tidak seperti biasanya.Dia kemudian mengangkat kedua alis matanya, "Ada apa, Yah? Apakah Aku salah?"
"Tentu tidak, Nak. Sekali-kali kita kerjain Ibumu," Ayahnya terdiam beberapa saat, sembari mengelus-elus kepala Mey, "Nak, Ayah tidak mau jikalau kamu yang melakukannya. Serahkan saja kepada Ayah."
Ayahnya mulai menjelaskan kepada Mey, bahwa Ibunya sangat takut dengan hal-hal yang demikian, "Nak, Ayah takut tanganmu akan terluka, jikalau Ibumu mendorong pintu itu dengan sekuat-kuatnya."
Mey menganggukkan kepala pelan, mendengarkan arahan dari Ayahnya, serta menatap Ayahnya dengan senyuman yang begitu hangat, "Aku mau, Yah."
"Baiklah, jikalau demikian," Ayahnya mulai berdiri dan melakukan tos dengannya, sebelum pergi mengambil air di dapur mereka.
"Kamu tunggu di sini, iya. Ingat tidak boleh melakukan sesuatu sebelum Ayah kembali lagi ke sini," dia kemudian mengelus-elus pipi Mey sebelum melangkah ke dapur. Sedangkan Mey hanya terdiam menganggukkan kepalanya pelan, serta menatap Ayahnya yang mulai melangkah menuju ke dapur mereka, sebelum mengarahkan kembali pandangan kepada Ibunya yang berada di balik pintu itu, dengan tatapan yang sangat sinis.
'Eh... Kena kau, Ibu,' benaknya, penuh kegirangan.
Selang beberapa menit kemudian Ayahnya menghampiri dia, dengan membawa apa yang Mey inginkan.
"Ini, Nak," pandangannya tertuju kepada Mey dengan sedikit senyuman yang menghiasi wajahnya, sebelum mengalihkan kembali pandangannya pada mangkuk di tangan kanannya, berisi air yang telah dicampur dengan sedikit es batu.
Mey menatap ayahnya dengan penuh ceria dibungkus senyuman lebar menghiasi wajahnya, sebelum mengalihkan pula pandangannya pada pintu kamar dengan tatapan yang sangat sinis.
"Ayo, Nak," dia memalingkan badannya dan melangkah terlebih dahulu dengan perlahan-lahan. Sedangkan Mey mengikutinya dari belakang.
Sesampainya mereka di samping kanan pintu masuk kamar Mey, Ayahnya memberikan mangkuk itu kepadanya. Dia mulai mencelupkan tangan kanannya ke dalam mangkuk itu.
'Kena kau, Esi,' perlahan-lahan dia mulai menggerakkan tangannya, dan memegang pergelang kaki Ibu Esi.
Ibu Esi yang dari tadi tak menyadari keberadaan suaminya, yang sekarang sedang menakut-nakutinya menutup matanya seketika, karena merasakan dingin yang begitu hebat di pergelangan kakinya.
Sebenarnya Ibu Esi bersembunyi di situ kurang lebih tiga menit telah berlalu, dan dia terus memperhatikan keadaan di sekelilingnya lewat lubang dari pada dinding penyangga pintu, namun dia tidak menemukan menemukan sesuatu yang mencurigakan, oleh karena pandangannya terus mengarah kedepan, dan tak pernah mengalihkan pandangannya ke bawah, sehingga mudah-mudah saja bagi Mey dan Ayahnya menakut-nakutinya.
Ketika Ibu Esi mengalihkan pandangan ke pergelangan kakinya, dia sangat kaget dan merasakan sedik ketakutan, sebab melihat jari tangan yang perlahan-lahan menjauhi kakinya, 'Hantu... Tidak mungkin.'
"Bagaimana, Yah."
Ayahnya tidak menjawabnya, selain mengangkat jari telunjuk tangan kanannya, dan meletakan di atas bibir Mey. Diapun mencelupkan lagi tangan kanannya untuk yang kedua kalinya, serta melakukan hal yang serupa. Namun ketika dia mengarahkan kembali tangannya, Ibu Esi melihatnya lagi hingga membuatnya menjerit ketakutan.
"Mey... Mey... Mey..." seketika Ibu Esi panik akan keberadaan Mey. Tetapi dilain sisi, dia juga sangat ketakutan dan tak berani keluar dari kamar tersebut.
Ketika pintu itu didorong oleh Ibunya, Ayah Mey dengan cepat menarik tangannya. Oleh sebab itu tidak terjadi benturan yang membuat tangannya terluka. Diapun mengelus dadanya, raut wajahnya pucat pasi, membayangi apa yang terjadi jikalau tangannya terkena sisi dari pintu itu. Dia kemudian memerhatikan tangannya yang hampir saja terluka, 'Aman... Tanganku.'
"Ada apa, Yah," pinta Mey, sembari memperhatikan tangan Ayahnya.
Iapun mengelus kepala Mey, "Tidak... Nak, tapi hampir saja Ayah terluka. Sudahlah...."
Mereka berdua tertawa terkikir-kikir di depan pintu kamar Mey yang telah tertutup rapat, sebelum Ayahnya menendang pintu itu, sebab dia dan Mey tiduran di bawa lantai sembari tertawa karena merasakan tingkah dari Istrinya berlebihan.
Karena merasakan ketakutan yang sangat mendalam, Ibu Esi menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut Mey. Sedangkan Mey dan Ayahnya mulai berdiri dan melangkah menuju kedalam kamar itu, sembari tertawa mengejek Ibu Esi.
'Hm... Rupanya dia dan Ayahnya sedang mengerjaiku,' dia mengumpat dalam benaknya, sebelum bangkit dari tempat tidur dan memarahi mereka berdua.
"Riantho!" Teriaknya begitu menggema, namun Mey dan Ayahnya tak menghiraukannya dan terus tertawa mengejeknya.
Ayahnya memainkan mata kirinya sambil tersenyum lebar. Dia kemudian mencondongkan kepalanya kedepan, dengan kedua tangannya diangkat serta melakukan gerakan ke kiri dan kanan, sembari tertawa mengejek Istrinya.
Ibu Esi sangat marah dengan tidakan suaminya, sehingga dia mulai mengambil bantal yang tergeletak di atas tempat tidur Mey, kemudian melemparkan bantal itu kepada suaminya dan berharap tetap sasaran, namun sayang suaminya sangat gesit, sehingga lemparannya hanya menganai pintu dari kamar Mey.
Raut wajah Ibu Esi seketika berubah dan menjadi sangat geram, sebelum mengejar suami dan anaknya, "Riantho... Awas kau! Rupanya engkau yang mengajari Mey demikian."
"Tidak kena... Tidak kena..." pinta mereka berdua bersamaan, seraya berlari menuju ke ruangan tamu.
mampir juga ya.../Coffee//Coffee/
Dikelilingi kebencian
Thor, itu maksudnya bagaimana ya??