NovelToon NovelToon
My Vampire Ceo

My Vampire Ceo

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Supernatural / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:235.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Affxxvi

Revonelle Dent, vampir sekaligus CEO yang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah. Harta, tahta, bahkan wanita merupakan hal mudah baginya.

Hingga suatu hari dia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya kepada seorang wanita cantik. Dan ternyata dia adalah salah satu model yang bekerja di Agency miliknya.

Revon berusaha membuat Rose tahu bahwa dia sangat mencintai dia. Segala cara lelaki itu lakukan hingga rela mengorbankan dirinya sendiri. Akankah cara Revon berhasil? Apakah Rose bisa mencintai Revon juga?

🔞🔞🔞
Hanya untuk yang sudah umur 18+

.
.
Hello readers
Vote my novel
Don't forget to like
or comment ✨

IG : @affxxvi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Affxxvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6 - Back to hotel

Lelaki berpakaian formal itu menyapa Revon dengan sebutan 'Boss' dan Revon hanya meliriknya sekilas. Aku terkejut ketika tangan Revon memegang pergelangan tanganku dan membukakan pintu mobil untukku. Setelah aku masuk ke mobil.

Lalu lelaki yang berpakaian formal tadi membukakan pintu untuk Revon. Setelah kami sudah naik, lelaki itu duduk di kemudi, apa dia seorang supir?

Tanpa berlama - lama mobil pun berjalan, setelah aku melihat - lihat melalui jendela ternyata rumah ini sangat luas dengan beberapa orang penjaga.

Selama perjalanan aku hanya melihat ke arah jendela, dan masing - masing dari kami tidak ada yang memulai pembicaraan. Saat aku melirik kesamping, Revon sedang sibuk dengan ponselnya.

Tidak berapa lama dia menjawab panggilan di ponselnya dengan nada kesal dan marah. Akhirnya aku melihat kalau sudah dekat dengan hotel, aku merasa lega.

Tapi seperti ada sedikit rasa berat dihatiku. Sudahlah apa yang aku pikirkan. Mobil perlahan berhenti dan saat aku akan membuka pintu, Revon menghentikanku.

"Tetap disini." Ujar Revon lalu keluar dari mobil dan beralih untuk membuka pintu mobil untukku.

What!! Apa yang ingin dia perankan sebenarnya? Sambil keluar dari mobil, aku mengucapkan terimakasih. Kami berdiri saling berhadapan, selama beberapa saat pandangan kami bertemu.

Aku seperti melihat warna matanya yang hitam sedikit berubah ke warna merah. Disaat itu entah dari mana dia mengeluarkan kaca mata hitam dan memakainya.

"Berapa nomor kamarmu?" Tanya Revon.

"Kenapa kamu bertanya nomor kamarku?Jangan bilang..." Belum selesai wanita itu bicara Revon memotongnya.

"Aku antar kamu sampai kamar. Atau kamu katakan berapa nomor kamarmu?" Ujar Revon.

"Okay okay. 1069 itu nomor kamarku." Jawab Rose. Lelaki itu tersenyum dan mendekat sambil mengecup keningku. Dia kembali masuk ke mobil dan pergi.

Ah, sudah lama tidak ke hotel. Aku rindu kamar hotelku. Dengan tak sabar aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam hotel.

Disisi lain, Revon tadinya mendapat panggilan dari pemasok bahan untuk senjata bahwa ada kendala yang sangat tidak masuk akal. Mereka sudah sepakat kalau besok sudah sampai, namun mereka tiba - tiba menunda pengirimannya.

Seketika itu membuat dirinya kesal dan marah. Dia memberikan peringatan kepada mereka untuk tidak bermain - main dengannya.

"Robert, kirim orang untuk memastikan pasokan bahan senjata harus ada besok. Lalu, alihkan semua projek milik Ben. Kemudian atur pertemuanku dengannya." Ujar Revon.

"Baik boss" Jawab Robert.

"Hentikan mobil disini. Kamu bisa kembali lebih dulu." Ujar Revon lalu menghilang dalam sekejap. Kali ini dia tidak memakai teleport karena hal itu cukup menguras tenaganya.

Sedikit berlari saja sudah sampai di kediaman Van Count. Sebelum memulai aksinya dia mengamati di kegelapan, setelah memastikan kalau targetnya ada di dalam rumah, dia memulai aksinya.

Dengan mudah masuk ke dalam lalu muncul di hadapan Van yang sedang berada di dapur.

"Wtf! Revon?" Ujar Van.

"Surprise." Jawab Revon dengan smirk yang menyeramkan.

"Apa yang kamu inginkan? Bagaimana kamu bisa masuk?" Tanya Van. Wajahnya terlihat bingung dan rasa takut pun mulai datang saat mengingat apa yang dilakukannya kemarin.

"Aku hanya datang berkunjung. Aku sudah menyempatkan waktuku datang kesini, namun sayangnya tidak ada sambutan baik untukku. Selama ini hanya ada 2 tipe orang yang seperti dirimu, pertama orang yang memang tidak suka denganku. Kedua, orang yang merasa sudah melakukan hal buruk kepadaku." Ujar Revon.

"Tidak. Aku tidak.. melakukan apapun." ujar Van.

"Sepertinya kamu sudah lupa. Ah, benar. Tidak penting juga kamu mengingatnya atau tidak." Ujar Revon. Dengan menggerakkan jari nya, seketika membuat Van terpental ke dinding.

"Malam ini akan menjadi malam yang panjang. Bagaimana menurutmu?" Ujar Revon dengan menekan Van lebih keras ke dinding.

"Arrggg.. Cukup.. Ya - ya aku yang membuat masalah di Fashion Week. Aku salah, maafkan aku.. aku tidak akan membuat masalah lagi denganmu." Jawab Van sambil menahan sakit, seluruh tubuhnya terasa nyeri.

Revon tidak menjawab dan hanya menatap Van dengan tersenyum.

"Mmm.. tubuhmu kuat juga. Baru beberapa tulang yang patah. Bagaimana kalau aku membuat seluruh tulangmu patah? Dengan begitu kamu tidak akan bisa melakukan masalah denganku. Ah, kalau begitu kamu tidak bisa melakukan apapun ya." Ujar Revon dengan raut wajah tenang seperti membicarakan sesuatu yang lumrah.

Van semakin merasa cemas dan takut, keringat dingin mengucur dengan deras. Seharusnya dia tidak membuat masalah dengan Revon.

Dia melupakan bahwa Revon adalah pemilik bisnis entertainment yang terkenal di dunia pastinya memiliki banyak musuh. Akan tetapi sampai saat ini tidak terdapat masalah serius pada bisnis miliknya.

Dan tetap menjadi perusahaan entertainment paling terkenal di dunia.

"Revon. Tolong jangan lakukan itu. Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf." Ujar Van sambil menahan rasa sakit ditubuhnya. Hening, tidak ada jawaban dari Revon.

Dia pikir dengan memohon begitu dia akan memaafkannya. Apa dia menganggap Revon seorang yang lemah dan bodoh?

Kemarahan semakin memuncak, Revon semakin ingin segera membunuh lelaki itu.

Tanpa disadari warna matanya berubah, warna merah gelap mendominan dari warna hitam.

Van sangat terkejut saat tiba - tiba Revon sudah berada tepat dihadapannya. Terdengar jelas suara detak jantungnya yang cepat. Rasa haus di tenggorokannya pun hadir dan ingin segera dipuaskan.

Revon semakin mendekat, dan berbisik di telinga Van.

"Good bye Van" Bisik Revon dan menancapkan taringnya di leher lelaki itu.

Van merasa kaget dan badannya tidak bisa bergerak, rasa sakit yang menusuk di lehernya sangat tidak tertahankan. Suaranya tercekat dan tidak keluar sedikitpun.

Setelah beberapa menit Revon melepaskan gigitannya, tubuh yang tidak bernyawa itu pun jatuh ke lantai.

Ah, This is so good! Sambil mengelap beberapa tetes darah disudut bibirnya. Sudah lama aku tidak meminum darah secara langsung.

Semua syaraf tubuhku terasa lebih segar. Selang beberapa detik, terdengar suara langkah kaki orang di luar rumah. Dalam sekejap dia pergi tanpa meninggalkan jejak apapun.

Beberapa menit kemudian, tiba - tiba dia teringat Rose, rasanya ingin sekali bertemu dengannya. Tanpa sadar dia sudah berada di depan hotel yang ditempati Rose, seakan tubuhnya otomatis membawanya ke sana.

Tak ingin membuang waktu dia masuk ke dalam hotel sambil memakai penutup kepala di hoddienya dan kacamata hitam. Namun pada saat di depan pintu masuk, 2 orang penjaga menghentikannnya.

"Maaf tuan, bisa saya melihat kartu tanda pengenal anda" Ujar salah satu penjaga dengan tubuh kekar dan besar.

Sambil menghela nafas, dia mengeluarkan kartu tanda pengenal dari dompetnya. Ketika penjaga itu melihat nama pada kartunya, seketika dia kaget. Rupanya dia adalah pemilik perusahaan entertainment yang terkenal itu.

"Maafkan atas ketidaksopanan saya Mr. Dent. Silahkan masuk." Ujar penjaga itu sambil mengembalikan kartu miliknya.

Tanpa berkata dia berjalan menuju lift. Sesampainya di lantai yang ditujuh, dengan mudah dia menemukan nomor kamar Rose. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu. Terdengar dari balik pintu langkah kaki yang mendekat.

Rose membuka pintunya, dan sedikit tidak menyangka kalau lelaki itu akan secepat ini mengunjunginya. Padahal baru tadi bertemu.

"Revon...Ada perlu apa? Aku lelah, aku ingin segera istirahat." Ujar Rose dengan sedikit kesal. Namun sebenarnya ada sedikit rasa senang saat melihat Revon lagi.

"Apa kamu tidak ingin mengajakku masuk dulu?" Tanya Revon dengan senyum smirknya, tanpa disuruh dia melangkah masuk kedalam kamar wanita itu.

Rose menggelengkan kepala melihat tingkah Revon. Akhirnya dia pun menutup pintunya. Revon mengamati ruangan kamar itu. Aroma lavender memenuhi indra penciumannya, membuatnya tenang.

Saat berbalik, ternyata Rose sedang berada tepat dibelakangnya. Pandangannya menelusuri seluruh tubuh wanita dihadapannya. Ah, gaun tidur itu semakin memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah.

"Revon, cepat katakan apa keperluanmu sampai datang kesini." Ujar Rose.

"....." Tidak ada jawaban dari lelaki dihadapannya.

Dia melepas kacamata dan melepas penutup hoodienya. Saat pandangan kami bertemu, dia tersenyum dengan lembut. Lalu dia mendekat dan memelukku, membenamkan kepalanya di leherku.

"Aku akan menginap disini. Pikiranku tidak bisa tenang saat jauh darimu."Jawab Revon dengan suara lembut.

"What!?Tidak bisa, bagaimana kalau kamu melakukan sesuatu..." Ujar Rose dan melepaskan pelukan lelaki itu. Belum selesai Rose bicara Revon memotongnya.

"Kalau pun aku melakukan sesuatu, bukankah kamu juga akan menyukainya?" Ujar Revon sambil mendekatkan wajahnya, seakan ingin menciumnya.

Dia melihat reaksi wanita itu menutup matanya. Tingkahnya saat ini semakin membuatnya yakin kalau Rose juga menyukainya.

Saat Rose merasa kalau Revon tidak kunjung menciumnya. Dia membuka matanya, dan melihat lelaki itu mengeluarkan smirknya.

Kesal!

Rose merasa kesal, dia berniat membalas Revon. Tanpa ragu dia menarik jaket Revon dan mencium bibir lelaki itu. Revon dengan senang menanggapi perlakuannya.

Satu tangannya berada di pinggang Rose, dan satunya berada di tengkuk wanita itu. Revon semakin memperdalam ciuman mereka, membuat Rose lupa akan segalanya.

Revon menggendong Rose ke ranjang dengan ciuman yang masih berlanjut. Revon menghentikan ciumannya ketika merasa tangan Rose tiba - tiba memegang miliknya dari balik celana.

"Apa kamu tahu apa yang sedang kamu pegang?" Tanya Revon dengan suara serak. Rose kaget ketika melihat tangannya. OMG. Apa yang aku lakukan!?

"Eh.. A ku tidak bermaksud.." Jawab Rose dengan suara terbata-bata dan pipi yang merona.

"Baiklah. Kalau begitu kamu tidurlah. Aku ingin mandi dulu." Ujar Revon sambil membuka jaket dan kaosnya.

Lalu masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa sadar Rose merasa sedih dan tidak enak hati. Dia mencoba untuk rileks agar bisa tidur. Selama beberapa menit berlalu akhirnya dia bisa tertidur.

Revon keluar dari kamar mandi dengan memakai jubah mandi yang ada di dalam rak. Beruntung ada beberapa handuk dan juga jubah mandi yang tersedia. Rupanya wanita itu sudah terlelap.

Sebelum menemani Rose tidur, dia mengambil ponsel dan mengirim pesan singkat kepada Robert untuk membawakan dia pakaian formal ke kamar hotel Rose besok pagi.

 

1
Endang Sulastri
maaf terlalu banyak bahasa inggrisnya saya tidak mengerti artinya hhh maaf thor tp critamu menarik kok
siccasiccasic
Udah baca sampe abis, bahkan yg part 2 juga ngikutin on going. Satu yg bingung sih, Rose tau kalo Revon itu vampire ada di episode berapa ya? Aku baca keknya ga ada part Rose tau kalo Revon itu pampir. Tau² Rosenya langsung paham aja kalo Revon tuh pampir, ga kaget ato denial apa gimana kah?
siccasiccasic: Iya kan diawal² Rosenya bisa ngebaca buku kuno punya Revon kak Affa.. Trus Rose nanya itu buku apa tapi sama Revon selalu ditutup²in ga mau kasih tau.. Nah abis gitu kan gak Rose diculik, disitu kok Rosenya gak kaget kalo tau Revon pampir ya kak Affa? Sebenernya pengen commet gini udah lama sih kak Affa, tapi yaudahlah ya nikmatin aja ceritanya ampe tamat trus ke part 2. Cuman jadinya ngganjel aja kepikiran, hehehe 😁✌
total 2 replies
Sis Wanti
jantungku ikut berdebar
Sis Wanti
rose lebayyyyy
Amat Kings
nanggung thor, penasaran revon yg dtusuk oleh rose
Amat Kings: yg mna novel sebelah maksudx novel lain bukan yg vampir.
total 3 replies
Mutiara
di mana ya bisa ketemu vampir ganteng kg gini,hidup lagi banyak mslh baca novel jdi kebanyakan haluu😭😭😭,andai ketemu yg model ginian berasa langsung ilang kek nya beban hidup aq
Affandi: jangankan kamu, author aja sampe kebawa mimpi jadi halu😂
total 1 replies
Jenna Joni
harusnya klo vampir tau donk ya dimana kekasih hatinya disekap..
Jenna Joni
harusnya klo vampir tau donk ya dimana kekasih hatinya disekap..
Jenna Joni
harusnya klo vampir tau donk ya dimana kekasih hatinya disekap..
Yhu Yhy
cerita. y seru, tapi banyak bahasa inggris. y..
aku jdi loyo baca. y soal. y aku gk bisa ngerti
Nenk mulyani
ditunggu yach part 2 nya
Affandi: sudah ada ya part 2 nya. bisa langsung klik profil ku judulnya "my vampire CEO after death"
total 1 replies
Nenk mulyani
cocok banget yaaaa
Nofry Shinta
thot bikin hamil rose anak revon penasaran hasil dr vampir🤣🤣
Putri
okelah, cocok jg...
kerenlah pokoke..
Putri
maen gesek2 aja babang revon nya, ntar lecet bang...
Putri: hihihi😁😁😁😁
total 2 replies
Putri
Thor, kamar mandiku gak pake shower.🤣🤣🤣
Putri: 🤦🏻‍♀️
total 2 replies
Putri
ni authornya kbanyakan nonton Harry Potter kayaknya ni🤔🤔😁✌️🙏
Putri
Thor, apa tu "Bae"...🤔🤔
panggilan sayang kah itu...😎
Nurhaedah
sementara nyimak✌️
أندي دينيس
ros ros ga berterima kasih bnget uda ditolong....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!