Tak sedikit perempuan di luar sana setuju dengan istilah bahwa orang ketiga itu adalah perusak, perebut, atau mungkin penghancur.
Banyak dari mereka berkata, bahwa yang berstatus istri kedua itu tidak selalu memiliki "image" buruk.
Ada beberapa alasan mengapa seorang perempuan memutuskan untuk berada di tengah-tengah pasangan yang menikah, bisa jadi karena paksaan, desakan, keserakahan, atau mungkin salah satunya balas jasa.
Itulah yang dialami oleh Rissa, ia harus merelakan kebahagiaanya demi membalas sebuah jasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina Ambarini (Mrs.IA), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kebohongan
Satu bulan sudah semenjak kejadian memilukan, Dion berusaha untuk mengembalikan keceriaan istrinya. Ya, orangtua mana yang rela kehilangan anaknya. Terlebih kehadirannya telah di nantikan sekian lama, dan harus pupus seketika.
Melati tengah duduk di balkon kamarnya, menatap langit gelap yang tak menampakkan satupun bintang di wajahnya. Tepat seperti perasaan Melati saat ini, gelap, pekat, tanpa setitik cahaya.
Dion memandangi istrinya, dan berjalan mendekati Melati sembari membawa sebuah selimut kecil.
Dibalutkan olehnya selimut itu pada tubuh Melati.
"Disini dingin, masuk yu." Dion mencoba untuk membujuk istrinya.
Melati hanya menggelengkan kepalanya, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Dion menghela nafas beratnya, ia tak tahu lagi harus berbuat seperti apa untuk mengembalikan keceriaan sang istri.
"Sayang, kalau kamu disini terus nanti sakit, angin malam tidak bagus untuk kesehatan." Dion memaparkan, masih berusaha membujuk.
"Aku sudah sakit, Mas. Sakit yang teramat dalam," ucap Melati dengan lirih.
Dion menunduk, ia paham betul perasaan istrinya.
"Sayang, aku percaya akan ada hal yang jauh lebih indah setelah ini. Masih ada cara lain untuk kita kembali memiliki buah hati," ucap Dion berusaha membesarkan hati istrinya.
Melati menoleh, ia menatap lekat mata suaminya.
"Apakah aku akan hamil lagi, Mas?" Tanya Melati.
Dion terdiam, menatap dalam mata istrinya. Ia sedikit menyesal telah menyinggung soal kehamilan, yang ia ketahui hal itu mustahil di alami kembali oleh sang istri.
"Mas, kenapa diam?" Tanya Melati sontak membuyarkan lamunan Dion.
"Semoga. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa." Dion menjawab seadanya.
Melati terdiam cukup lama, sampai akhirnya ucapannya membuat Dion kembali tak dapat berucap.
"Mas, temani aku menemui Dokter kandungan. Aku ingin program kehamilan." Itulah yang Melati ucapkan pada Dion.
Melihat wajah yang penuh harapan dari sang istri, membuat Dion tak kuasa untuk menolak keinginan wanita yang dicintainya.
"Iya, aku akan temani kamu."
Begitulah jawaban Dion, masa bodo dengan apa yang akan terjadi nanti.
Melati tersenyum, matanya berbinar. Kini sebuah harapan terpancar di raut wajahnya, hal yang telah di nantikan oleh Dion selama sebulan terakhir ini.
"Ya sudah, kita masuk, yah. Kita istirahat." Dion membantu istrinya berdiri, dan membawanya untuk segera beristirahat.
***
Keesokan harinya, Dion telah bersiap untuk kembali bekerja. Sudah lumayan lama ia tak mengunjungi cafe, karena memilih mengurus Melati hingga pulih.
"Sayang, aku tinggal ke cafe dulu. Kamu baik-baik dirumah," pinta Dion pada istrinya.
Melati mengangguk, dan membantu merapihkan kemeja suaminya.
"Pulangnya jangan malam-malam," ucap Melati.
Dion tersenyum, "iya."
Seperti biasa, Melati mengantar suaminya hingga teras rumah. Menatap mobil Dion hingga tak lagi terlihat, baru ia masuk kembali kedalam rumah.
Di perjalanan, pikiran Dion seakan bercabang. Ia tengah memikirkan spesialis kandungan mana yang akan mereka pilih, dan dapat menyetujui permintaan khusus yang akan di ajukan oleh Dion.
Tanpa sengaja, ekor matanya kini melirik sebuah klinik kesehatan, yang dimana terdapat dokter spesialis kandungan. Dion memutuskan untuk berhenti, dan menyambangi tempat itu.
Dion masuk ke dalam tempat itu, dan menemui bagian informasi.
"Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu, Pak?" Tanya seorang pegawai resepsionis.
Dion menoleh, dan berjalan mendekati meja pegawai.
"Mbak, disini bisa program kehamilan?" Tanya Dion.
"Bisa, Pak. Program kehamilan untuk istri Bapak?" Tanya pegawai itu.
Dion mengangguk, "iya."
"Mau dibuatkan jadwal, atau bagaimana Pak?" Tanya pegawai itu lagi.
Dion kembali mengangguk.
"Baik, kalau boleh tahu siapa nama istri dan berapa umurnya?" Tanya pegawai itu.
"Melati Aurora, umur dua puluh lima tahun." Dion menjawab singkat.
Pegawai itu menulis identitas pasien pada sebuah kartu kecil, dan menuliskan juga jadwal pertemuan.
"Ini kartunya, dibawa setiap kali konsultasi. Jadwal pertemuan pertamanya, hari sabtu depan, Pak."
Dion menerima kartu itu, dan sekilas melihat jadwal yang sudah diatur.
"Mbak, kalau sekarang dokter kandungannya ada tidak?" Tanya Dion.
"Kebetulan dokter sedang ada praktek hari ini, ada hal lain yang bisa kami bantu, Pak?" Tanya pegawai itu.
"Iya, bisa tidak saya bertemu dulu dokternya sebentar? Ada yang harus saya diskusikan dengan beliau," tanya Dion.
"Sebentar, Pak. Saya coba tanyakan dulu," pegawai itu meraih telepon yang berada disampingnya, dan menghubungi dokter kandungan.
"Halo, Dok. Ada yang ingin bertemu dengan Dokter," ucap pegawai itu.
"...."
"Baik, Dok." Pegawai itu menutup kembali teleponnya.
"Pak, anda di perbolehkan masuk. Tapi kami hanya memberi waktu sepuluh menit," jelas pegawai itu pada Dion.
Dion tersenyum, dan menyetujui permintaan pegawai.
"Baik, Bapak bisa pergi ke arah sana dari ujung belok kiri nanti ada ruangan dokter disana," intruksi pegawai itu.
Dion mengerti, dan berjalan kearah yang telah di tunjukkan padanya.
Setelah mendapatkan ruangan itu, Dion segera mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Pagi, Dok." Dion menyapa.
"Iya, Pagi. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter pada Dion.
Dion berdehem, sejenak ia menyiapkan dirinya untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
"Begini, Dok. Istri saya ingin melakukan program kehamilan," ucap Dion.
"Lalu?" Tanya Dokter itu.
"Begini, saya ingin meminta tolong pada Dokter untuk menutupi sesuatu." Dion berucap dengan terbata.
Dokter itu mengerutkan keningnya, mencerna perkataan pasien yang baru ia dengar.
"Menutupi, bagaimana maksudnya?" Tanya Dokter.
"Begini, Dok. Sebenarnya sekitar satu bulan yang lalu, istri saya harus melakukan operasi pengangkatan rahim." Dion menerangkan.
Dokter itu terkejut, "kalau begitu, istri Bapak tidak bisa melakukan program kehamilan."
Dion terdiam, ia mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh dokter.
"Saya tahu, Dok. Tapi istri saya tidak tahu kalau sebenarnya rahimnya sudah di angkat," jawab Dion.
Dokter kembali terkejut, baru kali ini ia menangani kasus semacam ini.
"Kenapa Bapak tidak memberitahukan hal itu pada istri?" Tanya Dokter.
Dion tertunduk, rasanya ia ingin melakukan hal itu. Namun melihat kondisi istrinya, ia merasa tak tega untuk kembali memberikan luka pada Melati, bahkan lebih dalam lagi.
"Itu keputusan saya dengan keluarga, Dok. Pengangkatan rahim itu, membuat anak kami meninggal. Dan kami tidak tega jika harus memberitahu kalau istri saya juga tidak bisa hamil lagi," terang Dion dengan suara sedih.
"Menurut saya itu salah, Pak. Lebih baik memberikan kabar buruk secara langsung walau harus kembali merasakan sakit. Kalau seperti ini nantinya ketika Istri Bapak sedang bersemangat dan menaruh harapan besar pada suatu tindakan semacam program bayi tabung, dan ketika kenyataan yang sebenarnya di ketahui oleh Istri, dia akan kembali merasakan sakit yang lebih dari sebelumnya. Tapi kembali lagi kepada pihak yang berwenang, saya hanya mengutarakan pemikiran saya saja. Lalu, apa yang bisa saya bantu?" Tanya Dokter itu.
"Saya tidak bisa menolak ketika istri meminta untuk melakukan program kehamilan, jadi jika nanti istri saya kesini, jangan beritahu yang sebenarnya, Dokter bisa memberi alasan lain pada istri saya," pinta Dion dengan sangat memohon.
Dokter itu terdiam, tengah memikirkan keputusan yang akan di ambilnya.
"Baiklah, tapi jika ada hal yang tidak di inginkan terjadi, itu di luar tanggung jawab saya," jawab Dokter.
Dion mengangguk cepat, "Terimakasih, Dok."
"Sama-sama. Kalau begitu ada hal lain yang akan dibicarakan?" Tanya Dokter.
Dion menggeleng, "tidak ada, Dok. Kalau begitu saya permisi," pamit Dion.
Kini ia keluar ruangan, dan meninggalkan tempat itu.
Dion sudah merasa sedikit lega saat ini, ia tinggal memikirkan bagaimana caranya agar Melati mau diajak ketempat yang sudah di tujunya.
***
Dion telah sampai di cafenya, semua pegawai menyapanya dengan ramah.
"Pak Bos, kemana saja? Kenapa baru kecafe lagi?" Tanya Ara sembari berjalan mendekati Dion.
"Eh, iya nih. Banyak urusan," jawab Dion.
"Oh begitu, iya deh kalau gitu. Saya lanjut kerja," sahut Ara.
Dion tersenyum, sembari menganggukkan kepalanya.
Ia kembali berjalan menuju ruangannya, dan bersiap untuk bergelut dengan pekerjaannya lagi.
***
Mobil baru saja terparkir di garasi mobil, dengan langkah lebar Dion segera memasuki rumahnya.
Kakinya melangkah pasti menuju kamarnya, mencari sosok yang selalu ingin ia lihat setiap harinya.
"Aku pulang, Mel." Dion menyapa.
Melati menoleh, ia baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Dion berjalan mendekati Melati, dan memeluk juga mencium kening istrinya.
"Capek, Mas. Sini aku bantu beresin barangmu," Melati meraih tas suaminya, dan membantu membukakan kancing kemeja Dion.
"Sayang, aku ada kenalan dokter kandungan yang bagus, loh." Dion mengawali percakapan.
Sejenak Melati menghentikan aktifitasnya, "benarkah?" Tanyanya.
"Iya, aku juga sudah mendaftarkanmu. Jadwalnya hari sabtu depan," sahut Dion.
Melati tersenyum senang, ia sudah tak sabar untuk melakukan program itu dan kembali memiliki momongan.
"Terimakasih, kamu memang suami yang pengertian."
Dion tersenyum getir, dalam hatinya ia merasa bersalah karena telah berbohong pada istrinya. Namun ia juga tak tega, apalagi melihat istrinya yang sangat antusias untuk melakukan program kehamilan itu.
"Maafkan aku, Mel. Maaf karena aku, hidupmu hancur seperti ini," ucap Dion lirih dalam hatinya.