Kisah dari imajinasi Author sendiri tidak ada sangkut paut nya dengan kisah hidup author kecuali nama2 pemeran dari tiap individu.
Karya ini asli buatan Ayu Apriyani, dan bukan plagiat atau pun hasil ciplak.
Jika ada kesamaan tempat dan nama murni hanya kebetulan saja.
Jika bersedia baca silahkan
terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYU APRIYANI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kena Tembak Lagi
Kami melihat cahaya remang-remang dari kejauhan, tetapi Aku sudah tidak sanggup melangkah lagi kaki ku sudah terasa sakit bukan kelelahan, Aku berlarian di tengah hutan sampai ke perkebunan orang di tengah malam tanpa alas kaki jelas saja kaki ku akan sakit.
"Ayo kita kesana! semoga saja ada penghuni nya di rumah itu?" kata Ishak sambil mencoba menarik tangan ku.
"Akkhh! tunggu kaki ku sakit, sangat perih, seperti nya ada sesuatu yang menusuk di kaki ku?" kata ku menahan perih di kaki ku.
"Maaf aku lupa kau tidak mengenakan alas kaki, dan di sini sangat gelap ponselku kau tinggalkan di mobil tadi dan ponsel mu sendiri kau lupa di mana menaruh nya!" kata Ishak pada ku tapi aku tidak tau maksud nya itu.
"Apa kau menyalah kan ku?" tanya ku
"Bukan itu! huh sini biar ku gendong, kau dapat masalah karena aku jadi biar aku!!" kata-kata nya terhenti saat itu.
Aku menunggu lanjutan nya, tapi tak ada lagi kelanjutan nya.
"Hem baiklah,di punggung kan, maksud ku aku naik di punggungmu iya kan?" kata ku.
"Em tidak, punggung ku sakit, aku!! akh lama!" kata nya seperti itu.
Ternyata dia langsung menggendong ku, ala bridal style.
"Wowow aku!!"
"Diam!! atau kau mau aku tinggal di sini sendiri hah!" kata nya memotong ucapan ku yang belum selesai.
Aku hanya diam saja "baiklah lagi pula kaki ku sakit kan karena Dia" batinku berucap.
Aku merangkul bahu nya dengan kedua tangan ku, Aku merasakan nafas nya yang tersengal-sengal, "Apa aku seberat itu!" pikir ku dalam hati.
Tapi pikiran itu menghilang saat aku merasakan tangan ku menyentuh bahu nya yang terasa ada cairan kental di sana, "apa iya keringat tapi tidak seperti keringat, ini kental! cairan apa ya?" Aku bertanya dalam hati.
Ingin aku menanyakan nya tapi aku takut, "Akh nanti saja setelah sampai di pondok itu, aku akan melihat nya sendiri!" kata ku lagi di dalam hati.
Setelah beberapa menit kami sampai di pondok itu, ya kami berharap ada seseorang yang tinggal di sana karena ada cahaya lampu.
Ishak menduduk kan aku di bangku panjang yang ada di pondok itu, sesampainya di sana aku sangat terkejut melihat tangan ku!
"Da_ darah!!" Aku menatap nya yang kini sedang terduduk di depan ku.
"Kau kena tembak lagi?" kata ku dengan panik.
Dia tak menggubris, dia hanya menyandarkan kepalanya di pangkuan ku, Aku bingung ini pukul 3 dini hari dan aku juga sedang merasa kesakitan di kaki ku dengan berat hati aku memberanikan diri memanggil tuan rumah untuk meminta tolong.
"Permisi, permisi, Assalamu 'alaikum!" teriak ku panik masih dengan posisi duduk ku dan Ishak yang sedang pingsan di pangkuan ku.
Tak lama seorang nenek membukakan pintu untuk kami, Dia terlihat terkejut, dan juga melihat darah yang mengalir dari balik punggung Ishak.
Dengan segera dia menghampiri kami dan memanggil seseorang.
"Wa'alaikum salam!! (melihat kami berdua di teras nya) Wawan! wawan!" teriak nya memanggil seseorang itu.
Dan keluar lah seorang pemuda yang seumuran dengan ku, dengan panik menghampiri kami, Dia melihat ke arah ku lalu bergantian melihat Ishak, Dia memapah Ishak masuk ke dalam, sedangkan nenek memapah ku masuk.
"Kalian apa yang terjadi? dan kenapa kalian bisa sampai di sini?" tanya pemuda yang di panggil Wawan tadi.
Aku terdiam! Aku juga tidak tau apa sebenar nya yang terjadi, "Aw! ternyata ada banyak duri di kaki ku!" keluh ku saat melihat kaki ku.
Wawan hanya diam saja, sedangkan nenek keluar dari arah dapur membawa baskom berisi air, lampu pijar dan pisau menghampiri Ishak yang sudah di tengkurap kan oleh Wawan di atas sebuah dipan.
Wawan pergi ke dapur setelah melihat ku meringis kesakitan, tak lama dia keluar dengan membawa baskom berisi air juga ke arah ku.
Dia berjongkok di hadapan ku, mengambil kaki ku, memasukan nya ke dalam baskom berisi air itu, "aw!! ish__ air nya hangat" gumam ku sambil meringis kesakitan.
Aku menatap wajah nya, "tampan juga, tapi pendiam tidak seperti Ayub yang cerewet, aku kasih 8 deh buat dia," kata ku dalam hati, namun tersenyum melihat nya.
"Tak usah memandang ku terus, kau bisa jatuh padaku nanti!" Dia berbicara, ya Wawan masih membersihkan luka di kaki ku, Dia merasakan aku menatap nya dari tadi.
"Baiklah aku tidak melihat mu lagi," kata ku, "huh batal aku kasih nilai 8 kau ku kasih nilai 6," aku berbisik dalam hati.
Dia tersenyum, aku melihat nya, "Ya ampun! kalau saja dia tidak menegur ku tadi aku kasih nilai 9 dia, hum ah sudah lah," aku hanya mem batin lagi.
"Kau memakai gaun yang indah! tapi apa kau tidak punya alas kaki untuk berjalan keluar?" tanya nya padaku terdengar mengesalkan bagiku.
"Aku memakai nya tadi, tapi sudah ku lepas dan kutinggalkan di kandang ayam orang," kata ku ya memang aku meninggalkan nya tanpa sengaja karena aroma tahi ayam yang menyengat aku melupakan hils ku itu.
"Kandang ayam! pantas saja__"
"Pantas saja apa!!" kata ku memotong ucapan nya.
"Ber aroma kotoran ayam," balas nya.
"Hah!!" Aku terperanga mendengar nya.
"Siapa nama mu?" tanya Wawan ke aku.
"Aku Ayu," singkat ku.
"Ya sesuai dengan orang nya," balas nya.
Ya aku mengerti itu tak perlu di pungkiri lagi aku memang cantik karena aku seorang perempuan kalau ganteng kan laki-laki.
Dan di tempat lain nenek sudah selesai mengeluarkan peluru dari bahu si jangkung, aku memperhatikan nya Dia masih belum sadarkan diri, Aku jadi ingat kejadian tadi, meskipun terkena tembakan dia masih mau menawarkan diri untuk menggendong ku.
"Sudah," kata Wawan yang sudah selesai memakaikan perban di kaki ku.
"Terima kasih!" kata ku.
"Wawan, nama ku Wawan," kata nya sambil tersenyum padaku.
"Ya aku sudah tau," balas ku.
"Kau membalas ku ya," kata nya lagi.
Ya aku memang membalas nya karena mambuat ku mengurangi nilai ku untuk nya.
"Kenapa memang nya," tanya ku.
"Tidak," singkat nya.
Dan tak ada percakapan lagi di antara kami, Aku berusaha berdiri ingin menghampiri Ishak, ingin melihat kondisi nya, namun karena kaki ku yang masih terasa sakit membuat aku tak bisa berdiri dengan benar, aku hampir saja terjatuh, jika saja Wawan tidak menangkap ku dengan sigap.
Posisi kami sekarang sangat dekat, wajah nya sangat dekat dengan wajah ku, seketika aku merasa wajah ku memanas.
bersambung__
Ga kirim surat ijin
salam PPM ☺
jaga kesehatan ya thor
mari saling dukung dari CEO EDAN TAPI TAMPAN☺️
saling dukung y
Oh iya jangan lupa mampir juga dikaryaku yaa, udh up nihh wkwkwk 🤗🌻
Sukses selalu buat thornyaa! Semangat! 💖💖💖
like blk karyaku
cinta rasa covid-19
the Thunder's love