Papa dari Velia Angela menikah dengan seorang janda yang memiliki anak kembar. Velia sama sekali tidak tahu kalau yang akan menjadi kakak tirinya adalah kekasihnya sendiri.
Dia sungguh tidak menyangka kalau hal ini terjadi padanya.
Sampai suatu saat dia melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan bersama kakak tirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindi Oktaviani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Velia
Lucas menghela nafasnya sebelum kembali mengatakan sesuatu pada Zelo.
"Apa lo udah selidiki bagaimana latar belakang keluarga Leonard?" tanya Lucas. Tentu saja dia juga memikirkan kebahagiaan mamanya dibandingkan kebahagiaan dirinya sendiri. Namun sikapnya yang sedikit keras kepala itu seolah terlihat tidak peduli dengan apa yang menjadi keputusan mamanya.
"Tuan Leonard pemilik perusahaan LA Grup" ucap Zelo memberi tahu.
Mata Lucas mengernyit mendengar itu, "LA Grup? Perusahaan terbesar itu?" tanya Lucas yang sedikitnya tahu mengenai beberapa perusahaan.
Zelo mengangguk mengiyakan pertanyaan yang Lucas tanyakan padanya. Dia mengetahui itu dari mamanya juga, dan dia sendiri sebenarnya sudah pernah bertemu dengan tuan Leonard di sebuah cafe.
Ketidaksengajaan itu membuat Zelo tahu akan apa yang di sukai oleh anak tuan Leon. Karena kebetulan saat itu tuan Leon tengah membelikan cake yang disukai oleh anaknya.
Dan tuan Leon menyapa dirinya karena ternyata tuan Leon sudah tahu dari Ariana. Ariana dulu pernah menunjukkan sebuah foto pada tuan Leon mengenai anak kembarnya.
"Tuan Leon baik, gue yakin kalau mama nikah sama dia pasti mama bisa bahagia" ucap Zelo lagi menambahkan.
"Kenapa lo bisa seyakin itu?" tanya Lucas dengan penuh selidik.
Zelo hanya menghela nafas saja tidak menjawab pertanyaan dari Lucas. Karena bagi Zelo pertanyaan Lucas itu memang tidak perlu di jawab karena Lucas pasti sudah tahu mengenai itu.
Tapi itu hanya perkiraan Zelo saja, nyatanya kali ini Lucas hanya tahu sampai sebatas siapa tuan Leon saja dan dia belum mengetahui seperti apa dan siapa yang nantinya akan menjadi adik tirinya.
******
Velia tengah duduk di ranjang kamarnya dengan banyaknya buku pelajaran yang berserakan. Dia tengah belajar, namun kali ini berbeda dari biasanya. Velia yang biasa belajar di meja belajarnya kini dia memilih belajar dengan berada di ranjang.
Dengan posisi tengkurap Velia mengerjakan beberapa pelajaran yang besok akan dijelaskan oleh guru. Namun saat tangannya tengah asik menulis. Dia menjadi gagal fokus saat melihat jemarinya yang terdapat sebuah cincin.
Cincin yang dia dapat dari kekasih hatinya. Velia langsung teringat akan kejadian dimana dia di berikan sebuah tanda cinta dari Lucas. Dia sungguh tidak menyangka kalau Lucas akan memberikannya sebuah cincin.
"Cantik, tapi sayangnya aku tidak bisa selalu bertemu denganmu" ucap Velia yang membayangkan beberapa kali pertemuannya dengan Lucas yang bahkan tidak berlangsung lama.
Namun hal itu perlahan tapi pasti menjadikan Velia terbiasa dengan keadaan. Dia juga tidak bisa memaksakan kehendak dari Lucas yang memang nyatanya membatasi diri, untuk kebaikan apa yang sedang dia rintis.
"Aku bahagia karena ternyata cintaku nggak bertepuk sebelah tangan" ucap Velia dengan senyum menatap ke arah cincin yang dia pakai.
"Aku akan mengundang kak Lucas untuk datang di acara pernikahan papa nanti" ucap Velia lagi ketika ingat sebentar lagi papanya akan segera menikah lagi.
Velia sudah merencanakan itu, dan dia akan memberi tahu Lucas nantinya.
...*****...
2 hari kemudian,
Sudah 2 hari Velia tidak bertemu dengan Lucas. Dia hanya bertukar kabar melalui ponsel saja. Bukan tanpa alasan Velia tidak pernah bertemu ketika di sekolah.
Namun ternyata Lucas tengah mengikuti sebuah acara fasion show mewakili sekolah. Velia sedikit resah karena tidak bertemu dengan Lucas, padahal sudah sering dia juga seperti ini.
Namun antusiasnya ingin segera memberi tahu Lucas untuk datang ke acara keluarganya nanti. Dia ingin sekali segera memberi tahu Licas mengenai itu.
"Lo lagi nungguin siapa sih?" tanya Vanca pada Velia yang tengah duduk di kursi yang ada di depan kelasnya.
"Gue nggak lagi nungguin siapa-siapa, cuma pengen duduk di sini aja" ucap Velia mencoba berdalih supaya Vanca tidak curiga.
Sebenarnya Velia tidak ingin menutupi ini dari Vanca, namun dia juga berpikir dua kali, takutnya nanti malah banyak yang tahu akan hubungannya dengan Lucas. Apalagi Lucas yang memang dia tidak ingin ada orang yang tahu mengingat peraturan kelas modeling yang dia ikuti.
"Maafin gue karena nggak jujur sama lo, Van" batin Velia yang memang merasa bersalah karena sudah menutupi ini dari Vanca.
"Vel, lo mau ikut gue nggak?" tanya Vanca.
"Gue mau balikin buku ke perpus" ucap Vanca.
Velia menggeleng, dia hanya ingin duduk saja di depan kelas. Lebih tepatnya Velia ingin menunggu kedatangan Lucas yang walaupun hanya sekedar lewat saja.
Sampai akhirnya Vanca pergi dan tinggallah Velia seorang diri disana.
Hingga dari kejauhan Velia melihat seseorang yang sudah dia tunggu. Kekasih hatinya yang berjalan dengan style yang berbeda dari biasanya. Velia sempat heran di buatnya.
"Itu kak Lucas kan?" ucap Velia dengan lirih untuk meyakinkan dirinya sendiri akan apa yang dia lihat saat ini.
"Iya, gue yakin kalau itu kak Lucas" Ucap Velia lagi yang setelahnya Lucas menghilang dari pandangan matanya.
Memang jarak yang Velia lihat sedikit jauh, namun siapapun pasti mengira kalau itu Lucas yang tengah berjalan dan tertangkap mata oleh Velia.
Velia langsung saja berdiri dari duduknya setelah melihat Lucas yang tiba-tiba hilang dari pandangan matanya.
Dengan berjalan ke arah yang tadi sempat di lewati oleh Lucas, Velia segera berjalan cepat ke sana.
Namun bak hilang di telan bumi, Velia tidak melihat siapapun di sana. Seolah olah memang tidak ada yang lewat sana tadi. Bahkan juga tidak ada siswa yang berlalu lalang di sana.
Hal itu membuat Velia bingung sendiri dibuatnya.
"Perasaaan tadi gue lihatnya di sini, tapi kenapa baru beberapa detik saja udah nggak kelihatan lagi batang hidungnya " batin Velia sembari celingukan mencari.
Sampai akhirnya ada seseorang yang menepuk bahunya. Velia menoleh dan melihat ada seorang siswa yang menepuk pundaknya.
"Hai" sapanya pada Velia.
"Oh, Hay" ucap Velia sedikit terkejut dengan itu, dia juga sebenarnya tidak tahu dengan siapa dia berbicara. Lebih tepatnya Velia tidak mengenal siapa cowok yang kini ada di depan matanya
"Boleh kenalan?" tanya cowok itu tanpa basa basi.
Velia mengangguk, "Boleh" jawannya.
"Kenalin gue Zidan" ujar seseorang itu dengan mengulurkan tangan kanannya, tanda perkenalan.
Velia menjabat tangan itu, "Gue Velia".
Terjadi percakapan dengan saling berkenalan satu sama lain. Dan ternyata kelas Zidan tidak jauh dari kelas Velia. Zidan sendiri ternyata satu angkatan dengan Velia, dia baru kelas 10 saat ini.
Namun nyatanya Zidan tidak tahu kalau ada cewek cantik yang satu angkatan dengannya. Dia tadi sempat melihat cewek yang tampak tengah celingukan, memutuskan untuk menyapa. Dan benar saja cewek cantik yang dia sapa barusan ternyata satu angkatan dengan dirinya.
VISUAL
ZELO