Novel kesembilan🪻
Rania adalah seorang wanita muda yang berprofesi sebagai guru. Ia multitalenta, baik hati, cantik, dan mandiri. Suatu hari Rania bertemu dengan seorang pemuda tampan yang lebih muda darinya, Logan namanya.
Awal pertemuannya dengan Logan, diwarnai dengan banyak kesalahpahaman. Namun apa daya cinta terlanjur tumbuh di hati keduanya.
Walaupun banyak perbedaan dan rintangan yang hadir di antara keduanya, termasuk kenyataan bahwa ternyata Logan adalah siswa di tempat Rania mengajar, tak cukup kuat untuk menghapus rasa yang sudah tumbuh di antara mereka.
Suatu hal kemudian terjadi. Logan bak seorang putra mahkota yang tiba-tiba saja harus menggantikan posisi raja yang diduduki sang ayah di perusahaan besar miliknya.
Hari-hari berat harus dijalani Logan dan membentangkan jurang pemisah lebih jauh lagi antara dia dan Rania.
Bagaimana kisahnya? Apakah kesempatan untuk mereka bersatu masih ada?
Unofficial Sound Track: Coldplay-The Scientist
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Penguntit
Setelah sesi curhat itu Rania dan Rendra kembali menyantap makanan yang sudah Rania racik. Dan setelah semua makanannya habis mereka meninggalkan restoran.
"Bener kamu gak apa-apa pulang sendiri? Papa anter kamu dulu aja, ya?" Rendra menawarkan.
"Gak usah, Pap. Rania 'kan bawa motor. Kalau Papa anter, motornya Rania gimana dong? Udah Papa sekarang cepet berangkat katanya ada kerjaan ngedadak. Rania mau beli buku dulu, terus nanti Rania bisa pulang sendiri, Pap."
"Ya udah kalau gitu Papa pergi sekarang, ya?" pamit Rendra.
Rania mengangguk dan mencium tangan sang ayah, memeluknya sekilas, dan membiarkannya pergi. "Iya, Pap. Hati-hati."
Rendra segera bergegas menuju lift dan turun menuju basement.
Sebenarnya Rania masih cukup syok dan juga sedih dengan apa yang baru saja diceritakan oleh sang ayah. Rania tahu apa yang sudah dilakukan oleh Rendra dan Nindi memang tidak salah. Semua ini demi dirinya. Namun tetap saja mereka membohongi Rania selama ini.
Tapi Rania sudah dewasa sekarang. Ia paham mengapa kedua orang tuanya melakukan itu. Malah Rania merasa sangat bersyukur karena berkat sandiwara itu, ia memiliki kenangan indah sebagai seorang anak yang merasakan keharmonisan keluarga meskipun hanya sampai dirinya berusia tujuh belas tahun.
Setelah itu Rania memutuskan untuk kembali ke Athena Books sebelum dirinya pulang. Ia ingin membeli beberapa buku untuk bahan ajar. Rania berjalan kembali menuju Athena Books. Ia memasuki toko, menitipkan buku yang tadi dibelinya ke bagian penitipan, dan pergi ke lorong bagian buku-buku pendidikan, pedagogik, dan buku-buku paket siswa. Rania melihat-lihat beberapa buku dan mulai membuka-buka halamannya.
Ketika sedang membuka-buka buku paket mata pelajaran bahasa inggris untuk siswa SMA, sebuah suara tiba-tiba mengajaknya bicara. Suara lembut yang sama dengan suara yang tadi mengajaknya berkenalan.
"Hai, ketemu lagi," sapa suara itu.
Rania menoleh ke asal suara. 'Ini 'kan cowok yang tadi? Kok dia nyamperin lagi?' batin Rania.
Kali ini Rania memperhatikan pemuda itu dengan lebih detail. Pemuda itu sedikit lebih tinggi dari Rendra. Ia memakai kaos putih polos yang dipadukan dengan jaket bomber berwarna army. Wajah orientalnya disempurnakan dengan hidung mancung dan bibirnya yang kecil dan tipis. Kesan pertama Rania tentang pemuda itu tidak berubah, pemuda di depannya ini memang sangat tampan berapa kali pun Rania melihatnya.
Tapi Rania tak berminat untuk meladeninya.
Rania lalu mengacuhkan laki-laki itu dan kembali melihat halaman yang sedang dibacanya. Rania tidak ada waktu untuk meladeni laki-laki yang dia yakin usianya lebih muda darinya.
"Gue beli buku karya bokap lo. Nih lihat," ucap laki-laki itu sambil menyodorkan buku 'Best of Rendra'.
Rania keheranan sendiri melihat pemuda itu begitu gigih ingin berkenalan dengannya. Ia juga heran, dari mana pemuda itu tahu bahwa itu adalah butuh sang ayah. Apa dia memperhatikan Rania dan sang ayah tadi? Rania bertanya-tanya dalam hati.
Tapi karena pemuda itu sudah membeli karya sang ayah, Rania tak bisa hanya diam saja. Akhirnya, "makasih udah beli karya Papa saya," ucap Rania singkat, tak ingin memperpanjang obrolannya.
Rania memutuskan untuk membeli buku paket untuk siswa yang sedang dipegangnya. Rania mengambil buku yang masih tersegel dan meletakkan sampel yang baru dibacanya ke tumpukan buku, kemudian berjalan menuju kasir.
Rania kembali terheran-heran, pasalnya pemuda itu masih mengikutinya. Pemuda itu memilih diam dan mengikuti Rania dari belakang.
'Ini anak kenapa ngomongnya gue-lo ya?' batin Rania saat mengantri di kasir yang lumayan cukup panjang.
Rania kembali menerima ajakan ngobrol dari pemuda itu. "Buku yang lo beli itu bagus loh. Gue juga punya, bahasanya mudah dimengerti dan latihan soalnya juga oke, udah HOTS(high order thinking skills) lagi soal-soalnya."
Rania hanya menimpalinya dengan tersenyum kecut kemudian kembali mengabaikannya.
Namun laki-laki itu tidak menyerah. "Gue pengen dong kenalan sama lo. Kayaknya kita jodoh."
Rania sontak menatap ke arah pemuda itu dengan tatapan tidak suka. Namun pemuda itu membalasnya dengan senyum selebar tiga jari. Rania kembali mengabaikan pemuda itu dan mengantri dengan tenang.
Tak sengaja Rania menatap ke arah sampul buku yang sedang dipegangnya dan mulai menyadari sesuatu.
'Tunggu, apa cowok ini ngira aku anak SMA?' batin Rania bertanya-tanya. Mengingat dia selalu menggunakan gue-lo dan juga tadi dia mengatakan bahwa buku ini bagus seakan merekomendasikannya kepada teman sebayanya.
"Sabtu kemarin lo ada di Toko Buku Jayabaya 'kan? Terus Sabtu kemarinnya lagi lo di BSC pakai kaos item kedodoran ada tulisan blackpinknya. Dan Sabtu sebelumnya lagi lo ke Heaven Cafe 'kan pakai dress bunga-bunga?"
Rania terbelalak mendengar pemuda itu dengan detail mengetahui apa yang ia lakukan tiga minggu terakhir. Spontan ia berbalik badan dan berteriak pada laki-laki itu. "Kamu nguntit saya?!"
Suara Rania cukup keras sehingga semua orang yang sedang mengantri dan beberapa orang yang sedang melihat-lihat buku best seller memandang ke arah laki-laki itu. Bahkan satpam yang ada di dekat pintu masuk juga mendengarnya dan mulai berjalan ke arah Rania. Beberapa orang mulai berbisik-bisik.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya satpam tersebut.
Sontak pemuda itu mulai panik.
"Orang ini nguntit saya, Pak. Tolong diamankan." Rania dengan yakin dan tegas berkata pada satpam tersebut.
"Mas, tolong ikut saya." Satpam itu langsung menggiring pemuda itu keluar toko buku.
"Saya bukan penguntit, Pak. Suer Pak!" protes laki-laki itu pada satpam yang menggandeng tangannya.
Orang-orang masih berbisik-bisik bahkan ada seorang ibu-ibu ceriwis yang berkata pada Rania, "ya ampun orang ganteng gitu kok hobinya nguntit ya. Serem banget. Hati-hati loh Neng orang kayak gitu sekarang banyak. Jangan ketipu sama wajah ganteng. Wajah aja mirip sama Hyunjin-Stray Kids, kelakukannya malah kayak Reynhard Sinaga." Kemudian diiyakan oleh orang-orang yang menyaksikan kejadian barusan.
Rania hanya tersenyum kecut. 'Ampun, ini ibu-ibu tahu juga sama Hyunjin,' batin Rania.
"Iya betul bu. Kita harus lebih hati-hati. Makasih ya, Bu." Ibu itu berkata sama-sama dan terus mengobrol dengan hebohnya bersama temannya.
Rania menyerahkan buku yang akan dibelinya kepada kasir dan setelah membayar ia melangkah keluar toko buku kemudian berjalan ke lift menuju ke parkiran motor.
Lift pun tiba di basement dan pintunya terbuka, lalu Rania melangkahkan kakinya keluar lift. Namun sontak Rania terkejut pasalnya ia melihat pemuda penguntit itu ada di seberang lift. Pemuda itu sedang menyandarkan tubuhnya ke tembok basement sambil berniat menyalakan sebuah rokok dengan korek yang baru ia nyalakan.
Pemuda itu kini melihat ke arah Rania juga dan urung menyalakan rokoknya. Rania heran, 'kenapa penguntit itu udah dibebasin?'
Karena panik, Rania segera masuk lagi ke lift dan segera memijit tombol secara sembarang. Namun ternyata ia kalah cepat. Penguntit itu malah ikut masuk ke dalam lift dan kemudian lift pun tertutup. Rania segera menekan tombol buka berkali-kali dan juga emergency saking paniknya karena harus berada berdua saja dengan seorang penguntit, juga di dalam sebuah lift yang sempit pula!
"Hey lo tenang dong. Gue bukan penguntit," ucap pemuda itu antara tersinggung dan juga ingin menenangkan.
Tiba-tiba lift berhenti dan berguncang lumayan keras. Lampunya berkelap-kelip. Rania seketika semakin panik dan berteriak histeris meminta pertolongan sambil menekan terus tombol emergency.
"Tolong! tolong! Ada orang di sini!" Namun tidak ada jawaban. Rania terus meminta tolong.
Kemudian Rania melirik ke arah laki-laki itu. Namun anehnya pemuda itu malah terduduk lesu di pojok lift di seberang tempat Rania berdiri.
'Itu cowok kenapa tiba-tiba diem gitu,' batin Rania.
Rania pun tidak memedulikannya. Ia segera membuka hpnya dan sialnya tidak ada sinyal di sana.
'Kok gak ada sinyal? Sial banget sih!' Rania merutuk dalam hati.
Jangan cuma baca ya kak, ulasan, comment dan likenya please 🥰