NovelToon NovelToon
Bacot System

Bacot System

Status: tamat
Genre:Kebangkitan pecundang / Menantu Pria/matrilokal / Sistem / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:43.4k
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

#Karya ini merupakan Karya Kreatif Modern

Setelah di-PHK dari pekerjaannya sebagai buruh, kehidupan Bara berputar 180 derajat. Kehidupan tak lagi berpihak kepadanya dan terpaksa harus menjadi pemulung yang selalu dihina oleh mertua.

Bara adalah laki-laki yang tak banyak bicara. Segala hinaan yang diberikan pun tak pernah ia balas. Hingga sebuah peristiwa mengubah segalanya. Bara diberi tugas untuk mengatakan hal-hal yang menyakiti hati orang lain. Dia dibayar mahal untuk itu semua.

Bagaimana kisahnya? Mari ikuti series berlanjut dari Bacot System, ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Nikmati Permainan Ini

"Nah, itu, Ibu bisa denger sendiri, kan? Yang tidak berguna itu bukan saya, tapi anak Ibu sendiri!" ucap Bara melas bersandar santai pada kursi yang ia duduki.

[ ding ]

[ ding ]

[ ding ]

[ Sistem mendeteksi ucapan-ucapan yang masuk ke dalam kriteria Sistem Bacot. Kamu mendapat tambahan saldo sebesar satu juta rupiah. ]

"Apa maksudmu?" Dari tempat yang luput dari penglihatan Bara, muncul Arini yang memasang wajah masam karena mendengar kata-kata Bara kepada ibunya.

Di sisi lain, Bara terkekeh mendengar notifikasi dari Sistem yang menyampaikan bahwa uangnya kembali bertambah.

'Segampang itu mendapatkan uang? Ah, kalau tahu dari dulu, lebih baik saya ngebacot aja tiap hari,' batinnya dengan wajah sumringah.

"Mas? Kau malah menertawakanku?" ucap Arini salah paham atas mimik wajah Bara.

Bara, beralih pandang mulai fokus pada Arini. "Oh, aku hanya teringat masa lalu kita yang begitu indah. Andai itu terulang kembali," ucap Bara.

Raut tegang Arini seketika luntur gelagapan pada wajah yang jelas mengartikan kebingungan. Sejenak, ia juga beralih ingatan pada masa suaminya yang masih bekerja sebagai buruh. Meski kala itu hanya sekedar buruh, tetapi Bara mendapatkan gaji yang lumayan, bahkan mereka bisa membeli rumah meski dengan sistem kredit.

Akan tetapi, sekarang hanya lah tinggal kenangan. Ia susah begitu muak dengan Bara. Ia ingin segera lepas dari hubungan pernikahan ini. Namun, ia tak ingin orang lain menghujatnya karena meninggalkan Bara karena selingkuh dengan pria bernama Pram.

Pram memang tak kaya. Hanya saja, ia merasa nyaman dengan pria itu karena sudah terlalu biasa bersama dengannya. Benih-benih cinta terlarang pun tumbuh di antara mereka. Pram selalu berpenampilan rapi terutama wangi. Sungguh berbeda dengan Bara yang sudah tak berbentuk semenjak beralih profesi sebagai pemulung.

Percintaan terus bersemi dan mulai pada pelanggaran norma kesusilaan. Hubungan mereka telah jauh hingga tak ada batas lagi di antara mereka. Hubungan suami istri pun dilakukan rutin secara diam-diam.

Baginya, berhubungan dengan Pram terasa jauh lebih nikmat. Stamina Pram jauh berbeda dibanding suaminya yang sudah loyo saat malam datang karena lelah berkeliling mencari barang-barang bekas yang bisa dijual. Bersama Pram ia kembali merasakan puncak kepuasan dalam menikmati percintaan yang membara.

Di saat Arini sibuk dengan pikirannya, Bara seolah melihat hologram bagai layar yang menampilkan segala yang dipikirkan oleh Arini. Hatinya semakin panas melihat itu semua. Apalagi gambaran jelas tentang hubungan mereka di bawah selimut berdua.

'Menjijikkan! Sungguh berani dia membayangkan pria lain di hadapanku!' batinnya penuh dendam.

[ Tenang lah! Nikmati permainan ini! ]

'Apa kau tahu? Rasanya aku ingin mencekiknya dan membenamkannya ke dalam bumi bersama laki-laki hina itu, saat ini juga!'

[ Jika kau tak bisa mengendalikan dirimu, maka kau sendiri yang akan hancur sebelum menghancurkan mereka! ]

Bara menghirup udara dengan dalam hingga semua oksigen memenui paru-parunya. Secara perlahan ia menghembuskannya meninggalkan ketenangan untuk sesaat. Setelah berdamai dengan batinnya, Bara mengulas senyuman setulus yang ia bisa.

"Sayang, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu sedang hanyut pada masa indah yang telah kita lewati?"

Arini tersentak, wajahnya bersemu mengingat hal demikian. Saat menyadari wajah Bara tepat berada di depannya, air muka Arini kembali berubah masam.

"Aku dengar, kamu bilang aku ini tidak berguna? Apa maksudmu, Mas? Apa kamu sudah memiliki wanita lain yang berguna bagimu?"

Bara tersenyum sinis sejenak. Namun, ia segera menepisnya. Ia sadar bahwa hal ini akan menjadi senjata bagi Arini. Di dalam otaknya bagai tersistem untuk mengatur rencana lain.

"Kamu jangan terlalu sensitif, Sayang. Maksudku, aku lah yang tak berguna. Aku hanya menjadi suami yang menyusahkan, persis seperti kata ibumu. Mungkin kamu salah dengar," ucap Bara sembari memeluk Arini.

Ketika Bara memeluknya, tubuh Arini sejenak tampak refleks ingin menolak. Ia merasa tak sudi didekati oleh Bara. Akan tetapi, Bara sudah memeluk dan tak memedulikan gestur yang jelas terbaca itu. Arini baru sadar ada banyak mata yang memandang mereka.

"Ah, ya? Mungkin aku yang terlalu sensitif," ucap Arini tersenyum kikuk menatap wajah-wajah yang menjadikan mereka sebagai tontonan siaran langsung.

"MALAH PELUK-PELUKAN? HARUSNYA KALIAN MENCARI BENDA-BENDA BERHARGA YANG MASIH TERSISA!" Nurmala yang turut menjadi penonton pun seperti biasa menjadi tim yang selalu bersorak akan segala hal yang ia lakukan.

Namun, Bara memilih beranjak tanpa satu kata pun. Ia menggandeng Rangga yang sedari tadi kebingungan dengan pertengkaran keluarga ini. Setelah berjarak beberapa meter, Bara pun memutar badan dan berhenti.

"Malas, Bu. Itu buka rumah saya juga," ucapnya kembali berlalu menggandeng tangan Rangga.

"Ayah, kita mau ke mana?" tanya bocah kecil itu.

"Hmm, kita cari rumah yuk? Biar tidak numpang lagi di rumah Uwa," terang Bara.

"Ayah sudah punya banyak uang? Ayah mau beli rumah baru? Ibu dan Nenek diajak ke rumah baru juga kan?" Rangga menarik tangan Bara menatapnya dengan wajah berkaca-kaca.

"Hmmm, enaknya bagaimana? Apa nenekmu bersedia tinggal bersama kita?"

*

*

*

Saat berada di kantor agen pemasaran rumah, Bara berkonsultasi mencari informasi harga rumah saat ini. Ia mencoba mencari tahu dengan menggunakan katalog harga rumah siap huni yang ada di agen tersebut. Lalu, perhatiannya jatuh pada

"Mbak, yang ini harganya berapa ya?" tanyanya kepada karyawan di agen pemasaran itu.

Karyawan mengernyitkan dahinya saat Bara menunjuk sebuah hunian mewah yang mereka jual. Beberapa kali ia menelaah Bara mulai dari kepala hingga kakinya. Ekspresinya berubah meremehkan Bara yang hanya berpakaian lusuh.

"Maaf, Pak. Ini saya ambil dulu." Karyawan itu menarik katalog rumah mewah tadi dan menggantinya dengan katalog rumah subsidi yang sangat sederhana dan kecil.

"Kalau ini Bapak bisa membayar uang muka sebesar dua puluh lima juta rupiah. Nanti, angsurannya sebesar satu juga per bulan," tawarnya.

Bara memperhatikan katalog yang ditawarkan oleh pihak developer. Di sana, tampak rumah ukuran kecil yang hanya terdiri dari satu kamar. Wajah Bara mengerut sejenak. Namun, akhirnya ia mengerti dan mencoba untuk tidak menanggapinya dengan emosi.

"Maaf, Pak. Saya kan menanyakan rumah yang tadi," tolak Bara.

Wanita yang melayani Bara mengerutkan keningnya karena merasa terganggu oleh penolakan yang diberikan pria yang jelas tampak miskin. Pakaian lusuhnya itu membuat ia tak perlu menebak lebih jauh bagaimana keadaannya pria ini, sebenarnya.

"Pak, kalau yang tadi, Bapak tak akan sanggup membelinya meski mengangsur seumur hidup. Mending, Bapak terima tawaran saya. Nanti saya akan bantu kredit subsidinya. Jadi Bapak tidak perlu pusing jual ginjal demi membayar rumah seperti yang Bapak tunjuk tadi."

Bara memperhatikan kembali rumah subsidi itu. Tiba-tiba, ia memiliki ide lain dengan rumah kecil tersebut.

"Baik lah, saya akan mengambil rumah yang Mbak tawarkan."

Wajah sang karyawan tampak tersenyum puas. 'Nah, gitu dong? Gembel aja sok-sokan beli rumah mewah yang gue sendiri nggak sanggup mengkhayalkannya.'

"Baik, Pak. Seperti janji saya, saya akan membantu proses kredit subsidinya. Kapan Bapak akan menandatangani akadnya? Saya harap, Bapak segera menyiapkan uang muka rumah ini sebesar dua puluh lima juta rupiah."

"Tapi, saya tak memiliki uang sebanyak itu, Mbak. Apakah untuk DP bisa dicicil juga?" ucap Bara lagi.

"Ekheeeem ...." Raut wajah sang karyawan jelas berubah drastis. "Nah, itu. Tadi sok-sokan pula nanyaain rumah seharga sepuluh miliar? Rumah subsidi saja kamu tak sanggup membayar DP-nya."

'Sistem, beri aku misi untuk membungkam mulut wanita ini. Beri lah aku tugas yang membuatku segera mendapat dana lima miliar," pinta Bara.

[ Dasar manusia! Kau dikasih hati malah minta jantung? ]

#cerita ini merupakan karya fiksi kreatif modern#

1
MomyWa
hmmm
Apud Tahu
MC oon di pilih tor.
pembaca gabut
mantep cocok tu mertua kek enak nya di ledek wkwkwkw
Safira Aurora
semangat berkarya ya author
Safira Aurora
dah beres ya thooorr..tp kenapa sistem ga dibawa smp mati aja
Rainbow Scorpion Venom
tapi ini nggak yang tiba-tiba ketembak sama polisi meninggal terus pindah ke isekai kan?
SoVay: bukan bang, ini bukan cerita per isekaian.
total 1 replies
Rainbow Scorpion Venom
oh ayolah ceritanya bagus jangan lama lama update-nya
SoVay: jadi agak sulit mikir idenya bang, heehhe..sabar y bang..ini lg mikir episod berikutnya kayak apa ya.
total 3 replies
Safira Aurora
update lagi thor... setelah 1 thn
Juhairiah
kapan ya kelanjutannya?
SoVay: sudah update kakak, yuk lanjut
total 1 replies
CahTheLoel
kok yang kedinginan Bara bukan Tejo🤔🤔
CahTheLoel
"Pak, kamu jahat ya? Aku sudah bangun tapi ditinggal. Lebih baik aku ninggalin kamu remuk bersama bangunan yang hancur" kira" begitu kalo diterjemahkan ke bahasa Indonesia 🤔😄
CahTheLoel
karma dibayar tunai
Nadja 🎀
maksudku selamat juara kreatif..
Andri Suwanto
hehehehe
Alghifarrie
kelanjutannya
hasbullah 123
cerita ini sepertix ngga jelass atau authorx goblokk ..masa misi sekesaikan masalah org smntra masalah sendiri aja blm beres jg seharusx pertama penampilan mc hrsx OK dulu baru yg lain..
aku jg mw🤤: kakak mending bikin cerita transmigrasi kak
total 2 replies
Inyoman Raka
bacotan hah
saa
bisa tak jgn pake bhs yg tak gua ngerti 🗿🗿
SoVay: sistem mendeteksi indikasi bacotan, selamat.. anda mendapatkan ....
total 1 replies
Fabrigio
cepat update jangan kayak yang lain masa cuman sampai episode 5 terus nggak update update lagi kan nggak seru
SoVay: sabar y abangku 😆 ramadan ini susah buat nulis gara2 banyak kgiatan dan susah mikir 😆
total 1 replies
Aku Rajin Membaca
akhirnya up juga thor... kira2 berhasil kabur apa tertangkap yaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!