Perjanjian antara Prabu Dira Pratakarsa Diwana dengan Putri Ani Saraswani, memicu perang yang melengserkan Prabu Galang Digdaya, ayah sang putri sendiri.
Setelah menggulingkan Prabu Galang dari tahtanya, Prabu Dira menikahi Putri Ani yang telah bersekutu dengannya. Putri Ani mau menikah dengan salah satu syaratnya, di hari pernikahan tidak ada istri Prabu Dira yang lain hadir.
Para istri Prabu Dira setuju suami mereka menikah dengan Putri Ani dengan tujuan bisa membangun benteng dan armada laut di kerajaan pesisir tersebut. Prabu Dira harus segera membangun armada laut yang kuat untuk menghadapi perang besar melawan Negeri Tanduk dan sekutunya.
Namun, syarat yang diajukan oleh Putri Ani yang melarang kehadiran istri Prabu Dira di hari pernikahan, justru menyinggung perasaan beberapa orang permaisuri.
Puncaknya, setelah Putri Ani menjadi istri muda Prabu Dira dan menjadi ratu di kerajaannya sendiri, dia ditemukan telah tewas. Salah satu permaisuri Prabu Dira diduga pelakunya. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DRM 6: Ketua Merah
*Dendam Ratu Muda (DRM)*
Setelah sempat dikejutkan oleh pengepungan orang-orang bertombak yang mengenakan pakaian serba merah kemerah-merahan, Pangeran Tirta Gambang, Ramu Kalila dan Rayu Pelangi kini dibawa ke sebuah gua yang terang oleh cahaya beberapa api obor.
Mereka duduk di atas bidang batu gua bersama seorang wanita berpakaian merah dan berjubah merah. Bisa disebut wanita karena ciri-ciri bentuk fisiknya adalah wanita. Meski berjubah, tetapi bentuk dada, pinggul, rambut dan jenis suara adalah wanita. Wanita itu memang menutup wajah bawahnya dengan cadar merah. Sepasang matanya dibingkai dengan maskara hitam yang tebal.
Wanita itulah pemimpin Penombak Jubah Merah, kelompok rahasia yang mengabdi kepada mendiang Mahapatih Olo Kadita, tetapi pengabdiannya atas dasar kepeng. Tidak jelas siapa adanya wanita berjubah dan bercadar merah itu, tetapi anak buah menyebutnya dengan nama Ketua Merah.
Pangeran Tirta Gambang dan kedua wanita yang bersamanya sempat menunggu kedatangan Ketua Merah agak lama. Barulah ketika hari menjelang malam dan kondisi gua semakin gelap, Ketua Merah datang. Meski Ramu Kalila dan Rayu Pelangi tahu tentang kelompok Penombak Jubah Merah, tetapi mereka tidak pernah bertemu atau tahu tentang ketuanya.
“Berita yang kalian bawa membuat aku harus cepat membatalkan tugas-tugas para pendekar bayaran yang mendapat perintah dari Gusti Raja kemarin,” kata Ketua Merah, setelah mendengar kabar bahwa Mahapatih Olo Kadita yang kelompok itu sebut “Gusti Raja” hilang karena diculik oleh pendekar berbibir merah bernama Joko Tenang.
Ketua Merah lalu memanggil seorang anak buahnya.
“Kali Rebus!” panggilnya.
Seorang lelaki bertubuh kekar dan bertombak datang menghadap kepada Ketua Merah. Lelaki berwajah ganteng tapi tegas itu punya kedudukan sebagai Wakil Ketua. Dialah yang lebih sering berinteraksi dengan para mitra.
“Aku, Ketua,” ucap lelaki yang bernama Kali Rebus seraya menjura hormat.
“Kirimkan utusan gelombang kedua untuk membatalkan pesan utusan pertama. Perintahkan pertemuan di Arena Gelombang di Pantai Segadis esok senja!” perintah Ketua Merah.
“Baik, Ketua,” ucap Kali Rebus patuh.
Kali Rebus lalu pergi untuk melaksanakan tugasnya.
“Jadi bagaimana, Gusti Pangeran?” tanya Ketua Merah kepada Tirta Gambang.
“Tujuan awalku hanya untuk menyelamatkan Rayu Pelangi dan Bibi Ramu. Namun, jika kalian sanggup mengambil tahta di tengah kekacauan, itu yang aku inginkan,” jawab Tirta Gambang.
“Jika orang yang harus kami singkirkan adalah pemuda berbibir merah, kami tidak akan mengambil tugas itu. Aku tahu siapa sebenarnya pemuda berbibir merah itu. Namun, di saat Gusti Raja tidak ada, lalu siapa yang menjamin pembayaran untuk kami akan ditunaikan? Perlu diketahui, kami mengabdi kepada pemilik kepeng. Jika Gusti Pangeran menjadi pelarian, itu berarti Gusti Pangeran saat ini adalah orang yang miskin,” kata Ketua Merah.
Terbeliak sepasang mata Tirta Gambang mendengar kata-kata Ketua Merah. Dia tidak terima disebut “miskin”. Sungguh memalukan jika seorang pangeran tetapi dianggap miskin.
“Kau jangan meremehkan aku, Ketua Merah!” kecam Tirta Gambang marah.
“Kau jangan unjuk kemarahan di depanku, Gusti Pangeran. Situasi sedang tidak aman,” kata Ketua Merah tetap tenang dan memperingatkan secara halus. Entah, apakah pemuda tampan itu memahami atau tidak peringatan itu.
“Maaf, Gusti. Jangan marah,” ucap Ramu Kalila menenangkan.
“Huh!” dengus Tirta Gambang.
“Ketua Merah, kami memiliki harta benda di Kadipaten Ombak Lelap. Asalkan kalian bisa menemukan Gusti Mahapatih, aku akan membayar kalian,” ujar Ramu Kalila.
“Ke mana aku harus menagih jika Gusti Raja kami temukan?” tanya Ketua Merah.
“Ke kediaman Adipati Kubis Ganda. Dia kakakku,” jawab Ramu Kalila.
“Kami memiliki banyak rekan kerja para pendekar sakti, baik yang sendiri ataupun yang berkelompok. Bahkan pendekar berkesaktian tinggi dari Kerajaan Teluk Busung. Namun, jika hanya mencari keberadaan Gusti Raja, cukup kami yang melakukan. Untuk sementara aku akan membatalkan semua perintah Gusti Raja kepada kami,” kata Ketua Merah.
“Apakah kau bisa menyediakan kabar dari dalam Istana?” tanya Tirta Gambang.
“Itu mudah. Itu bisa dikondisikan, tetapi harus menunggu suasana Istana sudah tenang. Namun, kembali kepada urusan kepeng. Apakah Gusti Pangeran punya kepeng?”
“Kau benar-benar meremehkanku!” desis Tirta Gambang kembali tersulut emosinya. “Aku akan membayar dengan diriku.”
“Aku tidak menerima pembayaran dengan jiwa,” kata Ketua Merah santai. “Pergilah kalian. Jika ada kabar tentang Gusti Raja, aku akan mengirim utusan ke kediaman Adipati Kubis Ganda.”
Pangeran Tirta Gambang, Rayu Pelangi dan Ramu Kalila meninggalkan gua itu. Mereka dikawal oleh empat anggota Penombak Jubah Merah sampai ke sumur keong, tempat mereka meninggalkan kuda.
“Bibi, siapa sebenarnya Gusti Raja yang dimaksud Ketua Merah itu?” tanya Tirta Gambang setelah orang-orang Penombak Jubah Merah pergi meninggalkan mereka bertiga, sementara hari tambah gelap.
“Gusti Raja itu adalah Gusti Mahapatih,” jawab Ramu Kalila.
“Jadi benar, dalang pembunuhan dua menteri dan upaya pembunuhan terhadap kakakku adalah Mahapatih Olo Kadita?” tanya Tirta Gambang dengan tatapan yang marah.
Terkejut Ramu Kalila dan Rayu Pelangi mendengar tudingan sang pangeran. Sepertinya kedua wanita itu telah teledor membiarkan Tirta Gambang tahu tentang kelompok Penombak Jubah Merah. Ibu dan anak gadisnya itu jadi bingung harus menjawab apa.
“Sepertinya aku salah telah mencintaimu, Rayu Pelangi. Aku teledor telah membebaskan kalian berdua. Sekarang kita masing-masing!” kata Tirta Gambang marah lalu menggebah kudanya meninggalkan kedua wanita itu.
“Gusti Pangeran!” teriak Rayu Pelangi terkejut. “Hiah hiah!”
Rayu Pelangi buru-buru mengejar Tirta Gambang dengan berkuda pula.
“Rayu! Jangan tinggalkan Ibu!” teriak Ramu Kalila pula.
Namun, Rayu Pelangi yang sempat jatuh hati kepada pemuda berbibir merah, tetap mencintai sang pangeran. Dia tidak mau kehilangan sang pangeran. Jadi dia lebih memilih mengejar Tirta Gambang dan meninggalkan ibunya.
Buru-buru Ramu Kalila menggebah kudanya untuk mengejar putrinya, bukan untuk mengejar Tirta Gambang. Baginya, kehilangan Pangeran Tirta Gambang bukanlah perkara yang begitu merugikan, karena pemuda itu saat ini posisinya tidak memiliki kekuatan.
Namun sayangnya, Ramu Kalila tidak terlalu tangkas dalam berkuda, jadi dia tidak bisa melarikan kudanya terlalu kencang. Yang terjadi adalah Ramu Kalila jadi tertinggal.
“Gusti Pangeraaan! Jangan tinggalkan aku!” teriak Rayu Pelangi kencang dan nyaring.
Tirta Gambang sebenarnya mendengar panggilan wanita yang dicintainya itu. Namun, rasa belanya kepada kakaknya, yaitu Putri Ani Saraswani, lebih tinggi.
Di saat kejar-kejaran terjadi dengan jarak yang cukup jauh, satu insiden tiba-tiba terjadi.
Dak!
Ehehehek!
“Aaak!”
Tiba-tiba kaki depan kuda yang ditunggangi oleh Rayu Pelangi tersandung sesuatu, sehingga kuda itu meringkik tersungkur dan tubuh indah si gadis terlempar ke depan, siap menubruk tanah. Namun, itu tidak terjadi.
Siapa pun tidak akan tega jika melihat tubuh indah si gadis cantik berwajah imut seperti semut itu jatuh menabrak tanah keras. Dari dalam keremangan waktu magrib tiba-tiba ada bayang sosok hijau melintas cepat di atas tanah, tetapi seperti tidak menyentuh tanah.
Sosok hijau itu menyambar tubuh Rayu Pelangi dan membawanya ke dalam kegelapan di bawah pepohonan. Setelah itu hilang.
Tinggallah sang kuda yang setelah tersungkur dia buru-buru bangkit berdiri kembali, agar tidak malu dan supaya tidak ada kuda lain yang melihatnya jatuh.
Drap drap drap…!
Dari arah kepergian Pangeran Tirta Gambang muncul sang pangeran yang datang menunggang kuda, karena tadi dia memang menunggang kuda.
Sebelumnya, saat mendengar jeritan Rayu Pelangi, Tirta Gambang terkejut. Terlintas di pikirannya bahwa telah terjadi sesuatu yang buruk kepada Rayu Pelangi. Bagaimanapun dia masih seorang lelaki, tidak tega jika mengetahui wanita cantik celaka.
Tirta Gambang segera mengerem kudanya dan berbalik arah.
Saat tiba di lokasi jatuhnya Rayu Pelangi, dilihatnya sang kuda sudah berdiri dengan empat kaki tanpa penunggang. Tidak terlihat ada Rayu Pelangi di sekitar kudanya atau di tempat itu. Dia tidak melihat seorang pun.
Drap drap drap…!
Dari arah daerah hutan bakau datang Ramu Kalila yang berkuda. Ramu Kalila menghentikan kudanya. Pandangannya segera mencari-cari, tetapi dia tidak menemukan sosok putrinya.
“Gusti Pangeran, di mana Rayu?” tanya Ramu Kalila.
“Aku tidak tahu, Bi,” jawab Tirta Gambang juga sambil mengedarkan pandangannya lebih teliti.
Akhirnya pemuda itupun berteriak memanggil.
“Rayu Pelangiii!”
“Rayuuu!” teriak Ramu Kalila juga sambil pandangannya mencari ke sekeliling yang semakin menggelap.
Namun, tidak ada sahutan atau jawaban dari Rayu Pelangi. (RH)