Bidariblue namanya, dia bukan robot, tapi tubuhnya dipasangi Bio Bionic dan Microchip oleh dokter James Athur atas permintaan Bob Meyer, seorang owner dari badan intelijen swasta yang bernaung dibawah bendera XPostOne.
James sendiri adalah seorang dokter genetika Bionic women atau manusia robot. Kini Bidari menjadi eksperimen pertama.
Sayang sekali ekspektasi dokter James dan Bob Meyer tidak tercapai. Bidari menjadi tambah berutal disaat ia tersakiti. Bukan itu saja, gadis itu bersikap dingin terhadap lawan jenis, terutama kepada Zuga Qiosaki yang sangat mencintainya.
Apakah perubahan temperamen Bidari hanya pura-pura untuk mengelabui XPostOne dan para agent lainnya atau otaknya sudah terkontaminasi oleh Bio Bionic ciptaan dokter James?
Bagaimanakah kelanjutan kisah Bidariblue saat tahu dirinya diculik dan dipasangi Biobionic dan Microchip?
Ayo ikuti perjalanan Bidariblue dalam sepak terjangnya menumpas musuh negara, dan juga percintaannya yang panasss...
******
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTARUNG
Dua orang pengawal menunggu saat Martin maju dan menarik Bidari lalu merangkulnya. Gadis itu berontak dan menendang Martin keras.
Tidak ada orang yang berani melerai atau menolong Bidari. Pemandangan itu biasa terjadi disitu. Martin selalu bikin ulah kalau ada gadis cantik. Mungkin sekarang dia kena batunya, ternyata gadis yang dia ganggu tidak takut dan melawan saat ia dilecehkan.
Laki-laki kekar itu bernama Martin Abero, dia adalah putra dari pak Irwan, konglomerat kelas kakap yang kini menjadi incaran Bidari dan Zuga. Gadis itu belum tahu kalau yang diajak gelut adalah putranya pak Irwan.
Pengunjung yang asyik bergoyang, mengalihkan perhatiannya kepada Bidari. Jadilah Bidari tontonan gratis. Saat Martin mencoba melecehkan Bidari, tangan gadis itu memukul pelipis Martin.
"Aughhh..."
Sontak Martin berteriak dan memberi perintah kepada kedua pengawalnya untuk menangkap Bidari. Dua lelaki itu menganggap remeh dan menubruk Bidari, tapi apa yang terjadi, kedua pengawal itu ambruk.
"Kurang ajar, ringkus bule ini."
Mereka mengira Bidari adalah bule, karena wajahnya blasteran rambutnya pirang.
Pengawal itu kembali menubruk gadis itu, tanpa tahu kalau Bidari mempunyai kekuatan supersonic. Tubuhnya yang langsing bergerak lincah meladeni dua pengawal. Kedua pria itu terkapar di lantai dengan hidung dan sudut bibir berdarah.
"Kalian berdua bisa dikalahkan oleh seorang gadis. Bangun, cepat tangkap gadis ini." perintah Martin kembali.
Dengan malu pengawal itu bangun dan kembali menyerang Bidari dengan pukulan berturut-turut. Dua lelaki itu menganggap remeh dan menubruk Bidari dengan kekuatan penuh. Bidari mencelat ke atas dan kaki kiri gadis itu terangkat lalu menendang kedua pengawal itu.
Teriakan penonton membahana ketika kedua pengawal Martin menjadi tidak berdaya dan menjadi bulan-bulanan Bidari. Live musik seketika terhenti, para pengunjung yang rata-rata kaum adam memberi standing ovation untuk Bidari.
Dalam keremangan malam, wajah Bidari terlihat sangat cantik dengan rambut tergerai lepas.
Zuga memandang dari jauh serta membiarkan Bidari menangani sendiri, ia mau tahu sampai dimana kecerdasan Bidari setelah dipasangi Bio Bionic dan Chip. Ternyata hasilnya luar biasa, kedua lelaki kekar itu tidak berdaya menghadapi Bidari.
"Komang jangan menembak!!" teriak Martin kepada pengawalnya. Semua kaget mendengar pistol menyalak.
Tapi teriakan itu telat, peluru meluncur menyerempet lengan Bidari. Dalam sekejap lengannya penuh darah. Zuga menahan dirinya untuk menolong Bidari, ia ingin tahu apa yang gadis itu lakukan jika sedang terluka.
"God dammit!!"
Pekik Bidari meloncat, ia mengangkat tubuh Komang tinggi, kemudian melemparnya. Mata gadis itu berkilat tajam mendekati Martin.
"Kau pergi atau kucongkel matamu...." bisik Bidari mengusapkan darah di lengannya ke wajah Martin.
Lelaki itu gemetaran melihat tubuh Komang seperti karung goni dan tidak bergerak.
"Aku akan menuruti perintahmu, maukah kamu menjadi team aku?"
"Jangan banyak bacot."
"Dimana alamatmu?" tanya Martin tak mau bergerak, ia terbius oleh kecantikan Bidari.
"Namaku Bebe, jika kau ingin melanjut kan pertarungan ini, panggil namaku, aku akan datang secepat helaan nafasmu!!"
"Jangan bercanda, mana nomer ponselmu."
"Aku tidak punya hape." kilah Bidari.
"Aku akan datang untuk melamarmu." ucap Martin pongah. Ia membiarkan darah Bidari mengental di wajahnya.
Ada suara tertawa tertahan diantara pengunjung. Bidari tidak menjawab, ia berbalik badan dan melangkah pergi. Martin mengikutinya.
"Aku mengagumimu Bebe. Jika kamu mau, aku akan mengantarmu pulang. Apa pun yang kamu minta aku akan berikan......"
"Haekk...."
Suara Martin menghilang ketika kaki Bidari menyentuh dadanya. Bidari tidak menendangnya, ia cuma sedikit mendorong pria itu.
"Nikmati hidup kau, aku masih memberi kau nafas, sekali lagi kau bacot, kupatahkan leher kau."
Bidari melanjutkan langkahnya, ia tidak peduli dengan suara pengunjung yang pro dan kontra.
Martin berdiri terpaku, sang casanova kalah telak dengan seorang gadis asing. Ternyata tidak semua wanita matre, gadis tadi buktinya. Ia seperti bidadari sorga, cantik, berkelas dan tidak terpengaruh dengan penampilan Martin yang memakai kalung platina seberat lima puluh gram dan jam Rolex seharga tiga miliar.
Ia pun ikut pergi mengejar Bidari yang hilang dalam kegelapan malam. Ada rasa sakit menusuk dadanya. Seumur hidup ia baru kali ini merasa kecewa di tolak mentah-mentah oleh seorang gadis. Hatinya sedih.
Martin berdiri di tempat parkir
"Tuan, Komang sudah dijemput oleh ambulans, apakah tuan akan pulang sekarang?" tanya Made mendekati tuannya.
"Apakah dia mati?"
"Tidak tuan, dia hanya pingsan, sudah ada pengawal lain menemaninya. Apakah perlu di visum supaya gadis itu jera kalau berhadapan dengan polisi."
"Aku tidak yakin, terserah kalian. Aku tidak bisa berpikir jenih." sahut Martin menuju mobil.
Made maklum kalau suasana hati tuannya tidak baik-baik saja. Tuannya pasti merasa tercampakan. Ia sendiri juga kesakitan tadi dilempar oleh gadis itu, ntah dari mana tenaga gadis itu. Badan segede ini bisa terlempar dengan mudah, tidak habis pikir jadinya.
Made belari kecil ke mobil dan membukakan pintu mobil.
"Silahkan masuk tuan." ucap Made menatap wajah tuannya. Kebetulan juga agak gelap, jadi Made tidak takut melihat wajah tuannya yang ternoda dafi darah Bidari.
"Apakah tuan perlu tissue basah?" tanya Made setelah mereka berada di mobil.
"Aku akan bersihkan sampai di rumah. Cari di semua aplikasi nama Bebe, aku merasa jatuh cinta pada pandangan pertama."
"Gadis itu sangat berbahaya, tidak ada lembutnya. Badan saya semua sakit dilempar, dipukul, ditendang. Tumben berhadapan dengan cwe seperti itu."
"Dia tidak melihat ketampananku atau kekayaanku, dia murni, menawan hati."
"Tuan, cwe zaman sekarang rata-rata matre, saya yakin setelah tahu siapa tuan, ia pasti menyesal dan ingin balik."
"Ini beda, dia tidak tertarik melihat wajahku atau bodyku yang kekar dan terawat." kata Martin berkeluh kesah.
"Suatu hari nanti jalau tuan sudah jodoh pasti akan bertemu lagi."
"Aku mengharapkan keajaiban itu."
Gara-gara peristiwa itu, scurity jaga di beach club langsung dapat SP.3. Tidak becus menjaga keamanan. Kejadian itu bisa berdampak buruk bagi beach club dan juga pengunjung. Walaupun tidak ada rekaman peristiwa itu di media sosial, tapi tetap mengurangi nilai safety untuk beach club.
Zuga dan Bidari sengaja diam lebih lama di mobil, mereka menunggu orang lain keluar duluan. CCTV yang berada di gardu scurity akan menyorot setiap mobil keluar dan mencari siapa yang memiliki mobil itu.
Martin tidak akan membiarkan Bidari lepas dari genggamannya. Ia pasti akan mencari lewat nama pemilik mobil. Sebagai spionase handal, Zuga sudah memperhitungkan semua itu. Plat mobil sudah diganti, setiap keluar rumah menjalankan tugas plat mobil harus diganti.
"Sudah banyak pengunjung pulang, kita ikuti mereka. Biasanya sampai pagi, hari ini mereka pulang cepat.
"Tunggu sebentar, aku lagi menutup lukamu. Darahmu cepat mengering."
"Aku tidak merasa sakit, apakah lukanya kecil, aku tidak bisa melihat." ucap Bidari meraba lengannya. Ia merasa aneh karena tidak merasakan sakit.
"Untung kamu berkelit, hampir jantung mu bocor. Besok-besok kamu harus lebih hati-hati bertindak."
"Aku emosi jiwa, melihat ada bajingan yang mengeroyok aku, kamu malah ngumpet. Dasar pengecut."
"Aku sengaja membiarkan kamu gelut, supaya dapat berlatih."
"Kamu banyak alasan, tak sleding juga kamu."
"Hahaha....aku yakin kalau laki-laki tadi akan mengejarmu sampai dapat."
"Aku akan membuatnya terseok-seok, dan berlutut padaku."
"Kamu belum tahu siapa mereka?"
"Apa kamu kenal, siapa dia?"
"Laki-laki itu anak pak Irwan."
"Astaga! kalau tahu begitu aku ikut dia, nyesel aku." ucap Bidari.
"Asal jangan main perasaan. Kita ini pekerja, bukan untuk senang-senang." sahut Zuga memacu mobilnya lebih kencang.
Pukul 12.15 wita.
Malam ini Bidari dan Zuga begadang, mereka membuat laporan khusus tentang kejadian tadi ke XPostOne. Ia akan berusaha berhadaptasi dengan tugas yang harus diselesaikannya secepat mungkin.
Zuga mulai browsing keberadaan Martin lewat media sosial. Ia baru menyadari bahwa Martin adalah pemuda ganteng yang kaya raya.
"Kau mulai menyukainya?" tanya Zuga jealous ketika mata Bidari berkilat melihat foto Martin.
"Aku akan belajar menyukainya, bila perlu aku akan menjadi pacarnya."
Degg! seperti ada yang memukul jantungnya. Zuga memandang Bidari dan berusaha memakluminya. Semua wanita akan tertarik kepada Martin, disamping pria itu ganteng, Martin adalah pembisnis sukses. Orang tuanya kaya raya.
"Istirahatlah, jika kamu ingin pacaran dengan Martin besok kamu datang ke beach club, supaya bertemu."
"Kamu tidak ikut besok?"
"Tidak, aku rasa kamu sudah mengerti apa yang harus dilakukan."
"Kamu tidak senang kalau aku dekat dengan Martin?"
"Tidak masalah sepanjang kamu bisa bawa diri. Tubuhmu berharga, jadi jangan sembarang di obral."
"Kalau aku sampai pacaran dengan Martin, tubuhku miliknya dan begitu juga sebaliknya."
"Kalau masih berstatus pacaran, tubuh mu tetap milikmu, kecuali sudah menikah. Wanita dianggap berharga jika dia bisa mempertahankan asetnya dan mempersembahkan hanya untuk suaminya saja."
"Hemm...baiklah." ucap Bidari berdiri. Ia lalu masuk ke kamar.
Zuga melanjutkan kerjanya, berusaha berdamai dalam hati. Kalau hidup sendiri tanpa ada kolaborasi cinta di dalamnya lebih terasa menyenangkan.
Terkadang ia mengutuk perasaannya yang diperbudak oleh cinta dan cepat menyukai Bidari yang notabene baru ia kenal. Apalagi tubuh Bidari berisi Bio Bionic yang belum tahu keabsahannya dan belum terbukti hasil akhirnya, Zuga jadi merinding.
Malam semakin merangkak, Zuga masuk ke kamar Bidari, ia melihat gadis itu tertidur pulas. Ia mendekat dan menyibakkan anak rambut yang menutup mata gadis itu.
"Love you honey..." Zuga mengecup bibir yang setengah terbuka.
"Love you too.."
Zuga tersentak kaget ketika Bidari menjawab. Dadanya bergemuruh tidak karuan ketika mengira Bidari terbangun. Ternyata gadis itu hanya mengigau. Zuga baru merasa tenang. Apakah yang menjawab mesin Bio nya, pikir Zuga ingin mencoba lagi.
"Kau adalah jiwaku.." ucap Zuga mengecup bibir Bidari lagi.
Gadis itu belum menjawab, Zuga merasa kecupannya kurang afdol dan ia mengulanginya lagi.
"Love you beb..."
"PLAAKKK..."
"Wadaww..." Zuga kaget ketika pipinya ditampar Bidari.
****
thrrr jngan lupa ea bidari