Puella Beradette Giorgio ingin memenuhi permintaan terakhir mommynya yaitu melihatnya menikah dan bahagia bersama orang yang dicintai. Dia meminta sang kekasih, Orsino Giatrakos untuk mulai merencanakan pernikahan karena mereka saling cinta.
Namun, sama-sama suka saja tidak cukup membuat hidup keduanya bahagia. Orang tua Orsino tidak menyukai Puella karena memiliki keterbatasan yang tidak sempurna, dan hal itu menjadi alasan untuk membencinya hingga berusaha memisahkan dua manusia yang saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NuKha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Puella menggenggam erat tangan sang Mommy. Tiba-tiba saja kondisi orang tuanya menurun dan sempat butuh perawatan dari dokter. Jadi, kini ia sedang berada di rumah sakit. Bunyi suara alat-alat kesehatan yang mendeteksi detak jantung itu terdengar sangat mengerikan di telinga.
“Mom pasti kuat, bertahan, ya?” harap Puella seraya mengecup punggung tangan yang keriput dan lemah.
Pintu tiba-tiba terbuka dari luar, memunculkan sosok Orsino yang berpakaian kusut. Dua kancing kemeja bagian atas sudah terbuka, menandakan kalau seharian penuh waktu dihabiskan untuk aktivitas di luar.
“Maaf, baru sempat menjenguk, sedang banyak pekerjaan,” ucap Orsino. Ia tutup pelan pintu, lalu mendekati sang kekasih. Mengusap punggung Puella untuk menyalurkan kekuatan. “Bagaimana kondisi mommymu?”
“Sudah lebih baik dari kemarin,” jawab Puella. Sedikit mendongak dan mendapatkan tatapan mata sang pria yang nampak lelah. Entah apa yang dilakukan oleh Orsino sampai kantung mata begitu jelas terlihat. Biasanya tidak. “Terima kasih sudah datang ke sini.”
Orsino hanya menanggapi dengan tersenyum dan usapan di puncak kepala Puella. Pandangan mata ikut tak tega menyaksikan kondisi wanita paruh baya yang kini tidak berdaya. Dia tahu penyakit orang tua kekasihnya, selain stroke, ginjal hanya satu dan mulai tidak berfungsi normal, juga ada komplikasi.
“Ors, bisa kita bicara?” pinta Marvel, daddynya Puella.
Orsino mengangguk menyanggupi. “Sebentar, ya?” Setelah pamit pada kekasih, ia jalan keluar mengikuti Marvel.
Keduanya berdiri di depan ruang rawat yang kini sedang ditutup rapat pintunya. Pandangan Marvel tegas tapi bercampur oleh sedih dan khawatir.
“Apa kau mencintai putriku?” tanya Marvel.
“Ya.”
“Berniat hidup bersama Puella?”
“Ada.”
“Menikahinya?”
“Aku juga sangat mau melakukan itu.”
“Lantas, kenapa sampai sekarang kalian belum menikah juga?” Marvel sangat risau karena setiap hari istrinya selalu membahas tentang keinginan terakhir. Ia takut tidak bisa mewujudkan sebelum tutup usia.
“Ada sedikit kendala. Tapi, segera akan ku selesaikan,” jelas Orsino. Dia dan Puella masih berusaha mendapatkan restu dari Melly. Keduanya benar-benar menghargai orang tua. Lebih tepatnya Puella yang membuatnya seperti itu.
Marvel menepuk pundak Orsino dan sedikit memijat. “Satu minggu lagi, bisa? Atau kalau boleh secepatnya.”
Asal mengangguk saja Orsino. “Iya, aku akan bicarakan dengan Puella.”
Perbincangan dua pria itu hanya sampai di sana. Kembali masuk dan ternyata Deavenny sudah bangun.
“Pu?” panggil Deavenny sangat lirih. Suaranya bahkan teredam oleh masker oksigen. Pandangan menatap sang putri, lalu beralih pada sosok yang ia pikir akan menjadi menantu. “Ors?”
“Ya?” Kedua orang itu menjawab bersamaan.
“Jika permintaanku terlalu berat untuk kalian. Tidak masalah. Tak perlu merasa terbebani. Asal berjanjilah kalau kalian akan saling menjaga. Setidaknya aku bisa pulang dengan tenang jika sudah memastikan putriku satu-satunya ada yang mengasihi sepanjang hidupnya.” Deavenny mengakhiri dengan senyuman samar. Berbicara sepanjang itu membuat ia harus mengambil oksigen banyak.
Puella semakin erat menggenggam tangan sang Mommy. Ia kecup berkali-kali. Lalu merilik ke arah kekasihnya. Ternyata Orsino sedang memejamkan mata dan tak tahu apa isi pikiran pria itu.
“Bertahanlah, satu minggu lagi kami akan menikah. Kau harus menjadi saksi bersatunya kami berdua,” ucap Orsino, menepuk pelan lengan yang terbujur lemas.
Meski sedikit terkejut dengan jawaban itu, tapi Puella mengangguk saja. “Ya, Badan Kependudukan sedang penuh. Jadi, harus antri.” Padahal masalahnya hanya pada orang tua Orsino yang tidak menyukai dirinya.
Maaf, aku harus berbohong karena tidak mau membuat kalian kepikiran. Puella berdialog dalam hati. Sejak kecil, dia memang sudah sering membohongi keluarga. Bukan dalam hal negatif. Tapi, lebih cenderung menutupi segala sesuatu yang terjadi, hanya karena tak ingin membuat orang-orang disekitar menjadi sedih dengan kondisinya yang istimewa sejak lahir.