NovelToon NovelToon
Kedai Kopi Berondong

Kedai Kopi Berondong

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:18.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jibril Ibrahim

Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan!

Ketika seorang wanita dihadapkan pada dua pilihan, satu pria dewasa yang menolak tua dan satunya lagi pria muda yang sok dewasa…

Mana yang akan dipilih?

"Meskipun tuaan elu, kan belum tentu matinya duluan elu!" kata pria yang lebih muda.

Aku memilih pria yang lebih tua!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jibril Ibrahim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Menuju Sukses Dipenuhi Banyak Tempat Parkir Yang Menggoda

Aku baru menyelesaikan satu putaran---ngamen keliling ketika aku melewati kafe tongkrongan anak muda yang menyajikan live akustik di berandanya.

Grup band yang terikat kontrak di kafe itu adalah teman-temanku yang dulunya juga mengamen keliling sepertiku.

Jadi, begitu mereka melihatku, mereka melambai-lambaikan tangannya padaku, mengisyaratkan supaya aku bergabung dengan mereka.

Terkadang aku memang membantu mereka untuk sekadar mengisi satu-dua lagu. Hanya jika mood-ku sedang bagus atau kantong saweranku sudah terisi penuh.

Tidak, untuk malam ini!

Aku mengacungkan ibu jariku sambil tersenyum lebar, mengisyaratkan mereka untuk melanjutkan.

Dan ketika aku hendak berbalik…

BRUK!

Wajahku membentur dada seseorang.

"So—sori!" aku tergagap-gagap sambil buru-buru menarik wajahku menjauh, kemudian mendongak untuk melihat wajah orang yang kutabrak tadi.

Seraut wajah lancip berbingkai rambut lurus sebahu merunduk ke arahku, beberapa inci di atas kepalaku, sepasang mata rubahnya menatap ke dalam mataku dengan serius.

"Rere!" aku terpekik pelan. Raut wajahnya yang serius membuatku sedikit gugup.

Tapi hanya sesaat. Rere mengerjap tak kalah gugup, kemudian memalingkan wajahnya ke arah kafe yang di dalamnya ada live musik akustik.

Wajah tengilnya kembali muncul!

Ia merunduk menatapku sekali lagi, "Kenapa lu gak ngamen kek gitu aja sih, Kak? Kan lebih elegan," cerocosnya dengan gaya tengilnya yang sok imut.

Aku spontan mengerang dan memutar-mutar bola mataku, "Lu kira gampang ngajuin kerja sama ke pihak kafe di sini?"

Rere menoleh sekali lagi ke arah kafe, kemudian kembali menatapku dengan dahi berkerut-kerut.

"Dah, ah! Gua mau lanjut ngamen!" pungkasku, buru-buru pergi.

Rere tergagap dan terperangah, wajahnya bergulir mengikuti gerakanku. Tapi lalu membeku dengan ekspresi hampa.

Aku melanjutkan aktivitasku mengais pundi-pundi rupiah dari lapak ke lapak, sementara Rere entah ke mana.

Malam itu, semua lapak pedagang rata-rata sepi.

Satu-satunya yang ramai oleh pengunjung hanya Kedai AyamKu yang di pintu masuknya terpampang peringatan: PENGAMEN DILARANG MASUK!

Seketika aku teringat perkataan Rere.

"Kan cuma dilarang masuk, bukan dilarang nyanyi!"

Melihat semua peluang seakan tertutup di depan mataku, kupikir sebaiknya aku nekat saja.

Berbekal motivasi konyol yang kudapat dari Rere, aku memutuskan untuk menaklukkan tantangan ini.

Jadi tanpa pikir panjang aku pun mendekati beranda kedai itu dan mulai bercuap-cuap. "Selamat malam, Semuanya! Izinkan saya menemani acara makan malamnya!"

Pemilik kedai mengerling ke arahku dengan tatapan risih, kemudian menoleh pada salah satu karyawannya, membungkuk dan mengatakan sesuatu.

Tak lama kemudian, karyawan itu bergegas menghampiriku dan mengulurkan sekeping uang logam pecahan lima ratus rupiah. "Maaf, Kak! Pengamen gak boleh masuk," katanya sambil menunjuk tulisan di pintu masuk dengan ibu jarinya melewati bahu.

"Gua mau nyanyi! Bukan mau masuk!" sergahku, mengabaikan peringatannya.

Beberapa pengunjung menoleh pada kami dengan dahi berkerut-kerut.

Pramusaji itu menoleh ke belakang, menatap nyonyanya dengan ekspresi tak berdaya.

Aku sudah melantunkan lagu pembuka yang secara otomatis membuat sebagian besar pengunjung berpaling ke arahku.

Pemilik kedai itu akhirnya bergegas menghampiriku dengan tak sabar.

Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun tiba-tiba mengangkat sebelah tangannya ke arah pemilik kedai itu.

Pemilk kedai itu langsung terdiam.

"Lanjut!" instruksi pengunjung tadi sambil menggerak-gerakkan tangannya mengisyaratkan supaya aku terus bernyanyi.

Anak dan istrinya bertepuk tangan mengikuti irama musikku.

Pemilik kedai dan karyawannya mengerjap dengan gelisah, kemudian bertukar pandang. Lalu berbalik dan menyerah.

Beberapa pengunjung menyuruh anak-anak mereka untuk menaruh uang ke dalam kotak apresiasi yang kugantung di kepala gitarku, kemudian yang lain mengikutinya.

Perasaan hangat menyelinap dalam hatiku.

Sulit dipercaya, candaan berondong tengil itu bisa memotivasiku sebesar ini!

Pemilik kedai itu mendesah dengan raut wajah tak berdaya, kemudian melanjutkan pekerjaannya.

Aku melirik ke arah kedai kopi di samping kedai ayam bakar itu dengan tatapan haru.

Rere melongok dari pintu masuk sembari mengulum senyumnya.

Aku mencoba memaksakan senyum di antara nyanyianku. Tapi entah kenapa rasanya aku ingin menangis.

Aku mengalihkan pandanganku ke teras Kedai Kopi Berondong itu dan terkesiap.

Pria tampan mirip opa-opa Korea dalam mobil mewah yang waktu itu hampir menabrakku sedang duduk di sana, sementara teman Rere membungkuk di depannya menaruh secangkir kopi di meja.

Lalu secara tiba-tiba dan tanpa peringatan, jantungku berdebar-debar.

Sekarang aku tahu aku tak bisa berpura-pura lagi. Aku menginginkan pria itu dengan cara yang tak pernah kurasakan pada pria lain. Terpikat oleh daya tarik sensual terbesar yang pernah kurasakan, terhanyut oleh tatapan sepasang mata yang mengandung magnet, tersengat oleh paras memikat yang menjadi kriteria pria idamanku sejak usia puber, terbakar oleh gairahku sendiri, terhanyut oleh angan-angan yang tidak terkendali.

Aku tak pernah begitu menginginkan pria seperti saat ini. Gairah ini tak pernah kurasakan.

Aku pasti sudah gila! pikirku tak peduli.

Ini adalah hal paling gila yang pernah kurasakan seumur hidupku. Seolah-olah seorang wanita genit telah mengambil alih tubuhku.

Mengikuti naluri wanitaku, aku akhirnya menyerah pada angan-anganku dan membiarkan kedua kakiku membawaku mendekat ke teras kedai kopi itu.

Mencapai trotoar, pria itu menoleh dan menatapku. Sebelah alisnya terangkat tinggi.

Situasi itu menyadarkanku sepenuhnya, menarik anganku dari awang-awang dan menghadapkanku kembali pada kenyataan.

Seketika aku tergagap. Bisa kurasakan wajahku berubah merah, mungkin juga keunguan. Untuk sesaat, aku benar-benar tak tahu apa yang harus dilakukan.

Pada saat itulah aku melirik ke arah Rere. Pemuda tengil itu sekarang sedang merunduk di depan mesin racik kopinya. Ia balas melirik sambil mengulum senyumnya.

Untuk pertama kalinya sejak aku bertemu berondong itu, aku merasa gembira melihat senyuman konyolnya yang kekanak-kanakan. Tanpa sadar balas tersenyum.

Menutupi rasa gugupku, aku akhirnya memutuskan untuk bernyanyi barang satu-dua lagu.

Ada sekitar dua-tiga pengunjung di beranda yang biasanya membuatku lebih memilih menyisi dan merelakan kesempatan untuk mengais pundi rupiah yang—aku yakin---hasilnya tidak seberapa sementara aku harus bernyanyi dua sampai tiga lagu.

Sebenarnya lumayan untuk pengamen lain yang bisa menyelinap ke tiap meja untuk meminta uang saweran, kemudian pergi begitu saja setelah menerimanya tanpa harus repot-repot menyelesaikan lagu mereka.

Aku tidak seperti itu.

Aku tak bisa menyelinap ke tiap meja untuk meminta saweran sambil bernyanyi seperti yang lain.

Entah kenapa cara seperti itu terasa seperti benar-benar mengemis bagiku.

Aku lebih suka diam di satu tempat yang tidak menggangu jalan semua orang yang keluar-masuk lapak pedagang atau yang berseliweran di sepanjang trotoar, bernyanyi sebanyak-banyaknya sampai orang-orang sendiri yang menghampiriku dan menaruh uang di tempat yang khusus kusediakan untuk uang saweran.

Dengan begitu, selain tidak menggangu khalayak, uang yang kuterima juga tidak terasa seperti hasil mengemis atau menodong.

Selesai dua lagu, aku bercuap-cuap sebentar sambil menunggu barangkali ada pengunjung yang ingin memberi uang.

Ternyata tidak!

Aku pun berbalik dan berlalu dari beranda Coffe Shop itu, kemudian menyisi ke gang samping, tak mau repot-repot masuk ke dalam untuk meminta uang seperti kebiasaan pengamen lain.

1
Vlink Bataragunadi 👑
ih makasih ya thor, ceritanya simple,sangat membumi tp tetap menarik ♡
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Makasih apresiasinya, Kak!
total 1 replies
Vlink Bataragunadi 👑
tuh kaaan sudah kudugong....
Vlink Bataragunadi 👑
ih baik2 ya orang nyaaa, jadi terharu....
Vlink Bataragunadi 👑
astagaaaaaa edaaaan si Nathaaan bangkeeeeeeee
Vlink Bataragunadi 👑
aduh Galang lu ditipu habis2an kah?
Vlink Bataragunadi 👑
what?!!! dih! bangun Galatia lo cm dimanfaatin doaang eleeh
Vlink Bataragunadi 👑
laaah jangan2 di cuma numpang makan doang >_<
Vlink Bataragunadi 👑
wkwkwk sa ae lu knalpot Damri
Vlink Bataragunadi 👑
makjlebbbbb ≧∇≦
Vlink Bataragunadi 👑
lg musim ama brondong skrg mah wkwkwk
Vlink Bataragunadi 👑
nah loooo,,, cemburu tuh
Vlink Bataragunadi 👑
awas perangkap syaiton, galang ^o^
Vlink Bataragunadi 👑
kurang apaaa coba dia Galatiaaa ♡(∩o∩)♡
Vlink Bataragunadi 👑
acie cieeee ni berondong meresahkaaan wkwkwwk
Vlink Bataragunadi 👑
kynya ini Rere deh...
ArlettaByanca
simple....tp asiik
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: makasih apresiasinya, Kak!
total 1 replies
kiri_kanan
ceritanya seru cm sayang kependekan😁😁
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Terima kasih atas apresiasinya, Kak!
total 1 replies
NA_SaRi
Ji, gw pen baca ini, tp blm sempat🤧
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
CERITANYA BAGUS,, SAYANG PART NYA PENDEK, BUAT TU RERE NIKAH DGN GALATIA, DN BUAT SI NATHAN DITANGKAP .
༄ᴳᵃცʳ𝔦εᒪ࿐: Makasih, Kak... apresiasinya.
Waktu ongoing, novel ini gak ada yang baca. Jadi gak semangat nulisnya... 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!