TYPO BERTEBARAN DIMANA-MANA
BAB 1-95
Niat awal Zia hanya ingin belajar dengan rajin untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang guru dengan melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi karena ia mendapatkan beasiswa, tapi sebelum Zia lulus kuliah, ia justru mendapatkan sebuah proposal ta'aruf dari seorang pria yang tak ia kenal.
Bagaimana kisah Zia selanjutnya? Apakah Zia akan menerima ta'aruf dari pria tersebut atau Zia akan menolaknya dan mengejar cita-citanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah Kelompok
"Tapi kan kamu ada minum," ucap Zia.
"Banyak bacot lo, tinggal ambilin aja apa susahnya sih udah sana ambilin gue haus tau," ucap Kiki dan mendorong Zia.
Lalu Zia pun beranjak untuk mengambilkannya di panitia, "Maaf Kak, saya mau ambil minum boleh?" tanya Zia.
"Oh iya berapa?" tanya Lira.
"4 kak" ucap Zia lalu Lira pun mengambilkan minuman tersebut dan memberikannya pada Zia.
Zia pun kembali ke tempat duduknya dan memberikan minuman tersebut ke kelompoknya, "Makasih ya Zi, tapi lain kali lo gak usah kayak gitu kan kita semua masih punya tangan dan kaki buat ngambil," sindir Ana.
"Gapapa kok Na, mumpung aku tadi juga haus," ucap Zia.
"Yaudah kalau gitu sekarang kita udah bagi bahan-bahannya gimana kalau sekarang kita perkenalan diri gitu biar semakin akrab nanti pas masa orientasi," ucap Bobby.
"Boleh tuh By," ucap Ana.
"Oke dari siapa dulu nih?" tanya Bobby.
"Dari lo dulu By, kan lo pemimpin kita asik pemimpin Kebagusan By, gue ganti aja jadi ketua suku hahaha," ucap Ana.
"Makasih ya Na, atas pujiannya yang indah itu," ucap Bobby.
"Sama-sama Bobby," ucap Ana.
"Oke jadi gue langsung aja ya, nama gue Putra Bobby tapi lo pada bisa panggil gue Bobby, gue SMA nya di negara C hobi gue main basket, nge game udah sih itu aja ada yang di tanyakan?" tanya Bobby.
"Gak By, cukup. Gue gak tertarik sama perkenalan lo, sekarang kita ke Zia aja gimana," ucap anak.
"Hah aku," ucap Zia yang terkejut.
"Iya lo, Zia gimana?" tanya Ana dan diangguki Zia.
"Hem kenalin namaku...," ucapan Zia terhenti karena Kiki.
"Gak tertarik gue sama perkenalan lo tau, gak usah sok-sokan mau kuliah di kampus terbaik gak pantes, lo tau kata gak level gak sih di kampus ini cuma anak orang kaya lah lo gue tebak lo pasti anak beasiswa," ucap Kiki.
"Ki, lo apa-apaan sih gak usah sampai kayak gitu deh," ucap Bobby.
"Kenapa lo belain dia sih By, temen lo itu gue bukan dia lagian lo pasti cuma kasihan ya sama dia karena gak punya temen heh," ucap Kiki.
"Kata siapa Zia gak punya temen Ki, gue temennya," ucap Ana.
"Lo mau temenan sama dia, woi ngaca Na. Lo itu anak seorang jaksa gak cocok sama anak gembel, eh lo anak siapa petani atau budak hahaha," ejek Kiki dan tertawa.
Sedangkan, Zia hanya mencoba bersabar dari tadi saat Kiki menatapnya jijik, namun saat Kiki mengejek kedua orangtuanya Zia tidak bisa menahan emosinya.
"Aku gak masalah kamu mau menghina aku Ki, tapi kalau kamu mau menghina kedua orangtuaku, maaf aku gak bisa nahan emosiku dan kalau kamu nanya aku anak beasiswa atau bukan. Ya, aku memang anak beasiswa, tapi aku bangga karena aku bisa masuk ke kampus terbaik dengan usahaku sendiri, dimana sebelumnya aku diterima dengan beberapa kali tes. Belum tentu anak orang kaya bisa masuk ke kampus terbaik dan lolos tes karena usahanya sendiri bukan," ucap Zia.
"Apa lo bilang!!" teriak Kiki dengan menggebrak meja yang membuat semua orang disana melihat ke arah mereka.
"Ada apa ini kok kamu teriak kayak gitu?" tanya Lira.
"Kak, saya mau pindah kelompok saya gak mau satu kelompok sama parasit," ucap Kiki.
"Gak bisa, saya gak akan izinkan," ucap Lira.
"Biarin aja Ra, asalkan ada yang mau gantiin Kiki silahkan kamu pindah," ucap Iqbal.
"Saya kak saya mau pindah," ucap Litha dengan mengangkat tangannya.
"Oke kalau gitu Kiki kamu tukeran sama Litha," ucap Iqbal.
Kiki pun beranjak dari tempat duduknya, namun sebelum itu ia berbisik ke Zia, "Lo tau di dunia ini otak kalah sama uang," bisik Kiki lalu pergi menuju tempat duduk Litha begitupun sebaliknya Litha menuju ke tempat duduk Kiki.
Disisi lain, Iqbal yang melihat Kiki membisikkan sesuatu ke Zia penasaran lantaran raut wajah Zia yang tidak bisa di tebak, 'Kiki bisikin apa kok wajah Zia gak bisa ditebak gitu ya?' tanya Iqbal dalam hati.
"Halo semuanya kenalin namaku Litha," sapa Litha.
"Halo juga Tha, kenalin nama gue Ana," ucap Ana.
"Ana," ucap Litha dan diangguki Ana.
"Oh kenalin kalo gue Bobby," ucap Bobby dan diangguki Litha.
"Ini berarti pakai lo-gue gapapa ya," ucap Litha.
"Gapapa dong Tha," ucap Bobby.
"Oh iya Tha, kenalin ini Zia," ucap Ana.
"Gue tau kok kan gue kenalannya sama Zia dulu tadi," ucap Litha.
"Oh btw Bobby ini ketua suku kita jadi nanti lo kalau mau tanya apa-apa ke panitia bisa lewat Bobby aja terus nanti lo juga bawa bahan-bahannya yang di bawa Kiki ya ini daftarnya," ucap Ana sambil memberikan kertas.
"Kok kosongan Tha?" tanya Litha.
"Iya kan Kiki gak bawa apa-apa," ucap Bobby.
Ya, sebenarnya Kiki akan membawa kardus, tapi tiba-tiba tidak jadi karena terlalu ribet dan mengatakan jika ia hanya akan memberikan uang pada Bobby dan Bobby yang akan membelinya.
"Hah, lah terus gue bawa apa dong?" tanya Litha.
"Gini aja gimana kalau lo bawa bekal kelompok, kan nanti waktu masa orientasi di suruh bawa bekal yang udah ditentuin jadi nanti biar samaan gitu gimana?" tanya Bobby.
"Boleh juga, kalau gitu gue bawa bekalnya aja nanti," ucap Litha.
Acara pun terus berlanjut hingga sore, "Oke, jadi untuk persiapan masa orientasi hanya itu saja dari panitia, kalian bisa kembali ke rumah masing-masing dan sampai jumpa 2 hari ke depan pada masa orientasi," ucap Iqbal yang mengakhiri acara tersebut.
Selesai acara, Zia sendiri pun pulang, namun di tengah perjalanan ia bertemu dengan Kiki dan kawan-kawan, "Eh ini anak yang tadi bilang kayak sok bener tadi ya," ucap Kiki yang berada di mobilnya, namun Zia tetap berjalan menuju gerbang tanpa menghiraukan Kiki dan kawan-kawan.
"Woi budeg lo gak denger gue ngomong apa," ucap Kiki yang mulai emosi.
"Zia," panggil Hani lalu Zia pun menoleh ke arah Hami yang berada di mobilnya.
"Mbak Hani," ucap Zia.
"Mau pulang ya kamu," ucap Hani.
"Iya Mbak, kenapa emangnya Mbak?" tanya Zia.
"Mau bareng gak mumpung aku juga mau ke kos," ucap Hani.
"Hem gak usah deh Mbak, Zia masih bisa jalan kok lagian kan kos gak terlalu jauh," ucap Zia.
"Ya gapapa Zi, lumayan biar kamu gak capek gimana?" tanya Hani.
"Woi budeg! gue dari tadi ngajak lo ngomong tau gak," ucap Kiki dan Hani pun melihat ke arah Kiki yang berada di dalam mobil.
"Siapa Zi?" tanya Hani.
"Yaudah deh Mbak, Zia ikut mbak aja," ucap Zia lalu masuk ke dalam mobil Hani.
"Tadi siapa Zi?" tanya Hani.
"Oh itu tadi temen Zia Mbak, dia satu fakultas sama Zia," ucap Zia.
"Terus kenapa tadi kamu gak jawab dia dan dia juga ngomong agak kasar gitu?" tanya Hani.
"Zia juga gak tau Mbak dari tadi dia kayak gak suka gitu ngeliat Zia, bawaannya marah terus," ucap Zia.
"Yaudah kalau gitu kamu masuk dulu deh pasti kamu capek ya bahas masalah orientasi kamu hehehe," ucap Hani saat mereka sudah sampai di depan kos.
"Iya Mbak, Zia masuk dulu ya," ucap Zia lalu masuk kedalam kos.
'Dasar Zia masa gak paham sih kalau orang tadi itu iri sama kecantikannya, gue aja iri banget tiap ngeliat Zia,' ucap Hani dalam hati.
.
.
.
Tbc.