Pagi yang cerah dengan jalanan ibu kota yang padat dengan kendaraan. Terdapat satu keluarga dengan seorang anak gadis yang sangat cantik.
Kehidupan mereka sangat bahagia sampai akhirnya ada satu kejadian yang di harus kan ayah dari gadis itu di penjara.
Setiap hari gadis itu mendapatkan bully di sekolah karena ayah nya yang berada di dalam penjara. Sampai akhirnya dia bertemu salah satu pria yang menemani dia saat semua orang menghinanya.
Pria itu sangat baik, tetapi dari kebaikan nya itu ada maksud tersendiri, sampai akhirnya gadis itu mengetahui apa maksud pria itu mendekati nya.
Sampai pada suatu hari ayah dari gadis itu akhir nya bebas dari tuntutan yang membuat gadis itu sangat senang, tetapi kesenangan itu tidak berlangsung lama gadis itu harus menuruti perkataan orang tuanya.
Dia harus menikah dengan seorang pria yang sudah di tentukan oleh orang tua nya, pria itu ternyata satu sekolah dengan dia dan bisa di bilang musuh nya sejak awal masuk sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Astaga, Dira menutup mulutnya dengan kedua tangannya, jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar reporter itu. Dia segera masuk ke dalam rumahnya. Di depan matanya melihat Rasyid, ayahnya di borgol dan di iringi masuk ke dalam mobil polisi dan sempat menatapnya dengan sorot mata sedih.
“Pa?” Dia memanggil ayahnya, Rasyid meminta waktu kepada polisi untuk mengobrol dengan putrinya.
“Adira sayang maafin papah ya, papah mohon sama kamu tolong jagain mamah kamu harus kuat ya.”
“papah kenapa ngelakuin hal kayak gini pa.”
“Adira kamu harus percaya sama papah, papah engga mungkin ngelakuin hal kayak gitu papah di jebak nak, ada yang menaruh ganja itu di tas papah, kamu tenang aja ya nak papah engga akan lama di penjara papah akan cari siapa yang tega melakukan hal ini ke papah.”
“Adira sayang papah, Adira akan bantu papah siapa yang sudah melakukan hal ini ke papah.”
“Papah titip mamah ke kamu ya nak, jagain mamah selama papah engga ada di samping kalian, papah janji akan balik lagi ke rumah ini dan selamanya akan sama anak dan istri papah yang paling papah sayang.”
“Iya pah, papah jaga kesehatan ya.”
Waktu mengobrol yang di berikan polisi sudah habis, Adira menangis melihat papahnya di tangkap polisi, dia yakin bahwa papah nya tidak mungkin melakukan hal seperti itu, dia akan mencari tahu siapa yang tega menuduh ayahnya.
Kaki Adira gemetar, dia menuju ke tempat ibunya yang berdiri di pintu dengan wajah pucat dan air mata yang terus mengalir di wajahnya. Apakah ini hanya mimpi, apakah dia hanya sedang berhalusinasi? Kalau memang iya, ini adalah mimpi terburuk sepanjang hidupnya.
...****************...
“Selamat pagi pemirsa, kelanjutan dari kasus narkoba yang di lakukan oleh bapak Rasyid Adriansyah terus berjalan. Hari ini polisi telah meningkatkan status pemeriksaan dan menetapkan sebagai tersangka. Rasyid Adriansyah di sangkakan jeratan hukum yang dapat dikenakan atau diterapkan bagi pemakai atau pecandu narkoba dalam Pasal 127 UU Nomor 35 Tahun 2009. Dengan masa hukuman empat tahun penjara.”
Adira segera mematikan televisi yang baru saja di hidupkannya untuk sekedar mencari tahu berita yang berkembang. Dia mengerjapkan kelopak mata, cahaya matahari yang menyelinap masuk melalui ventilasi jendela kamar memaksanya untuk bangun. Gadis itu duduk di atas tempat tidur yang sangat berantakan, baju kemana-mana hampir seluruh pakaian nya keluar. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, berharap bahwa yang terjadi hanyalah mimpi.
Seminggu berlalu sejak ayahnya di tangkap dan di dakwa telah melakukan narkoba, selama itu pun dia tidak keluar rumah apalagi untuk sekolah mengaktifkan ponsel saja tidak dan tidak mengecek sosial medianya karena dia tahu pasti teman-temannya pada ngomongin ayahnya.
Dia hanya berguling di tempat tidurnya sesekali asisten rumah tangganya mengantar makanan ke kamarnya. Sementara ibunya, entah apa yang perempuan itu lakukan Adira tidak tahu. Gadis itu bangkit dati tempat tidurnya menginjak marmer yang terasa sangat dingin. Dia keluar dari kamar, lalu berjalan menuju lantai bawah. Ada ibunya, Wulan, duduk di kursi dengan pandangan kosong. Adira menghampiri ibunya.
“Mah, mamah udah makan belum?” Ibunya tidak menjawab pertanyaan nya. Dia duduk di samping ibunya lalu memeluk ibunya dengan pelukan yang sangat hangat.
“Mah, mamah tenang aja ya, aku bakal cari tahu siapa yang tega memfitnah papah,” menatap ibunya yang masih saja melamun dengan tatapan kosong. Lalu asisten rumah tangganya membawakan minum untuk Wulan dan Adira.
“Mamah minum dulu ya,” memberikan teh hangat kepada ibunya.
“Mamah mau ke kamar aja nak, kepala mamah pusing mau tiduran” Adira pun menatah mamahnya menuju kamar.
Berita tertangkapnya ayah Dira tidak hanya menggemparkan tetangga tetapi juga menggemparkan sekolah. Meski sudah seminggu dia tidak masuk sekolah, sejak ayahnya tertangkap, Dira dan ayahnya terus menjadi trending topik terhangat di kalangan para siswa.
Tak terkecuali di kelas El. Hampir semua anak yang di kelas itu membicarakan Adira dan ayahnya. Lalu, muncul lah asumsi-asumsi pribadi, termasuk men-judge dinda.
Sementara teman-temannya sedang asik bergunjing, El justru asik tertidur di mejanya. Dia juga sudah mendengar berita tentang Adira, tapi dia tidak terlalu peduli.
Brandan dan Aldi yang duduk di belakang meja El sibuk memastikan apakah cowok ini beneran sudah tertidur apa belum, karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
“Masih pagi udah tidur aja loe.” Aldi duduk di meja El. “Itulah efek keseringan main di diskotik.”
“Halah belagu, kayak loe enggak aja.”
“Anak muda wajar main di diskotik beda lagi kalau sudah tua pasti mainnya ke apotik,” samber Brandan dari belakang.
Aldi tidak mendengarkan Brandan, dia kembali mendekatkan tubuhnya ke El. “Loe mau denger berita terbaru enggak?”
“Apa berita tentang Arini?”
Aldi mendengus. “Arini aja terus...”
“Ya gimana, abis dia lucu sih, sampai selalu ada di pikiran gue terus.”
“Najis gue El sama loe.” Sambil memukul meja.
“Karma itu, karena sering mainin hati cewek, sekarang mulai kena batunya jadi suka beneran, tapi cowok macam loe gini mana bikin si Arini takluk”
“Kalau gue bisa dapetin dia, gue dapet apa?”
Aldi tertawa dia tahu bahwa El bisa mendapatkan gadis mana pun yang dia inginkan. Gadis-gadis memang gampang takluk pada cowok yang perhatian macam El. “Loe tau kan El, kalau Zahra naksir loe, dia lumayan loh cantik juga.”
Bukan lagi rahasia kalau Zahra naksir berat dengan El sejak MOS. Gara-gara waktu MOS semua anak kelas sepuluh di jemur di tengah lapangan sama osis. Pada saat itu Zahra hampir pingsan dan benar saja gadis itu hampir jatuh kalau saja El yang berdiri di sebelahnya tidak melakukan gerakan refleks dengan menangkap Zahra agar tidak jatuh.
Menyangganya supaya tidak jatuh di lapangan. Dengan sigap cowok itu langsung mengangkat Zahra ke UKS. Sebuah pengalaman mendebarkan dan tidak akan pernah di lupakan oleh Zahra seumur hidupnya.
Semua cewek yang di depan Zahra langsung menengok ke arahnya dan kejadian itu menjadi perbincangan heboh. Mereka menganggap perlakuan El itu gentelman. Persis seperti melihat cowok drama Korea waktu lagi melakukan adegan romantis. Dengan wajah yang tidak kalah ganteng dengan aktor-aktor yang ada di Korea yang membedakan hanya warna kulitnya saja. Kulit El cenderung warna cokelat dan postur tubuhnya tidak sekurus aktor di Korea.
Memang dasarnya Zahra mudah baper, dia langsung jatuh hati kepada El dan terus menerus mengingat wajah El. Kalau istirahat dia suka ketahuan sedang curi-curi pandang waktu sedang melewati kelas cowok itu.
akhir nya setelah lama menunggu Dira sadar juga.