Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6
Kinanti yang baru tersadar kalau Amar tidak terlihat di sana. Kinanti mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan restoran.
"Abang kok nggak ada. Apa mungkin di dalam toilet?" Hati Kinanti menjadi tak tenang.
"Sasa, mama ke toilet dulu, cari Abang," ucap Kinanti.
"Iya, ma."
Kinanti segera melangkah ke arah toilet dan membuka pintu toilet.
Kosong. Tidak ada Amar di sana.
"Amar pergi kemana sih." Seketika rasa cemas melingkupi hatinya. Kinanti mencoba melangkah ke luar, dan betapa terkejutnya ia melihat Amar berada di restoran sebelah.
"Ngapain Abang ada di sana?"
Sebelum ke restoran itu, Kinanti terlebih dulu mengajak Sasa, lalu dengan langkah cepat Kinanti melangkah ke restoran tersebut.
Kinanti menghampiri Amar yang masih terdiam di sana. "Abang, ngapain di sini?" Tanya Kinanti.
"Oh, jadi anda ibunya anak ini?" Ucap sang pramusaji.
"Iya, memangnya kenapa dengan anak saya?"
"Tuh lihat." Tunjuk nya ke arah lantai. "Gara-gara anak anda, makanan dan minumannya tumpah."
Kinanti melongo mendengarnya, lalu Kinanti menatap wajah Amar yang tertunduk diam.
"Apa benar yang di katakan kakak ini?" Tanya Kinanti. Lalu Amar mengangguk, membenarkannya.
Kinanti menghembuskan napas panjang.
"Mba, saya minta maaf atas kesalahan anak saya," ucap Kinanti.
"Jangan hanya minta maaf, tapi anda harus ganti rugi ini semua."
"Iya, saya akan ganti rugi. Berapa semua yang harus saya ganti."
"Tujuh puluh delapan ribu," jawab sang pramusaji.
Kinanti merogoh dompet nya dan mengeluarkan uang seratus ribuan.
"Ini, mba." Kinanti menyerahkan uang tersebut.
Pelayan itu mengambilnya dengan wajah kesal, lalu melangkah ke arah kasir.
"Amar, ngapain ke restoran ini?" Ucap Kinanti.
Kinanti menahan rasa marahnya. Ia ingin tahu dulu kenapa Amar sampai berada di restoran ini. Pasti ada sesuatu, sehingga Amar ada di sini.
"Papa," jawab Amar lirih, sambil melirik Yoga.
Padahal Amar sangat senang bertemu papa nya di sini, tapi ternyata papanya sama sekali tak menghampirinya atau membelanya.
"Papa? Mana?" kata Kinanti.
Amar menunjuk meja yang di tempati Yoga. Dan benar saja, Yoga ada di restoran ini.
Kinanti menelan salivanya saat dirinya bersitatap dengan bola mata Yoga yang begitu tajam menatapnya. Kinanti yakin, setelah ini Yoga pasti akan memarahinya.
"Iya, itu papa," timpal Sasa senang.
Sasa ingin menghampirinya, tapi Kinanti menahannya.
Kinanti menggelengkan kepalanya. "Kita pulang," ucap Kinanti.
"Tapi ma, itu papa," tukas Sasa.
"Papa lagi kerja dan nggak bisa di ganggu. Ayo kita pulang saja." Kinanti mengajak Amar dan Sasa pergi, setelah menerima uang kembalian.
***
Sesuai dugaannya, Yoga pulang dengan wajah penuh emosi. Amar yang sejak tadi duduk sambil membaca buku cerita, tidak berani menatap wajah papanya yang penuh amarah.
"Amar sini kamu!" Ucap Yoga menekan amarahnya.
Amar meletakkan buku ceritanya dan mendekati Yoga.
Amar terus saja menundukkan kepalanya. Rasa takut seketika menyergap hatinya. Kemudian Yoga memukul lengan Amar.
Plaakk.
"Kamu tuh ya, jadi anak nakal banget!" Geram Yoga, yang terus saja memukul Amar.
"Ampun, pa. Sakit...." Rintih Amar sambil menangis. Tapi Yoga tidak memperdulikan tangisan dan rintihan Amar.
"Kamu ingin mempermalukan pap, hah!"
Amar menangis sambil menahan rasa sakit di lengannya.
Sasa yang melihat kakaknya di pukul sama papanya segera berlari mencari Kinanti di belakang rumah.
"Mama, papa mukul Abang," lapor Sasa.
Kinanti yang tengah mengangkat jemuran, terkejut mendengarnya.
"Apa? Abang di pukul?"
Kinanti segera masuk ke dalam rumah dan mendekati Amar yang tengah menangis. Yoga mendengus melihat Kinanti, melindungi Amar.
"Kamu apa-apaan sih, mas! Tega kamu mukul anak sendiri." Kinanti marah.
"Kenapa kamu marah, hah! Bukannya jagain anak di rumah, malah enak-enakan pergi ke mal. Pantesan aja uang yang sering aku kasih cepat habis. Dasar istri nggak becus ngurusin semuanya. Istri nggak berguna!" Yoga benar-benar meluapkan kekesalannya.
"Udah gendut, dekil, boros, jelek." Yoga Merendahkan kekurangan Kinanti, tanpa perasaan.
"Cukup, mas. Sudah cukup kamu menginjak harga diriku. Aku juga capek ngadepin sifat kamu!" Kinanti juga sama lelahnya dengan sikap Yoga yang tak pernah menghargainya sebagai seorang istri.
"Aku dekil, jelek karena kamu tidak pernah memenuhi kebutuhan aku sebagai perempuan. Yang ada di kepala kamu hanya obsesi naik jabatan. Tak pernah sekalipun kamu mengerti perasaan ku dan anak-anak."
Kemudian Kinanti berlalu dari hadapan Yoga dengan perasaan marah.
Apa salah jika istri terlihat dekil dan jelek. Jika Yoga ingin melihat Kinanti cantik, seharusnya Yoga menunjangnya dengan makeup yang lengkap dan pergi ke salon.
Sebagai seorang istri, Kinanti juga butuh refreshing untuk dirinya sendiri. Membahagiakan dirinya sendiri dengan cara mengajak kedua anaknya jalan-jalan. Dengan hal sederhana saja sudah membuat Kinanti senang.
Kinanti juga ingin, diratukan oleh suaminya. Di cintai dan di manja, bukan diperlakukan seperti pembantu. Dan pada akhirnya Kinanti kini berada di titik rasa lelah, lelahnya Seorang Istri yang tak dihargai.
Kinanti memeriksa lengan Amar. Hatinya terasa pedih melihat luka lebam di lengannya Amar. Kinanti tak habis pikir, bisa-bisanya suaminya itu memukul Amar sampai terluka. Dimana letak hati nuraninya.
"Mama ambil salep dulu ya," tukas Kinanti.
"Iya, ma," sahut Amar pelan.
Kinanti mengambil salep dari kotak P3k, lalu Kinanti mengobati luka lebam Amar.
"Ma ... Abang minta maaf. Gara-gara Abang, mama juga ikut kena marah papa," ucap Amar sedih dan pastinya merasa bersalah.
Amar tidak akan menyangka kalau kecerobohannya menabrak seseorang, membuat papanya sangat marah.
"Ini bukan salah Abang. Sudah, nggak usah dipikirkan, nanti juga papa nggak marah lagi."
Selesai mengobati Amar, Kinanti melanjutkan lagi mengangkat jemurannya dan meminta Amar dan Sasa tetap berada di kamar.
***
Setelah menumpahkan kekesalannya, Yoga mendiamkan Kinanti. Ia masih sangat marah. Bahkan untuk menatap saja enggan.
Kinanti tidak memperdulikan aksi diam Yoga. Kinanti hanya akan berbicara seperlunya, selebihnya Kinanti juga diam dan tetap melayani Yoga seperti biasa.
Setelah selesai makan malam, Kinanti dan kedua anaknya memilih masuk ke kamar Sasa. Meninggalkan Yoga yang belum menyelesaikan makannya.
"Ck ... Dasar istri tak tahu diri," umpat Yoga.
"Lihat saja besok. Aku nggak akan lagi kasih uang, biar tahu rasa!" Sambung Yoga geram.
Yoga pun selesai makan dan masuk ke kamar. Ia berniat pergi mencari kesenangan tersendiri, kalau perlu malam ini ia tak perlu pulang.
Kinanti menghela napasnya, saat mendengar suara deru mesin mobil. Hati Kinanti sangatlah sedih dengan sikap suaminya, yang seharusnya menjadi pelindung dan pengayomi keluarga kecilnya.
Kinanti menatap wajah Amar dan Sasa, hanya kedua anaknya lah yang mampu memberikannya kekuatan dan kesabaran.
"Terima kasih sayang, karena kalian selalu ada ada buat mama. Mama janji akan terus membahagiakan kalian, menjaga kalian." Ucap Kinanti di benaknya.