Danisha putri, gadis berusia 25 tahun yang harus bekerja seumur hidupnya untuk membayar hutang pada Boss nya atas apa yang dia lakukan, belum lagi dia adalah seorang single parent untuk seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang dulu tiba-tiba dia temukan didepan kost nya waktu anak itu masih bayi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
"Iya, itu perjanjian kontrak nya, perjanjian kontrak seumur hidup, kamu harus membayar denda sebesar 5M untuk mengganti rugi kepada perusahaan jika kamu berhenti bekerja, kecuali perusahaan yang memecat mu"
Wajah cantik Danish menjadi pucat mendengar ucapan Dika.
"Tapi kapan aku menandatangani nya?" Tanya Danish bingung.
"Kamu ingat menandatangani sesuatu pagi ini?"
Pikiran Danish melayang mengingat tadi pagi di meja resepsionis dia menandatangani sesuatu tanpa dia membacanya.
'jangan-jangan itu, tapi...?'
"Sudah ingat?" Suara Dika menyadarkan Danish dari pikirannya.
"Kamu tidak akan dipecat juga tidak bisa keluar, mau tidak mau kamu harus tetap bekerja di bawah kekuasaan saya"
"Tapi..."
"Tapi apa? Kamu bingung kenapa isi kontrak nya seperti itu? Aku merubahnya sedikit, jadi kau tak perlu khawatir" jawab Dika dengan entengnya.
'tak perlu khawatir katanya? Apa dia sudah tidak punya otak? Aku yakin otaknya dijual buat beli mobil bagus itu' gerutu Danish dalam hati.
"Jadi, jangan banyak melamun, kerjakan apapun yang saya suruh, jangan membantah"
Danish tak menanggapi perkataan Dika, dia segera berlalu dan duduk di meja kerjanya menyiapkan materi untuk meeting yang akan segera dilakukan.
Dika tersenyum puas melihat wajah Danish yang ditekuk karena menahan amarahnya
--------
Dika POV
Hari ini aku sangat senang melihat kemarahan yang tertahan di wajah sekretaris baru ku, dia sangat lucu saat ekspresi wajah nya seperti itu.
Aku tersenyum kecil melihatnya, dia gadis bodoh dan keras kepala, sebenarnya kerusakan yang dia buat pada mobil ku tidak seberapa, tapip entah kenapa aku ingin mempermainkannya, rasanya begitu puas melihat dia marah, itu sangat menggemaskan.
"Pak, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda" panggilan Danish mengagetkan ku.
"Siapa?" Tanyaku datar
"Dia bilang kakak ipar anda namanya nyonya Winda"
"Aku mengerti, biarkan dia masuk"
"Baik"
Beberapa detik kemudian, Danish kembali bersama kak Winda dan juga putrinya Dinda, dia adalah kakak ipar dari kakak ku yang kedua, dia pemilik salah satu Butik terbesar dan terbaik di kota ini.
"Dik, kamu lagi sibuk?" Tanya nya
"Ya gini-gini aja kak, kenapa?"
"Aku nitip Dinda bentar ya, aku ada meeting penting, tadi aku ke rumah mommy tapi beliau sedang keluar" ucapnya.
"Baiklah, tidak masalah"
"Makasih ya Dik"
"Sama-sama kak, sini Dinda sama om Dika"
Gadis kecil berusia 8 tahun menggunakan seragam Sekolah dasar mendekati ku dan duduk di pangkuanku, dia sangat cantik wajahnya lebih mirip dengan ayahnya, siapa lagi kalau bukan kakak ke dua ku, kak Dimas.
"Dinda sudah makan?" Tanyaku
"Belum om, Dinda baru pulang sekolah langsung ke sini, mama buru-buru om" jawab gadis berkepang dua dipangkuan ku.
"Baiklah kita makan dulu yuuk" ajak
"Ayok om, Dinda juga udah laper"jawab keponakan ku dengan penuh semangat.
"Danish, ikut saya"
"Kemana pak?" Tanya nya acuh.
"Makan siang"
"Maaf pak, saya sudah makan tadi" jawab nya masih seolah tak peduli.
"tidak ada penolakan, kamu ingat?" tanya ku lagi padanya, wajahnya begitu lucu saat dia begitu serius seperti saat ini.
"tapi saya..."
"Kamu tidak bisa menolak perintah ku, sekarang ikut saya" titahku dan kulihat Danish bergerak dari duduknya dan berjalan mengikuti ku dan Dinda, wajahnya masih ditekuk dan belum berisik seperti tadi pagi.
'rasanya ada yang hilang kalau dia diam seperti ini' pikir ku.