Dayna merasa hidup selalu menyengsarakan dirinya. Ia tak pernah berpikir usai menikah ternyata masalah hidupnya kian dibuat pelik. Ia dijual oleh suaminya sendiri.
Yuga, laki-laki yang hidup di lingkungan dunia malam, pekerjaan haram dan penuh kekerasan. Kini episode hitam yang sama kembali menggilas garis hidup Dayna. Demi melunasi hutang, Yuga menjual Dayna pada Tuan Gaza.
Dayna selalu ingin kabur dari jerat hidup Tuan Gaza, tapi sosok laki-laki di rumah Gaza membuat Dayna tertahan. Dialah Arsen. Dayna menyukainya. Tapi Gaza tak akan pernah membiarkan Dayna menyukai Arsen. Gaza hanya ingin Dayna menyukai dirinya bukan Arsen.
Hingga akhirnya sebuah fakta besar terungkap, membuat Dayna hidup dalam kebimbangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seri Melani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Teror yang Mencengkeram
Pagi itu, udara di luar terasa begitu dingin, seolah mencerminkan suasana hati Dayna. Meski matahari bersinar terang, setiap langkahnya terasa berat, seakan bebannya semakin bertambah. Ia duduk di samping jendela, menatap jalanan yang sibuk, namun hatinya kosong. Keputusan yang harus ia buat semakin mendekat, dan ia merasa terhimpit di antara dua dunia yang tak bisa ia gabungkan.
Di luar sana, ada harapan. Ada Arsen yang berjanji akan melindunginya, yang menawarkan kehidupan jauh dari kekejaman Gaza. Namun, di sisi lain, ada Gaza yang selalu mengawasi, yang kekuasaannya begitu mengikat, yang tidak akan membiarkan Dayna pergi begitu saja. Semakin lama, perasaan cemas yang mendalam menguasai dirinya. Apakah ia benar-benar siap untuk menghadapi kenyataan jika ia memilih untuk melawan? Apa yang akan terjadi pada Arsen? Pada dirinya?
Tiba-tiba, pintu terbuka dengan suara berderit keras, dan Gaza muncul di ambang pintu, wajahnya tidak senang. “Dayna,” katanya dengan nada dingin, “Aku ingin kau siap untuk malam ini. Ada tamu penting yang akan datang ke rumah ini, dan aku tidak ingin ada masalah. Kau tahu apa yang harus kau lakukan.”
Dayna meneguk ludahnya, berusaha untuk tetap tenang meski jantungnya berdetak cepat. “Tuan Gaza, apa yang harus saya lakukan?” jawabnya, suara terbata-bata.
Gaza mendekat, matanya menyipit penuh kecurigaan. “Kau tahu apa yang aku maksud. Jangan buat aku marah,” katanya sambil menatapnya tajam. “Tamu itu penting, Dayna. Jangan lupa, hidupmu berada di tanganku.”
Ketakutan kembali menghantui Dayna. Ia tahu, Gaza bisa melakukan apa saja, dan ia tidak ingin membuat pria itu semakin murka. “Baik, Tuan Gaza. Saya mengerti,” jawabnya pelan.
Gaza tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh arti. “Bagus. Jangan mengecewakanku.”
Setelah Gaza pergi, Dayna kembali duduk di tempatnya, menghadap jendela. Angin berhembus pelan, namun hatinya terasa terperangkap dalam badai. Malam ini, ia akan dipaksa kembali melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Namun, ia tidak punya pilihan. Gaza telah mengikatnya dengan tali yang tak terlihat, dan semakin hari, ia merasa semakin sulit untuk bernapas.
Arsen… Di benaknya, sosok pria itu selalu hadir. Ia tahu, Arsen berjuang untuknya, berusaha melawan Gaza. Namun, bagaimana jika usaha mereka tidak cukup? Bagaimana jika Gaza terlalu kuat? Dayna tidak ingin Arsen terluka karena dirinya. Namun, satu hal yang ia tahu pasti, hidupnya seperti berjalan tanpa tujuan jika ia terus terjebak dalam ketakutan ini.
Malam itu datang, dan rumah Gaza dipenuhi dengan orang-orang yang datang untuk pertemuan penting yang disebutkan Gaza sebelumnya. Dayna merasa cemas, setiap gerak-geriknya diawasi, setiap kata yang keluar dari mulutnya seolah bisa menjadi senjata yang mengarah padanya. Namun, saat ia berjalan melewati ruang tengah, matanya bertemu dengan Arsen yang berdiri di sudut ruangan, memperhatikannya dengan intens.
Mereka saling bertatap, dan meskipun tidak ada kata-kata yang keluar, Dayna merasakan koneksi yang kuat. Ada ketegangan di udara, namun juga harapan. Arsen mengangguk kecil, seolah memberikan dukungan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Dayna,” suara Gaza terdengar dari belakang, mengagetkannya. “Bergabunglah dengan tamu kita. Waktunya sudah tiba.”
Dengan terpaksa, Dayna mengikuti Gaza menuju ruang tamu. Di sana, duduk beberapa orang dengan wajah yang tidak familiar. Semua tampak serius, suasana terasa begitu berat. Gaza memperkenalkan Dayna kepada mereka dengan sikap yang begitu angkuh, menjelaskan bahwa ia adalah miliknya, bahwa Dayna adalah salah satu “barang berharga” yang ia miliki. Dayna menahan napas, berusaha tidak menunjukkan betapa jijiknya ia dengan perkataan itu.
Namun, saat ia melirik ke arah Arsen yang berdiri di sudut ruangan, hatinya terasa sedikit lebih ringan. Meskipun Gaza terus berbicara tentang kekuasaan dan bisnisnya, Dayna merasakan keberanian yang perlahan tumbuh dalam dirinya. Jika ia bisa bertahan di sini, jika ia bisa bertahan malam ini, mungkin ia bisa menemukan jalan keluar.
Arsen, yang sejak tadi hanya diam, akhirnya mendekat setelah sebagian tamu mulai pergi. “Kita harus bicara, Dayna,” katanya pelan, matanya penuh kecemasan namun juga tekad.
Dayna menatapnya, menahan air mata yang hampir tumpah. “Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Arsen,” jawabnya dengan suara serak. “Gaza mengontrol semuanya. Aku… aku tak bisa melawan dia.”
Arsen menggenggam tangannya, memberi kekuatan. “Kau tidak sendiri, Dayna. Aku akan membantumu. Kita harus bersama-sama melawan ini. Kita harus keluar dari sini, dari dunia yang telah menjeratmu begitu lama.”
Dayna terdiam, kebingungannya semakin dalam. “Tapi bagaimana? Gaza terlalu kuat. Aku tidak tahu apakah aku cukup kuat untuk melawan dia.”
Arsen menatapnya dengan penuh keyakinan. “Kita akan mencari cara, Dayna. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau harus percaya padaku.”
Tiba-tiba, suara pintu terdengar terbuka lagi, dan Gaza muncul dengan ekspresi yang tidak menyenangkan. “Arsen,” katanya dengan nada mengancam, “Apa yang kau lakukan di sini? Jangan pikir kau bisa terus datang ke sini sesukamu.”
Arsen tetap tenang, namun ada ketegasan dalam suaranya. “Aku hanya berbicara dengan Dayna. Dia tidak harus selalu berada dalam cengkeramanmu, Gaza.”
Gaza mendekat dengan marah. “Kau ingin berhadapan denganku, Arsen? Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Jangan biarkan aku menunjukkan siapa yang berkuasa di sini.”
Dayna merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Ia tahu, malam ini bisa menjadi titik balik dalam hidupnya. Semua yang terjadi akan menentukan arah hidupnya ke depan. Apakah ia akan terus terperangkap dalam dunia yang penuh kekerasan dan ketakutan ini, ataukah ia akan berani melawan?
Dengan napas yang dalam, Dayna melangkah maju, mendekati Gaza dan Arsen. “Aku tidak bisa terus hidup seperti ini,” katanya dengan suara tegas, meski hatinya berdebar kencang. “Aku tidak ingin menjadi milik siapa pun. Aku ingin hidupku sendiri.”
Semua mata tertuju padanya, termasuk mata Gaza yang memancarkan kemarahan. Namun, kali ini Dayna merasa berbeda. Ada kekuatan yang mengalir dalam dirinya, sesuatu yang selama ini terkunci. Ia tidak bisa lagi membiarkan hidupnya dihancurkan oleh ketakutan. Ini adalah waktunya untuk membuat pilihan, pilihan yang akan menentukan apakah ia akan tetap terjebak dalam cengkeraman Gaza atau memilih kebebasan yang selama ini ia impikan.
“Jangan coba-coba melawan aku, Dayna,” Gaza memperingatkan dengan suara rendah, penuh ancaman. Namun, kali ini, Dayna tidak takut.
“Ini hidupku, Gaza,” jawabnya dengan penuh tekad. “Aku akan mengambilnya kembali.”
Malam itu, pertempuran yang sejatinya sudah dimulai sejak lama, kini memasuki babak yang baru. Babak yang penuh dengan keberanian, keputusan yang sulit, dan harapan yang masih rapuh. Namun, satu hal yang pasti—Dayna tidak akan menyerah begitu saja.
wanita bodoh di jual ama laki kabur balik lagi kelaki nya
ogah baca nya 🙏🙏🙏
sekali up ngulang 😔😔