Usia Alexius Calandra memang sudah tidak lagi muda. Dan dia dijodohkan dengan seorang gadis yang pemarah dan arogan. Bagaimana cara dia menghadapi gadis muda itu yang punya sikap sangat menjengkelkan menurutnya.
Beberapa kali Sarah dan Alex berusaha menggagalkan perjodohan tetapi selalu gagal karena Ibu Alex sangat pintar dan berpendirian teguh.
Dengan sangat terpaksa akhirnya mereka menikah agar tidak dicoret dari daftar warisan keluarga.
Selalu ada pertengkaran kecil dalam rumah tangga Alex dan Sarah di setiap harinya, tetapi mereka tidak menyadari bahwa hal itu justru semakin mendekatkan hubungan mereka.
Sebuah rahasia terungkap saat Alex mulai mencintai Sarah begitupun sebaliknya. Bagaimana jika tiba-tiba mereka harus bercerai karena anak kandung Adolf Chavali yang hilang telah kembali dan mengambil semua haknya yang dipinjam Sarah selama ini, termasuk perjodohannya dengan Alex.
Bagaimana sikap Alex selanjutnya? Dan akankah kedua orang tua Sarah tetap menyayangi gadis itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyaeva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Mata serupa jelaga milik Alex terlihat redup, cahayanya berkurang seiring luka hati yang dirasakannya. Tangisan Dilia membuat hatinya seperti teriris. Wanita itu menangis dan terluka saat Alex mengatakan bahwa dia harus menikah dengan wanita lain.
Sungguh itu bukan keinginannya untuk menyakiti hati wanita yang dicintainya. Tetapi paling tidak ada kabar baik untuk mereka berdua, jika Dilia bisa menuùnggunya lagi selama satu atau dua tahun ke depan, maka keinginan mereka untuk menyatukan cinta bisa terwujud.
Alex hanya merasa perjanjian dalam perjodohan seperti sebuah kontrak bisnis antara dua keluarga kaya supaya harta yang dimiliki tidak jatuh ke tangan orang lain. Entahlah, Alex hanya mengira keluarga Chavali bahkan keluarganya adalah orang-orang serakah ... mungkin.
Gadis bernama Sarah adalah bukti bahwa seorang Chavali berkarakter keras kepala, sombong dan ... serakah. Gadis itu berterus terang bahwa hidup tidak akan mudah tanpa fasilitas yang dia punya. Mungkin gadis itu hanya berpikir secara realistis.
'Aku bukan budak cinta. Lagipula aku tidak tahu apa itu cinta.'
'Jangan jadi pria bodoh hanya karena kau menikah denganku. Bukankah kau masih bisa bermain dengan kekasihmu setelah kita menikah nanti? Nikmati saja.'
Perkataan Sarah terus membayang dalam pemikiran Alex. Bagaimana gadis itu bisa menganggap sepele tentang sebuah pernikahan. Apakah usia sangat berpengaruh untuk hal seperti itu?
Mungkin gadis itu berkata benar. Ayahnya hanya memberi wasiat agar dia bersedia dijodohkan, tetapi dalam wasiat tidak dikatakan bahwa dia tidak harus tetap bersama selamanya dengan gadis itu. Dan kesempatan untuk bersama dengan Dilia masih bisa dia dapatkan.
"Aku bersedia menunggumu, Alex." Dilia berucap dengan tangisan yang belum reda. "Demi ayahmu, jadilah anak yang berbakti."
"Maafkan aku, Sayang. Bisakah kau bersabar dan menungguku?" pinta Alex dia memeluk erat tubuh kekasihnya itu. Dia tahu Dilia begitu tersakiti dan terluka karena perjodohan itu.
...
Marina dan Rose tersenyum bahagia saat tiba-tiba mendengar kekompakan Alex dan Sarah untuk menerima tali perjodohan. Tentu mereka tidak akan mudah dibodohi. Dua wanita itu tahu bahwa kedua anak mereka hanya terpaksa menuruti keinginan orang tua.
"Pokoknya Mama mau Sarah tinggal di rumah kita setelah kau menikahinya," ucap Marina pada putera semata wayangnya.
"Kami berencana untuk membeli rumah kami sendiri," jawab Alex sambil menyuap sarapan paginya.
"Kami? Wah, kata itu terdengar manis sekali!!" Marina menangkupkan kedua tangan, wanita itu terlihat senang.
"Ma, tolong jangan kekanakan! Gadis itu bisa besar kepala jika Mama terlalu menyukainya," ujar Alex kesal.
"Hey, memang apa salahnya? Sarah itu calon menantuku," gerutu Marina, "dia itu akan menjadi pendamping hidupmu, jadi hargai dia."
Alex mengepalkan tangan sampai buku jarinya memutih. Dia teringat wajah terluka Dilia, hatinya begitu sakit tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Alex kecewa karena Marina tidak memahami rasa sakitnya. Wanita itu tidak pernah bertanya tentang wanita lain yang pernah dia ceritakan.
Apakah ibunya tahu bahwa ada seorang yang menantinya setulus hati? Alex bahkan ragu Marina ingin tahu siapa Dilia, wanita itu terlalu sibuk mengurus seorang yang tidak berharga bagi anaknya. Ibunya tidak pernah peduli pada perasaannya.
"Terserah, Mama." Alex segera beranjak tanpa menghabiskan sarapan paginya. Pria itu berlalu dan pergi begitu saja.
...
Sarah terus memilih gaun pengantin yang dirasa tidak ada yang cocok dengan seleranya. Tidak ada rona bahagia di wajah gadis itu. Beberapa kali terdengar decakan dari bibir Sarah, bahkan hembusan napas kasar keluar dan meniup poni ratanya.
Gadis berponi itu seperti memilih acak semua gaun yang merupakan buatan perancang terkenal. Tidak ada tatapan kagum. Mungkin bukan gaun-gaun itu yang menjadi penyebab kekesalan Sarah, tetapi ada hal lain yang membuatnya merasa kesal.
"Tidak perlu repot mencari gaun. Cantik atau tidak, aku tidak peduli." Gerakan tangan Sarah yang sedang memilih gaun segera berhenti. Gadis itu berbalik pada sumber suara. Calon suaminya sedang menunggu di sofa empuk, dia bersedekap sambil menyandarkan punggung dengan nyaman.
Jangan mengira Alex sengaja mengantarnya, seperti biasa pria itu hanya terpaksa menuruti perintah sang ibu untuk menemani calon istrinya memilih gaun pernikahan.
"Aku tidak butuh pendapatmu," jawab Sarah kemudian berbalik kembali.
"Baiklah. Aku tidak akan memilih gaun yang biasa." Gadis itu memanggil pelayan butik dan bertanya gaun teemahal yang ada di butik tersebut. Alex mendengus melihat tingkah Sarah yang menurutnya sangat kekanakan.
"Pakai ini!!" Alex yang merasa kesal menyambar sebuah gaun secara acak dan melemparnya ke pangkuan Sarah.
"Kau memang menyebalkan," gerutu Sarah tetapi menerima gaun yang diberikan--dilempar lebih tepatnya oleh Alex tadi.
"Ya sudah, aku pilih ini saja," ucap Sarah pada pelayan butik.
"Apa anda tidak mencobanya dulu? Mungkin ukurannya ada yang tidak pas." Pelayan itu berkata ramah.
"Tidak perlu. Itu tidak penting." Sang pelayan hanya mengangguk atas ucapan Sarah.
"Kami akan segera mengirimnya ke rumah anda," ucap pelayan itu lagi.
"Kirim tagihannya pada orang itu!" Sarah menunjuk ke arah Alex dengan dagunya. Setelah pelayan itu pergi Sarah mengambil tas selempang miliknya yang tergeletak di atas sofa yang juga diduduki Alex di bagian sisi lain.
"Jika ibuku atau ibumu bertanya dan mereka merasa gaun itu tidak cocok, maka akan kukatakan gaun itu pilihanmu," ucap Sarah sambil menatap sebal calon suaminya itu.
"Memangnya siapa yang akan menikah dan memakai gaunnya? Tentu saja gaun itu tidak cocok mereka." Sarah kehilangan kata atas jawaban Alex. Dia tahu pria itu sedang mempermainkannya.
Sarah yakin sebenarnya Alex tahu bahwa setiap wanita itu pemilih terutama untuk hal berpakaian. Marina dan Rose adalah wanita yang selalu mengikuti perkembangan fashion setiap musim tidak terkecuali untuk gaun pengantin, mungkin mereka punya penilaian sendiri.
"Iya, tapi hargai dirimu sendiri dengan pakaian yang sesuai." Kali ini Alex yang terdiam. Atmosfir kemarahan berada di sekitar mereka berdua. Mungkin jika salah satu dari mereka bisa mengalah, pertengkaran tidak akan terjadi.
"Kalau begitu tempatkan dirimu juga saat dimana kau berada. Jaga ucapan dan sikapmu itu. Bersikaplah seperti istri yang baik," ucap Alex panjang lebar.
"Wah, perintahmu banyak sekali. Ingat satu hal, aku bukan budakmu, Tuan Calandra. Tidak perlu khawatir aku bisa berakting dengan sangat baik." Sarah tersenyum sinis.
"Sebelum upacara pernikahan aku akan membuat surat perjanjian untuk kita berdua. Anggap saja itu negoisasi kontrak pernikahan," lanjut Sarah.
"Terserah!!" jawab Alex, sungguh dia tahu isi pemikiran Sarah. Gadis itu terlalu pintar dalam berkata. Alex membuang nafas kasar, mungkin untuk satu tahun ke depan dia akan menemui banyak masalah.
'Baiklah, hanya satu tahun.'
'Ini dia, penderitaan hidupku akan segera dimulai.'
To be continue
See you next chapter
Jangan lupa kunjungi akun dan baca karyaku yang lainnya, Oke???
dan lihat 37 bab
ku pikir
berhenti di tengah jalan atau Hiatus atau pindah ke aplikasi lain nya karena ada tulisan end
eh ternyata emang bener di bab 37 tamat
keren bisa tamat
walaupun hanya 37 bab
semoga bisa berkarya lagi ya Thor 🤲 Aamiin 🤲
tetap semangat berkarya yah thor....🤟💪💪💪👍👍👍👍👍🎉🎉🎉🎉