Sejak menjalankan misi dari SKAK, kehidupan Fabian Bara Akalanka mulai membaik. Bahkan, dia bisa membalas dendam kepada mantan kekasihnya—Adara Sandria.
Namun, belum sempat Fabian menuntaskan semua misi, system tersebut mendadak rusak. Lantas, dia dihadapkan pada rahasia besar yang ada di balik SKAK.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Adara
Misi sudah diterima. Untuk mengklaim hadiah, silakan diselesaikan dengan sempurna!
Tepat pukul 11.00 siang, Fabian menerima notifikasi dari SKAK, yang memberitahukan bahwa misi sudah diterima. Saat ini, Fabian memang memegang alamat vila yang ada di kawasan puncak.
"Mudah-mudahan aja pemilik vila ini bukan orang jahat, jadi masalah yang perlu kubantu bukan masalah berat. Kalau boleh request, angkat galon atau pasang gas aja deh, biar nggak gagal misinya," batin Fabian sebelum melajukan motor matic milik Wendy's Resto.
Tak lama berselang, Fabian menyimpan ponselnya dan meninggalkan halaman restoran. Dia melaju di antara banyak kendaraan yang memadati jalanan. Tak peduli dengan terik mentari atau debu-debu yang membubung tinggi, Fabian terus melaju kencang. Dia sudah tidak sabar untuk tiba di kawasan puncak.
Sekitar empat puluh menit perjalanan, akhirnya Fabian tiba di alamat pelanggan. Sebuah vila megah dengan dominan warna clay.
Fabian bergegas turun dan mengambil pesanan. Kemudian, mendekati pintu gerbang dan memencet bel yang ada di sana. Fabian menunggu sang pemilik vila dengan perasaan yang mendadak tegang.
Sesaat kemudian, mata Fabian tertuju pada wanita cantik yang sedang berjalan ke arahnya. Bukan terpesona dengan wajahnya, melainkan terkejut dengan identitasnya. Wanita itu adalah seseorang yang sangat familier bagi Fabian.
"Adara. Kenapa bisa dia?" batin Fabian.
Adara membuka pintu gerbang sambil tersenyum simpul. Matanya yang kecokelatan menatap remeh ke arah Fabian. Sembari menyelipkan rambut ke belakang telinga, dia melontarkan kalimat yang menyakitkan.
"Menyedihkan sekali hidupmu, Bi, panas-panas gini harus keliling jalan mengantarkan pesanan. Kayak aku dong, liburan bareng kekasih tercinta. Menikmati keindahan puncak sambil memadu kasih. Bukankah itu sesuatu yang menyenangkan, Bi?" ujar Adara.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Fabian.
"Sejak kemarin. Kamu tahu nggak, ini adalah vila pribadi Zayan. Di kawasan sini, vila ini termahal nomor dua. Sedangkan yang paling mahal masih belum laku, tapi ... Zayan udah mempersiapkan uangnya untuk membeli vila tersebut. Kamu tahu itu untuk apa? Untuk hadiah ulang tahunku minggu depan. Sangat romantis, kan?" Adara terus menyombongkan diri.
"Romantis sih, tapi___"
"Tapi apa? Kamu iri karena nggak bisa memberi hadiah mewah untuk Adara? Udah lah, terima nasib aja. Kamu itu cuma cowok miskin, nggak pantes ngarepin gadis kayak Adara. Levelmu jauh di bawah kita, paham?" pungkas Zayan, yang kini sudah berdiri di samping Adara.
"Aku ke sini hanya mengantarkan makanan yang kalian pesan. Aku nggak ingin membahas apa pun." Fabian menatap Zayan sekilas, lalu menyodorkan kotak makanan ke arah Adara.
Namun, bukannya langsung menerima, Adara malah membiarkannya begitu saja. Hanya bibir tipisnya yang terus melontarkan kalimat pedas.
"Emang nggak bahas sih, tapi ... wajahmu kelihatan ngenes loh, Bi. Kayak ... orang putus asa gitu. Benar kan, Sayang?" Adara beralih menatap Zayan.
"Cintanya nggak kesampaian, mana mungkin nggak putus asa." Zayan tertawa renyah.
"Tolong terima ini dan bayar tagihannya. Aku nggak punya banyak waktu untuk meladeni kalian," ucap Fabian dengan intonasi yang lebih tinggi.
Sebenarnya, bukan salah mereka menganggap Fabian putus asa karena kenyataannya memang demikian. Namun, bukan karena kisah cintanya yang kandas, melainkan karena misi dari SKAK. Menurut arahan yang Fabian dapat, dia harus mengirim makanan dan membantu sang pelanggan menyelesaikan masalah.
Akan tetapi, pemesannya adalah Adara dan Zayan, dua manusia yang sombongnya melebihi batas normal, yang menurut Fabian tidak mungkin ada celah untuk membantu.
"Sepertinya aku harus terima nasib, gagal di misi kedua. Ah, cuma Harley yang bisa kudapat, sedangkan vilanya zonk. Tapi, ya udahlah, lebih mending daripada enggak sama sekali," batin Fabian. Saking fokusnya memikirkan SKAK, Fabian sampai tak sadar jika kotak makan di tangannya sudah diambil alih oleh Zayan.
"Sok sibuk, padahal cuma kurir. Apa yang bisa dibanggakan, hah?" Zayan bicara sambil merangkul erat tubuh Adara. "Kayak gini dong, baru bangga," sambungnya.
Detik berikutnya, Fabian memalingkan pandangan karena Zayan mencium mesra bibir Adara. Meski dirinya sudah membenci Adara, tetapi tak dipungkiri rasa cinta masih tersisa meski hanya sedikit. Fabian tidak hanya cemburu, tetapi juga sakit dan kecewa. Dia tidak menyangka Adara akan mengkhianati dan menginjak-injak harga diri.
Bersambung...