NovelToon NovelToon
Terlambat Mengerti

Terlambat Mengerti

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kurnia Setiyani

Terlambat Mengerti 1
Arini gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 sebuah perguruan tinggi negeri. Diusianya yang sangat belia dia harus menyandang status ibu dari seoarang bayi perempuan hasil pengkhianatan sahabat dengan tunanganya. Keputusan apa yang akan diambil Arini selanjutnya, apa dia akan membuang bayi itu atau menitipkanya di panti asuhan ataukah merawatnya sendiri dengan segala resiko yang harus dihadapi.
Penasaran ceritanya ? yuk ikuti kelanjutanya..

Terlambat Mengerti season 2

Bagaimana nasib cinta Cila dan Agam ketika mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa hubungan mereka terhalang tembok kebencian yang tertanam kokoh dihati Agam karena kisah masa lalunya. Akankan Cinta mampu mengalahkan kebencian tersebut, ataukan justru Cinta baru yang akan hadir menghapus luka...

____________________________________

Cover by pexels

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kurnia Setiyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Arini merasa tubuhnya gemetar, kakinya lemas mendengar penjelasan Iren, Arini terjatuh terkulai lemah dengan air matanya.

Meski hubunganya dengan Juna sudah berakhir tapi dia tidak pernah menyangka bahwa perempuan yang Juna maksud adalah Iren.

Masih terngiang di telinganya Juna mencintai perempuan lain dan kini dia tahu perempuan itu adalah sahabatnya dari kecil. Bahkan yang lebih membuatnya hancur adalah hubungan mereka yang sudah begitu jauh hingga lahir seorang bayi yang sekarang menjadi anaknya di atas kertas.

Arini terduduk di lantai dengan banjir air mata.

" Kenapa, kenapa kalian tega melakukanya?" tanya Arini yang terisak.

" Kenapa yang aku inginkan semua kamu miliki, kasih sayang keluarga, perhatian teman-teman, hingga kekasih yang sempurna. Rasanya adil jika aku mengambilnya satu." Ucap Iren dengan senyum kecut sambil memandang tajam Arini.

" Baiklah, ambil saja yang kamu mau." Jawab Arini sambil berusaha berdiri, menahan sesak di dadanya.

" Kamu mau kemana, mau mencari Juna? lalu kalian menikah? sungguh sempurna hidup kalian, aku tidak akan rela." Ucap Iren dengan nada mengejek sambil bangkit mencengkeram tangan Arini.

" Kamu pikir keluarga Juna mau menerima bayi itu, mereka hanya akan menelantarkanya.

Kamu tidak tau apa-apa Arini." Iren meneruskan kalimatnya masih dengan senyum sinis meski berurai air mata. Ada banyak rahasia yang Iren sembunyikan dari Arini.

" Lepaskan aku...!" Teriak Arini sambil menepis tangan Iren dan berlari meninggalkan tempat itu dengan pikiran kacau.

Arini berjalan tanpa arah dengan tangisnya sambil memukul dadanya yang terasa sesak, sesekali berjongkok sambil membenamkan wajahnya. Entah sudah berapa lama dan berapa jauh Arini melangkah dengan tatapan kosong.

Arini duduk di halte bis, dia baru sadar hari telah gelap. Arini menengok ke kanan kiri melihat sekeliling, mencari tau tempat dimana dia berada sekarang. Arini yang sudah sedikit tenang mulai berpikir jernih, memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.

Arini segera naik sebuah bis yang berhenti di depannya, dia memutuskan kembali ke rumah Ranti.

" Rin, kamu dari mana saja, kenapa sampai malam begini baru pulang?" Pertanyaan Ranti terhenti melihat wajah Arini yang begitu suram, kusut penuh aura kesedihan.

Arini berjalan ke kamar melewati sahabatnya itu tanpa sepatah katapun. Arini menghampiri Asilla yang sudah tertidur pulas, mengelus wajah bayi itu dengan iba, benci, marah menjadi satu.

Nama bayi itu sesuai akta kelahiran adalah Asilla Nugraha.

Begitu lelahnya Arini hingga tertidur begitu lama, panasnya matahari yang menelusup masuk ke kamar dan kebisingan rutinitas pagi tidak mengusik lelapnya Arini. Hingga semua keperluan Asilla Ranti yang siapkan. Ranti sangat mengerti kondisi Arini sekarang, jadi dia sangat memakluminya.

Saat Arini mulai membuka matanya Ranti sedang menidurkan Asilla di kamarnya.

" Ran..., sudah jam berapa sekarang, apa aku tidur begitu lama?"

" Jam 11 Rin, istirahatlah jika memang masih lelah, Asilla nggak rewel kok," ucap Ranti dengan senyumnya.

" Maaf Ran, aku dah banyak banget ngrepotin kamu," ucap Arini.

" Aku ngerti kok Rin, udah gak usah sungkan, pergilah mandi biar lebih segeran." Ucapan Ranti pun dituruti Arini.

" Makanlah dulu, isi perut kamu. Jangan sampai kamu sakit." Ranti mengambilkan makanan untuk Arini.

" Ceritakan kalau kamu udah tenang." Ranti menyambung lagi ucapannya.

Setelah selesai makan Arini mulai menceritakan semuanya pada sahabatnya itu. Arini mencoba lebih tegar dibanding kemarin.

" Dasar ******, kalau aku jadi kamu dah aku becek-becek kemarin," respon Ranti yang sangat geram dengan kelakuan Iren.

" Sekarang gimana dengan bayi ini Rin?" Tanya Ranti.

"Aku mau antarkan dia ke keluarga Mas Juna," jawab Arini.

" Bagus, itu keputusan yang tepat. Aku dukung kamu Rin," ucap Ranti.

Tak berselang lama, Arini menggendong bayi itu dengan menenteng satu tas penuh perlengkapannya menuju rumah keluarga Juna. Dengan ragu Arini memencet bel yang berada di sisi pintu gerbang, sekitar 10 menit Arini menunggu akhirnya Bi Inah keluar membukanya.

" Ehh... Mba Arini, masuk Mba!" perintah Bi Inah pada Arini.

" Ibu ada Bi? tanya Arini.

" Ibu sama Mba Melin ke Jakarta Mba,katanya mau menetap di sana" jawab Bi Inah.

"Mbak, ini bayi siapa?" tanya lagi Bi Inah sebelum Arini sempat menjawab.

" Ini bayi temanku Bi, kalau gitu aku pamit saja ya Bi." Arini pamit tanpa menitipkan pesan apapun.

" Masuk dulu aja Mba, biar bibi bikinin teh," pinta Bi Inah.

" Nggak usah Bi. Terimakasih, aku langsung aja." jawab Arini tersenyum.

"Hati-hati ya Mba."

" Iya Bi."

Arini berjalan meninggalkan rumah itu, dia teringat ucapan Iren kalau keluarga Juna hanya akan menelantarkan bayinya.

" Apa memang tidak seharusnya aku membawanya ke sini?" tanya Arini dalam hati.

Arini terus berjalan tanpa arah tujuan, sesekali berhenti membuatkan susu untuk bayi itu. Tak terasa hari sudah mulai gelap ditambah gerimis. Arini masuk ke sebuah minimarket membeli roti dan air mineral untuk mengganjal perutnya, juga membeli sebuah payung karena di luar mulai hujan.

Arini duduk di dalam minimarket itu sambil mengisi perutnya dengan roti yang dia beli tadi. Menatap di luar hujan cukup deras, Arini bingung apa yang harus dia lakukan. Sementara Asilla tertidur pulas di gendongannya. Mungkin bayi itu nyaman dalam gendongan Arini sehingga dibawa kemanapun sama sekali tidak rewel.

Hujan mulai reda, tersisa rintik-rintik kecil yang membuat suasana semakin sendu. Arini keluar dari minimarket dengan payungnya, tak sengaja terbaca papan nama sebuah panti asuhan. Arini berhenti sejenak.

" Haruskah aku menitipkannya di sini," tanya Arini dalam hati.

Bathinya mulai bergejolak, naluri keibuannya muncul, dia sebenarnya sudah mulai menyayangi bayi itu.

Tapi bagaimana dengan nasib dan masa depannya nanti, dia belum siap mengasuh seorang anak apalagi ekonominya yang pas-pasan.

Arini melangkahkan kakinya memasuki pelataran panti asuhan tersebut, dia berjalan menuju teras dan melepas Asilla dari gendongannya. Arini meletakan Asilla di kursi teras itu.

" Maafkan tante ya, tante terpaksa ninggalin kamu di sini. Tante janji bakalan sering jenguk kamu." Ucap Arini sambil menciumi bayi itu. Dalam hatinya mulai berperang antara tega tak tega.

Bayi itu sama sekali tidak menangis, malah tersenyum begitu manis pada Arini seolah menyetujui keputusan Arini. Namun senyum itulah yang membuat Arini lebih tidak rela meninggalkan bayi itu.

Dengan tangisnya Arini berlari meninggalkan bayi itu. Setelah cukup jauh dia berhenti, lalu duduk di sebuah bangku yang ada di pinggiran trotoar. Bayangan senyum Asilla terus berputar di pikirannya, Arini tidak bisa mengendalikan dirinya.

Kasian Asilla, bagaimana kalau dia tidak dirawat dengan baik, bagaimana kalau dia diadopsi oleh keluarga tidak bertanggung jawab dan hal-hal buruk lain terus terlintas di pikiran Arini.

Sampai akhirnya Arini berlari kembali ke panti asuhan tadi. Terlihat Asilla masih di tempat yang sama, Arini segera mendekat dan memeluknya erat. Asilla sudah tertidur kala itu, Arini menggendongnya dan membawanya menjauh dari tempat itu.

***

happy reading...

1
Yani Cuhayanih
Aku juga pernah punya sahabat pembohong seperti itu yg akhirnya menghancurkan pertemanan kami karena menggoda pacarku dgn segala tipu daya nya.oh maaf aku berbeda jd bisa mengetahui kebusukan seseorang melalui indera ke enam ku.....wadaw bercanda...peace...
Yani Cuhayanih
Baru mulai dah nangis bombay....hah
Hap£!π
baguss ka sulit ditebak endingnya
🥰Dewimitohamasreka🥰
Kecewa
Sri Wahyuni
s arini knp ga bsa jjur az cpa s cila
Sri Wahyuni
kacau deh s juna dtang k jogya
Sri Wahyuni
klau s arini sampe mau blikan lgi sm s juna itu nma y s arini cwe bodoh
Sri Wahyuni
knp ya d cerita novel kbanyakn s cewe susah move on kya cwo d dunia ini udah habis az s arini knp ga terima s doni az
Sri Wahyuni
awal yg baik crita nya smoga d bab k dpan nya ga bikin ribet dn ga cpet jenuh bca y..good luck thor
Riyanti Riri
org2 yg aneh...emgnya mereka melihat Arini hamil sampai2 menuduh Arini punya anak di luar nikah.. dasar BODOH...
Arnie Cupin
gak suka ma sikapny doni
watini fitrah
cila terima anngga biar agam dpt duit.
krisan
lanjut
Yen Margaret Purba
andin ga jd sama angga yah...?
Yen Margaret Purba
kok ngeselin yah cerita cila,
pacaran menjauh menderita
sampe lika liku laki2 SAH ttp aja gt, lgsg baca end aja deh
Yen Margaret Purba
andra ponakan sita kan,
cila itu anak tiri tantemu loh
Yen Margaret Purba
ssh amat sih thor bt damar ke sinta,
cila ke agam
Yen Margaret Purba
damar kok ga ditemani sinta
Yen Margaret Purba
yah bagaimana pun sering bersama pasti ada cinta lha,
utk cinta sejati akan tau balik ke t4 nya..
yo wes lah obati agam aja lha
Yen Margaret Purba
kl liat jalan cerita bagusnya cila ama damar sih ya,
penyelamat jika ada apa pun.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!