Elzia manofa, seorang anak SMA yang di jodohkan dengan duda anak satu, bagaimana kelanjutan cerita mereka, ikuti yuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Mia Novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om rese
Sarah tertawa kecil. "Terlambat untuk negosiasi, Arkan. Sekarang, permainannya bukan lagi soal uang. Ini soal bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang paling berharga... tepat di depan matamu sendiri."
Salah satu pria itu mencengkeram lengan Zia dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
"OM ARKAN!" teriak Zia histeris.
Mobil itu melesat pergi meninggalkan kepulan debu. Arkan jatuh terduduk di teras vila. Ia tidak mengejar dengan mobilnya. Sebaliknya, ia mengambil ponselnya dan menekan satu nomor darurat yang selama ini ia hindari.
"Ini Arkan," ucapnya dengan nada dingin yang mematikan. "Aktifkan seluruh unit pengamanan. Kita tidak akan bermain bersih lagi. Aku ingin Sarah ditemukan dalam satu jam, atau aku akan meratakan seluruh aset yang dia miliki dengan tanah.
Debu di halaman vila belum sepenuhnya mengendap, namun atmosfer di sekitar Arkan sudah berubah total. Ia bukan lagi pengusaha dingin yang penuh perhitungan, kini Arkan adalah singa yang terluka dan kehilangan kendali.
Arkan tidak bergerak selama sepuluh detik. Detik yang sangat krusial. Namun di kepalanya, ia sedang memetakan koordinat. Arkan tahu Sarah tidak akan membawa Zia ke "Mama"-nya. Sarah adalah tipe pemain yang suka pamer. Ia akan membawa mangsanya ke tempat di mana ia merasa paling berkuasa.
Ponsel Arkan bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal. “Gedung Tua Proyek Batavia. 30 menit, Arkan. Datang sendiri tanpa polisi, atau gadis ini akan merasakan dinginnya semen cor di dasar konstruksi.”
Arkan bangkit. Ia masuk ke dalam vila, bukan menuju mobil SUV-nya, melainkan ke sebuah brankas tersembunyi di balik panel dinding ruang kerja. Di sana tersimpan sebuah kunci motor sport hitam tanpa plat nomor dan sebuah alat komunikasi kecil yang ia pasang di telinga.
"Unit 1, tutup akses jalan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Unit 2, retas CCTV sepanjang jalur pinggiran kota. Aku ingin visual dalam dua menit!" perintah Arkan sambil memakai jaket kulitnya.
Di Dalam Mobil Sarah
Zia meronta, namun cengkeraman pria berbadan tegap itu terlalu kuat. Sarah duduk dengan tenang di sampingnya, menyesap sebotol air mineral mahal seolah mereka sedang dalam perjalanan wisata.
"Kenapa Kak Sarah lakukan ini? Om Arkan sudah bilang akan memberikan sahamnya!" tangis Zia pecah.
Sarah menoleh, senyumnya menghilang, digantikan oleh sorot mata penuh kebencian yang murni. "Saham? Zia, sayang... uang bisa dicari. Tapi harga diri yang dihancurkan Arkan di depan dewan direksi tiga tahun lalu? Itu tidak ada harganya. Dia mencampakkanku seperti sampah saat aku ingin kembali. Dan sekarang, dia menatapmu seolah kamu adalah seluruh dunianya. Aku ingin dia melihat dunia itu hancur."
Sarah mengeluarkan ponselnya dan memulai siaran langsung video privat yang dikirimkan ke ponsel Arkan. "Lihat ini, Arkan. Gadis kecilmu sedang ketakutan."
Gedung mangkrak setinggi 20 lantai itu berdiri kokoh di tepi laut. Angin kencang menerpa wajah Zia saat ia diseret paksa ke lantai teratas yang belum memiliki dinding pembatas. Hanya ada tiang-tiang beton dan besi-besi mencuat.
"Lepaskan aku!" teriak Zia saat ia diikat di sebuah kursi kayu tepat di pinggir lantai beton. Di bawahnya, hanya ada jurang sedalam 80 meter dan deburan ombak yang menghantam beton.
Tiba-tiba, suara deru mesin motor yang memekakkan telinga terdengar dari arah tangga darurat. Ciiiitt!
Motor sport hitam itu meluncur terbang melewati gundukan pasir dan mendarat di lantai beton dengan manuver yang mustahil. Arkan melepas helmnya, rambutnya berantakan, dan matanya merah karena amarah yang ditahan.
"Lepaskan dia, Sarah. Aku sudah di sini," suara Arkan berat, bergema di antara pilar beton.
"Oh, sang pahlawan datang tepat waktu," ejek Sarah sambil berdiri di belakang Zia, memegang sebuah pisau kecil yang ditempelkan ke tali pengikat Zia. "Satu gerakan salah darimu, Arkan, dan aku akan memotong tali ini. Kursi ini tidak punya rem untuk menahan gravitasi."
"Om... pergi Om! Ini bahaya!" teriak Zia dengan air mata mengalir deras.
Arkan mengangkat kedua tangannya. "Kamu ingin aku hancur, kan? Oke. Aku sudah menandatangani surat pengunduran diri dari holding pusat dan pengalihan seluruh aset pribadiku atas namamu. Semuanya ada di dalam tas di motor itu."
Sarah tertawa melengking. "Kamu pikir aku sebodoh itu? Setelah aku mengambil itu, kamu akan memenjarakanku."
"Tidak akan," potong Arkan dengan nada dingin yang tiba-tiba tenang. "Karena hari ini, aku tidak datang sebagai pengusaha. Aku datang sebagai orang yang tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan."
Tiba-tiba, Arkan menekan sebuah tombol di jam tangannya.
BUM!
Ledakan kecil namun mengejutkan terjadi di lantai bawah, mengguncang seluruh konstruksi. Anak buah Sarah yang berjaga di tangga terdistraksi. Dalam sepersekian detik, Arkan berlari dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
"BERHENTI!" teriak Sarah histeris sambil mengayunkan pisaunya ke arah tali.
Suara menusuk, pisau Sarah yang memotong tali pengikat pada tali Zia terdengar nyaring di tengah heningnya ketegangan itu. Tali itu putus tepat saat kursi kayu Zia mulai miring ke arah jurang dari ketinggian puluhan meter.
"TIDAK!" teriak Arkan.
Dunia sepertinya melambat bagi Arkan. Ia tidak memedulikan dua anak buah Sarah yang mulai melepaskan pukulan ke sekitarnya. Dengan satu tabrakan nekat. Arkan meluncur di atas lantai air yang licin, tangannya terjulur pada Zia.
REM!
Ujung jemari Arkan berhasil menggenggam kaki kursi tepat saat dua kaki kursi lainnya sudah melayang di udara. Berat beban Zia dan kursi itu menarik bahu Arkan hingga terdengar suara krek yang menyakitkan, bahunya terkilir.
"Pegang, Zia! lepaskan kakimu dari kursi!" teriak Arkan, wajahnya memerah, urat-urat di belakangnya menonjol menahan beban.
Zia, dengan tangan terikat, berusaha naik ke pelukan Arkan. Di saat suasana yang nenegangkan itu, Sarah yang sudah kehilangan akal sehatnya mendekati pisau di tangannya. Ia tidak lagi peduli pada uang, ia hanya ingin melihat Arkan menderita.
"Kalau dia tidak mati karena jatuh, maka dia mati di sana!" Sarah menggunakan pisaunya ke arah punggung Arkan yang sedang tak berdaya menahan Zia.
"OM ARKAN, AWAS!"
DOR!
Satu tembakan peringatan menggema di seluruh lantai gedung. Sarah tersentak, pisaunya terlepas. Dari arah tangga darurat, puluhan pria berseragam hitam dengan lambang unit pengamanan khusus "Black-Shield" masuk ke sekeliling tempat itu. Di barisan paling depan, berdiri asisten kepercayaan Arkan, membawa tablet yang menyebarkan semuanya secara langsung.
“Permainan selesai, Sarah,” ucap Arkan dengan suara rendah yang mematikan. Dengan satu sentakan terakhir, ia berhasil menarik Zia masuk ke area aman dan memeluknya erat di lantai beton.
Arkan tidak membiarkan Zia melihat apa yang terjadi selanjutnya. Ia mendekap kepala Zia ke dada.
"Bawa dia," perintah Arkan dingin kepada tim pengamannya sambil menunjuk Sarah yang kini pucat pasi di depan senjata. "Jangan ke polisi dulu. Bawa dia ke gudang holding. Aku ingin dia melihat dengan matanya sendiri saat seluruh surat kepemilikan asetnya di Singapura hangus jadi abu."
Suasana jauh lebih tenang. Arkan duduk di tepi tempat tidur ambulans sambil membiarkan petugas medis memasang penyangga bahu arm sling miliknya. Zia duduk di sana, masih mengenakan jaket kulit besar milik Arkan untuk menutupi tubuhnya yang gemetar.
Zia menatap tangan Arkan yang kini diperban lebih banyak dari sebelumnya. "Kenapa Om melakukan itu? Om bisa saja mati kalau kursi itu menarik Om ikut jatuh."
Arkan menoleh, sorot matanya yang dingin perlahan mencair saat menatap gadis remaja di depannya. Ia menghela napas panjang.
"Aku pernah kehilangan segalanya karena uang, Zia. Tapi melihatmu hampir jatuh tadi... aku sadar kalau kehilangan perusahaan itu tidak ada artinya dibandingkan kehilangan tawamu yang berisik setiap pagi," ucap Arkan jujur, meski nada suaranya tetap berusaha terdengar datar.
Zia tertegun. "Tapi... Mama? Mama pasti benci sekali pada Om sekarang."
Arkan mengeluarkan ponselnya. "Aku sudah mengirim tim untuk menjemput Mamamu dan menjelaskan semuanya. Dia sekarang ada di rumah utama, menunggu kita. Dan soal perusahaan Papamu..." Arkan menjeda kalimatnya, "...aku sudah melunasi semua utangnya tadi pagi. Sarah tidak akan bisa menyentuh keluargamu lagi."
Zia menatap Arkan lama, lalu tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya di bahu Arkan yang tidak terluka. “Terima kasih, Om Rese.”
Arkan sempat kaku, namun perlahan ia menyandarkan kepalanya di atas kepala Zia. "Jangan panggil aku begitu di depan anak buahku, Bocil. Jangan jatuhkan reputasiku."Elzia mengulum bibir saat mendengarnya
zia duda itu tidak selalu tua juga ada yg usia 20jadi duda 🤣🤣🤣
Belum juga ketemu udah bayangin om duda tua muka jelek jangan gitu dong,nanti kalau kamu terkejut gimana 🤔