NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang yang Kusut

Menghabiskan waktu di rumah Mutia menjadi oasis singkat bagi Rana. Di rumah kontrakan semi-permanen berukuran kecil itu, waktu seolah berjalan lebih lambat.

Apa yang dirasakan Rana justru berbeda dengan atmosfer di dalam kontainer Oil and Fuel pada hari Minggu siang itu.

Pradika melangkah masuk ke dalam kontainer dengan alasan formal: mengembalikan lembar Work Order yang kemarin sempat tertunda. Namun, sepasang matanya langsung memindai ke arah meja admin. Kursi putar di balik meja komputer itu kosong. Hanya ada tumpukan file dan beberapa pulpen yang tertata rapi. Sejak pagi, ia belum melihat bayangan Rana.

Di sana hanya ada Budi yang sedang sibuk mengetik sambil sesekali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Oh, ada Mas Pradika. Ada yang bisa dibantu? Part apa lagi hari ini?" tanya Budi ramah, mengalihkan pandangan dari monitor.

Pradika meletakkan kertas di atas meja konter pembatas.

"Ini, Mas, mau mengembalikan salinan WO yang kemarin. Oh ya, Mbak Rana... tidak masuk?" Pradika berusaha menata nadanya agar terdengar se-kasual mungkin, tidak ingin memicu radar gosip Budi yang terkenal tajam.

Budi mengangguk sambil menerima kertas tersebut.

"Rana sedang off, Mas. Dia ambil libur dua hari, maklum kemarin-kemarin dia borong shift terus. Palingan sekarang sedang di rumah saudaranya di kampung."

Pradika manggut-manggut. Jarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan pelan. Ada keraguan yang berkecamuk di dadanya, terutama setelah mendengar kasak-kusuk para mekanik di tempat olahraga kemarin tentang Sapo. Laki-laki itu harus bertindak cepat jika tidak ingin posisi Rana terancam oleh gangguan-gangguan tidak sehat di area tambang ini.

"Mas Budi, kalau boleh... saya mau minta nomor kontak Rana. Ada keperluan koordinasi soal oli SAE 90 yang masih kosong," dusta Pradika demi sebuah legalitas.

Budi tidak menaruh curiga sedikit pun. Baginya, wajar jika orang mekanik dealer meminta nomor admin untuk urusan mendesak.

"Oh, boleh, Mas. Sebentar ya." Budi meraih ponselnya, mencari kontak Rana, lalu mendiktekan deretan angka itu kepada Pradika.

"Terima kasih banyak, Mas Budi," ucap Pradika setelah menyimpan nomor tersebut dengan nama 'Rana Admin'.

Namun, begitu kembali ke workshop, Pradika hanya menatap layar ponselnya selama hampir setengah jam. Ibu jarinya menggantung di atas tombol 'Kirim Pesan'. Keraguan tiba-tiba menyerangnya.

Bagaimana kalau dia merasa terganggu? Bagaimana kalau dia mengira aku lancang?

Mereka belum pernah berkenalan secara resmi selain transaksi formal di loket kontainer dan duduk bersebelahan di bus dalam keheningan. Pradika mengembuskan napas panjang, memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku seragam. Ia memutuskan untuk menunggu saat yang lebih tepat.

Sementara itu, ribuan kilometer menyeberangi laut, di depan sebuah gerbang sekolah menengah atas yang riuh oleh suara klakson dan tawa remaja, sebuah motor sport berwarna merah berhenti di tepi jalan. Laki-laki pengendara motor itu membuka kaca helm full face-nya, memperlihatkan wajah yang familier.

Veri. Laki-laki yang selama ini menjalin hubungan dekat dengan Rana melalui pesan singkat dan telepon jarak jauh, kini justru berdiri di depan sekolah Rani.

Tak lama kemudian, Rani berjalan keluar dari gerbang bersama teman-temannya. Begitu melihat keberadaan Veri, senyum manis langsung terkembang di wajah remaja itu. Ia pamit pada teman-temannya dengan sedikit nada pamer, lalu melangkah mendekati motor Veri.

"Mas Veri! Sudah lama nunggunya?" tanya Rani manja.

Veri tersenyum, menyerahkan sebuah helm cadangan yang sudah ia siapkan.

"Baru sepuluh menit kok. Yuk, langsung naik."

Sebelum menaiki motor besar itu, Rani menatap Veri dengan kerutan di dahi, memasang wajah yang dibuat seolah-olah didera rasa bersalah yang amat sangat.

"Mas... apa nanti Mbak Rana tidak marah kalau tahu Mas Veri jemput aku?"

Veri menyalakan mesin motornya, suaranya menderu membelah kebisingan.

"Tentu saja tidak, Ran. Kamu kan adiknya. Lagipula Rana kan jauh di Kalimantan, dia pasti senang kalau tahu adiknya ada yang menjaga dan memperhatikan di sini. Sudah, jangan dipikirkan."

Rani menerima helm itu, menyembunyikan senyum kemenangan di balik kaca helm pelindung. Ia segera naik ke jok belakang yang tinggi. Motor sport Veri segera melesat membelah jalanan kota Bojonegoro yang padat merayap oleh anak-anak sekolah yang baru saja bubar.

Sebelum mengantarkan Rani pulang ke rumah, Veri membelokkan motornya ke sebuah warung tenda di pinggir jalan yang cukup teduh.

"Kita makan dulu ya, kamu pasti lapar setelah seharian belajar," kata Veri perhatian.

Rani mengangguk setuju. Laki-laki ini memang tahu benar cara menyenangkannya. Veri memesan dua porsi nasi goreng spesial dengan telur mata sapi di atasnya, lengkap dengan dua gelas es teh manis yang segar untuk mengusir gerah sore yang terik itu.

Selama makan, Veri tidak henti-hentinya bertanya tentang sekolah Rani, kebutuhannya, dan sesekali menyelipkan pujian bahwa Rani semakin hari tampak semakin dewasa dan cantik. Rani melayani obrolan itu dengan lihai, menerima semua perhatian Veri dengan tangan terbuka.

Begitu motor Veri berhenti di depan pagar rumah, Bu Retno yang kebetulan sedang menyapu halaman langsung menghentikan aktivitasnya. Wajah wanita paruh baya itu langsung cerah, dipenuhi senyuman lebar seolah-olah kedatangan Veri adalah berkah besar bagi rumah mereka.

"Eh, Nak Veri! Terima kasih ya sudah repot-repot jemput Rani," sapa Bu Retno dengan nada yang sangat ramah, jauh berbeda dengan suaranya saat berbicara dengan Rana di telepon.

"Sama-sama, Tante. Kebetulan tadi ada keperluan searah dengan sekolah Rani, sekalian saja." jawab Veri sopan sebelum berpamitan untuk langsung pulang.

Setelah memastikan motor Veri benar-benar hilang di tikungan jalan, Bu Retno segera masuk ke dalam rumah. Ia mendapati Rani sedang berada di kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian beraktivitas.

Begitu Rani keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit rambut basah dan pakaian santai, Bu Retno sudah menunggunya di depan pintu dengan mata yang berbinar penuh selidik.

"Ran, Ibu mau tanya. Apa kamu sekarang pacaran dengan Veri?" tanya Bu Retno langsung tanpa basa-basi.

Rani mendengus pelan, berjalan menuju cermin besar di kamarnya untuk menyisir rambut.

"Tidak, Bu. Siapa yang pacaran?"

"Jangan bohong sama Ibu! Ibu lihat sendiri akhir-akhir ini Veri sering sekali antar jemput kamu, belikan kamu ini-itu. Kalau tidak pacaran, mana ada laki-laki seroyal itu?" desak Bu Retno, ikut masuk ke dalam kamar Rani.

Rani memutar badannya, menatap Ibunya dengan sisir rambut yang masih menggantung di tangan.

"Untuk apa aku bohong, Bu? Mas Veri itu masih pacaran dengan Mbak Rana. Ibu kan tahu sendiri dari dulu mereka dekat."

Bu Retno terkesiap, ekspresi wajahnya berubah drastis dari penasaran menjadi tidak suka.

"Apa? Dia pacarnya Rana? Ibu pikir mereka cuma teman biasa dari dulu." Rani mengangkat bahu acuh tak acuh, lalu kembali menghadap cermin.

"Ya begitulah."

Bu Retno terdiam sejenak, otaknya yang penuh dengan perhitungan mulai berputar cepat. Ia mendekati Rani, lalu duduk di tepi kasur dengan pandangan mata yang tajam namun penuh ambisi.

"Rana kan tidak ada di sini, dia jauh di pulau seberang," kata Bu Retno dengan suara yang direndahkan, seolah sedang membisikkan sebuah rahasia besar.

"Apa salahnya kalau kamu yang menggantikannya, Ran?" Rani menghentikan gerakan sisirnya, melirik Ibunya dari pantulan cermin.

"Maksud Ibu?"

"Ibu lihat-lihat, sepertinya Veri itu lebih menyukaimu daripada dengan Rana. Kalau bicara sama kamu, matanya itu beda. Lagipula, di umurnya yang tergolong masih muda susah punya usaha sendiri, penampilannya rapi, dan yang paling penting dia terlihat sangat bertanggung jawab dan royal. Daripada Veri sama Rana yang belum jelas ujungnya, lebih baik Veri untuk kamu saja," cerocos Bu Retno panjang lebar tanpa memikirkan bagaimana perasaan anak sulungnya jika mendengar kalimat ini.

Rani yang mendengar penuturan Ibunya hanya bisa memutar bola matanya malas. Dalam hati, Rani memang menyukai kedekatan ini. Ia mau menghabiskan waktu dengan Veri karena laki-laki itu sangat royal; setiap kali jalan, ia pasti dibelikan makanan enak, memenuhi keinginan kecilnya, dan diantar jemput dengan motor bagus yang membuatnya terlihat keren di depan teman-teman sekolah.

Namun, untuk melangkah ke hubungan yang serius atau berpacaran, Rani sama sekali tidak memikirkannya. Baginya, Veri hanyalah salah satu fasilitas gratis yang bisa ia nikmati selagi Rana tidak ada di tempat. Rani terlalu egois untuk berkomitmen, sama egoisnya dengan Ibunya yang siap menumbalkan hubungan asmara Rana demi kenyamanan mereka sendiri.

Di kejauhan, di bawah lindungan atap rumah Mutia, Rana tiba-tiba merasakan dadanya berdenyut agak ngilu secara mendadak. Ia tidak tahu bahwa di rumahnya sendiri, sebuah pengkhianatan baru sedang dirancang dengan rapi oleh orang-orang yang mengalirkan darah yang sama di tubuhnya.

"Mas beneran nggak apa-apa tidur di luar?" tanya Rana agak sungkan saat melihat Rinta meletakkan bantal di kasur yang ia gelar depan televisi.

Kontrakan yang ditempati Mutia dan Rinta hanya memiliki satu kamar tidur, karena itulah, malam itu diputuskan bahwa Rana dan Mutia tidur bersama di dalam kamar, sementara Rinta dengan sukarela mengalah menggelar kasur lantai di ruang tengah yang merangkap ruang TV.

Rinta tertawa kecil, melambaikan tangan dengan santai.

"Aman, Na. Jarang-jarang kamu bisa menginap. Lagipula di luar lebih dingin. Kamu tidur saja yang nyenyak di dalam sama Mbakmu, mumpung ada teman buat gosip."

Di dalam kamar, setelah lampu dimatikan dan hanya menyisakan temaram lampu tidur berwarna kuning hangat, Mutia memeluk Rana dari samping. Wangi minyak telon kesukaan Mutia dan pelukan hangat sang kakak membuat Rana merasa ditarik kembali ke masa kanak-kanak, masa di mana beban dunia belum diletakkan secara paksa di atas kedua pundaknya.

Mereka mengobrolkan banyak hal remeh; tentang resep makanan, tentang penghuni mess yang lucu, hingga akhirnya obrolan itu mereda dan menyisakan dengus napas teratur Mutia. Rana ikut memejamkan mata dengan tenang. Untuk pertama kalinya di minggu ini, kepalanya benar-benar terasa ringan.

1
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!