Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror dari Masa Lalu
Kepergian Xavier ke kantor meninggalkan keheningan yang panjang di dalam kamar bermain anak-anak. Eli masih berdiri membeku di tempatnya, menyentuh pelipisnya yang masih terasa hangat akibat kecupan posesif suaminya beberapa saat lalu. Di hadapan para pelayan dan Daniel, Xavier benar-benar tidak ragu untuk menunjukkan otoritasnya sebagai kepala keluarga.
"Nyonya Arisatya," suara Daniel memecah lamunan Eli. Asisten pribadi Xavier itu membungkuk hormat dengan sangat takzim. "Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa langsung menghubungi saya melalui ponsel baru Anda. Saya sudah menugaskan dua pelayan khusus untuk selalu mendampingi Anda dan anak-anak ke mana pun Anda melangkah di dalam mansion ini."
Eli menghela napas pasrah, menyadari bahwa ruang geraknya kini benar-benar dibatasi oleh dinding-dinding emas ini. "Terima kasih, Daniel. Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersama anak-anak hari ini."
Setelah Daniel berpamitan untuk menyusul Xavier ke kantor, Eli mencoba menepis semua beban pikirannya. Dia duduk di atas karpet bersama Kenji dan Kiana, membantu mereka menyusun balok-balok mainan dan mewarnai gambar. Setidaknya, tawa renyah Kiana dan fokus tenang dari Kenji bisa menjadi obat penawar bagi hatinya yang terus-menerus dirundung kecemasan.
Namun, kedamaian itu terusik ketika waktu bergeser menuju siang hari.
Eli sedang berada di ruang tengah yang luas, sementara anak-anak sedang tidur siang di kamar mereka di bawah pengawasan Bibi Ami. Di atas meja kopi marmer, sebuah ponsel pintar keluaran terbaru berwarna hitam—ponsel baru yang disediakan Xavier—tiba-tiba bergetar hebat.
Bzzzt... Bzzzt...
Eli mengerutkan dahi. Xavier baru saja pergi beberapa jam lalu, dan Daniel biasanya hanya mengirim pesan singkat jika ada keperluan. Siapa yang meneleponnya? Mengingat kata-kata Xavier bahwa nomor ini sangat rahasia dan hanya terhubung dengan jaringan internal Arisatya, Eli melangkah mendekat dengan perasaan waspada.
Begitu dia mengangkat ponsel itu, layar digital menampilkan sebuah nomor tidak dikenal. Jantung Eli mendadak berdegup kencang, sebuah firasat buruk seketika menyergap batinnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Eli menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo?" ucap Eli, suaranya terdengar ragu dan tertahan.
Hening sejenak di seberang sana, sebelum akhirnya sebuah suara tawa hambar yang sangat dia kenali terdengar, memecah keheningan ruangan dan membuat seluruh darah di tubuh Eli mendadak berdesir dingin hingga ke ujung kaki.
"Wah, wah... ternyata benar. Suara ini tidak salah lagi. Jadi, wanita anggun yang bersanding dengan Xavier Arisatya di televisi tadi pagi adalah kamu, Eli?"
Adrian.
Suara mantan tunangannya yang kejam itu terdengar begitu jelas, sarat akan nada sinis dan kepuasan yang menjijikkan. Eli mencengkeram pinggiran meja marmer dengan kuat untuk menopang tubuhnya yang mendadak terasa lemas. Ketakutan terbesar dari masa lalunya kini telah menemukan jalan untuk menembus benteng pertahanan Xavier.
"Ba-bagaimana kamu bisa mendapatkan nomor ini, Adrian?!" desis Eli, suaranya bergetar menahan amarah sekaligus rasa takut yang luar biasa.
"Tidak ada yang mustahil di kota ini jika kita punya sedikit uang untuk menyuap orang dalam, Eli," jawab Adrian meremehkan di seberang telepon. "Enam tahun kamu bersembunyi seperti tikus got setelah mempermalukanku di malam itu, dan sekarang kamu tiba-tiba muncul sebagai seorang ratu? Luar biasa sekali caramu menjual diri, Eli."
"Jaga bicaramu, Adrian! Kamu dan Valencia yang menjebakku malam itu! Kalian yang berkhianat!" jerit Eli tertahan, air mata kemarahan mulai menggenang di sudut matanya. Dia melirik cemas ke arah tangga, takut suaranya akan membangunkan anak-anak.
"Halah, lupakan masa lalu! Aku tidak peduli siapa yang menjebak siapa," tukas Adrian kasar, beralih ke nada mengancam yang sesungguhnya. "Dengarkan aku baik-baik, Eli. Perusahaan agensiku sedang di ambang kehancuran karena audit pajak sialan itu. Aku butuh uang, dan aku butuh tanda tanganmu di surat kuasa warisan mendiang ibumu sekarang juga!"
"Aku tidak akan pernah memberikan sepeser pun hak ibuku kepada bajingan sepertimu dan saudari tiri jalangmu itu!" tegas Eli dengan sisa keberaniannya.
Adrian tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga Eli. "Jangan sombong karena sekarang kamu punya Xavier di belakangmu, Eli! Apakah suamimu yang terhormat itu tahu apa yang terjadi di Kamar 909 enam tahun lalu? Apakah dia tahu bahwa kamu hanyalah wanita malam yang tidak sengaja masuk ke kamarnya akibat obat perangsang yang aku berikan?"
Napas Eli tercekat. Wajahnya mendadak pucat pasi.
"Jika kamu tidak mau menemui kami dan menandatangani surat itu dalam waktu dua hari, aku tidak akan segan-segan menyebarkan rekaman dan bukti-bukti masa lalu ke media! Kita lihat, apakah Xavier Arisatya yang angkuh itu tetap mau mempertahankanmu sebagai istrinya setelah tahu bahwa reputasinya dikotori oleh wanita bekas sepertimu!" ancam Adrian final, sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
Pip.
Ponsel di tangan Eli terlepas, jatuh ke atas karpet bulu dengan suara debukan halus. Eli merosot berlutut di lantai, memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat. Adrian benar. Jika masa lalu yang kelam itu terbongkar ke publik, reputasi Arisatya Group akan hancur, dan Xavier... pria kejam yang sangat mementingkan harga diri itu pasti akan membuangnya dan merebut Kenji serta Kiana darinya selamanya.
Eli menyembunyikan wajahnya di lutut, terisak dalam diam di tengah kemewahan ruang tengah yang kini terasa seperti neraka yang siap menelannya hidup-hidup. Dia benar-benar terdesak di antara dua monster: masa lalunya yang mengancam, dan suaminya yang posesif yang belum tentu akan memaafkannya jika rahasia ini terbongkar.