Sekar, kembang desa Wanasari, seharusnya menikah dengan Lindu, pria tampan, mapan, dan kebanggaan banyak orang. Namun, tepat di hari pernikahan, Sekar tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Sejak saat itu, kebahagiaan berubah menjadi misteri yang tak terpecahkan. Ada yang mengira jika Sekar kabur dengan orang lain.
Beberapa bulan kemudian, teror mulai menghantui desa Wanasari. Kejadian-kejadian aneh bermunculan, membuat warga hidup dalam ketakutan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah berapa lama?
Karena tak sanggup menahan duka yang begitu besar, tubuh Bu Ratmini akhirnya limbung.
Sejak jasad yang diduga Sekar berhasil diangkat dari dasar sumur tua itu, wanita tua tersebut terus menangis tanpa henti.
Air matanya mengalir deras membasahi pipi yang sudah dipenuhi kerutan. Wajahnya pucat pasi, seolah seluruh darah di tubuhnya telah terkuras bersama harapan yang selama ini dia genggam.
Sementara Pakde Banyu dan beberapa ibu-ibu berusaha menenangkannya. Ada yang memeluk bahunya, ada yang mengusap punggungnya perlahan, mencoba memberikan kekuatan.
"Bu Ratmini, yang kuat, Bu..." Ucap salah seorang ibu dengan suara bergetar.
Namun Bu Ratmini hanya menggeleng pelan.
Tatapannya tidak pernah lepas dari kantong jenazah berwarna hitam yang terbaring di atas tandu.
"Itu bukan Sekar." Lirihnya sambil terisak.
Tangannya gemetar saat menunjuk ke arah tandu.
"Bukan anakku..."
Suara tangisnya pecah lagi.
"Sekar masih hidup, anakku masih hidup."
Namun jauh di dalam hatinya, dia tahu kenyataan yang sedang berdiri di hadapannya begitu sulit untuk dibantah.
Pakaian yang ditemukan bersama jasad itu adalah pakaian yang terakhir kali dikenakan Sekar saat menghilang.
Belum lagi cincin emas yang masih melingkar di jari manis jenazah yang telah membengkak akibat pembusukan.
Bu Ratmini mengenali semuanya, terlalu banyak kecocokan.
Terlalu banyak petunjuk yang mengarah pada satu kenyataan pahit.
Harapan yang selama ini ia pertahankan perlahan mulai runtuh.
Selama sebulan lebih dia terus meyakinkan dirinya bahwa Sekar pasti akan pulang kerumah.
Bahwa pintu rumah itu akan kembali terbuka dan Sekar akan berdiri di sana sambil tersenyum.
Namun kini harapan itu seolah dihancurkan tepat di depan matanya.
Tangis Bu Ratmini berubah menjadi tangisan histeris.
"Kenapa, Sekar..." Ratapnya.
"Kenapa kamu tinggalkan Ibu..."
Beberapa warga perempuan ikut menangis mendengar ratapan itu.
Tak sedikit yang menundukkan kepala karena tak sanggup melihat kesedihan yang begitu dalam dari seorang ibu yang kehilangan anak.
Dan, tiba-tiba tubuh Bu Ratmini kehilangan tenaga. Pengelihatannya menjadi gelap. Pakde Banyu yang berdiri di sampingnya langsung menahan.
"Ratmini!" Panggilnya.
"Bu Ratmini.." Panggil ibu-ibu yang lain.
Kesedihan yang menumpuk akhirnya menghancurkan sisa kekuatan yang dimilikinya.
Tubuhnya jatuh lunglai ke pelukan Pakde Banyu.
"Bu Ratmini pingsan!"
"Pegang kepalanya!"
"Kasih ruang!"
"Ambilkan air!"
Suasana yang sebelumnya hening mendadak ramai.
Beberapa warga berlari mendekat, para ibu mengipasi wajah Bu Ratmini dengan kain dan kerudung yang mereka kenakan.
Seorang warga mengambil air minum.
Yang lain berusaha membangunkan wanita tua itu.
Sementara itu beberapa pria membantu mengangkat tubuh Bu Ratmini menjauh dari kerumunan.
Setelah beberapa saat, napasnya mulai kembali teratur meski dia masih belum sepenuhnya sadar.
Karena khawatir kondisinya semakin memburuk, Pakde Banyu dan warga akhirnya sepakat membawa Bu Ratmini pulang ke rumah.
Dengan hati-hati mereka menggotong tubuh wanita tua itu menuju rumahnya.
Hari itu menjadi hari paling kelam dalam hidup Bu Ratmini.
Hari ketika harapan terakhirnya seakan ikut dikubur bersama kenyataan pahit yang baru saja terungkap.
Tak lama kemudian petugas rumah sakit bersama tim kepolisian mulai mempersiapkan proses evakuasi jenazah.
Tandu perlahan didorong menuju ambulans yang telah menunggu di pinggir jalan desa.
Kerumunan warga otomatis membuka jalan.
Dan, yang terdengar hanya suara roda tandu yang berderit pelan di atas tanah yang masih lembap.
Beberapa warga menundukkan kepala saat kantong jenazah itu melewati mereka.
Sebagian lainnya mengusap air mata yang terus mengalir.
Ketika tandu dimasukkan ke dalam ambulans, tangisan kembali pecah dari beberapa warga perempuan.
Pemandangan itu terasa begitu menyayat hati.
Pintu ambulans kemudian ditutup perlahan.
Bunyi pintu yang mengatup terdengar sederhana.
Mesin ambulans dinyalakan, suara mesinnya memecah keheningan.
Tak lama kemudian kendaraan itu mulai bergerak meninggalkan lokasi.
Membawa jasad Sekar menuju rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan lebih lanjut guna mengungkap penyebab kematiannya.
Warga hanya bisa berdiri memandang, mata mereka mengikuti ambulans hingga kendaraan itu semakin kecil di kejauhan.
Sampai akhirnya menghilang di tikungan jalan desa.
Keheningan kembali menyelimuti lokasi.
Namun tidak bagi Pak Nanang, pria tua itu berdiri di pinggir kerumunan dengan wajah yang terlihat gelisah.
Sejak tadi pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan yang tidak mampu ia jawab.
Tatapannya masih mengarah ke jalan yang baru saja dilalui ambulans.
Jantungnya terasa tidak tenang, bayangan kejadian beberapa hari lalu terus berputar di kepalanya.
Malam itu, malam ketika hujan turun sangat deras. Dia yakin telah bertemu Sekar.
Namun sekarang polisi baru saja menemukan jasad Sekar di dalam sumur tua.
Semakin dipikirkannya, semakin sulit semuanya masuk akal.
Dengan langkah ragu-ragu, Pak Nanang akhirnya menghampiri seorang petugas polisi yang sedang berdiri dekat garis pembatas.
"Pak..." Panggilnya pelan.
Petugas itu menoleh.
"Iya, Pak?"
Pak Nanang berdeham lebih dulu.
"Itu, kira-kira sudah berapa lama mayat itu berada di dalam sumur?"
Petugas tersebut tampak berpikir sejenak.
"Kami belum bisa memastikan secara pasti sebelum hasil pemeriksaan forensik keluar."
Pak Nanang mengangguk. Namun dia tetap menunggu.
Petugas itu kemudian melanjutkan.
"Tapi kalau dilihat dari kondisi jenazah yang sudah mengalami pembusukan cukup berat, kemungkinan memang sudah cukup lama berada di sana." Ujar petugas polisi itu. Namun, dia sendiri tidak yakin, karena bisa saja semuanya salah.
Jantung Pak Nanang langsung berdebar lebih cepat.
"Cukup lama itu berapa?" Tanya pak Nanang.
"Bisa jadi hampir sebulan. Bahkan mungkin lebih dari itu. Tapi sekali lagi, itu hanya perkiraan awal berdasarkan kondisi yang terlihat di lapangan." Petugas itu menjawab dengan hati-hati.
Mendengar jawaban itu, wajah Pak Nanang langsung pucat.
Hampir sebulan. Bahkan mungkin lebih.
Padahal dirinya yakin baru beberapa hari lalu bertemu Sekar.
Tenggorokannya terasa mendadak kering. Petugas itu tampaknya menyadari perubahan ekspresi di wajahnya.
"Bapak baik-baik saja?" Tanyanya.
Pak Nanang tersentak.
"I...iya, Pak."
Petugas itu memandangnya beberapa saat sebelum akhirnya pergi.
Sementara Pak Nanang tetap berdiri mematung.
Pak Nanang menelan ludah.
Pandangannya perlahan beralih ke sumur tua yang kini sudah dipasangi garis polisi.
Seolah menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.
Jika benar Sekar sudah berada di dalam sumur itu selama hampir sebulan. Lalu siapa sosok yang ditemuinya beberapa hari lalu?
Apakah matanya yang salah melihat Apakah pikirannya sedang mempermainkannya?
Ataukah ada seseorang yang sangat mirip dengan Sekar?
Namun semakin dia mencoba mencari penjelasan, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Apakah mungkin benar Sekar? Atau memang bukan Sekar? Semakin Pak Nanang berpikir, semakin kalut pula pikirannya.
Semua seperti teka-teki yang tak ada jawabannya. Atau, mungkin jawaban itu belum muncul ke permukaan.