Pewaris Pedang Samudera yang memilih berlayar ketimbang meneruskan jejak sang ayah. Lantas bagaimana cara dia untuk memanfaatkan pusaka legendaris itu dan mewujudkan perdamaian di Shenzhou jika dia sendiri adalah sampah yang dimanjakan ibu dan kakak perempuannya?
"Ibuku memberiku segalanya kecuali kebebasan. Kakakku memberiku perlindungan meski aku tidak memintanya. Sementara Ayahku memberiku mimpi yang membuatku terus berjalan meski semua orang berkata untuk berhenti. Aku adalah orang paling beruntung sekaligus paling terkekang di dunia."
Novel Xianxia baru dari Dana Brekker, bisa langsung baca aja. Tinggalkan like, vote, dan komentarnya kalau suka. Terima kasih!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 : KEJUJURAN DI BAWAH KAPAL
Tidak bosan-bosannya Bai Mei menggigit ujung tusuk giginya dan menatap ke arah yang tidak langsung bisa diidentifikasi oleh orang yang tidak memperhatikannya dengan cermat.
"Kau bisa pergi ke kota," kata Zhao Feng. "Untuk cuci mata... membeli sesuatu yang tidak berguna tapi menyenangkan... percayalah, itu akan selalu membantu."
"Atau," kata Sun Li, "cari laki-laki. Kau sudah jomblo terlalu lama."
Sikutan dari Ma Chao mendarat di rusuk Sun Li sebelum kalimat itu selesai bergema.
"Aku tidak jomblo," kata Bai Mei tanpa mengalihkan pandangan. "Aku cuma selektif."
"Perbedaan yang sangat tipis," bisik Sun Li ke Ma Chao.
"Aku dengar itu." Bai Mei mengeluarkan tusuk giginya dan memandang ke cakrawala layaknya seseorang yang sedang memikirkan sesuatu yang tidak berkaitan dengan percakapan ini. "Seandainya aku seorang tabib. Pekerjaan mengangkut kayu dan menggosok dek ini tidak akan ada dalam deskripsi tugasku."
Lantas Zhao Feng mengikuti arah pandangnya karena penasaran melihat betapa muramnya teman wanitanya itu.
Terlihat di sisi lain dek, Hua Ling sedang tertawa kecil sambil mendengarkan Haifeng bercerita tentang sesuatu, tangannya menutupi mulutnya dengan sangat familiar bagi siapa pun yang sering melihatnya.
Zhao Feng pun akhirnya menatap Sun Li, Sun Li menatap Ma Chao, dan Ma Chao menatap keduanya bergantian.
"Mungkin itu termasuk kekuatan pasif Pedang Samudera," kata Sun Li kelewat pelan. "Semua wanita di kapal ini—"
"Asal kalian tahu, aku tidak tertarik pada Tuan Muda Haifeng," kata Bai Mei dengan datarnya. "Hubungan kami memang sudah membaik dan aku tidak berniat mengganggunya lagi. Tapi di sini aku hanya sedang membandingkan, jika mempunyai warisan kekuatan tabib setidaknya membuat hidup lebih mudah, jadi jangan salah paham."
"Termasuk," kata Zhao Feng, menunjuk ke arah tangga dek, "jika menjadi Yao Ren yang imut dan cantik itu?"
Renoa muncul dari tangga meski terlihat tidak yakin apakah dirinya diizinkan ada di ruang terbuka ini tapi sudah memutuskan untuk mencoba. Telinganya bergerak ke kiri lalu ke kanan. Ekornya mengibas pelan beberapa kali sebelum berhenti seperti diperintah.
Melihat itu, Bai Mei malah mendecak, membuang tusuk giginya ke laut, dan pergi ke arah yang berlawanan tanpa penjelasan lebih lanjut.
Sementara Renoa mendekati Haifeng dan Hua Ling dengan langkah yang tidak sepenuhnya yakin tapi tidak berbalik juga.
"Oh, Renoa. Selamat siang." Haifeng menyapanya dengan tulus. "Sudah makan?"
Renoa mengangguk sedikit.
"Baguslah." Haifeng bersandar di railing, menatap ke arah kota yang masih ramai di dermaga. "Tadi aku dengar kabar dari pemerintahan Long Men jika semua orang yang malam itu dibebaskan bersama dirimu sudah terdata dan ditampung di tempat yang layak. Zhao Mirei berkomitmen untuk memberantasnya di sini."
"Benarkah?" timpal Hua Ling, wajahnya cerah. "Itu kabar yang bagus sekali."
Namun Renoa tidak langsung menjawab, sementara telinganya bergerak lagi, kali ini lebih pelan. "Pemerintahan di mana pun sama saja. Berjanji hari ini, lalu akab lupa besoknya."
Haifeng tidak membantah itu. "Mungkin. Tapi kali ini ada yang mengawasi dari luar, dan mereka tahu siapa yang mengawasi."
Renoa menatapnya dari samping. Kemudian melihat ke bawah ke air yang bergerak pelan di sisi kapal. "Aku ke sini untuk berterima kasih."
"Sudah tersampaikan."
"Aku belum mengucapkannya."
"Kau baru saja mengucapkannya."
Renoa mengerutkan dahinya saat Haifeng tersenyum ke cakrawala, menghela napas yang panjang dan tidak terburu-buru, seperti orang yang sedang menikmati momen sebelum pertanyaan penting diajukan.
"Renoa..." Suaranya berubah sedikit, lebih langsung. "Ini mungkin waktu yang tepat untuk kau menentukannya. Tetap di sini bersamaku, atau turun di Long Men dan mulai dari sini. Tidak ada jawaban yang salah, karena aku tidak akan memaksa pilihanmu."
Renoa pun terdiam cukup lama. Telinganya tidak bergerak kali ini, namun matanya mencari-cari hal yang tidak jelas.
"Aku tidak berhutang pada Long Yuan," kata gadis setengah kucing itu. "Kekaisaran itu tidak ada dalam perhitunganku. Tapi aku berhutang padamu." Dia menatap Haifeng langsung untuk pertama kalinya dalam percakapan ini. "Jadi aku tidak pergi. Tapi jangan salah paham. Aku ikut karena dirimu, bukan karena bendera yang tergantung di tiang kapal ini."
"Itu sudah lebih dari cukup," kata Haifeng.
"Dan kalau ada yang menyuruhku melakukan sesuatu atas nama kekaisaran, aku tidak akan mendengarkannya."
"Tidak ada yang akan memintamu melakukan itu."
Renoa menatapnya sebentar lagi, lalu memindahkan pandangannya ke laut.
Di saat yang sama, Hua Ling yang duduk di dekatnya tersenyum ke tangan yang menutup mulutnya.
Semua itu terlihat damai sebelum suara gaduh dari dermaga di bawah kapal naik ke atas.
Suaranya seperti suara orang banyak yang sedang menonton sesuatu, campuran antara tepuk tangan dan bisikan takjub yang bergabung menjadi satu kebisingan yang berenergi.
Pintu kabin terbuka dan Qinghan keluar dengan rambut yang tidak sepenuhnya tertata. Matanya seketika menyipit ke arah matahari yang terlalu terang untuk seseorang yang baru saja tidur siang.
"Siapa yang berani ribut-ribut di samping kapalku saat siang hari?" katanya, berjalan ke railing dan menengok ke bawah.
Haifeng yang berdiri di sebelahnya juga menengok ke bawah.
Di dermaga itulah, Zhao Mirei berdiri dengan satu lutut menyentuh tanah dan setangkai bunga yang ukurannya tidak masuk akal untuk sebuah tangkai bunga biasa di tangannya yang terangkat ke atas. Rambutnya yang putih keperakan tersisir ke belakang dengan sangat rapi, jubahnya bersih dan tidak kusut, dan ekspresinya adalah ekspresi seseorang yang sudah mempersiapkan momen ini dengan sangat serius.
"Wei Qinghan!" Suaranya lantang, cukup untuk didengar separo dermaga. "Panglima Perang Long Yuan yang kecantikannya melampaui bulan di malam terbaik dalam seribu tahun! Perkenalkan, Aku adalah Zhao Mirei, Penguasa Long Men, pria yang sudah menghabiskan hidupnya membangun sesuatu yang layak untuk dibanggakan." Dia tidak berhenti di sini. "Kota ini aku bangun dengan tanganku sendiri. Armada pedagang ini aku kumpulkan selama dua puluh tahun. Nama baikku di seluruh lautan ini ada karena kerja kerasku, bukan karena warisan." Satu tarikan napas, lalu. "Dan aku ingin mempersembahkan semua itu kepadamu. Bersediakah kau menjadi pendamping hidupku?"
Di samping Haifeng, Tianbao muncul dari belakang entah sejak kapan, diikuti Wang Bi dan Liu Mao yang keduanya sudah dalam posisi berbisik meski belum mengatakan apa-apa.
"Itu..." bisik Tianbao, "siapa?"
"Penguasa pulau ini," bisik Haifeng balik.
"Kenapa dia berlutut di depan kapal kita?"
"Itu pertanyaan yang bagus."
"Dia membawa bunga sebesar lengannya," bisik Liu Mao. "Berapa harganya kira-kira?"
"Fokuslah," bisik Wang Bi, tapi matanya juga sedang menghitung.
Qinghan tidak segera menjawab ke bawah. Alih-alih, dia memalingkan kepalanya sangat pelan ke arah adiknya yang berdiri di sebelahnya dengan kepala sedikit menunduk dan bahu yang bergerak sangat kecil.
"Haifeng."
"I-iya Kak?"
"Apakah ini ada hubungannya dengan kunjunganmu ke pemerintahan kemarin?"
"Ah, ya, ada kemungkinan."
"Apakah kau yang menyebabkan ini?"
"Ada kemungkinan... juga sih."
Qinghan menatapnya satu detik penuh. "Kau bilang padanya aku butuh pendamping hidup?"
"Aku bilang Ayah dan Ibu memang selalu mengatakannya." Haifeng tidak bisa lagi menyembunyikan sudut bibirnya. "Dan secara teknis itu benar."
Qinghan pun menarik napas panjang. Melipat kedua tangannya di dada sebelum menoleh ke bawah, ke tempat Zhao Mirei yang masih berlutut dengan sangat sabar.
Senyumannya muncul. Ramah, manis, dan sama sekali tidak menyiratkan apa yang akan datang sesudahnya.
"Zhao Mirei," katanya. "Kau pria yang baik. Itu sudah jelas dari caramu membangun Long Men menjadi seperti sekarang. Lalu bunga itu," dia menatap tangkai bunga di tangan Zhao Mirei, "ukurannya menunjukkan niat yang sungguh-sungguh."
Tanpa banyak berpikir Zhao Mirei jelas tersenyum begitu lebar.
"Tapi," lanjut Qinghan, dan nada manis itu berubah sangat mulus menjadi sesuatu yang berbeda, "aku tidak tertarik. Tentu saja bukan padamu secara khusus, bukan pula pada gagasan tentang pendamping hidup secara umum." Suaranya tidak naik nadanya, tapi setiap kata mendarat seperti sesuatu yang sudah dipertimbangkan dengan sangat matang. "Intinya standarku memang sangat tinggi, dan aku tidak berbicara tentang kekuatan atau harta. Aku berbicara tentang seseorang yang bisa menerima kenyataan bahwa tidak ada orang di dunia ini yang lebih aku sayangi dari adikku, dan siapa pun yang masuk ke dalam hidupku harus menerima urutan prioritas itu tanpa keluhan. Sedangkan kau baru mengenalku. Kau tidak tahu apa yang kau minta."
Zhao Mirei masih berlutut. Tapi senyumnya sudah tidak selebar tadi.
"Dan terakhir," kata Qinghan, "adikku menyayangiku, bukan berarti dia bebas meminjamkan diriku sebagai bahan negosiasi."
Kesunyian yang turun ke dermaga itu cukup panjang untuk membuat beberapa penonton di sekitar Zhao Mirei mulai menggeser posisinya pelan-pelan.
Adapun Zhao Mirei akhirnya berdiri. Wajahnya putih, berbeda dari warna kulitnya yang biasa.
"Saya mengerti," katanya.
Seorang pengawal bahkan mendekat dari belakangnya. "Tuan, boleh saya bantu berjalan pulang?"
Zhao Mirei tidak menjawab tapi juga tidak menolak.
Sementara di atas dek, Tianbao menutup mulutnya dengan tangan. Wang Bi dan Liu Mao sudah membalikkan badan karena bahu keduanya bergoyang terlalu keras.
Qinghan berbalik ke adiknya. "Aku tidak perlu pendamping hidup."
"Kakak benar. Aku mengerti sekarang," kata Haifeng.
"Bagus." Qinghan merapikan rambutnya. "Dan kau tidak boleh melakukan itu lagi."
"Tidak akan."
"Bagus." Qinghan berbalik kembali ke kabin. "Aku selesaikan tidur siangku, dan kau jangan lupa makan siang."
Haifeng menepuk jidatnya dengan telapak tangan, menghela napas, dan menatap Tianbao yang sudah tidak bisa menahan mukanya lebih lama.