NovelToon NovelToon
Lost Memories

Lost Memories

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Light Novel
Popularitas:17.8k
Nilai: 5
Nama Author: ZeroGame

Hampa— tak mengerti apapun. Sang Protagonis terbangun di tempat asing bersama seorang gadis Half-Elf yang menyelamatkan nyawanya. Ia dibawa ke sebuah desa yang memberinya kehangatan.
Ketika Sang Protagonis mencoba mengingat berbagai hal, justru sakit kepala hebat yang ia dapat. Dengan ingatannya yang sebagian besar hilang, ia bertekad mengumpulkan kembali serpihan ingatannya. Tapi, perjalanannya tidak akan mudah. Ia harus dipaksa menelan pil pahit takdir yang menuntunnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZeroGame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CH. 5 [BAB I: Desa Harapan]

Sambil menaiki seekor rushmodo, mereka berdua menelusuri jalan yang dihimpit oleh rindangnya pepohonan guna menuju lokasi selanjutnya.

Keluar dari area hutan, mereka berdua melihat sebuah tanah lapang yang di isi oleh beberapa bangunan.

"Kita sudah sampai."

"Tempat apa ini?"

"Sekolah. Tempat dimana orang-orang mencari ilmu dan pengetahuan."

"Aku tidak terlalu paham."

"Singkatnya, ini tempat yang membuatmu jadi lebih pintar. Dan mungkin saja, ada sesuatu yang bisa memicu kembalinya ingatanmu."

Mengesampingkan soal mendapatkan ingatannya kembali, rasanya mendapat pengetahuan baru itu sangat berguna bagi Azura. Meski dia sudah lancar berkomunikasi akibat kemampuan berbahasanya yang sudah dikembalikan, tapi tidak lebih dari itu. Azura masih belum paham tentang kehidupan dan tanah yang ia pijak saat ini.

"Aku mau sekolah!"

Melihat Azura yang begitu bersemangat, Riri hanya bisa tersenyum.

Mereka berdua mulai turun dan menepikan rushmodo yang mereka bawa di bawah pohon besar di dekat sana. Tak lupa mereka mengikat tali pacunya agar rushmodo itu tidak kabur.

Baru sebentar mereka berjalan disana, mereka melihat seorang remaja laki-laki yang penuh keringat sedang menenggak minuman dari kantung minum yang terbuat dari kulit.

"Adi!"

Laki-laki yang dipanggil Adi itu segera menoleh begitu dipanggil.

Ia memiliki tubuh yang terlatih, terlihat dari otot lengannya yang terbentuk dengan sempurna. Rambut merah serta mata yang berwarna biru itu juga menjadi salah satu daya tariknya. Dengan paras yang tampan serta tubuh yang bagus, orang seperti Adi ini bisa dengan mudah memikat hati para wanita.

"Ah, Riri. Kau datang untuk mengantarkan makan siang anak-anak? Atau ada keperluan lain?" pandangan mata Adi sedikit melirik ke arah Azura.

"Aku tidak mengantarkan makan siang hari ini. Aku hanya ingin mengajak Azura jalan-jalan. Perkenalkan, orang di sampingku ini penghuni baru di panti asuhan, namanya Azura."

"Namaku, Azura. Senang bertemu denganmu."

Adi berjalan mendekat sambil mengulurkan tangan kanannya—ia bermaksud untuk melakukan jabat tangan.

"Adi Abyakta. Panggil saja Adi."

Azura menatap ke arah tangan Adi yang ia ulurkan. Ia tidak tahu apa yang sedang Adi lakukan, jadi ia mengikutinya. Dengan pelan Azura juga turut mengulurkan tangan kanannya. Dengan cepat Adi menyambar tangan itu dan melakukan jabat tangan.

Dalam jabat tangan yang sedang mereka lakukan, Azura merasakan tangannya sedang di remas dengan kuat. Azura yang bingung kenapa tangannya diremas begitu kuat, membalasnya dengan mengeraskan genggaman tangannya.

Begitu Adi menyadari jika orang yang ada di hadapannya ini bukan orang sembarangan, terasa dari genggaman tangan yang ia rasakan saat ini, Adi segera melepaskan jabat tangannya. Ia lalu tersenyum dan menepuk pelan pundak Azura.

"Selamat datang di desa ini, Azura. Mari, aku ajak kalian berkeliling di area sekolah."

Mengikuti Adi, mereka mulai memasuki bangunan sekolah. Menyusuri beberapa ruangan dan melihat-lihat isinya.

Bangunan sekolah ini terbilang cukup besar, namun terasa begitu hening. Mereka bertiga hampir tidak menemukan orang lain di dalam sana.

"Tidak ada orang?"

"Sepertinya mereka sedang di halaman belakang sekolah berlatih seni berpedang dan sihir."

Menuju halaman belakang yang dimaksud, telinga Azura mulai bisa menangkap suara-suara ledakan dan tumbukan dari benda yang cukup keras saling beradu.

Membuka pintu belakang, mereka melihat banyak anak-anak dan remaja yang tengah berkumpul sedang berlatih di tanah lapang. Ditemani dengan dua orang dewasa, seorang pria dan wanita yang sepertinya merupakan para guru disini.

Walau hanya sekilas, tapi Azura tahu jika sebagian besar anak-anak yang ada disana merupakan penghuni panti asuhan.

Salah satu dari mereka menyadari kehadiran ketiga orang yang baru datang tersebut dan mulai memanggil mereka.

"Kak Riri! Kak Azura!"

Panggilan itu bukan hanya menarik perhatian Riri dan Azura, tapi semua orang yang ada disana. Membuat mereka yang sedang berlatih jadi hilang fokus.

Guru mereka hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum. "Baiklah semuanya, kita istirahat dulu."

Mendengar kata 'istirahat', semua anak disana terlihat begitu girang dengan sebagian yang masih mengatur nafas akibat kelelahan. Beberapa juga mulai mengambil minum dari kantung minum yang disediakan.

Adi kemudian berjalan mendekat ke arah dua orang pengajar tersebut.

"Maaf karena mengganggu waktu belajar, Ayah, Ibu."

"Ayah? Ibu?" tanya Azura dengan sedikit bingung.

"Ah, maaf aku lupa memberitahu kalau kedua orang tuaku merupakan guru dan pengajar di sekolah ini."

Salah satu dari pengajar itu—Ibu Adi mulai mengelus kepala putranya.

"Tidak masalah. Lagipula jam istirahat juga sebentar lagi. Jadi, apa yang membawa gadis half-elf cantikku kemari? Sampai membawa lelaki lain. Sepertinya Adi jadi punya saingan ya?"

"Ibu, hentikan."

"Fufufu... Kenapa? Toh, Ibu juga tidak masalah punya menantu imut seperti Riri. Benar kan, Riri?"

Riri hanya bisa membalas pertanyaan itu dengan tersenyum pasrah.

"Sudahlah, Bu. Sudah jelas kedatangannya untuk mengantarnya, kan?" sela sang suami sambil melirik ke arah Azura. "Kami sudah baca surat yang diberikan oleh Madam Vega tentang dirimu, Azura. Jika ada hal yang ingin kau ketahui, tanyakan saja, tidak perlu ragu. Kami akan membantu sebisa kami."

"Um... Baik."

"Sebelum itu, rasanya kurang sopan jika kami tidak memperkenalkan diri. Perkenalkan, namaku Ary Abyakta. Kepala keluarga Abyakta sekaligus guru seni berpedang disini."

Pak Ary dengan cepat menarik sebilah pedang yang ia sarungkan dan mengacungkannya ke depan sebagai bentuk perkenalan diri sekaligus mempertegas jika ia memang seorang guru berpedang.

Penampilan Pak Ary ini sangat mirip dengan Adi, dengan rambut merah, mata berwarna biru dan otot lengan yang sangat terlihat. Mungkin perbedaannya hanya perbedaan usia dan beberapa helai janggut yang sudah mulai tumbuh pada Pak Ary.

"Namaku, Mary Abyakta. Berbeda dengan suamiku, aku mengajar ilmu sihir." Mary memperkenalkan diri sambil mengeluarkan sebuah bola api kecil dari ujung telunjuk kanannya, lalu api itu ia padamkan dengan cepat.

Kini Bu Mary yang memperkenalkan diri, ia mengenakan pakaian berwarna hijau. Dengan rambut berwarna coklat sepunggung yang sedikit ia ikan di ujungnya itu, serta tubuh yang cukup menarik. Meski matanya terlihat sedikit sayu dengan pupil mata berwarna coklat, hal itu tak menghentikan daya tariknya.

Seusai memperkenalkan diri, Bu Mary segera meraih tangan Azura sambil mengusap-usap punggung tangannya.

"Aliran manamu terlihat sangat menarik. Apa kau mau berlatih sihir? Aku yakin kau pasti akan menjadi penyihir yang hebat!"

"Tunggu dulu Bu. Anak dengan badan bagus sepertinya tidak boleh disia-siakan. Dia akan menjadi seorang ahli pedang!" sela Pak Ary.

"Kenapa sih isi kepalamu hanya pedang, pedang dan pedang? Sudah kubilang dia punya aliran mana yang unik. Jika tidak dikembangkan, bakatnya akan sia-sia!"

"Tidak! Dia akan menjadi seorang ahli pedang!"

Pak Ary dan Bu Mary malah saling beradu mulut untuk memperebutkan siapa yang pantas melatih Azura.

Sementara Adi hanya bisa menghela nafas dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua orang tuanya.

"Maafkan ayah dan ibuku ya, mereka memang maniak sihir dan pedang. Aku sendiri heran kenapa mereka berdua bisa saling suka."

"Azura! Kau mau jadi seorang pendekar pedang kan?!"

"Jangan Azura. Bilang padanya jika kau ingin menjadi seorang penyihir!"

Didesak oleh keadaan, Azura hanya bisa pasrah sambil mengangkat kedua tangannya setinggi dada.

Setelah pertikaian yang sengit selama beberapa saat, akhirnya diputuskan jika Azura akan mencoba keduanya. Sisanya tinggal Azura sendiri yang menentukan bakatnya akan di arahkan kemana setelah mencobanya.

Cukup berunding, Azura memutuskan untuk mencoba melatih sihirnya terlebih dahulu. Bu Mary terlihat sangat girang dan tak sabar hal seperti apa yang akan diciptakan anak tersebut.

"Baiklah Azura, kita mulai dari pengertian sihir itu sendiri. Pada dasarnya, sihir adalah hasil dari manifestasi hasil mana yang ada di dalam tubuhmu. Dimana kau menggunakan mana layaknya sebuah bahan bakar, dan dari bahan bakar tersebut kau bisa menciptakan sesuatu yang disebut dengan sihir. Namun, sihir ini bukanlah kekuatan yang maha sempurna, dia hanya bisa menciptakan sesuatu berdasarkan lima elemen pembentuk kehidupan. Api, air, angin, tanah dan petir. Tapi, ada beberapa orang yang terlahir khusus dimana mereka bisa menggunakan sihir diluar kelima elemen dasar, mereka lah yang disebut sebagai seorang pemurni..."

Azura mendengarkannya dengan penuh semangat dan seksama penjelasan dari Bu Mary.

"Untuk cara penggunaannya sendiri..." Bu Mary membuka kembali telapak tangannya, dari sana muncul kembali kobaran api yang membara. "Sebenarnya sedikit susah dijelaskan, tapi pada dasarnya kau tinggal mengalirkan manamu keluar tubuh, dan disaat yang bersamaan, kau memanifestasikan mana tersebut sebagai bentuk yang lain. Contohnya seperti Ibu yang membuat kobaran api dari mana yang Ibu keluarkan, lalu kau juga bisa membuat seperti ini..." Bu Mari menutup telapak tangannya, menghilangkan kobaran api tersebut. Ia lantas mengarahkan tangan kanannya sedikit ke atas—menuju ke arah langit dimana ia membuat pose seolah ingin menembak. "Membara lah..." sebuah busur api tercipta secara mendadak. Ia lalu menarik tali busur tersebut dan anak panah api pun tercipta. "Phoenix..." busur api tersebut langsung membesar, bersamaan dengan anak panah yang berubah menjadi sebuah burung api yang memekik dengan keras, membuat area di sekitar menjadi begitu panas.

Bu Mary saat ini terlihat sangat berbeda. Mata sayunya bahkan tak lagi terlihat, digantikan dengan tatapan penuh fokus.

Tapi, fokus tersebut harus terpecah saat sebuah tepukan pelan mendarat di pundahk Bu Mary.

"Ku pikir ini sedikit berlebihan untuk sebuah pengenalan, sayang."

"Ah, benar juga." panah dan busur api tadi pun langsung menghilang dalam sekejap. "Maaf ya Ibu terbawa suasana. Yah, pokoknya kau bisa membuat apapun selama itu masih dalam cakupan kelima elemen dasar. Sekarang, bagaimana kita langsung praktek saja?"

"Um, baik."

Azura mulai membuka telapak tangannya seperti yang Bu Mary perlihatkan.

"Tidak keluar apapun."

Bu Mary hanya tersenyum lembut. "Pejamkan matamu. Rasakan energi yang mengalir lembut di setiap sel dan pembuluh darahmu. Energi itulah yang disebut mana. Lalu, alirkan mana tersebut ke arah telapak tanganmu dan bayangkan sebuah kobaran api yang tercipta dari hal tersebut."

Azura mempraktekkan apa yang disebutkan oleh Bu Mary. Ia mulai merasakan seolah ada energi yang mengalir di dalam tubuhnya dan ia arahkan pada telapak tangannya. Membayangkan sebuah kobaran api yang menyala, namun tak ada apapun yang terjadi. Entah sekuat apapun Azura mencobanya, tetap tidak ada yang terjadi.

Bu Mary yang sedikit kebingungan mulai menyarankan untuk membayangkan hal lain. "Bagaimana kalau coba hal lain, coba bayangkan seolah ada gumpalan air yang mengambang di atas telapak tanganmu." Namun, semua itu sia-sia. Tidak ada yang terjadi.

Sambil memegangi dagunya, Bu Mary berpikir. Hingga di satu titik dimana matanya terbelalak.

"Benar juga, kenapa tidak terpikirkan olehku. Adi, bisa ambilkan kotak khusus milik Ibu?"

"Baik." dengan cepat, Adi bergegas mengambil barang yang di inginkan Bu Mary.

Tak perlu waktu lama bagi Adi untuk mengambil barang yang diperlukan.

"Terimakasih ya sayang."

Bu Mary membuka kotak tersebut. Ia lalu mengambil sebuah bongkahan batu kecil transparan yang indah. Di satu sisi, batu itu juga seperti memantulkan kilau pelangi yang menawan.

"Untuk apa batu tersebut?" Azura terlihat kebingungan, termasuk dengan Adi dan Riri yang juga baru melihat batu indah seperti itu.

"Ini adalah batu pemurni, sebuah mineral langka yang tercipta dari ekstraksi mana alam di dalam selimut bumi. Sesuai namanya, batu ini juga sangat sensitif terhadap kekuatan para pemurni. Dimana batu ini bisa berubah wujud jika di aliri oleh mana seorang pemurni. Bisa dibilang, batu ini adalah indikator termudah untuk menemukan orang tersebut adalah seorang pemurni atau bukan. Di satu sisi, batu ini juga sangat rapuh."

"Jadi, apa aku ini seorang pemurni?"

"Kita belum tahu sebelum mengetesnya Azura. Yang Ibu tahu, meski para pemurni bisa menggunakan kekuatan sihir diluar kelima elemen dasar yang terbilang sangat kuat, sebagai gantinya, mereka juga tidak bisa menggunakan kelima elemen dasar. Dengan menggunakan batu ini, semuanya akan jelas." Bu Mary memberikan batu pemurni pada Azura.

Azura yang menggenggam batu pemurni tersebut mulai menarik nafas dengan dalam. Ia mulai mengalirkan mana pada batu tersebut.

Genggaman tangan Azura terlihat mulai bersinar, tanda bahwa batu itu mulai bekerja.

Semua orang disana mulai takjub akan hal tersebut, tak terkecuali Bu Mary. Matanya sampai berkaca-kaca melihat hal yang sangat langka di hadapannya.

Setelah beberapa saat, Azura membuka kembali telapak tangannya. Hanya untuk mendapati tidak terjadi apa-apa.

Azura terlihat semakin bingung. Tapi tidak dengan Bu Mary. Ia langsung mengambil batu tersebut dan mulai membuat sebuah altar batu tepat di hadapannya.

Ia mulai meletakkan batu tersebut di atas altar yang ia ciptakan.

"Sayang, coba kau hancurkan." Bu Mary meminta suaminya untuk menghancurkan batu tersebut.

"Jangan salahkan aku ya kalau batunya hancur."

"Coba dulu saja." Tampang Bu Mary sangat yakin jika suaminya tak akan bisa menghancurkan batu tersebut.

Pak Ary mulai menarik pedang dari sarungnya. Ia mulai mengambil kuda-kuda dan bersiap menghancurkan batu tersebut.

Pedangnya yang ia angkat tinggi itu mulai sedikit memercikan petir. Tanpa kedipan—sebuah tebasan super cepat menghantam batu pemurni. Semua terkejut bukan main. Bukannya mendapati batu itu hancur, justru pedang Pak Ary yang terbelah menjadi dua. Bahkan, batu itu tak mengalami goresan sedikit pun.

"Bagaimana bisa? Bukannya tidak terjadi apa-apa saat aku menggenggamnya tadi?"

"Kau salah Azura. Inilah satu tanda jika kau adalah pemilik sihir pemurni. Kau adalah seorang pemurni dengan tipe penguat."

1
Kang Nyimak
Kutai Kartanegara? Indonesia?
Ayano
Diriku mampir thor. Baru baca chapter satu dulu. Abis cas handphone dilanjut lagi. Semangat ya. Kalo sempet mampir juga ya
Helmi Sintya Junaedi
otor kepentok apa ini ya??? sekian paripurna baru lanjut..
btw mkasih mo lanjutin y thor
ZeroGame: aku sibuk sama pekerjaan di real life kak wkwkwk
maaf banget jarang update, gak bisa kupaksakan juga karena bakal menganggu kualitas cerita
total 1 replies
Inira
Bunga untukmu, biar lebih semangat update!
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Cheonma
Semangat updatenya thorrr...
ZeroGame: Makasih kak ≧﹏≦
total 1 replies
Wardi Kun
Azura menggambarkan gweh nih
Jeco Alana
Baru baca eps 1, tapi bahasanya gurih banget. Mantap.
ZeroGame: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!