Apakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidaApakah perceraian harus menjadi jalan satu-satunya saat rumah tangga tertimpa masalah? Jika benar seperti itu, maka tidak akan ada ucapan sakinah mawadah warahmah, dalam pernikahan.
Bertahan dalam pernikahan yang memberi tangis kesedihan bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi bentuk dari perjuangan dalam mencapai pernikahan yang bahagia. Karena tidak ada pernikahan yang berjalan mulus tanpa masalah. Begitu juga pernikahan antara Zaara dan suaminya–Arjuna.
Malam pertama pernikahan yang harusnya memberikan Zara kebahagiaan, justru memberikan luka yang begitu menyakitkan untuk Zara, saat Zara mengetahui jika suaminya mencintai wanita lain.
Apakah Zara memilih menyerah? Tidak. Karena Zara mencoba bertahan dan berjuang untuk pernikahannya.
Apakah perjuangan Zara akan berbuah manis? Entahlah.
Ikuti ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Saat Juna dan Laura tengah saling mengungkapkan perasaan mereka, membuat janji untuk bertemu dan mungkin saja akan melakukan hal yang menyenangkan nantinya. Zara justru tengah fokus dengan memasak di dapur. Seperti yang Zara katakan sebelumnya lada pelayan, mengenyangkan perut suaminya adalah tugasnya, untuk itu Zara berusaha mendapatkan hasil terbaik agar dapat disukai oleh Juna.
Zara yang sedang asik menghidangkan hasil masakannya di atas meja, menoleh saat mendengar suara langkah kaki seseorang memasuki ruang makan.
Tanpa melihat siapa itu, detak jantungnya yang berdetak kencang dengan sendirinya membuat Zara tahu siapa yang datang.
Senyuman kembali terukir di wajah cantik Zara menyapa Juna yang juga tengah menatapnya.
"Za, kenapa kamu merepotkan dirimu dengan urusan dapur? Ada pelayan yang bisa melakukan semua ini," tanya Juna menatap pada semua hasil masakan Zara yang sudah tersaji di atas meja makan.
"Mas, kamu suamiku dan aku adalah istrimu. Ini semua sama sekali tidak merepotkan untukku," jawab Zara.
Kata suamiku dan istriku yang terucap dari bibir Zara kembali memenuhi pikiran Juna. Kata-kata yang memiliki makna yang begitu dalam dan itu membuat Juna merasa bersalah padanya.
"Mulai sekarang biarkan aku yang menggantikan bibi Desi untuk memasak, ya Mas?" ucap Zara pada Juna.
Juna yang masih terdiam mencerna semua ucapan Zara hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Zara lagi-lagi tersenyum saat Juna tak melarangnya untuk memasak, satu hal yang saat ini Zara syukuri saat keterampilannya memasak akhirnya dapat berguna untuk rumah tangganya.
Dengan sangat telaten dan cekatan, Zara mulai melayani Juna untuk makan. Mulai dari mengambilkan piring, nasi, lauk, air minum dan lainnya. Juna kembali merasa hangat pada hatinya melihat semua perhatian Zara yang terlihat begitu tulus melakukannya, tanpa sadar Juna menatap lekat wajah cantik Zara.
Juna terus saja memperhatikan Zara, seakan tidak ingin melewatkan sedikitpun tentang Zara. Sangat berbeda dari biasanya terjadi, karena biasanya orang-orang lah yang selalu memperhatikan Juna, mengagumi wajah tampannya dan tak pernah bosan menatapnya, termasuk Laura yang dulu juga selalu mengaguminya bahkan hingga sekarang.
'Dia benar-benar cantik. Sempurna seperti yang dikatakan orang-orang,' batin Juna mengagumi sosok Zara.
"Selamat makan, Mas. Semoga suka dengan hasil masakanku. Tolong jangan sungkan untuk mengatakan kekurangan dari hasil masakanku agar kedepannya aku bisa memperbaikinya," ucap Zara lembut menyadarkan Juna yang menjadi salah tingkah, karena tertangkap basah tengah menatapnya.
Juna lagi-lagi menanggapi ucapan Zara hanya dengan anggukan kepala, tetapi Zara sama sekali tidak masalah dengan hal itu selagi suaminya tidak menolaknya.
'Beginikah rasanya dilayani oleh istri saat makan? Apa ini alasan papa lebih senang makan di rumah daripada di luar? Aku akan sangat bahagia jika saat ini Laura yang melayaniku,' batin Juna kembali merasa dilema saat memikirkan Laura.
Tangan kanan Juna mulai bergerak untuk memulai makan malam mereka. Juna kembali menatap Zara saat lidahnya tersentuh dengan makanan yang dibuat oleh Zara. Seperti yang pelayan katakan, Juna sedikit pemilih dalam hal makanan, dan ini menjadi kali pertamanya Juna merasa cocok dengan masakan seseorang di kali pertama mencicipinya.
"Apa rasanya tidak enak?" tanya Zara gugup menatap Juna yang terdiam menatapnya setelah mencicipi masakannya.
"Jangan dilanjutkan jika tidak enak, Mas!" Zara bangkit berdiri berniat mengambil piring Juna, tetapi Juna menghentikannya.
"Enak," jawab Juna singkat menghilangkan raut wajah panik Zara yang merasa senang mendengarnya.
"Syukurlah jika begitu," ucap Zara kembali duduk dengan tenang.
Hening, itulah yang terjadi di ruang makan, karena setelahnya Zara dan Juna tak lagi bicara. Zara mulai fokus dengan piringnya tanpa menyadari jika Juna kembali menatap lekat wajah cantik Zara yang sedang mengunyah makanannya.
Juna memperhatikan wajah Zara dengan begitu intens. Wajah Zara terlihat natural tanpa polesan make up, kulit wajah Zara benar-benar putih bersih dan mulus.
Bahkan sepertinya bibir Zara yang terlihat seksi itu tidak perlu diberi pewarna karena bibirnya sudah sangat alami dengan warna pink kemerahan tersebut.
Wajah putih, mulus, hidung mancung, bibir ranum, rambut panjang kecoklatan, serta bulu mata yang lentik milik Zara membuat siapapun tak akan merasa bosan menatapnya. Begitu juga Juna yang saat ini masih setia menatap wajah cantik Zara.
Lamanya Juna menatap Zara membuat Zara akhirnya sadar jika Juna sedang menatapnya, dan itu membuat Zara menjadi salah tingkah. Jangan lupakan juga wajahnya yang sudah merona karena merasa sangat malu di tatap oleh Juna, pria yang dicintainya.
Zara berusaha untuk tenang, tetapi tetap saja jantungnya berdebar sangat kencang saat ini. Zara memberanikan diri mengangkat kepalanya dan balas menatap Juna yang tiba-tiba saja tersedak makanannya saat pandangan mereka bertemu.
Uhuk uhuk uhuk.....
Dengan cepat Zara memberikan minum pada Juna dan mengusap lembut punggungnya, menimbulkan desiran aneh pada tubuh Juna yang mendapat sentuhan dari wanita lain kecuali Laura–kekasihnya. Juna tipe pria yang setia pada satu wanita, sebab itu juga Juna tidak pernah tergoda dengan wanita lain meskipun dibelakang Laura sangat banyak wanita yang coba mendekatinya. Namun, untuk pertama kalinya Juna justru merasakan desiran aneh itu saat Zara menyentuhnya.
Juna bahkan bingung dengan semuanya, reaksi tubuhnya seakan tidak mengikuti arahan Juna. Semua itu hadir tanpa Juna kehendaki. Sekeras apapun Juna untuk tetap mengagumi satu wanita yaitu Laura, tetapi kehadiran wanita yang belum satu hari bersamanya itu sudah mampu memberikan begitu banyak hal-hal baru padanya.
"Terima kasih," ucap Juna setelah meneguk habis air yang diberikan Zara padanya.
Beberapa saat kemudian, keduanya sudah menghabiskan makanan mereka dan Zara mulai bangkit dari duduknya untuk membersihkan bekas makan mereka.
"Za," panggil Juna mengentikan pergerakan Zara.
"Iya, Mas?" Zara tersenyum menatap Juna yang lagi-lagi membuat Juna terpesona dan lekas mengalihkan pandangannya karena tidak mampu melihat senyuman di wajah cantik Zara.
'Sadar Juna. Sadarlah ada Laura yang sedang menunggumu,' hatinya kembali mengingatkan dirinya.
"Aku ada urusan di luar. Kalau mengantuk kamu langsung tidur saja. Tidak perlu menungguku. Aku akan pulang setelah semuanya selesai, apa boleh aku keluar? ucap Juna tanpa menatap Zara yang terkejut dengan ucapannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Juna, Juna meminta izin pada seseorang untuk melakukan sesuatu, hal yang seharusnya Juna sadari jika jiwanya sudah memahami statusnya sebagai seorang suami, tidak seperti raga dan pikirannya yang masih saja tertuju pada Laura.
Hari ini adalah malam pernikahan mereka. Lalu bagaimana bisa Juna mengatakan ada urusan di luar?
Mungkin bagi pasangan lain akan marah saat ditinggalkan pada malam pertama pernikahan mereka. Namun, tidak untuk Zara yang tidak pernah mementingkan diri sendiri apalagi berpikiran buruk pada siapapun itu.
"Baiklah, Mas. Hati-hati. Jangan pulang larut malam, bahaya." Zara menjawab pelan, melanjutkan langkahnya untuk meletakan piring kotor lalu mencuci tangannya.
"Mas!" panggil Zara mengejar langkah Juna yang baru saja akan naik ke atas.
"Iya?" tanya Juna berbalik menatapnya.
"Biarkan aku menyiapkan pakaianmu, Mas. Pakaian seperti apa yang akan Mas gunakan?" tanya Zara membuat hati Juna tertusuk mendengarnya. Jika saja Zara tau kepergian Juna adalah untuk menemui wanita lain, pastinya Zara tidak akan bisa menyiapkan pakaian untuknya.
"Tidak perlu. Biar aku saja," ucap Juna berusaha menolak.
"Aku istrimu, Mas. Sudah menjadi tugasku melayani setiap kebutuhanmu. Ayo katakan pakaian seperti apa yang ingin Mas Juna gunakan!" ucap Zara kembali tersenyum menghampiri Juna lalu menarik tangan Juna melangkah bersama menuju kamar mereka.
Juna yang melihat dan mendengar itu semua hanya bisa terdiam menatap tangannya yang digenggam oleh Zara. Rasa bersalah semakin bertambah setiap kali Zara memperlakukannya dengan sangat baik, tetapi tak Juna pungkiri juga jika kehangatan selalu Juna rasakan setiap kali mendapat perhatian dan sentuhan dari Zara, dan itu membuatnya bertanya-tanya ada apa dengan dirinya.
Tiba di dalam kamar mereka, Juna mengatakan jika dia akan menggunakan pakaian kasual, dan Zara mengangguk mengerti lalu dengan cepat menyiapkan pakaian untuk suaminya yang masih saja terus menatapnya.
'Kenapa kamu begitu sempurna seperti jni, Za? Aku tidak dapat menemukan satu celah pun pada dirimu. Bagaimana caraku menjelaskan padamu jika sikapmu seperti ini, Za?' batin Juna.
Dukung karya ini dengan like, vote dan komentar ya....
Terima kasih...
Perfect deh.....
ada season kedua kah???
ternyata selama itu kamu pergi , gimana keadaan papa Emir juga Juna sekarang....