NovelToon NovelToon
Jerat Asmara Sang Mafia

Jerat Asmara Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:958.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Komalasari

Kisah ini merupakan spin off dari novel berjudul : Pesona Tuan De Luca. Disarankan untuk membacanya juga, ya.

Love is blind. 𝚀uote yang cocok untuk menggambarkan hidup Adriano D’Angelo, bos mafia Tigre Nero yang memiliki jaringan terbesar di Benua Eropa. Dia jatuh cinta pada wanita bersuami, yaitu Florecita Mia.

Cinta yang begitu besar tak membuat Adriano mendendam, meskipun Mia telah menembaknya. Dia juga dibuang ke samudera oleh suami wanita itu. Adriano memilih menghilang dan menutup masa lalu.

Namun, takdir mempertemukan kembali dirinya dengan Mia yang telah menjanda. Wanita yang dulu pernah mencelakai, kali ini meminta bantuan Adriano untuk mengungkap pelaku dari pembunuh sang suami.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komalasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Notte Pazza

Untuk merayakan keberhasilannya atas pelelangan tanah tadi, Adriano membuat janji dengan Arsen. Malam itu, dia menunggu kedatangan pria berwajah tampan tersebut di salah satu klub malam miliknya, yang berada di Kota Athena. Adriano duduk dengan tenang di salah satu ruang VVIP.

Raut wajah pria itu terlihat datar, dengan tangan kanan memegang segelas brandy. Sesekali, Adriano memainkan gelas itu. Dia memutarnya pelan.

Sesaat kemudian, yang dinantikannya pun muncul. Arsen Moras. Dengan penampilan yang selalu terlihat rapi, memasuki ruang VVIP itu bersama seorang wanita cantik dan seksi. “Apa kau sudah menunggu lama, Adriano?” tanya Arsen sembari menyalami pria itu dengan hangat.

“Tidak apa-apa. Lagi pula, ada banyak hiburan di sini. Selama apapun, tak akan terasa membosankan bagiku,” jawab Adriano seraya memamerkan senyumnya yang sangat menawan. “Mari. Silakan duduk,” ajak Adriano seraya duduk terlebih dahulu. Setelah itu, Arsen dan teman wanitanya mengikuti. “Apa kau ingin minuman spesial dari klub ini?” tawar Adriano dengan raut yang terlihat lain, dibandingkan dengan tadi saat dirinya sedang sendirian.

“Apa yang kau punya?” Arsen balik bertanya, setelah dia dan teman wanitanya duduk di salah satu sofa mewah berwarna merah marun.

“Ada banyak pilihan di sini. Salah satunya adalah brandy istimewa yang terbuat dari anggur khusus. Anggur yang kupesan dari perkebunan di Italia,” terang Adriano. Gaya bicaranya yang tenang dan khas, telah menyita perhatian Arsen. Hal itu menumbuhkan kekaguman tersendiri bagi pria berusia dua puluh sembilan tahun tersebut.

“Perkebunan di Italia? Boleh aku tahu di mana tepatnya?” tanya Arsen penasaran. “Aku sering bepergian ke Italia. Perkebunan anggur di Piacenza memang sangat terkenal,” terang Arsen yang begitu nyaman merengkuh pundak teman wanitanya.

“Oh, tidak. Aku mengambilnya dari suatu tempat di Brescia." Nada bicara Adriano terdengar mengambang. Sorot matanya tiba-tiba kosong, menatap ke luar dinding kaca kedap suara yang mengelilingi ruangan VVIP-nya.

Dari dalam ruang VVIP itu, Adriano dapat melihat dengan jelas seluruh sudut klub malam miliknya. Mulai dari lantai dansa, bar, hingga tempat bersantai para pengunjung yang terdiri dari sofa dan meja berbentuk melingkar di tiap sisi ruangan. Akan tetapi, orang-orang di luar sana tak dapat melihat ke dalam ruang VVIP di mana dia berada saat ini.

“Adriano?” Panggilan Arsen kembali menyadarkan pria tampan itu, bersamaan dengan masuknya beberapa pelayan yang membawa minuman mahal untuk disuguhkan kepada mereka.

“Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba terlihat murung?” tanya Arsen penasaran.

“Ah, tidak apa-apa. Ayo kita nikmati malam ini,” jawab Adriano seraya merentangkan tangan.

“Ya, tentu saja. Untuk itulah kita di sini. Karena itu juga aku sudah membawa seorang partner,” balas Arsen seraya melirik wanita cantik dengan pakaian minim, yang sejak tadi bergelayut manja dalam dekapannya.

Sesaat kemudian, Arsen mengalihkan pandangan kepada Adriano. “Lalu, di mana teman wanitamu?” Arsen tertawa lebar, sembari mengecup kening wanita yang hanya tersenyum mendengar pertanyaannya tadi. Wanita cantik itu tak banyak bicara. Namun, pandangannya tak lepas dari sosok menawan Adriano, padahal saat itu dia sudah dibooking oleh Arsen.

“Wanitaku?” Adriano tampak berpikir sambil menggaruk pelipis. Akhirnya, dia memanggil salah seorang anak buah yang tengah berjaga di samping pintu masuk ruang VVIP.

Pria bertubuh tinggi besar itu bergegas menghampiri Adriano, kemudian menunduk penuh hormat, “Apa yang Anda butuhkan, Tuan?” tanyanya sopan.

“Apakah Elana masih bekerja di sini?” bisik Adriano pada pria itu.

“Masih, Tuan. Apakah Anda ingin aku memanggilnya kemari?” tanya pria itu.

“Ya. Suruh dia kemari,” titah Adriano. Sesaat kemudian, dia kembali mengalihkan perhatiannya kepada Arsen. “Sebentar lagi, teman wanitaku akan datang,” ujar Adriano menyeringai lebar, lalu membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegak.

Sudah cukup lama setelah dirinya bertemu dengan Mia, Adriano jarang sekali memakai jasa para wanita penghibur untuk menemaninya. Akan tetapi, Adriano selalu menerapkan batasan-batasan, dan hanya wanita tertentu yang dia pilih untuk memuaskannya.

“Tipe wanita seperti apa yang Anda sukai, Tuan?” Wanita cantik yang sedari tadi lebih banyak diam. Kali ini mulai berani bertanya.

Namun, Adriano tak segera menjawab. Angannya tengah melayang pada sosok Mia yang lemah lembut dan sederhana. Dia pun menggeleng sambil tetap tersenyum. “Tidak ada. Tidak ada tipe khusus. Lagi pula, aku lebih nyaman sendiri,” ujarnya. Adriano lalu mengempaskan bayangan tentang si pemilik senyuman indah itu.

Wanita cantik tadi hendak bertanya lagi. Namun, terpaksa harus dia urungkan, ketika seorang wanita berambut panjang berwarna cokelat memasuki ruangan itu.

Langkah wanita cantik tersebut begitu anggun, ditambah dengan penampilan teramat seksi. Wajah yang bersinar dan memesona, berhiaskan bibir merah sensualnya yang tak henti menyunggingkan senyuman. Mata hazel si wanita pun berbinar indah, tatkala memandang Adriano yang masih duduk tenang. “Selamat malam, Tuan D’Angelo. Sudah lama Anda tidak memanggilku,” sapa wanita itu. Suaranya lembut dan penuh rayuan.

“Selamat malam, Elana,” balas Adriano menoleh. “Duduklah,” titahnya yang segera dituruti oleh si wanita. Elana duduk di samping Adriano sambil menyilangkan kaki.

“Luar biasa! Pasangan yang sempurna,” puji Arsen sembari bertepuk tangan.

“Dia salah satu yang istimewa di sini. Tidak semua orang bisa menyewanya,” terang Adriano. Sesekali, ekor mata pria itu melirik Elana yang tak berkedip memandang dirinya.

“Jadi, bisa kita mulai pestanya?” tanya Arsen.

“Tentu saja.” Adriano menjentikkan jari pada beberapa pelayan. Seakan tahu apa yang diinginkan oleh sang majikan, mereka membungkuk penuh hormat, lalu berjalan keluar. Beberapa saat kemudian, pelayan-pelayan itu kembali masuk dengan beberapa troli berisi aneka macam kudapan mahal khas klub malam Adriano.

“Bersenang-senanglah.” Adriano berdiri dan menuangkan sebotol brandy untuk Arsen dan pasangannya. Setelah itu, dia mengangkat gelasnya sendiri. “Bersulang,” ujar pria tampan tersebut dengan senyuman lebar.

“Bersulang,” ulang Arsen dan teman wanitanya. Mereka, serempak mengangkat gelas tinggi-tinggi kemudian meneguk isinya.

Saat itu, wajah Adriano tampak lebih ceria dari biasanya. Tawa pria tersebut tampak lepas, ketika menanggapi candaan Arsen yang cukup humoris. Obrolan demi obrolan mengalir hangat, hingga tanpa terasa waktu terus bergulir. Adriano melihat arloji yang telah menunjukkan tepat tengah malam.

Sementara itu, Arsen mulai dipengaruhi minuman keras. Sikapnya menjadi tak terkontrol serta begitu liar. Dia tertawa lebar dan semakin agresif terhadap pasangannya.

Arsen menciumi dan melu•mat bibir wanita cantik itu penuh nafsu, tepat di hadapan Adriano yang duduk bergeming. Raut wajah Adriano datar, saat menyaksikan adegan tak pantas tadi.

Merasa bahwa Arsen akan semakin tak terkendali, Adriano pun memerintahkan seluruh pelayan dan anak buahnya yang berjaga untuk segera keluar dari sana.

“Apakah Anda juga ingin kupuaskan, Tuan?” tawar Elana seraya mendekatkan tubuhnya yang molek pada Adriano. Napas wanita itu menghangat di telinga sang pemilik klub, membuat pertahanannya mulai goyah. Bagaimanapun juga, Adriano adalah pria yang normal.

“Coba saja,” jawab Adriano dingin. Dia berusaha untuk tetap menjaga wibawanya.

Bagaikan mendapat kesempatan emas, Elana segera berdiri. Dia lalu bersimpuh di hadapan Adriano. Kedua tangannya meraih wajah tampan pria itu dan bermaksud untuk mencium bibirnya.

“Tidak, jangan berciuman,” tolak Adriano. Dia membuang wajahnya ke samping.

“Kalau leher?” tanya Elana tak putus asa.

Adriano mengangguk samar, sebagai tanda bahwa dia mengizinkannya

Mata indah Elana semakin berbinar. Dengan lemah lembut, jemari lentiknya membelai rahang lalu turun ke leher. Dibukanya kancing kemeja Adriano sehingga terbuka seluruhnya. Tampaklah dada bidang dan perut yang dibelit perban. Elana sempat terperanjat, lalu mendongak dan menatap Adriano. “Anda terluka, Tuan?” tanyanya khawatir.

“Tak apa. Itu hanya luka kecil,” jawab Adriano datar. Dia lalu menyandarkan punggungnya ke sofa dengan tangan kanan yang lurus direntangkan pada sandarannya. "Lakukan tugasmu," titah Adriano dengan tatapan aneh terhadap Elana.

“Aku akan membuat Anda benar-benar nyaman, Tuan,” ucap Elana seraya mengelus paha Adriano. Elana kemudian mengangkat tubuhnya. Setengah membungkuk, dia mencium mesra leher pria itu. Cukup lama bibirnya bermain-main di sana, membuat Adriano sedikit menengadah dengan kedua mata terpejam.

Sentuhan bibir Elana kemudian berpindah ke dada dan bergerak semakin turun. Tak mereka hiraukan pergumulan panas antara Arsen dengan teman wanitanya di atas sofa yang lain. Elana berkonsentrasi untuk menyenangkan bos besar dari klub malam elite itu, meskipun suara berisik Arsen dan wanita tadi telah membuatnya ingin melakukan hal yang sama dengan Adriano.

Elana memainkan resleting celana pria yang sejak tadi hanya terdiam menerima setiap perlakuan nakalnya. Dia menyentuh dan mengusap sesuatu yang terasa keras di sana dengan perlahan. “Bolehkah?” Mata wanita itu berubah sayu. Gejolaknya tak dapat lagi dia sembunyikan.

“Lakukan apa yang kau mau,” jawab Adriano, dingin dan datar. Dia mulai memejamkan mata, ketika Elana membuka resleting dan mengeluarkan sesuatu di baliknya.

Pikiran Adriano saat itu melayang pada wajah cantik Mia dengan senyumannya yang indah. Terlintas bayangan ketika dia mencium paksa wanita itu. Adriano tak dapat melupakan hal tersebut, meskipun ciumannya tak berbalas manis dari Mia.

Elana kembali melancarkan serangan. Dia memainkan milik Adriano dengan lihai, hingga terdengar helaan napas berat dari pria bermata biru itu. Sesekali, Adriano tampak menahan napas, ketika merasakan lembutnya sikap Elena dalam memperlakukannya. Adriano sedikit terbuai, walaupun sejak tadi dia tak mengubah posisi duduknya sama sekali. Namun, pria itu mulai mengikuti irama permainan Elana.

Cukup lama jemari lentik Elana menggenggam erat tanda keperkasaan sang penguasa tempat itu. Dia menaik-turunkan tangannya. Sementara, sapuan lidah Elana terus menari pada ujung permukaan milik Adriano.

"Singkirkan tanganmu!" titah Adriano.

Elena mendongak dan tersenyum. Dia mengerti harus bagaimana. Elana pun meletakan kedua telapak tangan di atas paha Adriano, dan mulai melakukannya dengan cara lain.

Tersungging senyuman kecil penuh kepuasan di bibir berhiaskan janggut tipis Adriano. Sesekali, kedua mata birunya terpejam, lalu kembali terbuka dan memperhatikan wajah cantik yang bergerak maju mundur demi memuaskannya.

Beberapa saat kemudian, pria rupawan itu menyerah dan memuntahkan semuanya.

Wajah cantik Elana kini basah oleh cairan Adriano. Namun, tak masalah bagi wanita itu. Dia terlalu bahagia karena sudah berhasil memuaskan pria yang selalu menjadi idolanya, meskipun Elana juga mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu.

“Apakah Anda ingin melanjutkan dengan yang lebih dari itu, Tuan?” tawar Elana seraya menurunkan tali dressnya dengan menggoda.

“Tidak. Ini sudah cukup," tolak Adriano sambil mengatur napas. "Kau boleh pergi,” lanjutnya.

“Biar kubantu menaikan resleting Anda,” tangan Elana terulur ke celana Adriano.

“Tidak perlu. Aku bisa sendiri,” tolak Adriano menampik halus tangan Elana. Dia merapikan celana dan kemejanya. Adriano lalu melirik ke arah Arsen dan pasangannya yang telah berbuat lebih gila dari yang apa sudah dia lakukan bersama Elana.

“Biarkan mereka tetap di sini,” ucapnya seraya meraih pergelangan tangan Elana dan mengajak dia keluar.

“Ini malam yang sangat indah, Tuan,” ucap Elana dengan pipi merona, sesaat setelah mereka berjalan melintasi lantai dansa.

Akan tetapi, Adriano tak menanggapinya sama sekali. Baginya, itu bukanlah sesuatu yang istimewa, meskipun Elana adalah wanita dengan tarif paling tinggi di klub miliknya. Adriano terus berjalan menerobos keremangan cahaya ruangan luas klub tersebut.

Namun, langkah Adriano tiba-tiba terhenti. Pria itu terdiam membeku di tempatnya berdiri, ketika dia melihat sosok seorang wanita yang membuat jantungnya seketika tak berfungsi dengan baik.

Tanpa berkata apa-apa, Adriano langsung meninggalkan Elana begitu saja. Dia mengejar sosok wanita yang hanya dirinya lihat dari belakang. Adriano terus mengikuti wanita itu hingga semakin dekat.

“Mia?” panggil Adriano terus mengejar wanita yang berjalan cepat. Setengah memaksa, Adriano memegangi pundak. Dia membalikkan tubuh wanita itu sehingga menghadap padanya. Namun, Adriano lagi-lagi harus menelan rasa kecewa. Wanita yang dia ikuti sejak tadi, ternyata bukanlah seseorang yang selama ini dirinya pikirkan.

1
Dea Abdullah
harudang /Facepalm/
Dea Abdullah
nyesek smpe sini knp two hrs mati
Dea Abdullah
uku padamu author suka bnget/Kiss/
mery harwati
Aq jadi ketagihan setelah perjalanan dari Eidenburgh, kemudian ke Casa de Luca, lalu ke Monaco & sekarang aq akan coba berlayar ke Rusia dengan Carlo, tapi aq akan mampir sebentar di Arsenio 😍💪
mery harwati: Siap paduka🫅 titahmu akan kami laksanakan 🫡🤩😉
total 2 replies
mery harwati
Anak Adriano bener² cerewet seperti Daniela, tante tertuanya 😃
mery harwati
Ada typo kah di episod ini? Soal umur Adriana, ada yang menyatakan tujuh belas tahun, kemudian di paragrap bawah menyatakan lima belas tahun? 🙄
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙰𝚊𝚖𝚒𝚗, 𝙺𝚊𝚔. 𝚃𝚎𝚛𝚒𝚖𝚊 𝚔𝚊𝚜𝚒𝚑
total 3 replies
mery harwati
Aq malah penasaran sama bapaknya Karl Mikhailov alias Carlo, karena jaman Adriano yang dibunuh olehnya adalah Alex kemudian Sergei Redimir, mereka berdua kakak adik & berasal dari Rusia, ooohhh baca ajalah ceritanya & nikmati roller costernya disini 😃😘
mery harwati
Ow Coco, jangan ganggu mereka berdua, diam kau Coco sang mantan casanova 😃
mery harwati
Jangan bilang ada hubungannya dengan Sergei Redimir di masa lalu itu Karl Mikolaiv 🫣🙄
mery harwati
Adriana sepertinya mewarisi sifat dari Valeri bibi angkatnya 😃
mery harwati
Ow Damiano, kau benar² membuat air mataku menetes karena kematianmu, tidak²...bukan kau yang membuat aq sedih Damiano, tapi authorlah yang membuat alur cerita novel ini menjadi roller coaster bagi readersnya😘 selamat thor kau berhasil memporakporandakan imajinasi readers dengan karyamu ini ❤️🥰💪
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝙼𝚘𝚑𝚘𝚗 𝚍𝚘𝚊 𝚗𝚢𝚊, 𝙺𝚊𝚔
total 3 replies
yuiwnye
adriano sdg mempersiapkan Carlo jd pendamping miabella
mery harwati
Oh Tuhan, jangan bilang Roberto de Lucca punya anak lain selain Matteo? Seperti kisah Valentino & Carlo, yang ternyata kembar, apakah Damiano tak tau rahasia Roberto saat masih muda? 🫣🙄
Elmida Alano: betul
total 1 replies
mery harwati
Mereka berdua akan bertarung & akan kah mereka berhenti bertarung karena wanita yang mereka sayangi tak mau mereka saling bunuh ? Penasaran akhir dari pertarungan Juan Pablo & Adriano🙄
Elmida Alano: ya tapi tidak sampai mati
total 1 replies
mery harwati
Apa rasa bersalah Juan Pablo setelah membunub Matteo & keluar dari Killer X yang menyebabkan Juan menyimpan lukisan Mia? Tapi belum sempat Juan masuk ke kehidupan Mia, keduluan sama Adriano? Ow semakin rumit klo ada rasa cinta didalam intrik² mafia 🫣
mery harwati
Adriano, bagaimana kabarmu bila tau Juan Pablo adalah anak dari Elang Rimba? Bahkan Juan sudah memerawani Giana adik tirimu? Akankah kau tetep membunuh Juan Pablo demi Mia karena kematian Matteo? Atw kah membiarkan Juan Pablo tetep hidup & jadi adik ipar mu Adriano? Ow pilihan yang sangat sulit 🙄👏
mery harwati: Siap 🫡 sehat selalu Thor & lancar rejeki juga 🤲❤️
total 2 replies
mery harwati
Otak encer Adriano akhirnya digunakan pada Juan Pablo & membunuh Lionel sang pembunuh Matteo tanpa harus mengorbankan nyawa dirinya sendiri atw orang² yang dekat dengan Adriano, setelah kejadian Menara Hitam yang mengakibatkan nyawa Coco hampir melayang 👏 tapi kabarnya bila Adriano tau bahwa Juan Pablo menyimpan rasa pada Giana adik tirinya Adriano 🙄
mery harwati
🤣🤣 memang harus ada wanita lain sebagai pembanding Francy, agar Francy tak merasa dirinya selalu dibutuhkan oleh Coco, akhirnya setelah kehadiran Monicqe barulah berasa kesalahan Francy yang mengabaikan Coco selama 5 tahun, 💪 Francy bila kau ingin Coco jadi milikmu seutuhnya & selamanya, berjuanglah dari awal lagi Francy 💪
mery harwati
Aq kok ngerasa, anak perempuan kecil yang ngasih bekal makanannya pada Adriano itu adalah Mia disaat dia abis ditinggal mati ibu kandungnya, alias sebelum pindah ke Venice & ketemu dengan ibu tirinya, klo memang bener seperti itu kisahnya, brati sebenernya Adriano yang lebih dulu ketemu Mia saat usia mereka masih kanak & remaja
ƙׁׅᨵׁׅׅꩇׁׅ֪݊ ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁ: 𝚂𝚒𝚒𝚙, 𝙺𝚊𝚔. 𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝
total 1 replies
yuiwnye
Juan 🧐🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!