NovelToon NovelToon
Sisa Rasa

Sisa Rasa

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Perjodohan / Patahhati / Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.7
Nama Author: Devi21

Deva dan Dave mengakhiri ikatan cinta sebagai sepasang kekasih karena bakti pada orangtua. Namun, cinta tidak pernah benar-benar pergi dari hati keduanya. Ketika logika mengatakan harus berpisah, namun perasaan bersikeras menahan diri untuk tidak beranjak kemana-kemana.

"Berhenti berharap pada suami orang, Dev. Jangan merendahkan dirimu seolah kamu tidak layak mendapatkan cinta yang utuh dari orang lain. Dave jelas bukan jodohmu."

Sederat kata itu diucapkan oleh sosok pria yang mengagumi dan mencintai Deva dengan cara yang berbeda. Siapakah dia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengunjungi Amar

Lembaga pemasyarakatan khusus terpidana tindak pidana korupsi siang ini begitu sesak pengunjung. Masih sama seperti akhir pekan sebelum-sebelumnya. Sanak keluarga yang libur dari aktifitas sehari-hari, sengaja meluangkan waktu untuk melepas kerinduan pada salah satu anggota keluarga yang ditahan di sana.

Berbeda dengan pengunjung lembaga pemasyarakatan umum atau biasa, pengunjung di tempat ini, rata-rata terlihat sangat berpendidikan dan berkecukupan. Dari tampilan saja, sudah sangat jelas. Baju, sepatu, dan jam tangan yang melekat di tubuh, hampir semua bermerk.

Maling-maling berdasi, nasibnya memang tidak pernah sama dengan maling susu di supermarket. Kebanyakan dari mereka mencuri bukan karena keadaan yang mendesak atau karena kemiskinan. Mereka merampas hak orang lain, lebih karena tuntutan gengsi dan juga gaya hidup yang semakin mahal.

Deva adalah sebagian kecil yang berbeda dari mereka. Begitu vonis dijatuhkan pada Amar, sejumlah uang yang disinyalir menjadi kerugian negara wajib dikembalikan. Padahal jelas tidak ada sepeser pun dana yang mengalir ke kantong pribadi Amar. Al hasil, semua aset di jual, tidak ada yang bersisa. Rumah yang ditempati Deva sekarang pun hanyalah rumah kontrakan biasa.

"Papa semakin kurus, apa papa tidak meminum obat diabetesnya?" Deva memeluk Amar dengan wajah yang dibuat setenang mungkin.

"Papa sekarang rajin olahraga, sayang. Papa sengaja mengurangi massa lemak," Amar melakukan hal yang sama dengan Deva. Begitu banyak hal yang pria itu tutupi dari anaknya itu.

Keduanya lalu duduk bersebelahan dibangku papan garis-garis hitam. Amar terus menggengam tangan Deva dengan erat, pria itu seperti enggan melepas tangan mungil sang putri.

"Kamu tumben sendiri? Dave mana?"

Deva memaksakan senyuman. Papanya tidak salah menanyakan hal tersebut. Biasanya, dia memang selalu datang bersama sang kekasih hati.

"Bang Dave ada acara keluarga, Pa," kilah Deva. Dia menjawab tanpa menatap bola mata Amar.

"Lagi berantem? Kenapa?" Amar bertanya dengan lembut. Dia hapal betul bagaimana Deva. Sedikit saja berbohong, pasti akan ketahuan olehnya.

Deva tidak langsung menjawab. Dia malah menyandarkan kepalanya di lengan Amar yang sekarang begitu rimpih. Hampir enam tahun di dalam tahanan, Amar kehilangan dua puluh lima kilo berat badannya. Selalu berkilah berolah raga, padahal sederet komplikasi penyakit tengah diidapnya.

"Pa, bolehkah Deva menangis? Deva capek, Pa. Deva lelah menghadapi semua sendirian. Deva kangen mama. Boleh, kan?"

Amar menarik napas dalam. Tangannya mengusap lembut rambut Deva. Rasa bersalah semakin menghimpit di dada. Begitu banyak kata andai terlintas di pikirannya. Andai dia tidak naik jabatan. Andai dia tidak ikut menghadiri meeting internal yang ternyata hanya sebuah jebakan. Mungkin sekarang, Amar, Shinta, dan Deva, tentu akan masih bersama-sama.

Shinta---Mama Deva, meninggal dua hari setelah vonis bersalah pada Amar dibacakan. Stroke berat, yang mengakibatkan koma dan berujung dengan kematian adalah tamparan keras yang begitu luar biasa. Saat itu, Deva baru saja akan lulus sekolah menengah atas. Seorang remaja, yang butuh-butuhnya pendampingan, harus hidup sendiri di luaran menanggung beban hidup yang tak mudah. Dari berada dan berkecukupan, seketika menjadi serba kekurangan dan apa pun harus mencari sendiri.

"Maafkan Papa, Dev. Maafkan Papa. Semua gara-gara Papa ... Papa ini cuman beban hidup." Amar memukul-mukul dadanya sendiri.

Deva menahan tangan Amar, lalu mencium punggung dan telapak tangan itu bertubi-tubi. "Sudah, Pa. Cukup! Jangan sakiti diri Papa. Deva mengeluh karena Deva sedang lelah. Bukan berarti Deva menyalahkan Papa atau hendak menyerah. Deva mengeluh sebentar. Sekedar ingin menjaga agar mental Deva sehat. Kita masih manusia, Pa. Tidak bisa selamanya kita pura-pura tegar."

Luruh sudah tubuh Deva, dia menjatuhkan bokongnya di lantai dingin ruang pengunjung tahanan. Sedikit menjadi perhatian pengunjung yang lain. Amar melakukan hal yang sama, lalu merengkuh pundak putri semata wayangnya ke dalam dada kurusnya.

"Maaf, Pak. Waktu kunjungan sudah habis, di luar, masih banyak yang mengantri."

Suara sipir tahanan, memaksa Amar melepaskan pelukannya. Keduanya sesaat saling berpandangan dengan sendu. Mata dan pipi Deva pun basah karena bulir bening berjatuhan tanpa aba-aba.

"Jaga kesehatan, Pa. Jangan olahraga terlalu keras. Badan kurus begini, membuat Papa terlihat sangat tua." Deva mengusap pipi Amar yang penuh dengan gurat kesedihan dengan jemarinya yang lentik.

"Iya, sayang. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan lupakan sholat. Tetap berbuat baik. Jangan pedulikan penilaian orang. Dunia tidak selalu adil, tapi juga tidak melulu jahat. Cukup sedihnya, relakan yang harus kamu lepas. Tuhan sedang menyiapkan jodoh yang lebih baik untukmu."

Dengan sangat terpaksa, Amar melepaskan pelukan Deva. seorang petugas sipir membawa Amar kembali ke dalam selnya. Deva melangkahkan kaki menuju area parkir lapas dengan langkah sedikit tergesa. Menyembunyikan bulir bening yang berderaian dari setiap pasang mata orang-orang yang dilaluinya.

Saat mobil Deva bergerak meninggalkan gerbang utama tempat tersebut, belum sampai di dalam sel, Amar tiba-tiba pingsan. Dua orang sipir dengan sigap mengangkat tubuh kurus itu ke arah klinik lapas yang terletak di bangunan paling ujung gedung tersebut.

***

Selepas dari menjenguk sang ayah, Deva tidak langsung pulang ke rumah. Gadis itu memutuskan untuk jalan-jalan memutari kota tanpa tujuan pasti. Hingga beberapa waktu kemudian, Deva menghentikan mobilnya dipinggir sebuah taman yang tidak jauh dari pintu gerbang perumahan elite.

Dengan langkah ringan, Deva berjalan menuju penjual kue cubit yang usianya nampak sudah di atas enam puluh tahunan. Penjual itu berada tepat di samping pintu masuk taman.

"Nek, saya pesen kue cubitnya sepuluh biji saja." Deva berjongkok agar posisinya setara dengan nenek penjual.

"Alhamdulillah." Nenek itu dengan gerakan tangan yang masih gesit langsung menuang adonan kue ke dalam cetakan.

"Jualannya keliling, atau selalu di sini, Nek?" Tanya Deva sembari bergeser, duduk di atas rerumputan di samping si nenek.

"Kalau sampai menjelang dhuhur belum habis, Nenek pindah ke masjid ujung jalan sana, Neng. Nunggu berkah sembari ibadah di sana." Sang nenek masih begitu bersemangat. Aura wajahnya terpancar keoptimisan yang luar biasa.

"Alhamdulillah. Nenek punya anak?" Deva seolah ingin mengetahui tentang si nenek lebih jauh.

"Tidak, Neng. Nenek tidak menikah. Nenek tinggal sendiri.

"Oh...." Hanya kata itu yang mampu diucapkan Deva. Ingin bertanya lebih lanjut, tapi tidak enak.

"Meski hidup sendiri, Nenek tidak boleh malas-malasan. Siapa tahu, Allah mau kasih rejeki lebih pada Nenek. Di sekitar sini, banyak anak-anak yang buat makan saja susah. Rejeki lebih itu Nenek cari untuk mereka." Si nenek memberikan kue pesanan Deva.

"Nenek luar biasa." Deva menerima kue tersebut.

"Tidak luar biasa, Neng. Biasa saja. Nenek ini tidak punya anak. Kalau nenek meninggal, siapa yang akan mendoakan nenek? Jangankan mendoakan, yang akan menguburkan nenek saja, nenek tidak tahu. Semoga sedikit kebaikan, bisa mempermudah urusan nenek nantinya."

"Allah yang akan mengurus, Nek. Entah dengan perantara siapa," sahut Deva sembari memasukkan kue cubit ke dalam mulutnya. Lalu mata Deva beralih pada dua orang anak sedang berebut bola. Tidak jauh dari anak-anak itu, berdiri dua orang baby sister yang sedang asik bermain ponsel. Keduanya seolah tidak peduli pada momongan masing-masing.

Deva berusaha mengabaikan, namun suara tangisan salah satu anak, mengusik telinga perempuan tersebut. Alangkah terkejutnya, bukannya melerai, kedua baby sister itu malah kompak memarahi dan menyalahkan anak yang menangis itu. Deva pun bergegas mendekati mereka.

"Sayang, kok nangis?" Tanya Deva dengan lembut.

"Jangan ikut campur, Mbak. Kamu tuh tidak tahu apa-apa. Anak ini memang nakal." Salah satu babysister menghardik Deva.

"Jason nggak nakal! Mbak yang nakal!" Teriak si anak tiba-tiba memeluk pinggul Deva seperti ingin meminta perlindungan.

Satu anak yang lain terlihat diam sembari memegang bola. Raut wajahnya tidak kalah ketakutan meski tidak menangis.

Suara hentakan pintu mobil yang ditutup secara paksa, mengalihkan perhatian semua yang ada di sana.

"Jason! Menjauh dari perempuan itu!"

1
Bowo Ariwbowo
Menegangkan ya devaaa
tria ulandari
bang Dave udh brpa kali juga baca nya ttep aja mewek aku tuhhh 😭😭
tria ulandari
dari 2022 ,,2023 ,,2024 sampe 2025 aku masihh sering ngintip disini berharap ada kabar baik kak Dev 😭😭
Diana
Mana part selanjutnya author??
Alur cerita memberikan pelajaran yg sangat berharga bagi setiap hari.
yuiwnye
emaknya selingkuh dg hafiz laki² yg nipu Dira,,,,weleh²
yuiwnye
terjadi split hati rupanya
yuiwnye
nasib mu Dave, menghibur orang stress jd gila beneran
yuiwnye
ada rampok hati yg ngetok pintu 🤪🤪😁😁
tria ulandari
kak Dev untuk sisa Rasa blm ada bentuk cetak nya????
btw aku msh nungguin part selanjutnya loh kak
Supriatun Khoirunnisa
Luar biasa
Reni
Nama mereka mirip ya, Deva dan Dave tp sayang sekali gk jodoh.
St.rkyyh
selamat author.. anda telah mampu membuat ku menangis 😭😭
St.rkyyh
masya allah authorr... ini bener2 cerita yang sangat menarik dan mengesan kan. tetap semangat yaa, semoga berkah, selamat dunia akhirat. aku mendukung mu
Vie ardila
Luar biasa
Ifanda Rian
sangat bagus
Sondang Viona
Luar biasa
Susi Yanti
cerita yg cukup penuh dgn pelajaran yg diwarnai dgn trik emosi yg cantik, semangat Thor...
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: Terimakasih sudah berkenan membaca, kak
total 1 replies
Rustin Zunan
dave deva agak.membingungkan karna mirip 🤣🤣
Eka Puji Lestari
kapan up atau sequel sisa rasa ini kak
St.rkyyh
wahh keren sih ini gaya bahasanya.. semangat author
D᭕𝖛𝖎𖥡²¹࿐N⃟ʲᵃᵃ࿐: Terimakasih, kak. Masya Allah... masih belajar, kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!