Judul : Fighter System/I Can Fight Better than You
Author : Miku
****
Budi yang telah lelah dirundung oleh teman-temannya, mulai berani unjuk gigi. Ia menantang preman di sekolahnya untuk bertarung. Semua tertawa saat mendengarnya, tentu saja, mana bisa Budi menang dengan tubuh krempeng seperti itu.
Ding!
[Apa Anda ingin menjadi lebih kuat?]
Sebuah panel transparan tiba-tiba muncul di depan Budi saat dia merasa putus asa. Tulisan dengan font futuristik ini memberikan dua pilihan kepadanya. Ya atau Tidak!
Ya!
Siapa sangka, sejak hari itu kehidupan Budi mulai berubah.
Balas dendam kepada para pembully untuk menaikkan status di sekolah! Memukul dan menendang demi menyelesaikan misi yang ada! Bertambah kuat setiap harinya demi memperoleh kepercayaan!
Persetan dengan Taekwondo, Muaythai, Tinju, atau apalah itu!
Budi bertekad menjadi master pertarungan jalanan yang disegani semua orang!
Fighter System.
Kategori Urban - Tag 3 : Sistem
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 6 : Saatnya Pembuktian!
...*****...
Sesampainya di rumah. Budi duduk di kursi belajarnya sembari menatap ponselnya. Namun, tiba-tiba dia malah menarik-narik rambutnya dan lalu tertunduk lesu. Budi bingung dengan pikirannya sendiri yang selalu mengingatkan bahwa besok adalah hari perjanjian dia dan Reza. Ia tidak tahu harus apa sekarang.
Meski Budi telah mendapat sistem, tetapi dirinya merasa bahwa hal itu tidak akan berpengaruh. Ia menyadari bahwa Reza adalah seorang petarung hebat. Tentu, mau bagaimanapun, dia dan Reza berada pada level berbeda.
Terlebih lagi, saat Budi mengingat kejadian tadi pagi. Di kala ia nyaris babak belur karena tangan besar para preman. "Sial, kenapa hidupku nggak pernah tenang?!" Ia menghela napas. "Hah ... ngelawan Reza ... apa aku bisa, ya?"
Ia lalu menatap reward kartu emas dan perak dari misi sebelumnya. "Pukulan straight sama berat badan bertambah seratus kilogram? Emangnya, ini bisa berguna buat apa?"
Ding!
"Eh?"
[Fitur baru telah dibuka!]
[Fitur : Teori Bertarung Rahasia berhasil dibuka]
"Teori bertarung?" Kalimat yang terpampang pada panel transparan itu berhasil menarik rasa penasaran Budi. Ia mencondongkan badannya ke depan sembari membaca penjelasan dengan seksama.
[Teori Bertarung Rahasia]
[Fitur yang dirancang khusus untuk menunjukkan berbagai teori mengenai seluruh jenis bela diri. Meliputi ; Deskripsi teknik, nama-nama skill, cara meredam teknik, cara mengkombinasikan teknik]
"Wihh ... semuanya ada di sini. Jadi, aku bisa belajar pelan-pelan nih," ucapnya sembari tersenyum sumringah. Dia lalu menekan menu teori bertarung rahasia pada panel.
Berbagai pilihan mulai muncul di depannya. Tinju, Taekwondo, Muay thai, Kyokushin, Judo, Ssierum, dan lainnya. Budi lantas menekan opsi yang paling menjadi pusat perhatiannya.
Tinju.
Berbagai tulisan dan gambar mengenai teknik-teknik dalam tinju mulai muncul di depannya. Namun, tiba-tiba wajah Budi berubah menjadi masam saat mengetahui bahwa fitur ini hanya dilengkapi oleh tulisan dan gambar.
"Hei, Sistem! Kau tahu, kan, aku ini nggak suka baca. Kenapa kamu malah ngasih tutorial yang kaya begini sih?"
Ding!
[Host dapat menambahkan fitur
"Fokus? Ah, maksudnya nanti biar aku bisa fokus baca teori-teori ini gitu?"
[Benar, Host. Bukan hanya itu, Host juga dapat merasakan sensasi belajar yang tenang apabila menambahkan fitur ini]
"Tenang apanya ...?" Budi tersenyum malas untuk membalas anjuran sistem. Dia berpikir sejenak dan pada akhirnya, ia memilih untuk percaya. "Oke kalau begitu. Tambahkan fitur!"
[Penambahan fitur : Host perlu membayar 50 point sistem untuk mendapat fitur baru. Apa Host yakin ingin tetap melanjutkan?]
[Ya/Tidak]
"Hei, menambahkan fitur juga bayar? Ya sudahlah, mau bagaimana lagi!"
Ya.
Ding!
[Penambahan fitur berhasil]
[Fitur fokus telah dipasang]
[Fitur fokus diaktifkan]
"Oke, mari kita lihat, apa ada perubahan ...."
Budi mengumpulkan semangat membaca miliknya pada satu momentum dan mulai membuka kembali materi yang telah disediakan.
Benar saja, sensasi yang dirasakan oleh Budi benar-benar terasa jauh berbeda. Baru satu kata yang tertangkap pada matanya, akan tetapi, si pemalas ini langsung dapat merasakan sebuah rasa nyaman.
Tubuh dan penglihatannya seolah bergerak sendiri mengikuti barisan kata dengan font futuristik tersebut.
"Bener-bener bisa bikin nyaman! Terus, aku juga bisa fokus! Parah gila!" ujarnya, "kalo kaya gini sih, nilai pelajaranku pasti bisa naik hehehehe ...."
Namun, dia langsung menepuk pipi sebagai wujud penyadaran diri. Ia mengubah ekspresinya menjadi serius. "Baiklah, mari baca ulang tentang tinju."
"Tinju, hum ...."
***
Keesokan paginya. Hari senin, hari penentuan segalanya. Budi dengan badan tegak berjalan gagah melewati segerombolan siswa yang sedaritadi memerhatikannya terus-menerus.
Rumor bahwa dia akan bertarung melawan orang terkuat di SMA Taran telah menyebar luas bahkan sampai SMA lain. Semuanya terkejut ketika mengetahui bahwa yang berani menantang Reza hanyalah seorang pecundang.
"Dia itu lemah, mana mungkin bisa menang lawan pemenang turnamen tinju antar sekolah."
"Aku apresiasi keberaniannya, tapi kalo kaya gini, bukannya udah masuk ke level nekad, ya?"
"Hahaha ... kasihan, besok pasti masuk rumah sakit tu anak."
Kalimat yang sempat ditangkap oleh daun telinganya saat dalam perjalanan menuju sekolah. Namun, Budi justru menanggapi mereka dengan senyuman penuh keyakinan. Langkah mantapnya semakin memperlengkap jawaban atas seluruh keraguan yang ada.
Budi datang bukan tanpa persiapan. Ia telah berlatih keras selama satu malam ini, bahkan hingga membuatnya hanya tidur 2 jam. Anak itu bertekad menjadi lebih kuat bukan hanya karena bantuan sistem. Tapi, juga dengan kemampuannya sendiri.
Si penarik perhatian membuka pintu kelas. Menyisakan berbagai macam tatapan aneh. Mereka semua terdiam seraya terus menempelkan pandangan kepada Budi. Termasuk Reza yang tampak sedang bergurau bersama teman-teman satu gengnya.
Budi membuang wajahnya ke arah berlawanan. Ia sengaja menghindari tatapan langsung dengan Reza. Namun, di sisi lain, Reza justru berasumsi bahwa Budi takut padanya.
Ia pun beranjak dari bangku dan memghampiri anak culun yang baru saja mau duduk itu.
"Hei, Bud! Pagi!" sapanya dengan dalih basa-basi agar dapat meninggalkan rasa takut pada Budi.
Tetapi, reaksi Budi berbeda dengan apa yang dibayangkan.
Senyuman terukir di wajah Budi ketika mendapati bahwa Reza telah berdiri di sampingnya. Ia mulai angkat bicara. "Pa-pagi, Za ... hahahaha! Ke-kenapa kau di sini?"
"Apa nih? Masa lupa? Hari ini kau mau mengalahkanku, kan?"
"Anu ... gimana, ya?" Budi tertawa canggung.
Suasana di kelas mendadak menjadi sepi.
Tak berselang lama, suara tawa Reza yang menggelegar berhasil memecah keheningan. "Heii ... hahaha! Bahkan sebelum kita bertarung saja, kau sudah menyerah! Hahaha! Dasar anak ibu! Ya udah, ya udah, aku maafin kamu. Tapi ada satu syarat–"
"Nggak."
"Hah?"
Budi mengubah mimik wajahnya. "Siapa bilang aku mau mundur dari pertarungan, huh? Aku cuma takut kalo kamu malu nanti."
Mata Reza membelalak geram. Bibirnya memelintir dengan sendirinya. Ia menarik kerah baju Budi dengan sangat keras. "Hei, Pecundang! Udah berani ngelawan kamu, ya?!" bisiknya tajam, "ulangi ucapanmu tadi! Atau aku akan membunuhmu!"
Tcuih.
Budi yang setengah terangkat di udara, justru melakukan sebuah tindakan yang mengerikan. Ia meludahi wajah Reza yang terlihat penuh amarah.
Semua tertegun ketika menyaksikannya langsung.
Berani sekali dia!
"Hei! Kau mau cari mati, ya?!" Reza semakin tersulut emosi. Wajahnya menjadi merah cabai. Urat-urat pada lehernya mengeras.
Ia menguatkan cengkaraman tangan yang memegang kerah baju Budi.
Akan tetapi, hal seperti itu tak akan membuatnya gentar. "Ba. Cot."
"Ayo kita mulai duelnya, Bangs*t!" lanjut Budi seraya mengernyitkan alis.
Ding!
[Misi telah dipicu!]
[Misi Utama : Membalas dendam kepada Reza]
[Hadiah Pencapaian :
• 1 kartu berlian
• 2000 poin sistem
• 10 poin peningkatan]
[Waktu : 1 jam]
[Hukuman : Host akan dipermalukan di depan teman-teman Host sendiri]
[Apa Host ingin menerima misi ini?]
[Ya/Tidak]
Ya.
"Aku akan menghabisimu, Berandal Norak!"
[Misi dimulai]
~Bersambung~.
One-Way
Hanazawa Ryuki, seorang berandal yang kini menjadi murid di salah satu SMA bergengsi demi menepati janjinya di masa lalu. Akan tetapi, satu kejadian membawanya ke kejadian lainnya, perlahan menarik Ryuki ke dalam sisi gelap dimana setiap pilihan tidak memiliki jalan kembali. Ini adalah perjalanan satu arah. Apakah Ryuki dapat menemukan ending yang tepat di ujung jalan satu arah ini?
Semangat Thor....💪💪💪💪💪
Alvaro