Adzkia Laila Tamin, kerap di sapa Laila. Gadis cantik dan periang. Ia jatuh cinta pada seorang pemuda yang bernama Fajri. Fajri adalah seorang pemuda yang begitu tampan dan berkarisma.
pertemuan awalnya dengan Fajri membuat
Laila sangat terhipnotis dengan semua yang dimiliki Fajri. Sampai dia tidak bisa lagi membendung perasaannya.
Pada saat yang tiba Fajri di minta oleh ayah Laila menjadi supir pribadinya. Saat itulah Laila sering bertemu dengan Fajri. Semakin hari Laila tidak bisa lagi membendung perasaannya sehingga memberanikan diri megungkapkan perasaannya. namun ternyata, Fajri bukan Ia menolak atau menerima sehingga Laila merasa dipermainkan.
Bagaimanakah sebenarnya perasaan Fajri pada Laila?
Dan kankah cinta Fajri, Laila dapatkan?
Simak kisah mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Masrianiani Hijab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 Laila Jatuh Cinta Dengan Fajri
Sampai di sebuah pantai Laila berlari dan berteriak sekencang mungkin mengeluarkan semua yang terpendam selama ini.
Puas main air ketiga sahabat itu duduk dibawah pohon yang rindang. Sesekali Laila menyelipkan rambutnya ditelinga. Mereka menikmati tiga gelas serba Minuman khas pantai itu.
Saat ombak besar datang Laila tampak begitu girang dan berlari menuju tepi pantai. Rani dan Mala berteriak tapi Laila tidak menghiraukannya. Laila larut dalam dunianya tidak sadar jika sebuah ombak besar datang.
Break......
Laila sedikit terbawa arus besar jika saja seseorang terlambat menyelamatkan dirinya. Seluruh tubuhnya basah. Fajri dengan segera menarik tangan Laila sangat keras dan terjatuh.
"Kamu mau mati? Fajri tampak begitu marah melihat gadis bodoh yang mau bunuh diri menurutnya." Bukan begini caranya mengatasi masalah. Istighfar. Fajri kesal
Laila terdiam dan masih terduduk ditempatnya dalam keadaan basah dan untungnya bajunya berwarna hitam. Melihat laki-laki di depannya masih mengomel. Lagi-lagi Laila terpukau dengan seorang laki-laki yang didepannya.
"Kenapa tersenyum!" dasar aneh," Fajri masih merasa kesal dan hendak berdiri dan Laila menarik tangannya. Fajri berbalik. Laila berdiri dari tempatnya. tampak Laila begitu cantik dengan rambutnya yang basah membuat Fajri segera mungkin membuang pandangannya. Tangan Laila masih setia menarik tangan Fajri walau Fajri sudah berusaha menepis nya.
Laila pun berterimakasih karena Fahri telah menolongnya. Laila tersenyum dan menatap dengan lekat laki-laki yang ada di depannya. Dengan segera Fajri berusaha menepis dengan lembut tangan Laila yang memegang lengannya.
"Maaf nona tangan anda. Kita bukan muhrim. Tadi aku menarik tangan anda karena refleks. Lain kali kalau mau bunuh diri jangan di depanku karena aku tidak mau ikut bertanggung jawab melihat gadis bodoh yang mau mengakhiri hidupnya. Fajri membelakangi laila
Laila tertawa menertawakan ucapan laki-laki yang belum dikenalnya itu karena sudah salah paham jika dirinya mau bunuh diri dan Laila menjelaskan agar laki-laki itu tidak salah paham padanya.
"Main air? Fajri kembali berbalik. Apa, kamu bilang asyik? hah.....jika saja saya terlambat menyelamatkan nyawamu.....kau sudah mati hari ini!" kesal Fajri lagi-lagi, Fajri pun berbalik untuk pergi dari sana.
Laila terus membela dirinya dan mengakui jika memang dirinya sedikit ceroboh.
"Tapi itu berbahaya untukmu. apa kamu tidak bisa melihat? hah?
" Hei! kalau berbicara lihat orangnya. Jangan membelakangi." Laila kesal
"Aku tidak akan melihatmu dalam kondisi seperti itu. Apa kamu mau menggodaku dengan seluruh tubuhmu yang basah. Dan menampakkan apa yang tidak perlu terlihat. kesal fajri dan melangkah
Laila melihat seluruh tubuhnya dan membenarkan apa yang dikatakan laki-laki didepannya yang sekarang membelakanginya.
Laila akhirnya mengejar laki-laki itu dan berlari menuju depannya. Membuat laki-laki itu semakin kesal di buatnya.
Laki-laki itu pun meminta pada perempuan yang ditolongnya itu untuk tidak menghalangi jalannya dan mengusir Laila agar pergi dari sana suara Fajri terdengar seperti berteriak karena suara ombak yang begitu besar.
Laila tidak menghiraukan perkataan Fajri dia terus menghalangi jalan Fajri entah mengapa dia begitu senang mengerjai laki-laki datar itu.
"Fajri berhenti pas didepan Laila. "Apa mau mu hah? Dasar aneh. " kau mau menggodaku dengan pakaian basah seperti ini hah? Fajri melihat teman Laila datang membawa handuk. "urus temanmu! permisi. " Fajri berlalu.
Rani akhirnya menutup tubuh temannya dengan handuk. Entah dimana dia mengambil handuk dan Laila tersenyum melihat kepergian Fajri. Namun beberapa detik Laila kembali menghentikan Fajri yang sudah jauh melangkah.
Laila terus berteriak sambil mengejar Fajri dan Rani menyusul Laila Fajri akhirnya berhenti dan kini, Laila sudah dibelakang Fajri dengan handuk yang menyelimuti tubuhnya.
" Mau apa lagi hah....? Fajri sedikit menoleh
"Siapa namamu?" Laila bertanya
"Fajri. Ucap singkat fajri.
" Terimakasih Fajri. Laila tersenyum karena bukan cuma pertama kalinya secara kebetulan dia bertemu dengan Fajri.
Fajri meninggalkan Laila dan Rani yang masih berdiri di sana dan ikut kembali bergabung dengan ramli dan Rama yang dari tadi tercengang melihat fajri dengan sigap menarik tangan Laila.
Ramli cukup heran melihat wajah sahabat terlihat kecut dan Ramli pun bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya dan Fajri pun menjelaskan semua. Rama dan Ramli menertawakan Fajri
Sementara Fajri hanya terdiam. Dia berusaha menepis bayangan Laila. Dia masih tidak habis pikir dan tidak menyangka perempuan itu nekat bermain ditengah ombak yang bisa membahayakan dirinya. fajri ingat dimana dia bertemu gadis itu pertama kalinya.
Sementara Laila, Rani dan Mala meninggalkan tempat dan menemani Laila untuk berganti baju. Setelahnya mereka bertiga menuju tempat parkir untuk pulang.
Ditengah perjalanan mobil mereka tiba-tiba berhenti. Terdengar suara seperti ban mobil mereka meletus. Mala turun dan memeriksa ban mobilnya.
"Oh my god.......... Ban mobil ku kempes. Mala menendang dengan sangat keras ban mobilnya hingga ujung kakinya kesakitan." Aduh.... aduh....... Mala memegang kakinya akibat ulahnya sendiri.
Lagi-lagi Fajri , Ramli dan Rama tertawa melihat tingkah salah satu dari trio macam itu. Fajri menghentikan mobilnya pas dibelakang mobil milik Mala atas permintaan Ramli. Ramli turun dari mobil dan menghampiri Mala yang berdiri meringis kesakitan.
Ramli menghampiri Mala dan melihat apa yang terjadi. Akhirnya Ramli menawarkan bantuan yang awalnya Mala menolak dan pada akhirnya Mala menyetujui bantuan Ramli dan Ramli meminta Mala untuk mengambil ban serepnya.
Mala pun membuka bagasi mobilnya dan Mala menyampaikan pada temannya jika ban mobilnya bocor. Ketika Mala hendak mengambil ban serepnya, tangan Ramli lebih dahulu mengangkat ban serep itu dan kemudian menggantinya. Beberapa detik kemudian Ban sudah diganti.
Di dalam mobil Fajri hanya geleng kepala melihat Ramli tampak begitu akrab dengan Mala tanpa canggung.
Rama hanya geleng kepala menyaksikan bagaimana Ramli begitu cepat akrab dengan Mala yang baru beberapa detik mereka sudah tampak begitu akrab.
Setelah selesai Ramli masuk dalam mobil dan tersenyum. Sendiri kemudian menutup pintu mobilnya dan terus melihat mobil Mala berlalu.
Fajri hanya geleng kepala melihat temannya terus menatap telapak tangannya dalam keadaan berkeringat dan Fajri pun menyalakan mesin mobilnya.
"Namanya Mala aku mendapatkan nomor ponselnya. Jawab Ramli yang jawabannya sangat jauh dari pertanyaan Fajri.
Fajri kembali geleng kepala mendengar jawaban Ramli dan melajukan mobilnya. Sementara Rama tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Ramli.
Rama meledek Ramli karena nomor Mala Ramli tulis di telapak tangannya dan Rama mengingatkan apa tidak terhapus jika nomor ponsel milik Mala ditulis di telapak tangan.
" Hei bro.....asal kamu tahu bekas tangannya masih ada disini. Ramli mencium telapak tangannya yang bertuliskan nomor ponsel milik Mala.
Rama dan Fajri tertawa melihat aksi kocak temannya itu. Tidak habis pikir Ramli begitu bahagia mendapat no ponsel Mala.
Fajri yang melihat Ramli terus menatap nomor ponsel yang tertulis di telapak tangannya tidak yakin jika itu benar nomor Mala dan Ramli sangat yakin jika itu benar nomor Mala.
"Kok aku tidak yakin. ucap Fajri lagi melirik Ramli yang terus mencium telapak tangannya.
Rama kembali meledek Ramli karena Ramli terus mencium nomor itu. Bahkan Rama meneriaki Ramli agar berhenti mencium nomor itu yang ada nantinya, nomornya terhapus. Rama terus tertawa sampai perutnya sakit melihat aksi konyol Ramli.
Ramli pun berhenti mencium tangannya dan segera mungkin memindahkan nomor ponsel itu ke ponsel miliknya. Rama dan Fajri kembali tertawa saat Ramli kembali mencium nomor itu yang sudah ditulis di ponsel miliknya.