NovelToon NovelToon
DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA

Status: tamat
Genre:Detektif / Action / Romantis / Komedi / Mafia / Chicklit / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Lutvia Megita, adalah seorang siswa yang baru duduk di bangku SMA. Gadis keturunan Indo-Jepang yang cantik, menyamar menjadi gadis jelek bernama Marni, pura-pura gagap dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kekasihnya dibunuh mafia psikopat, membuat dia menjadi semakin kuat. Saat dewasa, seseorang yang mencintainya semenjak sekolah, berusaha mencari keberadaannya. Seorang dokter tampan yang sengaja membentuk grub mafia agar ditangkap gadis detektif yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Divisi Private bg.2

Via duduk manis di sepeda luar biasa pemberian Big Boss.. Dia tak perlu capek untuk mengayuh, sepeda ini bisa membawanya dengan sangat cepat hingga sampai ke rumah.

Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam, lampu kamarnya masih menyala. Berarti Stevan beneran datang dengan pakaian perempuan saat masuk ke kamarnya ini. Hmmm, dia pasti bakalan marah-marah.

Via membuka kenop pintu, namun ternyata ia tak melihat seorang pun di dalam kamar itu.. Tetapi aroma udara masih jelas tercium jmaroma parfum Stevan yang sudah sangat dikenal oleh Via.

"Steve.... Steve..." bisiknya agar tidak terdengar oleh penghuni kamar lain.

Lalu muncul lah seorang pria dari dalam lemari, pria tinggi berwajah bule dengan muka masam, "Panggil gue Aa!" ujarnya gemas sambil menarik kedua pipi Via.

"Iya.. iya.. maaf..." Via mengusap kedua pipi bekas cubitan tadi..

"Elo kan sudah datang, berarti waktunya untuk gue balik dulu... Gila aja? Masa gue disuruh-suruh pakai pakaian wanita. Emangnya gue banci perempatan apa?" dengusnya.. Lalu mata pria bermanik terang itu terperangah melihat sepeda yang masih didorong Via untuk masuk ke dalam kamar..

"Sayang amat sama sepedanya Neng? sampai diajak bobok bareng?" sindirnya.

"Kalo ditaroh di luar nanti malah ilang kan lebih berabe.."

"Baru sebuah sepeda aja udah se-lebay itu? Apalagi yang lain?" celetuknya, mulai memasang dress yang mungkin tadi dikenakannya saat berangkat...

"A..Aa..." cegat Via membulatkan matanya saat melihat pria pintar luar biasa dalam pikirannya itu telah bersiap-siap untuk pergi.

"Apa lagi? tugas satu Minggu punya Lo udah gue beresin kok..." masih menyiapkan semuanya, pakaian ala-ala cewek yang cukup ribet.

"Tapi tolong ajarin gue dikit dulu yaaa... Nanti gue malah pusing kalau ditanya sama guru..." pintanya sambil menangkupkan kedua tangan di depan wajahnya.

"Tapi ini sudah mau pagi Eneung cantiiikk.. Kita ini laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, gak boleh berduaan dalam satu kamar.. Apa Lo mau sesuatu yang 'diinginkan' nanti terjadi?"

"Ingin apa sih A, aneh aaah.. Lalu gimana besok di sekolah donk?" otak Via yang masih belum sampai pada hal yang dimaksud Stevan, masih berharap agar Stevan menunggu sesaat lagi supaya pria berpostur tinggi itu mau menunda kepulangannya untuk mengajarinya materi sekolah yang semakin tinggi dibanding tingkat sebelumnya.

"Nanti gue kirim video pembahasan nya saja ya.." jelasnya dengan sabar sambil memasang Wig rambut panjang bewarna gelap.

Melihat hasil Stevan yang berubah menjadi Stevani membuat mata Via terbelalak geli, "Wkwkwkw, cantik banget Lo, A'..."

"Eeeh, sopan santun Lo beneran belum nambah sedikit pun juge ye.. mentang-mentang produk import Lo ya.. Kalo udah di sini Lo ya harus ikut budaya sini juga.. Masa sama yang tua Lo gak sopan gini.." keningnya sedikit berkerut menerima sapaan yang menurutnya tidak pas itu. Usia mereka terpaut cukup jauh memang. Via baru enam belas tahun, Stevan sudah 22 tahun.

Namun orang yang dinasehati hanya merasa santai atas omelan kebapakan si cowo tinggi yang lagi cantik itu, "Abis.. Aa sendiri gak sopan tuh... Ya gue belajar dari Lo kan..."

"Eiiit... bukan 'Lo' tapi Aa!" kembali tertarik dengan sepeda yang sudah bersandar di dinding kamar Via tadi. dan memperhatikan sepeda itu dengan seksama.

"Iya.. iya. Aa...boneng .. wkwkwkw..." memperhatikan tingkah Stevan yang terlihat sangat tertarik pada benda yang baru saja dia terima tadi siang itu.

"Gimana A? Keren gak tuh?"

"Ini dapat dari mana?" mengecek-ngecek tombol dan fungsinya..

Tanpa berfikir panjang, Via merebut sepeda tersebut dari tangan Stevan. Langsung mengayuhnya, dengan ajaib roda sepeda itu menempel dengan mantap di dinding kamar. Melihat hal ini membuat Stevan kagum. Lalu via mengayuh sampai posisinya terbalik di langit-langit kamarnya. Membuat Stevan semakin tertarik pada benda yang memiliki roda dua itu.

"Sini... sini...giliran gue..!" Via menuruni dinding, lalu sepeda beralih tangan lalu dicoba oleh Stevan. Namun ternyata, dia menekan tombol yang salah hingga sepeda itu tidak tampak oleh mata awam.. Stevan tidak terlihat bersama sepedanya, namun dia sendiri tak menyadari hal itu.

"A...Aa .." panggil Via.

"Apa sih manggil-manggil.. di depan hidungnya juga!" celetuk Stevan..

"Tapi Aa tu lagi tidak terlihat..." ujar Via gemas menyentak-nyentakkan kakinya.

"???? Masa?"

Lalu Via langsung memberikan cermin, "Waaahhhh... gue beneran ilang?" suara Stevan kelepasan dengan nada tinggi karena terkejut pada sesuatu yang luar biasa ini.

"Sssttt...!" bentak Via.. "Pencet lagi tombol yang tadi!" titah gadis berambut sebahu itu.

Namun Stevan menekan tombol yang salah lagi, dan... "duuuuaaarrr...." yang keluar tembakan, dan dinding pun berlubang..

"uuppsssss..." desis Stevan makin kebingungan. Kembali mengotak-atik tombol lain agar bisa membuat dirinya terlihat lagi.

"A ak..." Via mulai tak sabar dan geram. Tak lama kemudian akhirnya Stevan sudah bisa dilihat lagi. Sementara di luar kamar itu kembali terdengar keributan warga kost yang terbangun.. Mungkin mereka terbangun karena mendengar suara tembakan tadi.

Via langsung berubah menjadi mode jelek, memakai kacamatanya, dan mengacak sedikit rambutnya keluar dari kamar. Melihat tingkah Via, Stevan terkikik sambil bersembunyi.

"Ada apa?"

"Ada suara tembakan lagi?"

"Ada suara laki-laki.."

"Siapa yang tertembak?" suasana di luar kamar Via langsung ramai, penghuni keluar dar kamar masing-masing dengan muka bantal mereka.

Salah satu dari mereka langsung mendorong Via, "Lagi-lagi lu ya Gu?"

"Gu?" tanya Via heran..

"Iya... Lu si Gugu Gagu kan..." ucapnya dengan sinis..

"Maaf Kak, saya masih nonton film perang-perangan, jadi...."

"Jadi gak sengaja volumenya dikencengin lagi?" selanya untuk memastikan...

"I...i. iya.." tiba-tiba Via tersadar, dia lupa pura-pura gagap.. "Maa...maa..maaf ya Kak.."

Sepertinya Rini menyadari sedikit kejanggalan dari Via, mungkin karena tiba-tiba bangun gara-gara kaget kali ya, tepis wanita bertubuh seksi itu.

"Udah Gu, sekarang Lo tiduuurr... Tapi Lo gak bawa cowok ke dalam kamar kan? tadi ada yang bilang ada suara cowok juga.." Rini yang paling senior di rumah kost itu menggantikan tugas satpam di kostan ini.

"Eee..e..engga ko Kak. mu..mu..Ng..Ki..Ki..kin da..da..da..ri ti..ti..vinya.."

"Ya udah, sekarang semuanya tidur Sanah..! pagi nanti harus sekolah, kuliah, dan kerja bukan..." Rini membubarkan kerumunan menyuruh kembali masuk ke kamar masing-masing.

***

Akhirnya Stevan diantar pulang oleh Kapten Peter, pilot khusus yang juga tadi sengaja menjemputnya ke Bandung.

Begitu lah kira-kira, Stevan memang selalu dijemput dari kosannya di Bandung, dekat dengan kampusnya, lalu diantar lagi. Bayarannya pun sangat mahal untuk mengerjakan tugas sekolah Via sekali seminggu.

Seharusnya sih, Stevan mengajarkan dulu bagaimana teoritis, dan ilmu praktis tugas-tugas tersebut. Namun karena sudah terlalu malam, dan dia juga harus bimbingan tugas akhir saat pagi nanti, memaksa Via mengikhlaskan dia pulang tanpa mengajarinya dulu.

Seperti yang telah dijanjikannya, Stevan mengirimkan video yang dia sendiri menjelaskan masing-masing cara dan kiat mengerjakannya, dan lumayan membantu gadis itu, karena dia adalah anak yang cepat paham.

Sebenarnya dulu Stevan menolak masuk di Divisi Private, tapi karena diiming-imingkan upah yang besar, sehingga dengan rela otak cemerlangnya kembali mengerjakan tugas-tugas anak sekolahan.

"Gak apa lah.. yang penting duitnya..." ujar Stevan dalam hatinya. "Lagian yang diajarin anak yang pinter kok. Gak bikin pusing, lagian dia juga enak di pandang. Sayangnya masih bau kencur.. Kalau seandainya dia dewasa dikit lagi aja, udah aku ajak nikah..." monolognya sendiri.

*bersambung*

Jangan lupa meninggalkan tanda jejak yaa.. LIKE, LOVE, GIFT & VOTE 🥰🥰🤩🤩😍😍

1
khesya72
via sangat ngembira saat di berikan sepeda yg ajaib
khesya72
via memiliki kakak dengan rentang umur yg jauh
khesya72
rata rata siswa pergi bersama teman
khesya72
saat pertama kali sekolah marni merasa gugup
Hafizah Mayputri
saya sudah membaca ya buk saya dri kls Vll. 2
KhanzaRamdani_7.1
kakak² senior tidak mengetahui identitas asli via yg menyamar menjadi culun dan berpura pura menjadi marni
SoVay: baik kanza, udah masukdan terdata
total 1 replies
KhanzaRamdani_7.1
membaca pada bab 1 itu?
Naya Desriyal
bab 1 selesai dibaca 🌷
SoVay: isinya tentang apa hayooo
total 1 replies
dzakira SMP5
7.1
Marni salah memakai sepatu karna terburu² kesekolah
SoVay: oke, diterima
total 1 replies
Rahma S.P
di awal awal romi dan dino menyepelekan marni
Raysa Humaira
Stevan pas kayak apa yg gw bayangin
Raysa Humaira
waduh.....bakal ketahuan nih,..
Rahma S.P
tampaknya Stevan sudah handal menon aktifkan cctv
Rahma S.P
karena irin bersikap baik kepada yg lebih tua akhrirnya via juga bisa mengikuti sikap irin tersebut
afifah syah putri. s
Stevan dan via hampir ke tahuan securty
Anisa septiani kelas 72
ibu dan anak berpamitan
Muhammad Rahman
Marni mengakhiri misi penyelidikan di rumah mak iroh
Muhammad Rahman
Dink tidak mengerti apa yg dijelasin Marni alias via karena aksi gagunya
Muhammad Rahman
Marni dan via makan siang di rumah joko
Muhammad Rahman
Marni dikira penjahat oleh temannya karena membawa benda-benda aneh yg keluar dari tasnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!