Menjadi istri kedua bukanlah keinginan Erina, wanita muda yang baru saja kehilangan suami dan anaknya dalam waktu yang berdekatan.
Akibat hutang suaminya yang begitu banyak, Erina terpaksa menikah dengan seorang CEO bernama Adrian yang saat ini istrinya sedang koma dan anaknya yang baru lahir membutuhkan ASI.
Keadaan Erina dimanfaatkan Adrian untuk menyusui anaknya yang baru saja lahir.
Namun ibu Adrian yang bernama Heni malah memaksa Adrian menikahi Erina karena ia sangat membenci menantunya yang saat ini sedang koma.
"Hutang almarhum suamimu akan ku anggap lunas, jika kau mau menyusui anakku sampai dia tidak membutuhkan mu lagi." Adrian.
"Tidak! Jangan hanya itu. Kau juga harus menikahi dia, Adrian!" Heni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman
"Apa? Kau baru saja menikah?" Vicky menyemburkan teh yang baru saja masuk ke mulutnya saat mendengar kabar mengejutkan itu dari Adrian.
"Iya, dengan wanita yang merupakan ibu susu anakku. Aku juga heran, kenapa anakku hanya mau minum air susunya saja."
"Ada beberapa bayi yang seperti itu. Tapi, siapa wanita itu? Apa kau mengenalnya?"
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Kami hanya kenal karena hubungan hutang piutang suaminya."
"Kenapa kau bisa gegabah secepat ini? Kau bisa menjadikannya sebagai ibu susu bayimu saja, tidak perlu menikahinya."
"Mau bagaimana lagi, kau tahu ibuku seperti apa? Dia sangat anti dengan gunjingan tetangga. Dan, aku rasa alasan utamanya adalah karena ibuku masih sangat membenci Cintya. Dia benar-benar ingin memisahkan aku dengan Cintya meski kami sudah punya anak." Adrian menyesap tehnya.
"Itu alasan yang masuk akal. Lagipula, ibu mana yang suka anaknya disakiti sedemikian rupa, tapi tetap mau memaafkan istrinya."
Adrian menatap Vicky dengan tatapan berbeda. "Apa kau baru saja sependapat dengan ibuku?" Melirik tajam.
"Tidak, bukan itu. Hanya saja, kau sangat mencintai Cintya sehingga buta akan semua kesalahannya di masa lalu."
"Kau sama saja seperti ibuku!" Adrian berdecak kesal.
"Maaf, bukan itu maksudku. Lalu, kalau kau baru saja menikah, kenapa malah ke sini? Bukankah seharusnya kau bersama istri barumu? Jangan hanya anakmu saja yang mendapatkan kehangatan serta susunya."
Adrian memukul lengan Vicky. "Apa tidak bisa sehari saja kau tidak berpikiran kotor?"
"Hahaha, maaf, hanya saja, kau sudah tidak dapat jatah selama satu bulan lebih. Apa kau tidak merindukan sentuhan wanita?"
"Jangan bodoh! Aku sangat mencintai Cintya. Sampai kapanpun, aku tidak akan menyentuh wanita itu. Aku akan memegang janji setia ku pada Cintya."
"Apa kau yakin? Aku tahu kau bukanlah orang yang bisa menahan hasrat bercinta mu. Apa kau lupa saat dulu Cintya menangis dan mengadu pada istriku. Malam pertama kalian dilewati dengan empat ronde. Itu sangat menggelikan."
"Apa tidak bisa kita menganggapnya sebagai masa lalu saja? Kenapa kau terus mengungkitnya?" Adrian semakin kesal dibuat Vicky.
"Agar kau tahu bahwa laki-laki normal memang membutuhkan kehangatan seorang wanita. Jangan munafik, meski kau tidak mencintai istri barumu, hasrat tidak memandang cinta. Kau bisa menuntaskan hasrat mu padanya kapan saja." Vicky terus membuat pikiran Adrian kemana-mana.
Merasa pembicaraan semakin membuatnya risih, Adrian pun memilih pulang saja. Ia akan menemani Cintya malam ini agar tidak perlu sekamar dengan Erina, istri barunya.
Sesampainya di rumah, Adrian bermaksud pergi ke kamar untuk mengganti bajunya. Namun, saat ia baru saja membuka pintu, ia melihat Erina sedang menyusui Arga di atas ranjang.
Erina yang tidak mengetahui keberadaan Adrian yang masih terlihat kepalanya saja, masih terus fokus menyusui Arga.
Adrian dapat melihat jelas bagaimana putih dan mulusnya pabrik susu Arga.
Cepat-cepat Adrian menutup pintu sebelum Erina menyadarinya. Ia pun berpura-pura menelepon sambil memasuki kamar tersebut. Erina yang mendengar suara Adrian langsung pergi ke ruangan lain kamar itu. Sebuah ruangan yang disediakan Adrian untuk Erina menyusui Arga jika ia berada di sana.
Adrian mengusap wajahnya kasar. Bagaimana pun ia adalah pria normal. Sekarang bagian bawahnya terasa bergerak-gerak.
Merasa ini sudah tidak wajar, ia pun segera pergi ke kamar mandi dan menuntaskan semuanya.
Gw suka sama ceritanya..