"Lo itu kurang kerjaan atau gimana sih, hah?!."
"Lah ini lagi kerja..."
"....Ngerjain Senior maksudnya."
"Berani banget yah lo sama Senior!."
"Ya, lebih baik berani didepan dari pada dibelakang ngomongin...Sorry, Varo nggak serendah itu orangnya."
♡♡♡
"Kita berada di iman yang berbeda. Di amin yang berbeda pula. Sungguh ironis my love story."
-Alvaro Genandra
"Antara tasbih yang kugenggam dan salib yang ada dilehermu. Antara adzan yang berkumandang dan lonceng yang berdentang. Dan, dari sanalah perbedaan antara kita yang tak akan pernah bisa bersatu."
-Zoya Prameswari
"Yang seagama aja berat, apalagi yang beda. Gobloknya temen gue itu masih aja diharapin."
-Reihan Aditama
♡♡♡
#familyship
#brothership
#friendship
#kisahremaja
#bedaagama
#cintaterlarang
Semoga suka🤗 Jangan lupa Like & Komen sebagai pembaca yang budiman😊
Dan untuk my Bestie, tolong kalau tahu cerita ini jangan dibaca. Sekali lagi jangan dibaca, terima kasih🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DES_Putri:), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chap 5 (Sisi Lain Dia)
...Mungkin, waktu itu aku belum mengenalmu lebih jauh. Tapi, detik dimana sorot teduh yang tak lagi hangat itu...membuat naluriku bergerak untuk lebih mengenalmu....
Angkasa yang gelap, ditemani cahaya bulan dan bintang tuk menerangi bumi yang kini terasa pekat. Denting jarum jam itu terus berdetak beriringan dengan detak jantung yang terlihat teratur ditemani dunia mimpinya. Sangat nyaman hingga tak sadar akan kebisingan murid lain yang sudah bersiap siap pulang.
"Biarkan saja dia," ujar pria itu sambil berjalan keluar kelas.
"Tapi pak-."
"Udahlah biarin! Ntar juga bangun sendiri," potong cowok berambut gondrong.
Satu persatu pelajar itu mulai keluar meninggalkan kelas tepat pukul sembilan. Cewek yang semula ingin protes itu masih tak bergeming dari tempatnya, menatap cowok yang tak lain Alvaro Genandra masih setia di alam bawah sadarnya.
"Kalau nggak dibangunin kasihan," gumamnya.
"Eh, bangun!."
Masih sama, tidak ada pergerakan secenti pun dari sang empu. Sampai cewek itu menimpuk kepala Varo, barulah dia mengaduh dengan muka bantalnya menatap kesal cewek didepannya.
"Lo tu-."
"Niat gue baik buat bangunin lo supaya nggak ke kunci dikelas ini semaleman,"potongnya lalu berdiri meninggalkan Varo yang masih setengah sadar.
"Aishh ganggu aja," dumelnya meski akhirnya berdiri dan jalan sempoyongan.
Varo mendengus sebal, kenapa tempat les barunya itu harus berganti jadwal malam hari sih? Dia kan belum hafal jalan sekitar, mana dia tadi nebeng Zoya lagi.
Layar genggam itu masih tak mau menyala, membuat suasana hati Varo seratus persen anjlok. Nggak ada kendaraan buat pulang, HP juga kenapa ikut mati. Ck, menyebalkan.
"Haahh jadi gembel beneran nih gue, mana tempatnya jauh dari rumah lagi," monolognya.
Varo merogoh saku celananya sebelah kanan lalu berganti kesebelah kiri, namun naas...tidak ada sepeser uang pun disana. "Miskin banget gue."
Tak mau berlama lama didepan bangunan bertingkat itu, kakinya melangkah mengikuti ingatannya yang sangat minim. Seingatnya sih setelah perempatan kedua dia belok kanan, tapi-
"Ah taulah, seinget gue ke kanan...kalau nyasar ya disyukurin aja!."
Varo semakin yakin kalau dia nyasar entah diamana. Jalanan yang cukup sepi dengan penerangan minim itu seperti familiar, tapi dia tak ingat pernah lewat jalan ini kapan dan mau kemana. Seperti hilang arah akhirnya ia memutuskan berhenti sejenak dipinggir trotoar. Duduk tak menggunakan alas apapun, dibawah percahayaan lampu jalanan. Persis seperti anak hilang dengan dirinya yang masih memakai seragam abu-abu putih.
"Haahh malang banget nasib gue," keluhnya menselonjorkan kedua kaki, menatap langit malam yang sangat cerah.
Rasanya sangat lelah, padahal lima jam didalam kelas ia hanya habiskan tiga jamnya untuk tidur. Sungguh, semua yang ada disana hanya Varo lah yang berbeda.
"Capek banget gue," gumamnya menerawang jauh ke atas. Sorot mata itu kosong, seakan sudah tak bisa melihat dunia yang benar-benar nyata didepannya.
"Andai bunuh diri nggak dosa..."
"Mau bunuh diri?!."
Deg
"Gih bunuh diri! Ntar gue rekam....Buat kenangan."
Cowok itu spontan berdiri tegak dengan mata melotot sempurna. Dia, sedang tidak halusinasikan?
"Kak Zoya?."
"Hm?! Ck, gimana...jadi nggak BUNDIR nya?!," sahut Zoya melipat kedua tangannya didepan dada, seperti menantang Varo yang kini seperti orang bodoh.
"Hah, kenapa kak Zoya bisa disini?."
"Lah, lo sendiri ngapain malam malam dipinggir jalan kayak orang nggak punya rumah?!."
Varo malah tertawa keras menanggapi ucapan Zoya. Entah apa yang ada dipikiran cowok itu. "Lo gila ya?! Nggak ada yang lucu juga!."
"Lucu kak. Omongan kakak, selalu benar."
Hening
"Ekhmm, ngapain lo disini?," tanya Zoya dengan nada rendah.
"Nggak tahu."
"Bisa seriuskan?!."
"Iya, Varo serius! Nggak tahu disini ngapain...Bingung aja gitu kenapa bisa disini, ya?!," balasnya enteng menggaruk kepalanya.
Zoya menghela napas kasar.
"Oke, bye!."
"Eh eh tunggu kak!...."
".....Jangan marah dong, Varo disini nyasar. Nggak tahu arah jalan pulang kemana, ya terus gini deh."
"Hahh...Ngelucu, ya lo?."
"Tadi suruh serius, sekarang giliran serius malah nggak percaya. Gimana sih kak? Semua cewek sama aja ya, bingungin."
"Lo!-."
"Bentar kak jangan marah, mending anterin Varo pulang daripada debat disini terus nggak bakal kelar," potong Varo cepat.
"Enak banget ya lo ngomong gitu. Tadi pulang sekolah lo udah manfaatin gue jadi supir lo, sekarang mau minta anter pulang juga?! Lo kira gue tukang ojek apa hah?!."
"Ya ampun kak nggak berperikemanusiaan banget sih lihat adik kelasnya kesusahan kayak gini, hm?."
"Nanti kalau Varo diculik gimana? Sayang loh kehilangan adkel terkeren kayak Varo."
"Suutt, berisik tahu nggak!."
"Lo punya HP kan? Suruh kembaran lo jemputkan bisa!."
"Kalau HP Varo nggak lowbat dari tadi juga udah sampai rumah kak," balasnya memasang wajah cemberut.
"Ya pesen ojek kek, punya duit kan?!."
"Enggak," sahutnya menggeleng.
"Astaghfirullah, beneran jadi gembel lo kalau nggak ada gue!."
"Heheehee..jadi, diantar pulang nih?," ujar Varo sambil melirik motor Zoya yang terparkir tak jauh dari tempat mereka.
"Nggak mau sih, tapi....nggak tega aja lihat anak buangan kayak lo dipinggir jalan kek gini," celetuk Zoya asal lalu beranjak mendahului Varo yang masih mematung.
Anak buangan?
"Sebelum gue berubah pikiran-."
Ucapan Zoya terhenti tak kala melihat Varo yang ternyata tak ada dibelakangnya. Dan, dari tempatnya berada...Zoya bisa melihat sosok cowok itu yang masih berdiri ditempatnya semula. Menatap keatas.
Beberapa detik, Zoya menyadari. Ada yang aneh dari ekspresi cowok itu sedari tadi. Seperti, bukan dia.
...)(...
"Ini rumah lo?."
"Yups! Sudah sampai tujuan dengan selamat," ucap Varo tersenyum lebar menyerahkan helmnya kepada Zoya.
"Yaudah-."
"Nggak mau mampir dulu kak? Minum teh gitu, atau mau kenalan sama papa Varo?...Eh, jangan deh. Papa Varo orangnya galak, takut belum apa-apa nanti malah kak Zo-."
"Udah stop! Gue mau pulang, bye!."
"Eh tunggu dulu kak!."
"Apalagi sih?!."
"Kok kak Zoya masih diluar, emang darimana tadi?."
"Dari rumah temen, puas?!."
"Jangan tanya lagi, udah masuk sono!," seloroh Zoya sebelum Varo membuka suaranya.
"Satu lagi kak, hati-hati dijalan...Selamat malam, mimpiin Alvaro yang kerennya minta ampun ini yah, bye!," teriak Varo ketika motor Zoya mulai menjauh.
Sehilangnya Zoya dari pandangan, senyum itu luntur seketika. Mendongak ke angkasa yang diselimuti warna hitam pekat yang selalu menjadi tempat ternyamannya. Sepi, yang terasa nyaman dalam dekapan malam.
"Tidur dikelas, besok apalagi?!."
"Bolos, iya?!."
Suara itu, yang selalu menjadi teman disaat ia lelah. Hah, teman? Teman seperti apa? Yang selalu menorehkan luka, Iya.
"Namanya ngantuk, Pah. Padahal udah Varo melek melekin nih mata, tapi ya gimana lagi coba kalau bener-bener ngantuk nggak bisa ditahan," balas Varo santai.
Genandra berdiri, meletakkan koran yang semula ia baca ke meja dengan kasar. Beranjak mendekati Varo dengan sorot mata yang sudah Varo kenali. "Sudah, Papa udah capek bilangin kamu ini itu! Kalau kamu nggak bisa di atur, kali ini Papa nggak akan tinggal diam buat pindahin kamu ke luar negeri, biar tahu rasanya hidup sendiri!."
"Nggak usah repot-repot Pah. Dari dulu Varo udah rasain gimana rasanya hidup, sendiri."
Sebelum dirinya pergi, netra itu menatap lurus sepasang manik gelap milik Genandra.
Sesampainya dikamar, Varo mendengus sebal memandang penampakkan berwujud saudara kembarnya itu sedang berbaring dikasurnya.
Dengan sekali hentakan, tubuh Vero terjatuh kelantai dengan sempurna.
"Enak banget ya lo tidur disini?!."
"Udah nggak mikirin nasib abangnya diluar sana lagi apa?! Kok nggak pulang pulang udah jam segini, gue jemput apa gimana gitu?!...Dasar adik nggak guna lo!."
"Udah?," balas Vero yang sudah duduk ditepi ranjang.
"Udah? Ck, gue bunuh juga lo!."
Varo melempar tasnya keatas kasur, membuka satu persatu kancing seragamnya yang masih direkam Vero. "Kenapa masih disini, keluar!."
Hening
Vero masih setia mengamati gerak gerik Varo yang kini melepas celananya hingga tersisa kaus putih polos dan boxer kuning kesayangannya.
"Apa?!," solot Varo, geram melihat Vero yang hanya diam mengawasinya.
"Keluar, gue mau mandi!."
Ada jeda sebelum suara Vero memenuhi seisi kamar.
"Besok mama pulang."
-
"Oh."
Pintu kamar Varo tertutup, menenggelamkan sosok Vero yang kini masih diam bersender dipintu. Sedangkan Varo yang berada di kamar mandi menggenggam erat pinggiran wastafel.
...)(...
"ARTHUR GUE BILANG APA TADI?!."
"Ya ampun Zoy, bisa nggak sih selow aja?! Budeg nih kuping gue tiap hari denger lo teriak-teriak. Belum lagi suaranya Laila yang minta gue kecup."
Bugh
Buku tebal itu berhasil mendarat mengenai kepala Arthur.
"Ngomong apa lo?! Kecap kecup kecap kecup maksud lo kecap ABC HAH?!."
"Ampun La, ampun...Behh mantep bener timpukan lo, benjol nih kepala gue," gerutu Arthur mengelus kepalanya.
Dua cewek yang tak jauh dari Arthur berdiri itu menatap garang dia. Arthur anjaya, teman sekelas empat semprul yang suka membuat satu kelas darah tinggi karena kelakuannya yang kurang waras. Seperti yang dipikirkan Zoya pertama kali, bahwa Arthur adalah kakak Varo yang keduanya sama-sama berada pada garis pinggir kewarasan yang sudah diujung.
"Cepet jalan nggak?!."
"Iya Lailaaa, jalan nih..jalan!," balas Arthur berjalan keluar kelas. Ya seperti kebiasaan yang mendarah daging di diri Arthur yang sangat sulit disuruh piket membuang sampah.
"Kalau nggak pake kekerasan nggak bakal mau jalan tuh anak!," geram Zoya melangkah mengikuti Arthur.
"Loh, tong sampahnya mana?," tanya Arthur pada Zoya yang juga celingukan mencari keberadaam tong sampah.
"Perasaan tadi masih disini."
"Udah dibuang sama yang lain mungkin?."
"Mana ada yang mau, hari ini piketnya yang lakik cuma lo!."
"Yaudah masa bodoh, yang penting gue nggak buang sampah wleekk..."
"Ck, lo-."
"Nyari tong sampah Zoy?," seloroh Lia yang diikuti Ayu dibelakangnya.
"Iya nih, kok tiba-tiba nggak ada ya. Siapa juga yang mau buang sampah. Boro-boro buang sampah, buat sapu kelas aja anak-anak cowok pada nggak mau semua," gerutu Zoya.
"Gue kesindir loh, Zoy."
"Ya bagus itu, artinya lo sadar diri!."
"Udah ah berantem mulu," lerai Ayu geleng geleng kepala.
"Tadi gue lihat sampah kita dibawa itu si kembar yang satu, tapi nggak tahu yang Varo atau Vero," ucap Lia diangguki Ayu.
"Hah? Serius?!."
"Woww adik gue itu! Varo sama Vero kan?."
"Nah itu Vero," lanjut Arthur menunjuk Vero yang berjalan memasuki kelas.
"Berarti yang tadi Varo?," tanya Ayu.
"Iya, udah bye! Mau nyapa adik gue dulu."
Arthur ngacir ke kelas sebelah. Lia dan Ayu saling pandang melihat Zoya yang hanya diam. "Lo kenapa Zoy?."
"Eh, nggak ada. Yuk masuk kelas!."
Jam terus berputar sampai suara bel pulang sekolah terdengar nyaring diseluruh penjuru Adi Bangsa. Lima belas menit setelah bel, Zoya masih setia mencari beberapa buku diperpustakan untuk referensi cerita yang akan ia buat.
Oh, ya jangan lewatkan hobi Zoya yang sudah satu tahun ia jalankan. Yaitu, menulis novel. Sudah dua buku yang ia terbitkan. Teman sekelasnya tidak banyak yang mengetahui, hanya ketiga sahabatnya yang tahu persis jalan cerita Zoya menjadi penulis.
Setelah menemukan apa yang ia cari, Zoya keluar seorang diri menuju parkiran. Namun badannya berbalik arah ketika melihat dua cowok berjalan cepat kearah belakang sekolah dengan wajah tegang.
Zoya juga merasa heran, kenapa dia malah mengikuti dua orang itu.
"Ngapain lo ikut kayak gituan?!."
"Itu urusan gue, lo nggak perlu ikut campur!."
"Urusan lo itu juga urusan gue, Var!."
"Nggak semua privasi gue lo harus tahu! Dan- cukup lo cari tahu lebih jauh apa aja yang gue lakuin sekarang, Ver."
"Terus...kalau bukan gue yang awasin lo, peduliin lo, khawatirin lo, siapa lagi yang mau perhatiin lo Var?! Siapa?."
Di sini, Zoya bisa melihat..mereka berdua seperti dua orang yang sama. Tidak ada lagi Vero yang pendiam, dingin, cuek...Tidak ada lagi Varo yang ceria, mudah tersenyum, dan wajah yang berseri.
"Hah, gue cuma butuh diri gue sendiri! Nggak akan ada yang pernah tahu apa yang kita rasa selain diri sendiri, Ver. Terutama, Lo! Nggak ada yang tahu diri lo sendiri kecuali elo!"
Vero terdiam cukup lama. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing, sedangkan Zoya yang tidak tahu maksud perkataan mereka berdua hanya diam dibalik pohon mangga yang cukup menyembunyikan tubuhnya.
"Iya, gue tahu itu. Nggak ada yang bisa tahu isi hati lo, Var....Tapi gue bisa rasain kalau lo lagi nggak baik-baik aja, dan gue juga bisa rasain kalau lo lagi seneng. So, please jangan lakuin hal-hal yang bisa bahayain diri lo cuma gara-gara uang!."
"Gue cuma nggak mau ngerasain kehilangan untuk ketiga kalinya, Var," lanjut Vero.
Varo tertawa miris.
"Hah, lo bodoh Vero! Mau aja dijadiin boneka. Selama ini gue sabar, gue terima apa yang udah tuhan rencanain buat hidup gue...tapi, sampai sekarang takdir nggak pernah baik sama, kita."
"Sekarang, biar gue pilih jalan gue sendiri. Kalau lo nggak mau ikut, its okey."
"Tapi...jangan pernah nyesel kalau suatu saat lo, kehilangan gue."
Zoya refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya mendelik memandang Vero yang spontan mecengkram kerah Varo.
"Maksud lo apa?!," ucap Vero penuh penekanan.
"Lo tahu kan, lima belas menit lagi gue ada les? Kalau sampai gue telat nanti bakal ada yang marah-marah. Lo nggak mau kan gue di marahin terus?."
"Jangan macam-macam, Var!."
"Apa sih yang lo takutin hm?! Dari dulu, lo itu cemen tahu nggak Ver."
Vero dengan kasar menarik tangannya dari kerah Varo. Kembali menatap dingin saudara kembarnya itu. Didetik berikutnya, Vero membalikkan badan, namun baru empat langkah kakinya terhenti.
"Vero!....Gue cuma mau bilang satu hal sama lo."
"Berhenti jadi pengecut!."
Tangan Vero mengepal kuat. Varo tersenyum tipis melihat sang adik mulai menjauh dari pandangannya.
Varo lakuin apa sampai Vero semarah itu?, batin Zoya yang masih memenuhi otaknya.
...♡♡♡...
HOLAP HOLAAPP👋
🙎♀️ : "Ekhhmm....Aku ikut peranin tokoh loh di Story ini:)."
Ada yang bisa tebak?! Ayo coba tebak Naoki jadi siapa?☺
...JANGAN LUPA LIKE...
...KOMEN...
...VOTE...
...SEE YOU NEXT CHAP...
...LOVE YOU ALL FRIENDS😚...
^^^Tertanda^^^
^^^Naoki Miki^^^
sekali lagi maaf ya nggk bisa lanjut
cry:(
modus ke zoya itu😝
tp...varo ngelakuin itu karena denger ucapan mama miranti itu
lagiii Thor